Kamis, 30 Desember 2021

Hari Jumat, Waktunya Baca Al-Kahfi

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi

Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi: Pelajaran dan Hikmah

Surah Al-Kahfi adalah salah satu surah dalam Al-Qur'an yang sarat akan pelajaran dan hikmah bagi kaum muslimin. Banyak keutamaan yang terkandung di dalamnya, baik terkait dengan perlindungan dari fitnah Dajal maupun pedoman hidup sehari-hari.

Pelajaran Penting dari Surah Al-Kahfi

Pentingnya Mengucapkan "Insya Allah": Jika seseorang hendak melakukan sesuatu, hendaknya mengucapkan, "Insya Allah" (jika Allah menghendaki). Ini menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. (Ayat: 23-24)

Ibnu Abbas r.a.: "Setiap yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an tentang ‘insya Allah’, itu adalah bentuk pengajaran bagi kita agar bersandar kepada Allah dalam setiap urusan."
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di: "Perintah mengucapkan 'Insya Allah' ini adalah adab yang mulia..."

Zikir dan Doa sebagai Penawar Jiwa: Mengingat Allah dan berdoa merupakan penyembuh bagi jiwa dan penangkal dari kelalaian. (Ayat: 24)

Imam Al-Ghazali: "Zikir adalah makanan hati, dan doa adalah senjatanya."
Dr. Aidh Al-Qarni: "Zikir dan doa adalah sumber ketenangan dan kebahagiaan sejati."

Kesabaran Bersama Orang Saleh: Hendaknya bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari. (Ayat: 28)

Imam Asy-Syafi'i: "Jika engkau memiliki teman yang senantiasa membantumu dalam ketaatan..."
Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid: "Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan orang-orang miskin..."

Pahala bagi Orang Beriman dan Beramal Saleh: (Ayat: 30)

Hasan Al-Bashri: "Dunia ini adalah ladang akhirat..."
Dr. Yusuf Al-Qaradawi: "Islam adalah agama amal..."

Harta dan Anak sebagai Perhiasan Dunia: (Ayat: 46)

Umar bin Khattab: "Harta yang paling baik adalah harta yang bermanfaat bagi akhiratmu."
Dr. Zakir Naik: "Kekayaan sejati bukanlah pada harta benda..."

Iblis sebagai Musuh Sejati: (Ayat: 50)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: "Iblis adalah musuh yang nyata bagi manusia..."
Syekh Al-Albani: "Setan adalah musuh yang tidak pernah lelah."

Azab Maksiat Tidak Seketika: (Ayat: 58)

Fudhail bin Iyadh: "Allah menunda hukuman agar hamba bertaubat."
Dr. Bilal Philips: "Allah itu Maha Penyabar..."

Penjagaan Keturunan Saleh: (Ayat: 77, 82)

Hadis Qudsi: "Sesungguhnya Aku (Allah) akan menjaga keturunan hamba-Ku yang saleh."
Dr. Khalid Basalamah: "Cara terbaik menjaga keturunan adalah dengan memperbaiki diri..."

Azab Akhirat Lebih Berat: (Ayat: 87)

Sufyan Ats-Tsauri: "Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin..."
Syekh Muhammad Al-Arifi: "Kenikmatan akhirat jauh lebih abadi..."

Kerugian Orang yang Merasa Berbuat Baik tetapi Sia-sia: (Ayat: 103-105)

Ali bin Abi Talib: "Seorang mukmin tidak akan berbuat sesuatu kecuali ia melihatnya sebagai kebaikan..."
Dr. Zakir Naik: "Pentingnya iman yang benar sebagai dasar amal..."

Surga Firdaus bagi Orang Beriman dan Beramal Saleh: (Ayat: 107-108)

Ibnu Mas'ud: "Surga itu bertingkat-tingkat. Yang paling tinggi adalah Firdaus."
Dr. Syafiq Riza Basalamah: "Keindahan surga Firdaus sebagai puncak kenikmatan..."

