Ramadan telah berlalu, diantara kita ada yang sedih, ada yang gembira, dan ada pula yang biasa-biasa saja. Sejatinya sebagai seorang muslim tentu sedih, karena kita meninggalkan bulan mulia yang di dalamnya penuh berbagai kenikmatan dan pahala dan tidak ada jaminan kita bertemu tahun yang akan datang. Disana terdapat ladang-ladang pahala tak terbatas dengan jaminan Surga, bahkan ada satu malam yang jika kita beribadahnya mendapatkan keutamaan seribu bulan. Masha Allah.
Apakah puasa kita diterima? apakah tilawah dan qiyam kita diterima? apakah sedekah dan amalan-amalan lainnya diterima? Siapa yang menjamin itu karena bisa jadi tanpa kita sadari saat puasa kita masih melakukan kemaksiatan, mata, telinga, tangan kaki yang khilaf tidak terjaga, ketika beramal masih ada riya, dan seterusnya. Kuncinya prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dengan berdoa:
"Allahumma taqabbal minna siyamana wa qiyaamana wa ṣalaatana wa ja'alna min al-mutaqabbalīn. Allahumma baarik lana fi Syawwal wa Rabbizzidna min hasanaatina wa tub 'alaina. Allahumma waffir lana fi ma baqiya min umurina thaa'atika wa husna 'ibaadatika wa-j'alna min al-muhsinina ilaika"
Artinya: "Ya Allah, terima kasih atas bulan Ramadan yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Kami berharap agar semua puasa, shalat, dan ibadah yang kami lakukan selama bulan Ramadan ini diterima oleh-Mu dan Engkau menjadikan kami sebagai hamba-Mu yang terbaik. Ya Allah, berkatilah bulan Syawal kami dan tambahkanlah pahala kebaikan kami. Maafkanlah dosa dan kesalahan kami dan jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang terbaik dalam semua hal. Amin"
Konsistensi amalan setelah Ramadan wajib kita jaga. Bahwa konsistensi itu bukan berarti amalan harus sama bahkan lebih dari amalan yang kita lakukan saat Ramadan lalu, namun bandingannya adalah apakah amalan kita setelah Ramadan lebih baik dari sebelum Ramadan. Kita sadari nuansa Ramadan berbeda dengan bulan-bulan lainnya, disana ada pahala yang berlimpah, disana ada kemudahan beramal karena syaitan di belunggu dan seterusnya.
Bahwa konsistensi pasca Ramadan itu adalah bagaimana kita mampu menjaga amalan yang kita lakukan di bulan Ramadan bukan dari kuantitasnya tapi kualitasnya. Saat Ramadan kita mampu membaca quran setiap hari satu dua Juz, pasca Ramadan sesibuk apapun kita minimal satu dua halaman kita harus baca. Saat Ramadan kita mampu memaksimalkan sedekah setiap hari, pasca Ramadan pun kita tetap menyisihkan harta kita walau sedikit untuk sedekah setiap harinya. Begipula dengan puasa-puasa sunah, salat disepertiga malam, dan ibadah sunah lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya: Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ وَكَانَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ
"Kerjakanlah suatu amalan itu sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidak akan bosan sehingga diri kalianlah yang bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus menerus walaupun sedikit." Apabila beliau mengerjakan suatu amalan, beliau akan mengerjakannya secara rutin." (HR. Abu Daud).
Hadis ini menggambarkan pentingnya melakukan amalan secara rutin. Hasan al-Bashri, seorang ulama yang diberi julukan singa podium pernah mengatakan, "Jika setan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, maka ia pun akan menjauhimu. Namun, setan melihatmu beramal, kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, bahkan engkau melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak untuk menggodamu."
Lantas bagaimana kita bisa menjaga konsistensi (istiqamah) dalam beribadah? Kata ulama setidaknya minimal ada 3 yang harus dilakukan:
1. Berusaha menjaga takwa setiap saat, karena sebaik bekal adalah takwa. Takwa memelihara kehidupan di dunia dan mengantarkan kita ke Surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka.” (QS ath-Thur: 17-18).
Takwa diawali dengan keikhlasan dalam penghambaan seraya selalu meminta keteguhan iman kepada Allah, "Dari Anas RA berkata, adalah Rasulullah ﷺ memperbanyak doa, Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu. Anas berkata: Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang datang padamu, apa yang kau khawatirkan? Beliau bersabda: Ya, sesungguhnya hati itu ada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Allah membolak-balikkan kepada yang dikehendaki-Nya," (HR. Tirmidzi).
