Kamis, 29 Januari 2015

Syafi’i Membawa Apa?

Kisah Imam Syafi'i dan Hikmahnya

Kisah Teladan Imam Syafi'i dan Hikmahnya

Suatu saat ketika Imam Syafi’i berusia 20 tahun, salah satu gurunya di Mekkah menyuruh beliau berangkat ke Madinah dan Irak untuk menimba ilmu kepada imam-imam besar di sana. Penyebabnya, gurunya di Mekkah merasa ilmunya sudah habis untuk diberikan kepada Imam Syafi’i. Berangkatlah Imam Syafi’i ke sana dengan terlebih dulu meminta izin kepada ibundanya. Ibunya berkata,

“Nak, pergilah menuntut ilmu untuk jihad di jalan Allah, kelak kita bertemu di akhirat saja.”

Lebih dari 10 tahun Imam Syafi’i menimba ilmu dan menjadi ulama besar jauh di luar kampung halamannya. Tentulah sebagai seorang anak yang berbakti muncul kerinduan untuk bertemu ibunya di Mekkah. Namun, beliau tidak berani pulang karena setiap muncul keinginan tersebut, beliau teringat pesan ibunda beliau, "kelak kita bertemu di akhirat saja." Karenanya, sebelum ada izin dari ibunya, beliau tidak berani menginjakkan kaki di rumah ibunya.

Suatu saat, ibunya Imam Syafi'i pergi untuk berhaji. Ada halaqah besar di Masjidil Haram. Seorang ulama besar dari Irak dalam halaqah tersebut sering menyebut Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i. Kemudian ibunya Imam Syafi'i mendatangi imam itu dan bertanya, "Ya Syekh, siapakah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i itu?"

Kemudian Syekh tersebut menjawab dengan penuh kebanggaan, "Dia adalah guruku, seorang yang alim berada di Irak yang asalnya dari Mekkah sini." Lantas ibu Imam Syafi'i berkata, "Ketahuilah Syekh, Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i itu adalah anakku. Pesanku kepada Syafi'i, jikalau dia sekarang ingin pulang, aku mengizinkannya untuk pulang.”

Setelah mendapat informasi dari muridnya, Imam Syafi'i tidak mengulur-ulur waktu. Beliau pun bersiap menuju Mekkah. Namun sebelumnya, Imam Syafi'i berpamitan kepada warga Irak setempat. Karena kealiman dan kemasyhuran beliau di Irak, masyarakat yang mencintai dan mengagumi beliau, merasa bersimpati kepada Imam Syafi'i dengan memberi apa yang mereka punya dari kekayaan mereka. Ada yang memberi unta, dinar, dan lainnya. Subhanallah, Imam Syafi'i pun pulang dengan membawa ratusan unta beserta isinya dan dikawal oleh beberapa murid beliau.

Sesampainya di perbatasan kota Mekkah, Imam Syafi'i mengutus seorang muridnya agar mengabarkan kepada ibundanya bahwa saat ini beliau sudah di perbatasan kota Mekkah. Sesampainya murid Imam Syafi'i di sana, dia ditanya ibunda beliau, "Syafi'i membawa apa?" Dengan bangga murid Imam Syafi'i menjawab, "Imam Syafi'i pulang dengan membawa ratusan unta dan harta lainnya." Mendengar hal tersebut, ibunda Imam Syafi'i menutup pintunya sambil berkata,

“Aku menyuruh Syafi'i ke Irak bukan untuk mencari dunia...! Katakan kepada Syafi'i bahwa Syafi’i tidak boleh pulang!"

Sekembalinya, murid Imam Syafi'i gemetar dan berkata kepada Imam Syafi'i, "Wahai Imam, ibunda Anda marah, dan menyuruh Anda tidak boleh pulang ke rumah.” Lalu Imam Syafi'i berkata, "Mengapa bisa demikian?" Diceritakanlah dengan detail kejadian tadi. Seketika Imam Syafi’i berkata, "Sungguh kesalahan besar dirimu jika engkau menganggap ibundaku akan bahagia dengan harta yang kubawa ini. Baiklah, sekarang kumpulkan orang Mekkah dan bagikan semua unta dan kekayaan lainnya pada penduduk Mekkah, dan sisakan kitabku. Setelah itu, kabarkan lagi kepada ibuku.”

