Minggu, 20 Desember 2020

HAKIKAT HIDUP & UJIANNYA

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, para sahabat dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari pembalasan.

Sebelum memahami hakikat hidup, kita harus mengetahui tujuan kita hidup di dunia, tujuan manusia diciptakan didunia. Pada surat Adz Dzariyat ayat 56. Di sana, Allah Ta’ala berfirman, “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56)

Dan apakah Allah sebagai sang Khalik membiarkan manusia yang Ia ciptakan begitu saja?, tentu tidak. Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya[?] ” (Madaarijus Salikin, 1/98).
Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman,
"Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?" (QS. Al Mu’minun: 115).
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?"  (QS. Al Qiyamah: 36).

Manusia sebagai wakil Allah di muka bumi atau khalifatullah fil ardh terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia, yang tidak percaya akan hari pembalasan, yang tidak peduli dengan kehidupan akhirat. Mereka hanya mengejar kesenangan hidup dan kepuasan syahwat dunia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa saja yang mereka inginkan, mereka tidak peduli dengan istilah halal dan haram. Kelompok inilah yang dimaksud Allah dalam surat al Insan ayat 27:
"Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)."
Dan apa balasan bagi kelompok ini di akhirat,
"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir."(QS.Al-Israa':18)

Kelompok kedua adalah orang yakin bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan yang abadi diakhirat kelak sehingga mereka berhati hati dalam menjalani kehidupan dunia agar semua perbuatannya tidak membebani mereka kelak di akhirat. Mereka percaya pada Allah yang menguasai seluruh jagat raya, dan mereka yakin bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan yang abadi diakhirat kelak. Firman allah,
"dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat." (QS.Al Baqarah 4).
Mereka menjaga segala sesuatu yang diharamkan dan dihalalkan Allah. Mengapa? karena mereka yakin dan takut perbuatannya kelak akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah. Mereka inilah orang-orang yang beriman yang suka mengerjakan kebajikan, maka kelak Allah akan membalasnya syurga-syurga yang penuh kenikmatan. Allah berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh kenikmatan. (QS. Lukman:8)
“dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam syurga itu ialah "salaam"(QS.Ibrahim:23)

Dan masih banyak lagi nash-nash Al quran dan Hadis yang menjelaskan balasan kebaikan dan dan kenikmatan yang tak ternilai bagi orang-orang yang beriman di dunia.

Kebaikan, pahala, kenikmatan tak ternilai, syurga, dan kehidupan yang kekal itulah hasil atau balasan bagi orang-orang yang beriman. Lantas dimana posisi hakikat hidup itu setelah kita mengetahui tujuan dan balasan akhir yang akan diperoleh. Posisi hakikat hidup bagi manusia adalah proses untuk mencapai tujuan hidup. Proses yang menempa perjalanan hidup manusia, proses yang menyaring orang orang menjadi orang yang kafir atau orang beriman, menjadi orang yang lalai atau orang yang takwa. Proses itu disebut ujian.
Sehingga hakikat hidup bagi orang (manusia) agar menjadi orang yang beriman ialah dengan lulus ujian-ujian yang diberikan oleh Allah di dunia.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"(QS. Al-Ankabut:2)

Tentunya ujian ini berbeda beda setiap orang. Tergantung kadar keimanan seseorang.
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata, "Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [HR. Tirmidzi]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Al Istiqomah mengatakan, "Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.”
Syaikhul Islam juga mengatakan, "Allah akan memberikan cobaan terberat bagi setiap orang mukmin yang sempurna imannya.”[ Qo’idah fil Mahabbah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 150, Maktabah At Turots Al Islamiy.]

Al Munawi mengatakan dalam buku Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, “Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya.”
Al Munawi mengatakan pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta". Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. dan masih banyak kisah lainnya.”

