Selasa, 12 Januari 2010

GAJI BULAN DEPAN, BUKAN REZEKI KITA??


Ini adalah sedikit sharing untuk teman atau seorang istri yang mengharapkan rezeki dari penghasilan yang diterima rutin setiap bulan dari suaminya.

Selepas menunaikan shalat magrib di mushola dekat Stasiun, ketika sama-sama sedang memakai sepatu, seorang bapak bercerita kepada saya. “De (Adik), kena musibah saya, hilang SIM, KTP, dan uang, kecopetan saya”, keluhnya. “Dimana Pak”, tanya saya. “Gak tau mungkin saat berdesakan naik kereta , saya gak curiga ada orang yang mendorong, karena memang suasana penuh sesak orang”, lanjut beliau.

Sebelum saya bersimpati kepadanya…, beliau sudah menyahut, "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". “Subhanallah beliau masih sadar bahwa kesemuanya itu sudah ada yang menetapkan”. “Sabar aja Pak, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih besar, permisi Pak”, jawab saja sambil berlalu mengejar kereta berikutnya yang sedang transit.

Jadi teringat sebelumnya, seorang teman bercerita, ada sahabatnya yang sekantor mengalami kejadian kehilangan serupa. Kejadiannya bermula ketika ingin mengambil gaji untuk keperluan rumah tangga, uang sebesar 4 juta yang ditaruh di kantung depan baju tersebut hilang di mikrolet (angkutan kota) karena tanpa sadar diperdayai gerombolan pencopet. “Innalillah…, semoga ada hikmah yang mulia dibalik itu”.

Tidak sedikit teman-teman kita ketika menerima gaji dan tunjangan rutin setiap bulan tidak utuh. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, ‘dipaksa-rela’ dipotong karena keterlambatan atau ketidakhadiran kita dalam bulan kemarin.

Banyak teman-teman kita yang sudah merencanakan penggunaan selisih lebih penghasilan bulan ini untuk rekreasi, membeli barang, menabung, dan sebagainya, namun dengan terpaksa harus mau berbagi penghasilan dengan dokter dan obat karena anggota keluarganya ada yang sakit. Harus mau berbagi penghasilan dengan bengkel dan montir karena motor kita rusak, dan masih banyak cara lagi, bahkan ‘misterius’ Allah mengambil penghasilan kita tanpa disadari.

Bukti, bahwa penghasilan kita setiap bulan belum tentu rezeki kita, bahkan tabungan atau deposito yang jelas-jelas atas nama kita, tidak ada yang menjamin dapat dimanfaatkan kita. Betapa banyak orang yang mengaku kaya di dunia ini dengan pundi-pundi uang di bank-bank yang ternyata tidak dapat menikmati kekayaannya. Tidak sedikit orang tua di dunia ini melihat anak anaknya saling ‘membunuh’ memperebutkan harta kekayaan yang ‘setengah mati’ diperolehnya.

Salah satu definisi Rezeki dalam konsep Islam ialah Segala sesuatu yang bisa dimanfaatkan dari makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, atau teman bergaul. Terkadang rezeki datang dalam bentuk ma’nawiyah seperti ilmu, sikap lemah lembut, dan lain-lain(Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi). Semua yang tidak kita manfaatkan, meskipun kita memilikinya, ia belum tentu rezeki kita.

Manfaat itu dapat berupa manfaat materi yang dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia dan seluruh mahluk tanpa terkecuali dan manfaat nilai-nilai yang memperkaya kehidupannya yang hanya dapat dinikmati oleh kaum muslimin.

Manfaat nilai-nilai yang memperkaya kehidupan kaum muslimin jika hakikat dan syari’ atnya terpenuhi adalah rezeki yang barokah untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Kita sebagai seorang muslim tinggal memilih apakah mencari dan mendapatkan rezeki dengan cara yang halal yang akan menyebabkan ketenangan dan kedamaian, sekaligus mendorong dan menumbuhkan perilaku dan sifat yang baik, seperti kejujuran, kerendahan hati, kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, maupun kecerdasan sosial.

Atau sebaliknya, rezeki haram yang akan mendorong dan menumbuhkan perilaku dan sifat yang buruk seperti khianat, sombong, culas, nifak, dusta, bahkan menyebabkan doa dan ibadah tidak akan diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT.