Setelah Imam Syafi'i membagikan semua untanya dan harta yang lainnya, yang beliau bawa hanya kitab. Maka beliau diperbolehkan pulang dan bertemu ibunda tercinta.***

Hikmah dari Kisah Imam Syafi'i

Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari sekelumit kisah kealiman dan kesalehan Imam Syafi’i rahimahullah.

  1. Kesalehan Diawali Ilmu Agama

    Kesalehan seorang hamba di mata Allah subhanahu wa ta'ala dan manusia diawali dengan ilmu agama (dinul Islam). Menuntut ilmu agama yang juga merupakan ilmu jiwa adalah kewajiban yang utama (fardu ain) setiap muslim. Tidak ada batasan umur dalam menuntut ilmu, namun usia emas seorang hamba dalam menimba ilmu adalah dalam usia muda. Bukti kesalehan Imam Syafi’i dimulai dengan luasnya keilmuan beliau di usia belia. Pada saat umur 7 tahun beliau sudah hafal Al-Qur'an dan di usia 12 tahun beliau sudah membaca dan menghafal kitab Al-Muwatta’ yang berisi 1.720 hadis pilihan karya Imam Malik padahal beliau belum berjumpa dengan Imam Malik. Subhanallah.

    Beberapa abad kemudian, ilmu sebagai awal kesalehan diperkuat oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin yang menjelaskan bahwa ilmu jiwa (ilm-al-nafs) mengarahkan pada tiga kekuatan dalam diri manusia, yakni:

    • Kekuatan pikir, membuka manusia meraih hikmah. Karena hikmah, manusia tidak lagi mencampuradukkan antara keimanan terhadap yang hak dan batil, antara perkataan yang benar dan dusta, dan seterusnya.
    • Kekuatan syahwat, mengarahkan ke kesederhanaan jiwa (iffah). Karena iffah akan membentengi manusia dari perbuatan maksiat dan senantiasa mendorongnya untuk mendahulukan perilaku yang terpuji.
    • Dan kekuatan amarah, diarahkan untuk mengendalikan kekuatan amarah hingga tercapainya kesabaran (hilm) dan keberanian (syaja’ah).

    Jika ketiga kekuatan tersebut terarah dan terbina dengan baik, maka kesalehan seorang hamba akan terwujud. Nabiullah Ibrahim alaihissalam pun berdoa:

    "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS. Asy-Syu'araa: 83)
  2. Derajat Orang Berilmu

    Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan meneguhkan kedudukan di dunia dan di akhirat. Imam Syafi’i dalam usia 15 tahun telah duduk di kursi mufti kota Mekkah. Saat dewasa beliau menjelma jadi ulama yang masyhur yang begitu dimuliakan oleh para murid-muridnya dan masyarakat, dihormati khalifah (penguasa) saat itu serta dikagumi oleh guru-guru dan imam-imam lainnya.

    Dan ketika kemasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab, maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah. Setelah beliau wafat pun di usia ke-54, Imam Ar-Rabi seorang ahli hadis dan fikih teman beliau menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus.” Subhanallah.

    Firman Allah:

    “Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu di antara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Mujadilah: 11)
    “(Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)).” (QS. Al-Baqarah: 269)
  3. Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

    Peran orang tua dalam pendidikan anak. Perintah, dorongan, doa orang tua terutama ibu merupakan hal yang harus diciptakan bahkan harus dipaksakan tentunya tetap dalam koridor syar'i. Perkataan ibunda Syafi’i kepada anaknya, “kelak kita akan bertemu di akhirat”, merupakan doa sekaligus motivasi bahwa menuntut ilmu agama ataupun ilmu dunia disertai keikhlasan semata karena Allah subhanahu wa ta'ala merupakan jalan menuju akhirat yang indah. Sabda Rasulullah:

    ”Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Dan sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena puas dengan apa yang diperbuatnya, dan bahwasanya penghuni langit dan bumi sampai ikan yang ada di lautan itu senantiasa memintakan ampun kepada orang yang pandai. Kelebihan si alim terhadap si abid adalah bagaikan kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi dan bahwasanya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham (kekayaan duniawi) tetapi para Nabi mewariskan ilmu pengetahuan, maka barangsiapa yang mengambil (menuntut) ilmu maka ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)