Luasnya Ilmu Allah: (Ayat: 109)

Imam Ahmad bin Hanbal: "Ilmu Allah tidak ada habisnya."
Prof. Dr. Quraish Shihab: "Ayat ini adalah pengingat akan keagungan Allah..."
Keutamaan membaca surat Al Kahfi:

1. Disinari Cahaya di Antara Dua Jumat:
Hadis dari Abu Sa'id al-Khudri:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at." (HR. An Nasa'i dan Baihaqi, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami' no. 6470)

Hadis dari Abdullah bin Umar:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَطَعَ لَهُ نُورٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءِ يُضِيءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
"Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya hingga ke langit, yang akan menyinarinya pada hari Kiamat, dan dosa-dosanya akan diampuni di antara dua Jumat." (HR. Ibnu Mardawaih, dari Abdullah bin Umar)

2. Disinari Cahaya Antara Dia dan Baitul Atiq (Ka'bah):
Hadis dari Abu Sa'id al-Khudri:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Baitul 'Atiq (Ka'bah)." (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami' no. 6471)

3. Terlindungi dari Fitnah Dajjal:
Hadis dari Abu Darda' (sepuluh ayat pertama):
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
"Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal (fitnah)." (HR. Muslim no. 809)
|
Dalam riwayat lain disebutkan (sepuluh ayat terakhir):
"...Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim I/555 no.809, Ahmad V/196 no.21760, Ibnu Hibban III/366 no.786 dll)"

Hadis dari Nawas bin Sam'an:
Dalam sebuah hadis yang cukup panjang tentang Dajjal, disebutkan: "Maka barang siapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi." (HR. Muslim)

Merayakan Tahun Baru (Masehi), Bolehkah?

Sudah menjadi kebiasaan di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia dalam setiap akhir tahun menuju pergantian tahun berikutnya, kemeriahannya menjadi momen yang ditunggu-tunggu banyak kalangan. Mungkin pergantian tahun 2021 kemarin saja yang berbeda dikarenakan masih merebaknya pandemi Covid-19. Sebagian besar orang ingin dan terpaksa merayakannya dengan tidak berkumpul atau merayakannya bersama-sama.

Bagaimana dengan pergantian tahun 2022, seiring angka yang terjangkit covid-19 menurun drastis dan aktivitas-aktivitas untuk menjaga protokol kesehatan dan kebersihan sudah menjadi kebiasaan, perayaan dan even tahun baru ini mungkin mulai semarak lagi. Berkumpul bersama dengan keluarga, teman, sahabat, mengunjungi tempat-tempat selebrasi atau bergabung dengan even-even yang telah dirancang pemerintah setempat. Pandemi belum berakhir, jangan abai dan tetap waspada dengan tetap menerapkan prokes dan pola hidup bersih.

Terkait perayaan tahun baru Masehi ini di kalangan umat Islam selalu menjadi perdebatan. Sebagian kalangan ada yang membolehkan dan sebagian lagi ada yang melarang tentunya masing-masing pendapat pasti ada dasar dan alasannya.

Berbicara boleh atau tidaknya merayakan tahun baru Masehi, dalam Islam harus merujuk kepada sumber hukum Islam yang disepakati jumhur ulama yaitu Alquran, Hadis, Ijma' dan Qiyas.

Dari berbagai sumber yang penulis himpun, sebagian ulama yang membolehkan perayaan tahun baru menyatakan tidak ada nas-nas khusus yang melarang ataupun yang mewajibkannya. Bolehnya perayaan tahun baru, semata-mata merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah. Sepanjang perayaan malam tahun baru tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang non-muslim maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan mengikuti ritual kaum non-muslim, maka tidak ada larangannya. Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya dan seseorang akan dibalas sesuai dengan yang diniatkan”. (HR Bukhari-Muslim).

