Kamis, 20 Juni 2024

Lelah Memburu Dunia? Menepilah Sejenak

Pernahkah kita melihat orang disekitar kita bahkan mungkin saudara atau kerabat kita yang bekerja keras mati-matian demi mengejar harta benda keduniaan, tapi malah kelelahan, dan tak kunjung membaik nasibnya? Sementara di tempat yang berbeda ada orang yang terlihat santai terhadap dunia tapi malah seolah harta dan kedudukan mengejar dirinya, berlimpah harta dan dihormati orang. Sungguh yang demikian bukanlah sesuatu yang aneh karena dunia bisa membuat orang terperdaya dan Allah ﷻ telah memperingatkan dalam firmannya:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid : 20)

“Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Kahfi : 45)

Imam Al Qurthubi Rahimahullah menjelaskan mengapa Allah ﷻ membuat perumpamaan dunia seperti air, kehidupan dunia selalu berubah tidak akan tetap dalam satu keadaan, kehidupan dunia pada saatnya dia akan hilang dan tidak akan tersisa, kehidupan dunia jika seseorang masuk ke dalamnya dia pasti akan terkena fitnahnya, dan kehidupan dunia jika kita menggunakan sesuai kebutuhan, maka dia akan bermanfaat, sebaliknya jika kita menggunakan kehidupan dunia secara berlebihan, maka ia bisa mendatangkan bahaya dan membinasakan.

Bahkan perumpamaan seorang yang mengejar dunia seperti seorang yang minum air laut, semakin banyak dia meminumnya justru akan merasa semakin haus sampai akhirnya dia terbunuh karenanya. (Kitab Al Amstal wal Hikam halaman 173)

Dunia ini bisa dikatakan panggung sandiwara penuh drama dan tipuan. Banyak orang yang sudah masuk ke dalam perangkapnya. Silaunya dunia ini membuat mata hati kita tertutup membuat sangat sulit untuk membedakan mana yang benar dan tidak. Berbagai cara mengejar dunia diterjang tanpa ada rambu-rambu, tak sadar sudah jatuh kedalam kesombongan bahwa dialah yang hanya bisa mengontrol hidupnya hingga melupakan Tuhannya.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Jika kita bagian dari orang-orang pemburu dunia tersebut, berhentilah Saudaraku, jangan teruskan untuk menerobos jalan itu, menepilah sejenak sambil beristirahat. Lepaskan pandangan seluas mungkin sambil mengevaluasi diri, ada di posisi mana kita.

Ibarat lampu lalu lintas merah, kuning, dan hijau yang masing-masing punya arti. Begitulah seharusnya kita dalam mengejar dunia bahwa isyarat kapan kita berhenti, bersiaga atau melaju merupakan bagian yang melekat erat dalam setiap pikiran, perkataan, ataupun perbuatan. Kita otomatis tersadar dan berhenti manakala dunia yang kita kejar itu, baik zat, cara, dan hasilnya salah. Kita juga akan berhati-hati dan berpikir dua kali jika dunianya masih meragukan, dan kita akan menjalani dengan tenang jika dunia itu benar dan sesuai dengan ketentuan Allah ﷻ.

Mulailah mengejar dunia yang berorientasi akhirat dengan berpedoman pada ayat-ayat Allah sebagai syarat dan ketentuan yang berlaku, baik ayat-ayat di dalam diri kita, di alam semesta, di dalam Quran dan Hadis, juga pada kisah umat-umat terdahulu. Seperti Al-Quran yang sangat sering menderetkan berbagai hal lalu menegaskannya sebagai ayat-ayat Allah ﷻ, agar kita sadar dan mengerti. Misalnya, dalam surah Ar-Ruum, terdapat tujuh ayat yang diawali dengan kata-kata “wa min aayaatihi” (artinya: dan diantara tanda-tanda-Nya), yaitu ayat ke-20, 21, 22, 23, 24, 25, dan 46. Sempatkan membaca ketujuh ayat ini dengan disertai perenungan, niscaya banyak hikmah yang terpetik darinya.

Misalnya, ayat ke-23 berkata, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang, serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”.