    Namun tentunya ibunda Syafi’i adalah ibu yang cerdas dan berilmu serta paham betul siapa Imam Syafi’i. Beliau tidak mungkin melepas Syafi’i muda jauh keluar kota tanpa bekal keilmuan dan keimanan yang kuat, ataupun belajar ilmu yang tidak jelas. Sehingga ibunya yakin Syafi’i muda tidak akan terperosok ke dalam kemaksiatan dan kenistaan dalam menimba ilmu nun jauh di sana.

    Berbeda dengan orang tua sekarang, ada beberapa orang tua menyekolahkan anak jauh di luar kota bahkan di luar negeri, tidak dibekali pondasi keimanan yang kuat. Tujuan sekolah pun cenderung menuruti kemauan si anak yang bisa jadi hanya ikut-ikutan teman atau prestise. Atau memaksakan kemauan orang tua ke anak untuk belajar di sekolah tertentu dengan tujuan duniawi semata. Walhasil, tidak sedikit anak-anak tersebut yang gagal, putus asa, dan mungkin bisa terjerumus pergaulan bebas, dan kemaksiatan lainnya. Kalaupun ada yang berhasil, ilmunya tidak membuat si anak bisa mendekat kepada Allah.

    Bekal keimanan di usia belia ini menjadi tugas orang tua yang sangat penting untuk membentuk karakter, pola pikir, dan keimanan anak. Karena semakin ke depan semakin banyak godaan yang bermutasi pada kesenangan yang menipu (QS. Al-Hadid: 20).

    Tidak hanya anak yang kita haruskan belajar, orang tua pun harus belajar bagaimana mendidik anak, apalagi di masa digitalisasi yang penuh ujian. Orang tua harus berpikir cerdas agar anak-anak bisa menyesuaikan dengan pembelajaran daring, bisa menjaga pengaruh-pengaruh dari informasi-informasi yang berterbangan di dunia maya dengan gawai yang hampir setiap waktu dipegang anak.

    Orang tua mau berdiskusi dengan orang yang paham, banyak bertanya kepada ulama yang fakih, membaca buku parenting, bisa juga mencontoh pada orang tua yang “berhasil”. Orang tua harus cerdas dalam membekali anak terutama dalam ilmu agama. Alhamdulillah, belakangan ini sudah banyak orang tua yang “melek” akan hal ini. Bahwa ilmu agama yang merupakan ilmu jiwa sangat berperan dalam membentuk hati yang bersih. Hati yang bersih berperan dalam pola pikir anak, berperan pembentukan budi pekerti dan akhlakul karimah anak.

    Sekolah-sekolah Islam terpadu, pesantren-pesantren modern bermunculan bak jamur di musim hujan. Seiring dengan berkembangnya pemahaman para orang tua yang merasa belum mampu mendidik ilmu agama di rumah, menitipkan anak-anaknya di lembaga tersebut. Walaupun tidak semua anak berhasil dengan berbagai alasan, namun memberikan secercah harapan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan yang dapat menyelesaikan problematika umat sekarang ini. Wallahu a’lam.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 24-27)

© 2015. Hak cipta dilindungi. Kisah ini diambil dari sumber-sumber Islam yang sahih.

Minggu, 11 Januari 2015

DIANTARA HAK-HAK RASULULLAH shållallåhu ‘alaihi wa sallam

Hak-Hak Rasulullah
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. 33:56)

Jumat kemarin, tak disangka bisa bertatap langsung dengan Syekh DR. Aidh Al-Qarni di Masjid Istiqlal Jakarta, sungguh wajah beliau sangat teduh dalam menyampaikan tausiahnya. Penulis buku yang fenomenal “La Tahzan” ini lugas menyampaikan kiat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setidaknya ada tujuh kiat yang disampaikan oleh Syekh DR. Aidh Al-Qarni untuk meraih itu, beriman kepada Allah, mendirikan salat, beriman kepada qadha dan qadar, sabar, banyak berzikir (mengingat Allah), bertobat atas segala khilaf dan dosa, dan memenuhi hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

In syaa Allah kita akan kupas sedikit salah satunya, bagaimana seorang hamba (baca: umat Islam) bisa memenuhi hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentunya kita terlebih dahulu harus tahu hak-hak Rasulullah itu.

