Senin, 20 Januari 2025

Mukmin yang Kuat Lebih Dicintai Allah ﷻ

Salah satu sumber kekuatan agar bisa bersungguh-sungguh (semangat) dalam beramal, sehingga menjadi mukmin yang lebih dicintai Allah, adalah memiliki keimanan dan fisik yang kuat, merujuk pada hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah ﷺ:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon."

Amalan bisa terpelihara dikarenakan kondisi fisik kita kuat dan sehat. Ini menjadi keharusan setiap mukmin ketika ingin beramal dalam kondisi bugar, sehat, minimal tidak dalam keadaan lelah.

Istiqamah dalam amal tidak hanya membutuhkan iman, namun juga membutuhkan kondisi badan yang sehat dan tidak dalam kondisi lelah. Sehingga menjadi penting setiap mukmin peduli akan kesehatannya dan menjaga waktu-waktu yang bisa dimaksimalkan dalam beribadah. Contoh ketika membaca Quran saat letih bisa membuat bacaan kita salah akibat kantuk melanda. Baca selengkapnya di Konsistensi Amal Membutuhkan Kesungguhan.

Mayoritas ulama mengatakan, mukmin kuat di sini adalah bukan mukmin yang kuat badannya namun kuat imannya. Kita dapat saja menyebut seorang itu kuat, maksudnya adalah dia perkasa dengan kekuatan fisiknya. Begitu pula kita juga dapat menyebut kuat itu dalam masalah keimanan. Yang dimaksud dengan kuatnya iman di sini adalah seseorang mampu melaksanakan kewajiban dan dia menyempurnakannya pula dengan amalan sunah.

Sedangkan seorang mukmin yang lemah imannya kadangkala tidak melaksanakan kewajiban, mudah berbuat maksiat dan enggan meninggalkan yang haram. Orang seperti inilah yang memiliki kekurangan sehingga dianggap lemah. Namun, jangan disalahpahami bahwa mukmin yang lemah imannya bukan berarti tidak memiliki kebaikan sama sekali, bisa jadi akhir kehidupannya husnul khatimah. Mukmin yang lemah imannya masih tetap memiliki kebaikan dan dia tentu saja lebih baik daripada orang kafir.

Sejatinya mukmin dengan fisik yang kuat dan sehat sangat menunjang aktivitas kehidupannya. Mudah dalam mengkontrol atas dirinya ataupun atas orang lain ketika ia berperan sebagai pemimpin.

Dalam riwayat Bukhari Muslim Rasulullah ﷺ bersabda, “أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ”.
“Setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Dan syarat minimal untuk menjadi pemimpin adalah memiliki kelebihan ilmu dan fisik. Firman Allah,

قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصۡطَفٰٮهُ عَلَيۡکُمۡ وَزَادَهٗ بَسۡطَةً فِى الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ‌ؕ "Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik." (QS. Al Baqarah: 247)

Bahkan sehat jasmani seperti nikmat dunia yang besar. Rasululullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa di antara kalian di pagi hari aman di tengah-tengah keluarganya, sehat jasmaninya, memiliki kebutuhan pokok untuk sehari-hari, maka seakan akan dunia telah dikumpulkan untuknya." (HR. Tirmidzi: 2268)

Membicarakan sisi kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) yang merupakan salah satu sisi pribadi mukmin, idealnya memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Salat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat, apalagi saat tugas yang lebih berat seperti berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang mukmin dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan tentunya tetap berharap agar kita sebagai seorang muslim tidak mudah sakit atau sakit-sakitan.

Maka menjadi mukmin yang kuat adalah tujuan yang mulia dan memerlukan usaha yang konsisten. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil dari berbagai sumber agar menjadi mukmin yang kuat:

1. Memperkuat Iman. Pelajari Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah ﷺ untuk memahami ajaran Islam secara mendalam.Kemudian berusaha mengamalkannya bertahap, khusyuk konsisten dan terpelihara. Dengan target menambah amalan sunah. Perbanyak doa di waktu mustajab dan berzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Karena zikir dapat melunakan hati dan menguatkan iman.

2. Menjaga Kesehatan Fisik. Olahraga teratur wajib menjadi rutinitas pekanan. Karena olahraga membantu menjaga tubuh tetap bugar dan sehat, yang merupakan anugerah dari Allah ﷻ. Konsumsi makanan halal dan thayyib (baik) serta suplemen tambahan atau vitamin untuk menjaga stamina tubuh.

3. Berusaha dan kosisten menunjukan akhlak mulia. Menjaga sikap jujur dan dapat dipercaya dalam setiap aspek kehidupan mejadikan kita selalu siap untuk mendapatkan perintah atau penugasan secara profesional dan penuh keikhlasan di lingkungan kerja atau dalam bermasyarakat. Selanjutnya bersabar menghadapi ujian dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah ﷻ.

4. Meningkatkan Ilmu Pengetahuan dan berusaha mengamalkan dan menularkan ke sesama. Karena dengan belajar secara berkelanjutan baik ilmu dunia terlebih ilmu agama mendorong fungsi akal kita lebih optimal serta memelihara pikiran kita agar tidak mudah pikun. Membaca dan mentadaburi ilmu ilmu agama, ikut kajian mendengarkan ceramah, dan merenungkan atas tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, merupakan bagian aktivitas kita untuk menikmati taman surga di dunia. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, Ketika lewat kalian di taman-taman surga, maka singgahlah. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa taman-taman surga itu? Rasulullah menjawab: taman-taman surga itu adalah majelis-majelis ilmu.

5. Berperan Aktif dalam lembaga atau Komunitas-komunitas yang positif. Karena di dalamnya kita bisa terlibat dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat dan membantu mereka yang membutuhkan. Hal ini sebagai upaya menjaga silaturahmi, baik dengan keluarga, tetangga, dan teman-teman. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang berbunyi, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturahmi”.

6. Berusaha keras untuk mengendalikan hawa nafsu dengan cara menjauhi perbuatan dosa dan perbuatan yang dilarang Allah ﷻ. Jika terjatuh dalam maksiat segera bertobat dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Pentingnya menjaga mata, telinga, dan lisan. Jaga agar tidak melihat, mendengar, atau mengucapkan hal-hal yang tidak baik. Rasulullah mengajarkan orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan amarahnya. Sabda beliau, "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (Mutafaqun alaih)

Dengan konsisten menjalankan langkah-langkah di atas, insya Allah kita menjadi mukmin yang kuat dan dicintai oleh Allah ﷻ.

Sebagai penutup mengutip perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, (وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ), “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.” (Al Jaweabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah)

Seorang Ulama, Abu Bakr Al-Balkhi, beliau berkata: “Rajab adalah masa menanam, Sya'ban adalah masa menyiram/memelihara tanaman dan Ramadhan adalah masa Menuai hasilnya”.
"Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya'ban, wa ballighna Ramadhan".


Wallahu a’lam
(Bogor, 20 Januari 2025-TSH)

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...