Ketika hati mudah dibolak balikan oleh syaitan kita akan berada dalam kemudahan berbuat maksiat, sangat sulit melakukan amalan-amalan apalagi untuk konsisten. Takwa menjaga amalan kita terpelihara sekaligus menjadikan kita hamba yang dimuliakan Allah. Baca lengkapnya di menjadi-manusia-mulia
2. Mengingat kematian. Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, dan setelah kematian segala apapun yang kita lakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan ke hadapan Allah. Firman Allah ﷻ, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al Ankabut: 57).
"Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jumu'ah: 8).
Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).
“Maksud dari mengingat kematian yaitu menjadikannya sering teringat dalam pikiran kita, agar kita menyiapkan bekal. Maksud dari ‘pemutus’ yaitu memutuskan kelezatan di dunia dan mendekatkan dengan kelezatan akhirat” (Syarh Bulughul Maram, Kitab Al-Janaiz).
Ketika setiap muslim meyakini tidak jaminan ia akan hidup besok, bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi satu, dua jam ke depan maka ia akan berusaha di setiap waktu kehidupannya dalam kebaikan. Disetiap ibadahnya penuh keihlasan, dengan secara konsisten menjaga amalan-amalan terbaiknya dan tentunya berusaha untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan kepada Allah ﷻ.
Sabda Rasulullah, “Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).
3. Bergaul dengan orang salih. Hanya teman-teman yang salih yang bisa mengingatkan dan menasihati agar kita tetap konsisten dalam keimanan dan istiqamah dalam amal kebaikan. Seyogyanya kita bisa berkumpul dengan mereka, berinteraksi aktif dalam komunitas-komunitas yang baik. Cari mereka dalam kegiatan pengajian atau taklim di masjid, dalam organisasi-organisasi islam, kelompok-kelompok kajian ilmiah baik tergabung dalam grup online (medsos) ataupun offline. Silaturahmi dengan mereka, diharapkan bagian yang tidak terpisahkan dengan aktifitas pekanan kita. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sementara Imam Syafi'i berkata, "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali."
Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu
حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون…
“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka (para sahabat mukmin) memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji…”[HR Muslim 183]
Al Hasan Al Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat."
Sementara Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, 'Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukanlah dia bersama kami di surga-Mu."
Semoga kita bisa menjaga konsistensi beribadah pasca Ramadan untuk menyambut 11 bulan berikutnya, amin.
Wallahu a’lam.
Pekanbaru, 16 Mei 2023
Sumber: https://pijarpunbenderang.blogspot.com/
Selasa, 16 Mei 2023
“Memburu” Malam Lailatul Qadar
[17.53, 14/4/2023, Late Post]
Allah ﷻ memberikan keutamaan pada sebagian makhluk-Nya di atas sebagian lainnya. Meninggikan derajat sebagian makhluknya atas sebagian yang lain. Dia Allah ﷻ mengutamakan sebagian hari dan bulan atas sebagian yang lain, dengan menjadikan sepuluh hari pertama dari Dzul Hijah sebagai hari-hari yang paling utama, sedangkan sebaik-baik hari dalam sepekan adalah hari Jumat. Dia mengutamakan bulan Ramadan atas bulan-bulan lainnya, dan menjadikan sepuluh malam terakhir darinya sebagai sebaik-baik malam. Sementara malam paling utama di antara sepuluh malam itu adalah Lailatul Qadar, dan itu lebih baik daripada seribu bulan.
Menggapai Lailatul Qadar tidak boleh dipisahkan dengan kesungguhan dalam beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan. “Dari Aisyah ra, Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada 10 hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim).
Sebagai seorang muslim sejatinya adalah menutup amalan Ramadan dengan amalan terbaik. “Sungguh (baik atau buruknya) amalan itu tergantung dari penutupnya. (HR. Bukhari-Muslim)
Lailatul Qadar itu terjadi dari waktu malam dimulai yaitu tenggelamnya matahari hingga terbit fajar shubuh. Dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5)
"Barang siapa yang pada malam lailatul qadar mengerjakan ibadah dan berdoa dengan penuh keimanan yang dipersembahkan semata-mata untuk Allah, akan diampuni dari segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang." (HR Ahmad dan Thabrani).
Bagaimana cara menggapai dan menghidupkan Malam Lailatul Qadar?
Maksud dari menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan sebagian besar waktu malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam (saat terbenam sampai fajar).
Ada ulama yang mengatakan bahwa menghidupkannya bisa hanya sesaat.
Sebagaimana dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas disebutkan, “Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.” Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan, “Siapa yang menghadiri shalat berjama’ah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.”
Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.” Semua perkataan di atas diambil dari Lathaif Al-Ma’arif.
Ini sejalan dengan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim).
Tips menggapai malam Lailatul Qadar tentunya mengisi malam-malamnya dengan ibadah. Kesungguhan Ibadah di sepuluh hari terakhir dilakukan melalui i'tikaf di masjid.
Rasulullah melakukan i'tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i'tikaf setelah beliau wafat." (HR Muslim)
Dalam i'tikaf hendaknya setiap muslim secara konsisten dengan mendirikan salat, membaca al Quran, berzikir, muhasabah, bersedekah atau berdoa. Tentunya tanpa mengabaikan di siang haripun tetap di maksimalkan untuk beribadah karena keutamaan sepuluh hari terakhir tadi.
Lantas bagaimana mana dengan wanita yang sedang haid atau nifas.
v "Jubair berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Adh-Dhahhak, bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang sedang nifas, haid, orang yang bepergian (musafir), dan orang tidur, apakah mereka bisa memperoleh bagian dari Lailatulqadar? Jawabnya, ya, mereka masih bisa memperoleh bagian. Setiap orang yang Allah SWT menerima amalnya maka Allah SWT akan memberikan bagiannya dari Lailatulqadar,'" [Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha`iful Ma'arif fima Limawasimil 'Am minal Wazha`if, halaman 264]
Amalan apa yang dilakukan ketika i'tikaf untuk menggapai Lailatul Qadar:
1. Salat fardu berjaamaah di awal waktu dan salat sunah. Salat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah ﷻ, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)
2. Membaca al Quran. “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan dengan membaca tersebut. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan di setiap satu huruf: akan tetapi Alif satu huruf, lam satu. Aku tidak mengatakan bahwa (yang dimaksud huruf) berarti Mim (dimaknai) satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)
3. Perbanyak zikir. Abu Ad Darda meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidakkah aku akan memberitahumu tentang tindakan terbaikmu, yang paling murni di hadapan Tuhanmu, yang menaikkan peringkatmu ke posisi tertinggi, yang lebih baik bagimu daripada menghabiskan emas dan perak, lebih baik daripada bertemu musuhmu sehingga kau menyerang di leher mereka dan mereka menyerang Anda? 'Mereka menjawab, 'Ya, memang', lalu Nabi bersabda, Itu adalah mengingat Allah." (HR. At-Tirmidzi)
4. Perbanyak Doa. mengamalkan do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita ﷺ jikalau kita bertemu dengan malam Lailatul Qadar yaitu do’a: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).
5. Istighfar. Setiap Muslim dianjurkan agar menutup Ramadan dengan memperbanyak istighfar pada sepuluh malam terakhir ini, yaitu dengan memohon ampunan, dan doa orang yang berpuasa itu mustajab pada saat puasanya dan berbukanya. Istighfar adalah penutup amal-amal salih. Salat, haji dan qiyamul lail ditutup dengannya, begitu juga dengan suatu majelis, ia ditutup dengannya. Demikian pula hendaknya seorang Muslim menutup puasa Ramadan dengan istighfar. Karena itu, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada penduduk negerinya (ketika menjadi khalifah) memerintahkan mereka supaya menutup Ramadan dengan istighfar dan membayar zakat fitrah. Sebab, zakat fitrah itu menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan keji, sedangkan istighfar menambal apa yang terkoyak dari puasa itu karena perkataan sia-sia dan keji. Istighfar yang paling bermanfaat ialah yang diiringi dengan taubat, meninggalkan kemaksiatan, menyesalinva, bertekad untuk tidak mengulanginya kembali, dan mengembalikan hak-hak yang dizalimi kepada orang yang berhak menerimanya apabila dosa itu berkenaan dengan orang lain.
Kapan datangnya malam Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, dan berpindah-pindah di antara malam-malam itu. Akan tetap berlangsung setiap tahun hingga hari kiamat. Karena itu, hendaknya setiap Muslim bersungguh-sungguh dalam mencarinya di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan demi mencari pahala, dan meraih keutamaannya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi, "Sungguh aku diperlihatkan pada Lailatul Qadar, lalu aku dilupakan, maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir yang ganjil."(HR. Bukhari)
Lailatul Qadar terjadi pada malam- malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dan berpindah-pindah diantara malam-malam ganjil itu. la tidak dikhususkan pada malam tertentu dalam semua tahun. Adakalanya di suatu tahun Lailatul Qadarnya terdapat pada malam ke-27, di tahun yang lain pada malam ke-21, di tahun yang lain pada malam ke-23, atau selainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di malam yang ganjil." (HR. Bukhari)
Dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar di tujuh malam terakhir, karena malam-malam ini terdapat kemungkinan lebih besar daripada malam-malam lainnya. Hal ini berdasarkan hadits, “Carilah (Lailatul Qadar) pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang dari kalian lemah atau tidak mampu, maka janganlah ia terkalahkan (menyerah) untuk mencari pada tujuh malam tersisa (HR. Bukhari-Muslim)
Yuk, perbanyak shalat sunah, perbanyak doa, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni, perbanyak tilawah al-Qur’an, perbanyak zikir, dan perbanyak istighfar.