Apapun yang kita ingin capai di dunia ketika akhirat tujuannya maka urusan keduniawian tersebut akan Allah cukupkan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai beraikan urusannya, lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta”. (HR Baihaqi dan Ibnu Hibban)

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)

Menepilah sejenak Saudaraku. Menepi bukan berhenti selamanya atau berputus asa, namun menepi untuk berdiam sejenak berpikir sambil berzikir. Rasulullah ﷺ mengajari kita untuk berzikir dalam segala kesempatan dan suasana, agar jiwa kita mudah terpantik oleh percikan-percikan kecil bahan perenungan dalam seluruh fenomena yang ada, lalu menyala dan terhangatkan oleh istighfar, tasbih, tahmid, dan takbir.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Zikir dapat mengusir gundah karena persoalan rezeki, zikir menyelesaikan hati gelisah karena urusan jodoh, zikir menenangkan hati karena kesulitan belajar, zikir dapat memantapkan hati dalam memilih rekan kerja, zikir menyabarkan hati saat ujian dan musibah datang, zikir mengusir ketidakkhusyukan dalam shalat, dan seterusnya.

Menepilah sejenak Saudaraku. Menepi menyisihkan waktu dari hinggar bingar kehidupan dunia, tahajud-lah bersujud di sepertiga malam terakhir sambil menengadahkan tangan mengadu dengan penuh keikhlasan kepada Allah penentu diri kita.

Salat tahajud adalah cara yang indah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam rutinitas kesibukan dunia, sibuk dengan tuntutan pekerjaan, keluarga, dan aktivitas lainnya. Salat tahajud memberikan kesempatan untuk mengalami momen ketenangan dan kedekatan pribadi dengan Sang Pencipta. Firman Allah, “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Isra : 79)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 16-17)

Di sini kita mengerti mengapa Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Bilal, “Arihnii bish shalaati yaa Bilaal” (istirahatkan aku dengan shalat wahai Bilal) (HR Abu Daud).

Bahwa dengan shalat jiwa ini akan benar-benar istrahat dan merasa aman dari segala ancaman. Salat adalah solusi segala permasalahan seberat apapun. Bagi Nabi ﷺ, salat malam tetap wajib sampai wafat, sekalipun bagi umatnya diringankan menjadi sunah muakadah seperti yang terdapat pada penutup surah al-Muzzammil: 20.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah melaksanakan shalat malam sampai bengkak kakinya, sebagai bukti syukur kepada-Nya (HR Bukhari). Bila tidak mampu melaksanakannya karena sakit, Nabi ﷺ menggantinya dengan shalat Duha sebanyak 12 rakaat.

Menepilah Saudaraku. Menepi dalam taman-taman surga di dunia. Singgahlah walau sebentar dalam majelis ilmu. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, Ketika lewat kalian di taman-taman surga, maka singgahlah. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa taman-taman surga itu? Rasulullah menjawab: taman-taman surga itu adalah majelis-majelis ilmu.

Majelis-majelis ilmu itu adalah tempat yang sangat baik yang ada di muka bumi. Karena Rasulullah pun mengibaratkan sebagai taman surga. Sebab memang majelis-majelis ilmu adalah tempat bagi orang-orang yang mau menempuh jalan yang di ridai Allah mencapai surga. Orang yang mau duduk di majelis ilmu dan mendengarkan dengan seksama para ulama yang mengajarkan ilmu, niscaya akan memperoleh kunci meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

"Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” (HR Muslim)

Di majelis ilmu kita akan berkumpul dengan orang-orang salih dan berjumpa dengan sahabat yang benar-benar sejati, yaitu sahabat yang selalu memberikan nasihat dan mengingatkan kita apabila salah. Sebuah ungkapan arab berbunyi, “Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka”. “Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”.

Dengan Sering berjumpa dengan orang salih yang sabar dengan kehidupan dunia ini dan tidak rakus akan kehidupan dunia, hidup kita akan mudah, tenang, dan lebih bahagia.

Perhatikan bagaimana Ibnul Qayyim mengisahkan tentang guru beliau Ibnu Taimiyyah, beliau berkata. “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”[ Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Syamilah]

Demikianlah, lelah memburu dunia? maka menepilah sejenak Saudaraku.

Wallahu a’lam
Jakarta, 13 Zulhijah 1445 H [TSH]

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...