Bagaimana dengan sebagian besar ulama lain yang mengharamkan. Mereka berpendapat bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya. Kemudian merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai (tasyabbuh) itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda: "Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta." Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah SAW, Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi? Beliau menjawab, Selain mereka lantas siapa lagi?" (HR. Bukhari No. 7319).

Perayaan tahun baru seringkali identik dengan kesia-siaan bahkan kemaksiatan seperti minum khamar, berzina, tertawa berlebihan, meniup terompet, dan hura-hura, bahkan umumnya dilakukan sepanjang malam. Padahal Allah telah menjadikan malam untuk beristirahat.
Firman Allah: "Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (QS. Al-Qashas: 73)

Mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam tujuannya adalah untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.
“Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya”. (QS. Al-Maidah: 2).

Ulama lain menganggap perayaan tahun baru termasuk bid’ah, mengingat Rasulullah tidak mengajarkan hal tersebut untuk dilakukan.

Kegiatan perayaan malam tahun baru umumnya dilakukan di luar batas sewajarnya. Yakni dengan menggelontorkan dana besar-besarnya untuk membakar kembang api dan membeli terompet atau semacamnya dalam jumlah yang banyak, maka hal ini termasuk membuang-buang harta. Padahal Allah juga telah berfirman:
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isra’: 27)

Bahwa perayaan tahun baru tersebut tidak berkaitan langsung dengan umat Islam adalah benar. Tahun baru Masehi adalah tahun umat Kristiani yang menghitung awal tahun dari kelahiran Nabi Isa (Yesus) yang sumber sejarahnya yaitu penetapan kalender matahari moleh Julius Caesar 1 Januari sebagai pertanda tahun baru bermula pada abad 46 sebelum masehi (SM). Julius Caesar memilih 1 Januari sebagai hari perayaan tahun baru untuk menghormati nama bulan tersebut. Diketahui bulan Januarius diambil dari nama dewa permulaan di Romawi, yaitu dewa Janus.

Oleh karena itu, tidak ada hubungan dan kepentingan umat Islam dengan pergantian tahun yang dimulai pukul 00.00 pada tanggal 31 Desember itu. Maka untuk menjaga kehormatan dirinya, umat Islam diharapkan untuk tidak menghadiri perayaan-perayaan yang tidak pernah dicontohkan pada masa Rasulullah, para sahabat, dan para salafussalih.

"Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." (QS al-Furqan: 72)

Terlepas dari dua perbedaan tentang boleh tidaknya merayakan tahun baru masehi bagi muslim, bahwa dalam ajaran Islam hari raya hanya ada dua saja, yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha. Selebihnya tidak ada, sehingga tidak ada kepentingan apapun untuk merayakan datangnya tahun baru masehi.

Sebagai kehati-hatian umat Islam diharapkan tidak menjadikan kegiatan ini sebagai rutinitas bahkan keharusan dikarenakan lebih besar mudaratnya dari manfaatnya diantaranya:
1. Tidak ada tuntunannya dari Rasulullah;
2. Tidak ada keuntungan apapun secara moril maupun materil untuk melakukan perayaan itu;
3. Berpotensi jatuh ke dalam kemaksiatan dan kerusakan;
4. Dikhawatirkan pada suatu saat akan dianggap sebagai sebuah kewajiban, bahkan menjadi ritual agama.

Kita perlu menyadari bahwa pergantian tahun itu justru menjadi tanda yang jelas telah semakin berkurangnya umur kita dan semakin dekatnya kita menuju kematian yang sudah ditetapkan.

"Setiap umat memiliki ajal, bila tiba ajal mereka, maka tidak bisa minta mundur dan tidak bisa minta maju." (QS. Al-A’raf: 34)

Sungguh kematian yang indah adalah kematian dalam keadaan melakukan kebaikan, dalam waktu dan tempat yang baik.