Semoga kita dimudahkan meraih keutamaan Lailatul Qadar yang ibadah di dalamnya dapat dilipatgandakan hingga seribu bulan ibadah. Aamin Yaa Mujibbas Saa-ilin.
Wallahu a’lam
Pekanbaru, hari ke-23 Ramadan 1444 H
Sumber: 38 Faidah fil ‘asyril awakhiri wa lailatul qadar. Muhammad Shalih al-Munajjid
Allah ﷻ memberikan keutamaan pada sebagian makhluk-Nya di atas sebagian lainnya. Meninggikan derajat sebagian makhluknya atas sebagian yang lain. Dia Allah ﷻ mengutamakan sebagian hari dan bulan atas sebagian yang lain, dengan menjadikan sepuluh hari pertama dari Dzul Hijah sebagai hari-hari yang paling utama, sedangkan sebaik-baik hari dalam sepekan adalah hari Jumat. Dia mengutamakan bulan Ramadan atas bulan-bulan lainnya, dan menjadikan sepuluh malam terakhir darinya sebagai sebaik-baik malam. Sementara malam paling utama di antara sepuluh malam itu adalah Lailatul Qadar, dan itu lebih baik daripada seribu bulan.
Menggapai Lailatul Qadar tidak boleh dipisahkan dengan kesungguhan dalam beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan. “Dari Aisyah ra, Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada 10 hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim).
Sebagai seorang muslim sejatinya adalah menutup amalan Ramadan dengan amalan terbaik. “Sungguh (baik atau buruknya) amalan itu tergantung dari penutupnya. (HR. Bukhari-Muslim)
Lailatul Qadar itu terjadi dari waktu malam dimulai yaitu tenggelamnya matahari hingga terbit fajar shubuh. Dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5)
"Barang siapa yang pada malam lailatul qadar mengerjakan ibadah dan berdoa dengan penuh keimanan yang dipersembahkan semata-mata untuk Allah, akan diampuni dari segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang." (HR Ahmad dan Thabrani).
Bagaimana cara menggapai dan menghidupkan Malam Lailatul Qadar?
Maksud dari menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan sebagian besar waktu malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam (saat terbenam sampai fajar).
Ada ulama yang mengatakan bahwa menghidupkannya bisa hanya sesaat.
Sebagaimana dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas disebutkan, “Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.” Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan, “Siapa yang menghadiri shalat berjama’ah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.”
Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.” Semua perkataan di atas diambil dari Lathaif Al-Ma’arif.
Ini sejalan dengan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim).
Tips menggapai malam Lailatul Qadar tentunya mengisi malam-malamnya dengan ibadah. Kesungguhan Ibadah di sepuluh hari terakhir dilakukan melalui i'tikaf di masjid.
Rasulullah melakukan i'tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i'tikaf setelah beliau wafat." (HR Muslim)
Dalam i'tikaf hendaknya setiap muslim secara konsisten dengan mendirikan salat, membaca al Quran, berzikir, muhasabah, bersedekah atau berdoa. Tentunya tanpa mengabaikan di siang haripun tetap di maksimalkan untuk beribadah karena keutamaan sepuluh hari terakhir tadi.
Lantas bagaimana mana dengan wanita yang sedang haid atau nifas.