Firman Allah :

“ Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan”. (51:22-23)

“ Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (67:15)

“ …makanlah dari makanan yang baik-baik yang Telah kami berikan kepadamu”. (2:57)

“ dan sementara orang yang kami beri rezeki yang baik dari kami, lalu dia menafkahkan (dibelanjakan) sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan”. (16:75)

Kalau kita fokuskan lebih sempit terhadap rezeki yang hanya berasal dari penghasilan kita setiap bulan berupa gaji dan tunjangan-tunjangan yang melekat, kita tidak boleh mengatakan, bahwa hasil tersebut adalah rezekinya, rezeki istrinya, rezeki anaknya, ataupun sanak keluarganya, karena bisa jadi rezeki tersebut milik orang lain juga.

Penghasilan setiap bulan sepanjang belum (tidak) dimanfaatkan, bukan rezeki kita. ‘Itu’ akan menjadi rezeki manakala sudah dimanfaatkan (dinikmati), dapat berupa sandang, papan, pendidikan, dan sebagai apapun untuk keperluan dunia.

Secara matematis, manfaat materi dari rezeki itu lambat laun akan habis seiring dibelanjakannya penghasilan kita, namun manfaat nilai-nilai yang memperkaya ‘kehidupan’ akan terus bertambah, manakala dalam proses mendapatkan penghasilan tersebut sarat akan nilai-nilai Islami.

Pertama, bahwa bekerja yang diawali dengan ‘Basmallah’ adalah tidak hanya sebagai kebutuhan melainkan sebagai suatu kewajiban. Kerja tak hanya menghasilkan nafkah materi, tapi juga pahala yang berlimpah (multiplier effect), bahkan maghfirah dari Allah SWT. Sedemikian tingginya penghargaan itu sehingga orang yang bersungguh-sungguh bekerja disejajarkan dengan mujahid fi sabilillah.

Rasulullah saw bersabda, “Jika ada seseorang yang keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun di jalan Allah. Tetapi jika ia bekerja untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itulah ‘di jalan setan’ atau karena mengikuti jalan setan,” (HR Thabrani).

Adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang masuk itu baik, maka yang keluar akan baik pula. Keluarga yang selalu diisi nafkah-nafkah yang baik maka akan muncul keluarga yang sakinah, tentram, damai, anak-anak yang sholih, dan menjadi teladan masyarakat sekitar. Sungguh merupakan balasan di dunia yang tak ternilai.

"Dan sesungguhnya engkau tidak akan memberi nafkah yang diniatkan karena Allah, kecuali engkau akan mendapatkan balasannya. Termasuk apa yang engkau berikan ke dalam mulut istrimu." (HR Bukhori-Muslim).

Kedua, bahwa membelanjakan penghasilan kita di jalan Allah (berzakat, berinfak, bersedekah, dan jalan lain yang diridhoi) adalah suatu proses merubah penghasilan kita menjadi rezeki, bahkan rezeki tersebut pada hakikatnya akan bertambah.

Bertambahnya rezeki ini jangan dilihat dari perhitungan logika akal, tidak berarti uang atau harta kita bertambah secara langsung. Melainkan dapat mengundang datangnya rezeki (nikmat) tambahan, selalu berkecukupan, diberikan kesehatan, umur panjang, ketenangan jiwa, ataupun keberkahan dunia.

Firman Allah :

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya Karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat”. (2:265)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (2:261)

Terakhir, bahwa jodoh, rezeki, dan kematian, sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Rezeki adalah salah satu takdir yang berjalan dengan hikmah kebijaksanaanNya yang tinggi dan tidak kita fahami. Seorang hamba yang beriman tidak boleh berprasangka bahwa Allah tidak adil terhadapnya, “boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”. (2:216)

Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Kita hanya bisa berikhtiar agar dapat memanfaatkan penghasilan kita menjadi rezeki yang berkah dunia akhirat. Berikhtiar untuk memelihara rezeki kita, dan berharap akan bertambah, kemudian bersabar dan bertawakal.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (14:7)

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. [65:2-3]

Waallahua’lam bishshawaab.

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...