Namun jika kita harus melakukan aktivitas akhir tahun untuk menjaga agar kita tidak terperosok dalam kesia-siaan atau kemaksiatan, alangkah baiknya diisi hal-hal yang positif bahkan bisa mendatangkan pahala kebaikan seperti tabligh akbar, pengajian, muhasabah, dan santunan anak yatim atau fakir miskin. Kalaupun dalam aktivitas-aktivitas positif tersebut mengharuskan begadang alangkah baiknya untuk salat disepertiga malam sambil memanjatkan doa-doa terbaik.

Terkait muhasabah yaitu upaya dalam melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap diri sendiri dalam melihat aspek kebaikan dan keburukan, sangat dianjurkan dalam Islam. Muhasabah ketika akan melakukan sesuatu amalan, kegiatan ataupun pekerjaan yang sudah tentu termasuk saat ingin melakukan perayaan tahun baru.

Kita uji dalam hati kita sebagai bentuk intropeksi diri apakah melakukan perayaaan tahun baru itu baik untuk kita atau tidak. Bagaimana cara mengujinya?, menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, muhasabah ada dua macam yaitu, sebelum beramal dan sesudahnya.
1. Sebelum beramal, yaitu dengan berfikir sejenak ketika hendak berbuat sesuatu, dan jangan langsung mengerjakan sampai nyata baginya kemaslahatan untuk melakukan atau tidaknya. Al-Hasan berkata: "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berdiam sejenak ketika terdetik dalam fikirannya suatu hal, jika itu adalah amalan ketaatan pada Allah, maka ia melakukannya, sebaliknya jika bukan, maka ia tinggalkan".
2. Introspeksi diri setelah melakukan perbuatan. Ini ada tiga jenis:
a. Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah yang belum sepenuhnya ia lakukan, lalu ia juga muhasabah, apakah ia sudah melakukan ketaatan pada Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum.
b. Introspeksi diri terhadap setiap perbuatan yang mana meninggalkannya adalah lebih baik dari melakukannya.
c. Introspeksi diri tentang perkara yang mubah atau sudah menjadi kebiasaan, mengapa mesti ia lakukan?, Apakah ia mengharapkan Wajah Allah dan negeri akhirat?, Sehingga (dengan demikian) ia akan beruntung, atau ia ingin dunia yang fana?, Sehingga ia pun merugi dan tidak mendapat keberuntungan.

Hasilnya, ketika mudaratnya lebih besar, maka tinggalkan. Sebaliknya, ketika manfaatnya lebih besar maka silahkan lakukan.

Sisi lain yang bisa kita lakukan, untuk yang masih diberikan nikmat sehat dan keselamatan di masa pandemi ini, manfaatkan untuk kembali menjalin silaturahmi dengan keluarga dan kerabat, bertemu dan berkumpul sebagai bentuk rasa syukur yang dapat diisi dengan tadarus, banyak berdoa, dan diskusi-diskusi ringan atau bisa merancang rencana untuk tahun yang akan datang. Dan hendaknya aktivitas apapun itu tetap disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya, tidak berlebihan, dan tetap memperhatikan manfaat dan mudaratnya.

Semoga kita bisa mengambil keputusan yang terbaik, apakah kita tidak usah merayakan tahun baru atau merayakan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Wallahu a’lam


Pekanbaru, 30 Desember 2021

Kamis, 23 Desember 2021

Sukses, Takdir atau Ikhtiari

Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar
“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201).

Doa singkat ini adalah doa “sapu jagat” yang paling dihafal dan sering dipanjatkan seorang muslim karena mewakili hasrat untuk mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Doa ini pun menurut hadis merupakan doa yang paling sering dipanjatkan oleh Rasullullah ﷺ.

Kesuksesan berupa kebaikan di dunia yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup seluruh keinginan duniawi, baik berupa kesehatan, rumah yang lapang, istri yang cantik, rejeki yang melimpah, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang mewah, pujian dan selainnya (Tafsir Ibn Katsir 1/343).

Sedangkan kebaikan di akhirat tentulah yang dimaksud adalah al-jannah (surga) karena mereka yang tidak dimasukkan ke dalam surga sungguh telah diharamkan untuk memperoleh kebaikan di akhirat (Tafsir ath-Thabari 1/553).