v "Jubair berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Adh-Dhahhak, bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang sedang nifas, haid, orang yang bepergian (musafir), dan orang tidur, apakah mereka bisa memperoleh bagian dari Lailatulqadar? Jawabnya, ya, mereka masih bisa memperoleh bagian. Setiap orang yang Allah SWT menerima amalnya maka Allah SWT akan memberikan bagiannya dari Lailatulqadar,'" [Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha`iful Ma'arif fima Limawasimil 'Am minal Wazha`if, halaman 264]
Amalan apa yang dilakukan ketika i'tikaf untuk menggapai Lailatul Qadar:
1. Salat fardu berjaamaah di awal waktu dan salat sunah. Salat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah ﷻ, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)
2. Membaca al Quran. “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan dengan membaca tersebut. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan di setiap satu huruf: akan tetapi Alif satu huruf, lam satu. Aku tidak mengatakan bahwa (yang dimaksud huruf) berarti Mim (dimaknai) satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)
3. Perbanyak zikir. Abu Ad Darda meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidakkah aku akan memberitahumu tentang tindakan terbaikmu, yang paling murni di hadapan Tuhanmu, yang menaikkan peringkatmu ke posisi tertinggi, yang lebih baik bagimu daripada menghabiskan emas dan perak, lebih baik daripada bertemu musuhmu sehingga kau menyerang di leher mereka dan mereka menyerang Anda? 'Mereka menjawab, 'Ya, memang', lalu Nabi bersabda, Itu adalah mengingat Allah." (HR. At-Tirmidzi)
4. Perbanyak Doa. mengamalkan do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita ﷺ jikalau kita bertemu dengan malam Lailatul Qadar yaitu do’a: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).
5. Istighfar. Setiap Muslim dianjurkan agar menutup Ramadan dengan memperbanyak istighfar pada sepuluh malam terakhir ini, yaitu dengan memohon ampunan, dan doa orang yang berpuasa itu mustajab pada saat puasanya dan berbukanya. Istighfar adalah penutup amal-amal salih. Salat, haji dan qiyamul lail ditutup dengannya, begitu juga dengan suatu majelis, ia ditutup dengannya. Demikian pula hendaknya seorang Muslim menutup puasa Ramadan dengan istighfar. Karena itu, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada penduduk negerinya (ketika menjadi khalifah) memerintahkan mereka supaya menutup Ramadan dengan istighfar dan membayar zakat fitrah. Sebab, zakat fitrah itu menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan keji, sedangkan istighfar menambal apa yang terkoyak dari puasa itu karena perkataan sia-sia dan keji. Istighfar yang paling bermanfaat ialah yang diiringi dengan taubat, meninggalkan kemaksiatan, menyesalinva, bertekad untuk tidak mengulanginya kembali, dan mengembalikan hak-hak yang dizalimi kepada orang yang berhak menerimanya apabila dosa itu berkenaan dengan orang lain.
Kapan datangnya malam Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, dan berpindah-pindah di antara malam-malam itu. Akan tetap berlangsung setiap tahun hingga hari kiamat. Karena itu, hendaknya setiap Muslim bersungguh-sungguh dalam mencarinya di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan demi mencari pahala, dan meraih keutamaannya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi, "Sungguh aku diperlihatkan pada Lailatul Qadar, lalu aku dilupakan, maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir yang ganjil."(HR. Bukhari)
Lailatul Qadar terjadi pada malam- malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dan berpindah-pindah diantara malam-malam ganjil itu. la tidak dikhususkan pada malam tertentu dalam semua tahun. Adakalanya di suatu tahun Lailatul Qadarnya terdapat pada malam ke-27, di tahun yang lain pada malam ke-21, di tahun yang lain pada malam ke-23, atau selainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di malam yang ganjil." (HR. Bukhari)
Dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar di tujuh malam terakhir, karena malam-malam ini terdapat kemungkinan lebih besar daripada malam-malam lainnya. Hal ini berdasarkan hadits, “Carilah (Lailatul Qadar) pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang dari kalian lemah atau tidak mampu, maka janganlah ia terkalahkan (menyerah) untuk mencari pada tujuh malam tersisa (HR. Bukhari-Muslim)
Yuk, perbanyak shalat sunah, perbanyak doa, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni, perbanyak tilawah al-Qur’an, perbanyak zikir, dan perbanyak istighfar.
Semoga kita dimudahkan meraih keutamaan Lailatul Qadar yang ibadah di dalamnya dapat dilipatgandakan hingga seribu bulan ibadah. Aamin Yaa Mujibbas Saa-ilin.
Wallahu a’lam
Pekanbaru, hari ke-23 Ramadan 1444 H
Sumber: 38 Faidah fil ‘asyril awakhiri wa lailatul qadar. Muhammad Shalih al-Munajjid
Langganan:
Postingan (Atom)
Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...
-
Melanjutkan tulisan sebelumnya ayah-jangan-bisu , didalamnya tertulis kesimpulan: “Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahi...
-
Empat Pertanyaan di Hari Kiamat Empat Pertanyaan di Hari Kiamat: Bekal yang Tak Boleh Kita Abaikan 🌙 Dark Mod...