Semakin kuat iman, semakin berat cobaan, namun semakin Allah cinta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah.”[HR. Tirmidzi]

Ujian-ujian yang diberi Allah disesuaikan dengan kadar kemampuan masing-masing orang, firman Allah, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo′a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma′afkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS.Al Baqarah :286) Dan ketika orang beriman berada di titik dimana ujian itu dirasakan sangat berat, maka jawabannya adalah dengan bersabar dan bersabar. Kenapa?, karena ganjaran bersabar adalah tanpa hisab dan mendapat kecintaan Allah. Ingatlah janji Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10).
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Surah Ali Imran : Ayat 146)

Al Auza’i mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar pahala bagi mereka tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.[  Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89]

Selanjutnya, ketika hakikat hidup itu adalah ujian maka orang beriman maka menjalani hidup dalah proses dari satu ujian ke ujian yang lainnya. Dan itu akan terus berlangsung sampai tiba saatnya kematian menjemput dirinya untuk kembali ke hadirat Allah Ta’ala. Hal ini secara jelas dan tegas Allah nyatakan dengan Firman-Nya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (Q.S.Al-Anbiyaa’: 35)
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk [67]: 2).
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS Muhammad [47]: 31).

Dan rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah akan menguji dan mencoba salah seorang di antara kamu dengan cobaan sebagaimana salah seorang kamu menguji kadar emasnya dengan api. Maka sebahagian mereka akan keluar dari ujian itu bagaikan emas kuning berkilat; maka itulah orang yang dipelihara Allah daripada bermacam syubhat. Dan sebahagian mereka akan keluar bagaikan emas hitam, dan itulah orang yang tergoda fitnah.” (HR. Thabrani)

Menurut beberapa ulama, setidaknya ada 7 (tujuh) ujian yang akan dihadapi orang beriman :
Pertama, ujian berupa perintah Allah, seperti Nabi Ibrahim diperintahkan Allah Swt menyembelih putra tercintanya bernama Ismail.

Kedua, ujian larangan Allah Swt, seperti larangan berzina, korupsi, membunuh, merampok, mencuri, sogok-menyogok, dan segala kemaksiatan serta kezaliman.

Ketiga, ujian berupa musibah. Saat ini kita dihadapi ujian wabah pandemi covid, ketakutan akan virus tersebut, sakit, kematian menyelimuti kita. “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al-Baqarah [2]: 155).

Keempat, ujian nikmat, sebagaimana Allah Swt jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 7. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.”

Kelima, ujian dari orang zalim buat kita, baik kafirun (orang yang tidak beragama Islam), musyrikun (menyekutukan Allah), munafiqun, jahilun (bodoh), fasiqun (menentang syariat Allah), maupu hasidun (dengki, iri hati).

Keenam, ujian keluarga, suami, istri, dan anak. Keluarga yang kita cintai bisa menjadi musuh kita karena kedurhakaanya kepada Allah.

Ketujuh, ujian lingkungan, tetangga, pergaulan, tempat dan suasana kerja, termasuk sistem pemerintahan/negara.

Subhanallah, Allah Subhanallahu wata'ala amat sayang kepada kita. Allah Swt tunjukkan cara menjawab ujian itu semua. “Dan minta pertolonganlah kamu dengan kesabaran dan dengan shalat, dan sesungguhnya shalat sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk tunduk jiwanya.” (QS Al-Baqarah [2]: 48).

Semoga kita dijadikan Allah Swt, hamba-Nya yang lulus dari ujian.

Aamiin.
Wallahu a'lam


(TSH_dari berbagai sumber)

Rabu, 18 November 2020

JAGALAH HATI, UNTUK LISANMU


Hati yang Terjaga, Lisan yang Terarah: Fondasi Keselamatan Dunia Akhirat

Hati yang Terjaga, Lisan yang Terarah: Fondasi Keselamatan Dunia Akhirat

“Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging tersebut baik, maka baiklah seluruh tubuh. Tetapi apabila daging tersebut buruk, maka tubuh yang lain akan ikut buruk pula. Ketahuilah daging itu bernama hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim).” (QS. Asy-Syu'ara': 88-89)

Ungkapan populer seperti "teko tidak akan keluar melainkan sesuai yang diisikan", "mulutmu harimaumu", atau "tong kosong nyaring bunyinya" sering kita dengar dalam konteks perdebatan atau komentar terhadap suatu kejadian, baik secara langsung maupun di media sosial. Ketika kata-kata yang keluar dari lisan atau jemari di gawai kita berupa hal buruk, caci maki, bahkan sumpah serapah, serta ghibah, suuzan, atau fitnah, maka perselisihan, perkelahian, bahkan pembunuhan bisa menjadi akibatnya. Naudzubillah.