Termasuk juga di dalamnya adalah rasa aman dari rasa takut ketika persidangan di hari kiamat dan kemudahan ketika segala amalan dihisab (Tafsir Ibn Katsir 1/342).

Mewakili makna doa tersebut setiap muslim dibolehkan berharap kebaikan di dunia yang diringi kebaikan akhirat, karena manusia pastilah membutuhkan kebaikan di dunia terlebih kebaikan di akhirat kelak namun sejatinya prioritas utama seorang hamba dalam do’anya adalah perkara akhirat. Hal ini ditunjukkan dalam ayat di atas, dimana terdapat dua permohonan terkait perkara akhirat, yaitu kebaikan akhirat dan perlindungan dari siksa neraka, dan hanya satu permohonan terkait pekara dunia.

Bicara tentang sukses, banyak orang yang mengartikan kesuksesan terletak pada kehidupan di dunia ujungnya kedudukan atau harta, seperti pangkat yang tinggi, jabatan direktur atau manajer di level perusahaan, memiliki harta dan tabungan yang banyak. Fisik yang cantik atau tampan dengan pasangan serta keluarga yang bahagia pun menjadi standar kesuksesan termasuk memiliki banyak teman pejabat, artis, dan lain sebagainya.

Sukses tersebut adalah sukses yang bersifat fana atau tidak akan abadi. Orang kaya bisa saja jatuh miskin atau hartanya ditinggal ketika ia mati. Jabatan akan pergi seiring usia pensiun, cantik akan sirna di telan waktu senja, dan seterusnya.

Kesuksesan di dunia bukanlah hal yang mutlak untuk didahulukan dan tidak menjadi yang ditinggalkan demi mengejar akhirat saja. Justru sukses di dunia tersebut haruslah menjadi dasar pencapaian kehidupan sukses di akhirat.

Quran dan Sunah telah mengajarkan kepada kita untuk mendahulukan kesuksesan akhirat karena Allah ﷻ menjamin kebaikan dunia akan datang setelahnya.
“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Imam Ahmad)

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan". (QS.Hud:15-16)

Membicarakan kesuksesan dunia dan akhirat sebagian besar orang percaya, bahwa kesuksesan, kegagalan hidupnya, atau keburukan yang menimpanya adalah tergantung atas usahanya sendiri. Sedang sebagian yang lain lebih percaya bahwa apa yang terjadi adalah karena sudah takdirnya.

Banyak penelitian oleh para ahli dan akademisi mengenai penyebab (pusat) kendali hidup seseorang hingga ia menjadi sukses. Teori itu dikenal dengan sebutan locus of control.
Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian, yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu atau tidaknya seseorang mengontrol nasib atau peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya berada dibawah kontrol dirinya, dikatakan individu tersebut memiliki internal locus of control. Sementara individu yang memiliki keyakinan bahwa lingkunganlah yang mempunyai kontrol terhadap nasib atau kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupannya dikatakan individu tersebut memiliki eksternal locus of control.

Dalam konteks agama, kedua tipe tersebut dikenal dengan kelompok Qodariyah dan Jabariyah. Dengan demikian kelompok Qodariyah memiliki internal locus of control, bahwa apakah seseorang sukses atau tidaknya di dunia, masuk surga ataupun neraka itu adalah karena dia sendiri yang menentukan. Sedangkan kelompok Jabariyah memiliki eksternal locus of control. Jabariyah berasal dari kata jabr yang artinya paksaan, bahwa manusia terpaksa harus menjalani takdir hidupnya. Tokoh utama dari perspektif ini adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Dalam pandangan ini manusia adalah lemah, tidak berdaya, seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak terlepas dari skenario dan kehendak Allah ﷻ (Asyhari, 2016).