Namun, sebelum kita mengetahui apa hak-hak Rasulullah, kita perlu mengenal Rasulullah (ma'rifatur rasulullah) terlebih dahulu.

1. Rasul ialah seorang laki-laki (QS. 21:7)

Yang diberi wahyu oleh Allah yang berkewajiban untuk melaksanakannya dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia.

2. Risalah

Adalah tugas kerasulan dan ajaran dari Allah SWT atau apa yang dibawakan oleh Rasul dari Allah SWT yang harus disampaikan kepada manusia berupa prinsip hidup, moral, ibadah, akidah untuk mengatur kehidupan manusia agar terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat.

3. Ciri-ciri Rasul:

  • a. Seorang manusia seperti kamu. (QS. 18:110)
  • b. Terjaga dari kesesatan dan kesalahan. (QS. 53:2–5)
  • c. Menjadi suri teladan. (QS. 33:21)
  • d. Memiliki akhlak yang mulia; shidiq (QS. 53:3–4), tabligh (QS. 5:67), amanah (QS. 69:44–46), dan fathonah (QS. 48:27)
  • e. Memiliki mukjizat. (QS. 54:1)
  • f. Tersampaikan berita tentang kedatangannya. (QS. 61:6)
  • g. Adanya berita kenabian. (QS. 25:30)
  • h. Sikap yang menghasilkan orang-orang terbaik, lingkungan dan tatanan kehidupan serta peradaban Islami. (QS. 48:29)

4. Tugas Para Rasul

  1. Menyampaikan risalah. (QS. 5:67)
  2. Memperkenalkan Al-Khaliq. (QS. 3:190)
  3. Menjelaskan cara beribadah. Hadis: “Salatlah kamu seperti halnya aku salat”. (HR. Bukhari, Muslim)
  4. Menjelaskan pedoman hidup. Hadis: “Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan untuknya, Dia akan pandaikan dalam hal agama.” (HR. Bukhari, Muslim)
  5. Mendidik. Berdasarkan Sirah Nabawiyah, menunjukkan bagaimana para sahabat belajar di rumah Arqam bin Abi Arqam.
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kamu ialah orang yang mau mempelajari Al-Qur’an dan mau mengajarkannya". (HR. Muslim)

Hak-Hak Rasulullah:

1. Beriman kepada Rasul

Iman kepada para rasul merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang juga sebagai khatam al-anbiya.

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 64:8)
“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari umat (manusia) ini yang mendengar tentang aku, seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia mati dan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia adalah termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

2. Mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

Merupakan hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas umatnya adalah mencintainya, karena iman tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan kecintaan kepada beliau.

“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)

3. Taat terhadap Rasulullah

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. 47:33)
“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Mereka bertanya: “Siapa yang enggan wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Siapa yang taat kepadaku, akan masuk surga, dan siapa yang tidak taat kepadaku, akan masuk neraka.” (HR. Bukhari 7280)

4. Ittiba’ (mengikuti) Nabi

“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. 3:31)
“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya seandainya Musa hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku.” (Hasan - Irwa’ 6/34)
“Jika kalian menjumpai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ittiba’lah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapa pun.” (Imam Syafi’i – Hilyatul Auliya’ 9/107)

5. Menjadikan Nabi sebagai Imam dan Hakim

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’:65)

6. Meneladani Nabi

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. 33:21)

7. Mencintai Ahlul Bait dan Sahabat

“Barang siapa menyakiti pamanku, maka dia telah menyakitiku.”
“Janganlah kalian menyakitiku dalam hal Aisyah.”
“Janganlah kalian mencaci-maki sahabatku...” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Bershalawat kepada Beliau

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi...” (QS. 33:56)
“Orang yang bakhil/kikir adalah orang yang ketika aku (namaku) disebut, lalu ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3546)
“Barang siapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali...” (HR. An-Nasa’i, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Semoga kita digolongkan ke dalam hamba-hamba yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin.

Wallahu a’lam.

http://pijarpunbenderang.blogspot.com/

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...