Memang benar, lidah itu tak bertulang, bergerak leluasa mengeluarkan ucapan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan dan keinginan kepada sesama manusia. Namun, jika ucapan dusta, kotor, keji, atau fitnah merupakan suatu dosa, maka ucapan yang baik adalah kesalehan yang bernilai ibadah. Allah Swt. menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Allah Swt. berfirman,

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (QS. Al-Isra’: 53)

Rasulullah ﷺ pun bersabda,

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

"Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata yang berupa amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan) dan zikrullah." (HR. Tirmidzi)

Para ulama salaf juga menekankan pentingnya menjaga lisan. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah berkata, “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri.” Senada dengan itu, Abu Darda radhiyallahu 'anhu menasihati, “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan objektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, mengemukakan pandangan yang mendalam:

“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya maka dia akan berbicara, tetapi apabila tidak bermanfaat maka dia akan diam. Sementara orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya.”

---

Hati yang Selamat, Lisan yang Terjaga

---

Lisan yang baik berasal dari hati yang baik, hati yang bersih, hati yang selamat (qalbun salim) dengan keimanan. Hati yang dimaksud di sini bukanlah organ fisik, melainkan secara metafisik, yang disebut qalbu sebagaimana disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. Lisan merupakan perbuatan yang diperintahkan otak atas dorongan hati. Hati yang baik akan menggerakkan otak untuk memerintahkan perbuatan, termasuk lisan, untuk melakukan hal yang baik pula.

Lisan yang jahat, serta jemari yang mengetik kata-kata buruk, dapat menjerumuskan kita pada kehancuran dunia maupun akhirat. Sebaliknya, lisan yang baik dan jemari dengan rangkaian kata-kata yang selamat (salim) tentu akan menghasilkan kebaikan dunia dan akhirat. Nabi ﷺ bersabda,

“Tidak ada yang menyungkurkan leher manusia di dalam neraka melainkan hasil lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ mengingatkan,

"Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum beriman dengan hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka, karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka maka kelak Allah akan menyingkapkan kekurangan dia (di akhirat) maka Dia akan membiarkan orang lain tahu aibnya, meskipun di dalam rumahnya." (HR. Tirmidzi)

Agar lisan kita senantiasa baik, maka hati kita perlu dijaga agar selalu baik. Untuk menjaga hati, kita bisa kembali pada analogi "teko" yang disebutkan sebelumnya. Teko tidak akan mengeluarkan isi selain yang telah diisinya. Jika diisi air bening, akan keluar air bening; jika diisi kopi, akan keluar kopi. Analogi ini menekankan bahwa apa yang keluar dari hati kita adalah cerminan dari apa yang kita masukkan ke dalamnya.

---

Takwa sebagai Penjaga Hati

---

Sumber kebaikan hati adalah takwa. Takwa akan memilah dan memilih apa yang masuk ke dalam hati. Dalam Al-Qur'an, takwa memiliki tiga makna utama:

  1. Takut kepada Allah dan pengakuan superioritas Allah. Ini adalah fondasi utama yang membuat seseorang berhati-hati dalam setiap tindakannya.
  2. Bermakna taat dan beribadah. Takwa mendorong seseorang untuk senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  3. Dengan makna pembersihan hati dari noda dan dosa. Ini adalah hasil dari dua makna sebelumnya, di mana ketaatan dan ketakutan kepada Allah membersihkan hati dari segala kotoran.