Contoh yang mudah dipahami ketika pandemi Covid-19 merebak, beberapa fatwa dari ijtima berbagai belahan dunia keluar, termasuk Indonesia. Kala itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan untuk menghidari penyebaran virus corona dengan meniadakan salat jumat dan menggantikannya dengan salat duhur di rumah masing-masing. Mereka yang taat pada anjuran MUI berkeyakinan bahwa Tuhan adalah pencipta segalanya, yakin bahwa corona itu adalah ciptaan Tuhan, tetapi berbeda keyakinan atau pandangan bagi kelompok yang tidak mau taat. Tujuan dikeluarkan fatwa itu salah satu bentuk berihtiar atau berusaha untuk menjauhi kemungkinan-kemungkinan buruk, termasuk kemungkinan tertular atau menularkan virus Corona ketika tidak menjaga jarak atau berkumpul.

Dalam Islam dikenal bahwa kelompok masyarakat yang mengikuti anjuran MUI disebut dengan Qadariah, sementara Kelompok masyarakat yang menolak disebut dengan Jabariah. Dengan begitu, perilaku masyarakat menghadapi kebijakan pemerintah dan MUI terhadap virus Corona tidak lain adalah pertarungan antara dua aliran yaitu aliran Qadariah dan aliran Jabariah. Dua-duanya sejak lama ada dikalangan ummat Islam, tidak terkecuali di Indonesia dan sangat berpengaruh pada masyarakat muslim, baik dalam berpikir, bersikap dan berperilaku.

Tentunya muncul pertanyaan, mana yang paling benar dari kedua pandangan tersebut. Secara rasional masing-masing punya dasar dan alasan yang tidak akan ada ujungnya jika diperdebatkan. Selanjutnya muncul pertanyaan kembali, sukses itu apakah memang takdir atau ikhtiari (usaha sendiri).

Bila dicari dari kitab suci Al Quran dan hadis, ternyata kedua pandangan tersebut ada dan didukung dengan nas-nas yang kuat. Untuk sukses itu harus dimulai dengan diri sendiri, terdapat dukungan dari Quran Surat Ar Ra’d ayat 11. Dalam ayat tersebut terlihat bahwa manusia sendirilah yang harus berusaha untuk perubahan dirinya.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (QS Ar Ra’d: 11)

Adapun untuk sukses karena sudah ditentukan sesuai takdirnya, terdapat beberapa ayat yang menunjukkan peran Tuhan dalam perilaku kita dan juga hadis sahih yang menjelaskan bahwa segala hal tentang manusia telah dituliskan dengan jelas masalah rejeki, ajal, amal, dan kecelakaan atau kebahagiaannya, ketika ruh janin berumur 40 hari.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shafaat: 96)

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada kami: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila masing-masing pusat kontrol untuk sukses ada dukungannya, apakah memang ada pertentangan antara ayat-ayat quran dan hadis, mengingat kedua pendapat bertolak belakang? Mustahil ada pertentangan antara ayat Al Quran dengan ayat yang lain dan juga dengan hadis tersebut di atas tadi, walaupun sering dikutip banyak pihak, namun belum berisi keseluruhan ayat. Bila kita baca keseluruhan ayat, maka ternyata tersirat bahwa kedua pandangan tersebut benar.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar Ra’d: 11)

Terlihat dalam ayat tersebut bahwa manusia dapat mengubah nasibnya, namun Allah ﷻjuga Maha Berkehendak terhadap segala sesuatu, yang tidak dapat ditolak oleh makhluknya. Dengan demikian, kita akan melihat bahwa sukses itu adalah ikhtiari yang sudah ditakdirkan adalah benar dan tidak saling bertentangan.

Dalam Islam keyakinan akan kemampuan pada diri sendiri sangat penting, karena keyakinan membuat seoarang muslim mampu mengerahkan seluruh tindakan dan perilakunya. Keyakinan akan diri sendiri untuk mencapai kesuksesan dengan sendirinya akan menghapus keraguan, kegelapan, atau kebodohan yang mungkin membayanginya.