Kisah Ubay bin Ka'ab dan Khalifah Umar bin Khattab menggambarkan esensi takwa dengan sangat baik. Ketika Ubay bertanya tentang makna takwa, Umar balik bertanya, “Pernahkah engkau berjalan di tempat yang penuh duri?” Ubay menjawab, “Ya pernah.” “Apakah yang engkau lakukan?” tanya Umar kembali. “Tentu aku sangat berhati-hati melewatinya!” jawab Ubay. “Itulah yang dinamakan takwa,” tegas Umar. Jadi, orang bertakwa adalah orang yang berhati-hati dalam bertindak, termasuk dalam berucap.

Ketakwaan akan menyaring segala yang masuk ke hati. Pandangan yang buruk, pikiran kotor, ataupun perkataan atau perbuatan yang jelek seperti ghibah, zalim, dan seterusnya, akan ditinggalkan. Rasulullah ﷺ bersabda,

"Pandangan itu salah satu panah dari panah iblis yang berbisa. Siapa saja yang meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang terasa sangat manis di dalam hati.” (HR. Al-Hakim)

Allah Swt. juga berfirman,

"Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain (ghibah). Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

---

Dzikir dan Kebaikan sebagai Penenang Hati

---

Sedangkan, mendengar seruan kebaikan, kata-kata yang menenangkan seperti zikir mengingat Allah, istigfar, bacaan Al-Qur'an, selawat atas Nabi, ataupun doa-doa kebaikan, akan meresap ke hati yang menjadikannya tenang, tenteram, dan bersih. Ketika hatinya bersih, yang dikeluarkan pun adalah ucapan-ucapan yang baik. Jemari kita akan terkontrol untuk tidak asal komentar atas suatu status atau kejadian, dan secara otomatis akan selalu berpikir sesuai rambu-rambu "berkata yang baik atau diam".

Allah Swt. berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang beriman lagi hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (Dzikrullah). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'du: 28)

Rasulullah ﷺ juga memberikan panduan tentang hak jalan dan pentingnya menjaga lisan serta perbuatan saat berada di ruang publik:

“Hindarilah duduk-duduk di pinggir jalan!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana kalau kami butuh untuk duduk-duduk di situ memperbincangkan hal yang memang perlu?’ Rasulullah ﷺ menjawab, “Jika memang perlu kalian duduk-duduk di situ, maka berikanlah hak jalanan.” Mereka bertanya, “Apa haknya?” Beliau menjawab,” Tundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam (orang lewat), menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar.” (HR. Muslim)

Semoga kita semua menjadi muslim yang baik, muslim yang senantiasa menjaga hati dengan ketakwaan sehingga lisan kita pun akan terjaga dengan ucapan-ucapan yang baik.

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah orang muslim yang paling baik?” Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

Dumai_Nov 2020 (TSH)

Senin, 16 November 2020

SPIRIT HIJRAH DI MASA PANDEMI

Hijrah: Revolusi Diri

Hijrah: Lebih dari Sekadar Perpindahan Fisik, Sebuah Revolusi Diri Menuju Kebaikan Hakiki

Secara etimologi, hijrah diartikan sebagai perpindahan tempat, baik dari satu kota ke kota lain maupun dari satu negara ke negara lain. Contoh klasiknya adalah hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa monumental yang menandai dimulainya kalender Islam.

Namun, dalam terminologi syariat atau secara maknawi, hijrah memiliki makna yang lebih dalam. Ia adalah perbaikan diri, transformasi dari kondisi yang buruk menjadi lebih baik. Ini adalah proses bertahap meninggalkan sifat-sifat yang jauh dari nilai-nilai Islam menuju pribadi yang lebih Islami.

Hijrah maknawiyah inilah yang seharusnya menjadi spirit dalam setiap momentum Tahun Baru Hijriyah. Ia adalah semangat untuk meninggalkan segala yang dilarang Allah Swt., berhijrah dari syirik menuju tauhid, dari kezaliman menuju keadilan, dari kebatilan menuju kebenaran, dari yang haram menuju yang halal, dan seterusnya.

Dua Pilar Utama Hijrah

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, setidaknya ada dua hal penting yang dapat dikemukakan mengenai hijrah:

Keberanian Meninggalkan Zona Nyaman: Hijrah merupakan sikap berani dan tegas untuk meninggalkan zona nyaman demi mencapai kondisi yang lebih baik. Ini adalah tentang apa yang diketahui, diyakini, dan kemudian diwujudkan dalam amal nyata. Sebagaimana Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin menyatakan, "Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan." Hijrah menuntut perpaduan sempurna antara ilmu, keyakinan, dan perbuatan.

Dimulai dengan Iman, Diakhiri dengan Jihad: Hijrah didahului oleh iman dan diakhiri dengan jihad. Tanpa iman, hijrah menjadi tidak berarti. Namun, modal iman saja tidak cukup; ia perlu dieksekusi dengan semangat jihad fi sabilillah. Perlu diingat, jihad tidak selalu identik dengan angkat senjata. Ia adalah sikap konsisten dalam menjalani, menekuni, dan memperjuangkan jalan hidup yang telah dipilih, sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa jihad itu meliputi jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad melawan orang kafir, dan jihad melawan orang munafik. Semua ini adalah bentuk perjuangan yang relevan dengan makna hijrah secara menyeluruh.

Keutamaan Hijrah dalam Al-Qur'an

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 218)
"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia." (QS. Al-Anfal: 74)
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS. At-Taubah: 20)

Ketiga ayat ini, ditambah dengan ayat pendahuluan di atas, secara jelas menunjukkan keutamaan hijrah. Mereka yang berhijrah akan mendapati tempat yang luas dan rezeki yang banyak, serta memperoleh rahmat, ampunan, dan kasih sayang Allah Swt.

Spirit Hijrah di Tengah Tantangan Pandemi

Spirit hijrah di masa pandemi dapat dimaknai sebagai semangat untuk menjadi lebih baik dengan menyesuaikan segala aktivitas di era new normal sesuai protokol kesehatan. Ini termasuk membiasakan atau menguasai hal-hal baru yang dapat membantu kita beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru, baik saat maupun pascapandemi...

Manifestasi Spirit Hijrah: Ibadah, Akhlak, dan Gaya Hidup

Spirit hijrah seyogianya memotivasi kita untuk:

  • Memperbaiki Ibadah: Perbaiki salat kita, zikir dan doa-doa kita, tilawah Al-Qur'an kita, puasa dan infak kita. Singkatnya, spirit hijrah harus membuat ibadah kita lebih baik dari sebelumnya.
  • Mewarnai Akhlak: Spirit hijrah juga harus mewarnai akhlak kita. Ini berarti memiliki akhlak mau berbagi dan peduli bagi sesama, terutama saudara-saudara kita yang terdampak pandemi. Saling menguatkan di antara kita yang mungkin kehilangan orang tua, kerabat, dan teman.
Cinta kepada Allah dan Sesama Mukmin: Mencintai Allah dan mencintai sesama mukmin di jalan Allah merupakan pilar utama dalam ukhuwah Islamiyah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ, "Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya yang dia cintai bagi dirinya." (HR. Al-Bukhari)


Ujian pandemi ini memberikan pelajaran penting bagi ukhuwah persaudaraan, baik sesama muslim khususnya maupun sesama manusia umumnya:

o Cinta kepada Allah dan sesama Muslim: Mencintai Allah dan mencintai sesama mukmin di jalan Allah merupakan pilar utama dalam ukhuwah Islamiyah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ, "Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya yang dia cintai bagi dirinya." (HR. Al-Bukhari)

o Melampaui Batas Nasab: Hijrah telah melahirkan suasana baru yang sangat memungkinkan terbangunnya ukhuwah Islamiyah, di mana kualitas ukhuwah ini benar-benar melebihi tingkat ukhuwah yang semata tegak di atas hubungan nasab dan darah, yaitu itsar (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri).

o Fondasi Kekuatan Umat: Dari bentuk ukhuwah seperti inilah kelak kemudian muncul kekuatan umat Islam yang mampu menaklukkan kekuatan Yahudi di Khaibar, dan mematahkan kekuatan kaum kafir Quraisy dalam berbagai medan perjuangan, yang puncaknya adalah terbukanya kota Makkah (Fathu Makkah).