Sikap optimis akan kemampuan diri sendiri merupakan faktor yang sangat penting untuk menjadi orang yang maju dan sukses. Sikap optimis membuat kita senantiasa tegar, penuh harapan dalam menatap masa depan. Ketika timbul masalah berusaha dipecahkan dengan pendekatan yang rasional dan tetap dikembalikan pada ketentuan ilahi. Tinggalkan sikap berputus asa dan yakinlah setiap ada kesulitan bersama itu ada kemudahan. Firman Allah ﷻ:
“karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”(QS. Al-Insyirah: 5-6)

Sedangkan meyakini takdir sebagai penentu kesuksesan juga perlu menjadi bagian dari pemahaman setiap mukmin. Takdir diyakini merupakan pertemuan antara ikhtiar atau usaha manusia dan kehendak Allah ﷻ. Orang yang memahami takdir akan teguh menjalani kehidupan. Ia meyakini semua kebaikan dan keburukan semata atas kehendak-Nya. Segala sesuatu yang Allah ﷻ kehendaki pasti terjadi, begitu juga sebaliknya, jika Allah ﷻ tidak menghendaki, tidak akan terjadi. Dan yakinlah setiap yang ditakdirkan-Nya, pastilah ada hikmahnya.

Allah ﷻ berfirman, "Katakanlah: 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orangorang yang beriman harus bertawakal" (QS at-Taubah: 51).

Takdir terkadang disikapi salah. Tak jarang kita ketika mendapat kesulitan langsung berkeluh kesah, frustrasi, atau putus asa, bahkan berani menyalahkan Tuhan. Padahal, bisa jadi apa yang Allah takdirkan ialah untuk menguji seberapa kuat keimanan kita, siapa yang paling berhak berada di sisi- Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah apabila mencintai sebuah kaum, Dia mengujinya. Barang siapa yang ridha maka dia mendapatkan keridhaan dan siapa yang benci maka dia hanya akan mendapatkan kebencian." (HR at-Tirmidzi).

fahamilah takdir itu dengan penuh keimanan. Percaya dan meyakini sepenuh hati adalah kunci ketenangan hati. Sejatinya, takdir bertujuan agar seseorang merasa rendah di hadapan Allah ﷻ. Menyadari bahwa hanya Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Gantungkan segala doa dan ikhtiar kita kepada- Nya. Lakukan yang terbaik dalam setiap prosesnya.

Allah ﷻ telah menggariskan keputusan, dengan menuliskan takdir kehidupan bagi diri kita, namun semua tergantung pada pilihan kita apakah mengambil keputusan yang salah atau benar, jalan yang sesat (fujur), atau jalan yang benar (takwa). Suksesnya kita di dunia yang menjadi pondasi sukses kita di akhirat kelak.

Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha, yakni maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. As-Syams: 8)

Ketika kita selalu berusaha berada dalam kebaikan, menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan bagi seorang Mukmin, sebagaimana disabdakan Nabiullah ﷺ. "Sangat menakjubkan bagi orang Mukmin, apabila segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan terjadi bagi seorang yang beriman, kecuali apabila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, yang demikian itu sangat baik, dan apabila ia tertimpa kesusahan ia bersabar, yang demikian itu sangat baik baginya." (HR Muslim).

Semuanya tergantung kita sebagai seorang mukmin ketika ingin sukses di dunia, bahwa ikhtiar adalah proses yang wajib dijalani disertai keyakinan apapun hasilnya semata karena takdir Allah ﷻ. Begitupun untuk kesuksesan akhirat yang tentunya berharap masuk surga dengan ikhtiar amal-amal terbaik, menjauhi segala larangan-Nya, dan melaksanakan segala perintah-Nya. Dengan demikian, jawaban sukses itu apakah takdir atau ikhtiari adalah dua-duanya benar sebagai syarat kumulatif yang harus dijalani setiap mukmin.

Semoga kita dimampukan untuk memilih jalan yang baik dan benar, hingga mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Aamiin.


Pekanbaru, 23 Desember 2021

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...