  • Mewarnai Kebiasaan dan Gaya Hidup: Pandemi ini luar biasa, di luar bayangan kita. Dampak terbesarnya tidak hanya pada kesehatan, sosial, dan pendidikan, tetapi juga ekonomi. Maka, spirit hijrah membuat kita lebih menjaga kebersihan dan kesehatan. Spirit hijrah mewujud dalam gaya hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Spirit hijrah mewujud dalam semangat pantang menyerah. Spirit hijrah mewujud dalam menyempurnakan ikhtiar demi mencapai karunia dan berkah-Nya.

Penutup

Sebagai penutup, ada beberapa poin penting yang harus kita tanamkan...

Tanamkanlah selalu semangat baru... Ikutilah jejak perjuangan dan pengorbanan Rasulullah ﷺ... Bawalah spirit hijrah ini ke segala lapangan kehidupan...

Dengan demikian, spirit hijrah akan selalu hidup dalam diri kita berupa keyakinan, ucapan, dan amal perbuatan kita.

TSH_Dumai, Agustus 2020
Wallahu a’lam.
*) dari berbagai sumber

© 2025 | Desain oleh ChatGPT - OpenAI

MENAMPAKKAN AMAL, BOLEHKAH?

Eksistensi agama berupa amalan berdasar pada syarat kumulatif yaitu niat dan perbuatan. Untuk beberapa ibadah inti dalam islam niat itu merupakan bagian dari rukun, artinya tidak akan bernilai ibadah tersebut jika tidak diiringi dengan niat, ibadah Shalat, Puasa, dan Haji sebagai contohnya. Namun kenyataannya niat saja tidak cukup karena harus diiringi niat yang ikhlas dan hanya mencari keridhaan Allah.
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal itu hanya bergantung pada niat-niat, dan seseorang hanya memperoleh menurut apa yang diniatkan.”

Amal yang ikhlas mencari ridha Allah pasti akan berhadapan dengan Riya’, kenapa?, karena riya biasanya berawal dari:
1. Senang mendapatkan pujian
2. Takut dicela orang lain
3. Mengharap apa yang ada di tangan manusia.

Menampakan amal kepada manusia tidak dapat memberikan manfaat (pahala) dan madharat. Cukuplah meyakini bahwa Allah SWT pasti mendengar dan melihat amalannya itu. Tentu ini berbeda penerapannya jika ibadah tersebut merupakan ibadah pokok untuk tujuan mengagungkan syiar Islam, memperlihatkan kekuatan kaum Muslimin, serta mencegah tuduhan dan buruk sangka, maka ibadah tersebut harus ditampakan. Shalat fardhu berjama’ah, membayar zakat kepada amil dan berangkat haji diantar orang sekampung, sudah pasti banyak yang melihat dan membersamai harapannya dapat memberikan keteladanan.

Dalam Era Digital ini dunia terasa tanpa batas, sedetik suatu informasi berpindah dari perangkat elektronik satu ke yang lain, berlanjut pada citra diri yang begitu mudah ditampakkan. Lewat sharing, unggahan foto, video, bahkan status, seseorang bisa dengan mudah memberi tahu apa yang dia lakukan kepada saudara, kerabat, teman-teman follower-nya di media sosial. Mengharap pujian, ujub, dengan menampilkan amal ibadah, sadar atau tidak sadar dosa riya’ jatuh terhadapnya. Naudzubillah.

Lantas bagaimana? dengan ibadah-ibadah nafilah (Sunnah) dan amal shalih lainnya yang ditampilkan karena tujuannya untuk menyeru kebaikan, mengajak hal yang serupa agar bisa membuat kerabat atau saudara mengikuti dan berharap mereka mendapat hidayah. Firman Allah:
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS. Al Baqarah: 271).
Ayat ini menunjukkan bahwa menyembunyikan amalan shalih itu lebih utama secara umum. Karena itu lebih dekat kepada keikhlasan. Dan disebutkan dalam hadits tujuh orang yang mendapat naungan Allah, diantaranya:
”Seorang yang bersedekah, ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya” (HR. Bukhari no. 1423).

Sehingga bolehnya amal sedekah itu ditampakan dengan tujuan agar orang lain mengikuti, namun sembunyi-sembunyi itu tetap lebih baik. Imam Asy Syafi'i mengatakan, "Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak." Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya” (HR. Muslim).

Orang yang bermaksud agar diikuti oleh orang lain kebaikannya, tidak ragu lagi bahwa ia mendapatkan pahala atas niatnya tersebut, bahkan multiplayer effect pahala akan datang jika berjenjang disampaikan dan diamalkan oleh layer muslim selanjutnya.

Namun Muslim yang ingin menampakkan amal punya rambu-rambu untuk kehati-hatian. Pertama, muslim tersebut dalam posisi alim, orang dikenal baik, orang penting (berkuasa), banyak yang mengagumi, perbuatannya mungkin diikuti orang lain. Kedua, dia selalu memperbaiki niat dan mengawasi hati. Karena batasan riya dan ikhlas itu sangat tipis. Mungkin saja dalam posisi iman yang lemah, riya menghampiri untuk menampakkan amal dengan alasan keteladanan. Naudzubillah

Selanjutnya, bagaimana jika kita dalam posisi sebagai pengikut, teman, kerabat dari saudara kita yang menunjukan amal di medsos?, sejatinya kedepankan prasangka baik, kembalikan pikiran negative kita ini ke hal-hal positif, jadikan warning buat kita. Mungkin benar, kita semalam belum tahajud, kita lupa sedekah, mungkin adik kita, istri kita, anak kita belum beramal, dengan status tersebut sebagai dasar mengingatkan mereka. Jikapun benar ternyata mereka beramal karena riya’, jangan habis energy kita sinis mengomentari, jangan habiskan waktu kita untuk hal-hal yang tidak manfaat, ghibah, dan bahkan bisa jadi menjadi fasilitator dosa. Naudzubillah.

Ada beberapa hikmah dalam menampakan amal seorang muslim:
Pertama, Muncul kegembiraan karena Allah berkendak dengan izin-Nya menampakkan kebaikan-kebaikan seorang Muslim dan menutupi keburukan-keburukannya.
Kedua, sebab dirinya menjadi pelajaran bagi muslim lainnya agar meniru dan meneladaninya. Dengan demikian jumlah orang-orang yang shalih lagi taat kepada Allah SWT akan semakin banyak, lapangan kebaikan dan amal shalih juga akan semakin bertambah luas dan berlipat ganda. Dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali menjelaskan faedah dalam menampakkan amal dan menyembunyikannya, ”ada faedah dalam merahasiakan amal. Manfaat tersebut berupa keselamatan dari riya. Di sisi lain, untuk menampakkan amal juga ada faedah yang bisa didapatkan. Itu merupakan keteladanan dan penggugahan orang lain dalam kebajikan.”
Ketiga, bahwa muslim lain mengetahui amalan yang saudara kita tampakan karena semata-mata mencintai saudaranya karena Allah SWT, mengingatkan untuk bersama sama berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) sebagai bukti pertalian iman yang kokoh : ”Tali Iman yang paling kokoh adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah pula.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, dan Al Hakim)
Keempat, muslim itu senang menampakkan amalnya karena saudara-saudara yang melihat amalannya memberikan pujian yang layak sesuai porsinya dan tidak berlebih-lebihan dalam memuji. Jangan sampai memujinya justru membuat ia binasa, hadits Rosulullah: “Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.” (HR. Bukhari)
Maksudnya adalah jika kamu memuji orang lain secara berlebihan maka sama saja mematahkan punggung orang yang dipuji.
Kelima, tindakannya menampakkan amal shalihnya itu akan menjadi hal yang baik untuk ditiru dan diikuti, sehingga muncul orang-orang sholih baru penggerak sunnah.
"Barangsiapa membuat sunnah yang baik, maka dia mendapatkan pahala sunnah itu dan pahala orang yang ikut mengamalkannya hingga hari kiamat, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka." (HR. Muslim)

Wallahu a’lam. TSH
*)dari berbagai sumber

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...