Minggu, 16 Juli 2023

Benteng Orang Mukmin

Dalam tulisan sebelumnya, ada tiga sumber Kekuatan agar bisa bersungguh-sungguh (semangat) dalam beramal dengan merujuk pada hadis Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan”. (HR. Muslim)

Walaupun sebagian ulama yang menyatakan bahwa maksud mukmin yang kuat itu tidak hanya kuat iman tetapi juga kuat (sehat) secara fisik, namun sebagian besar ulama lainnya menegaskan ini merupakan kekuatan iman.

Bahwa dalam hadis tersebut kuat lemahnya iman, jangan engkau lemah, dan perkataan ’seandainya’, ketiganya merupakan pondasi dalam semangat dalam beramal. Manakala pondasi itu lemah maka niscaya bangunan amal diatasnya mudah runtuh. Pondasi inilah menjadi salah satu pusat setan melancarkan godaan, gangguan, tipuan, atau rasa was-was.

Sebagaimana tertuang dalam Al-Qur'an Surat al-A'raf ayat 14-17, yang artinya, Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi penangguhan". “Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”

Firman Allah, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka”. (QS. 4:120)

“Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia”. (QS. 114:4-6)

Ketika setan melancarkan godaannya pada posisi kita tidak ada benteng dengan pondasi yang kokoh yang menghalanginya, sudah tentu iman kita goyah bahkan runtuh. Ketika iman lemah maka mudah kita jatuh dalam kefuturan hingga kekufuran. Kita mudah untuk berbuat maksiat karena tidak ada perisai yang bisa menangkal tipuan atau bisikan setan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Menjadi sangat penting seorang mukmin untuk membentengi dirinya dari godaan setan untuk menjaga imannya agar tetap berada dalam jalur yang lurus sehingga bisa menjaga semangat dan tetap konsisten dalam beribadah.

Dalam Buku Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani tertulis suatu riwayat dari Ka’ab al- Ahbar, seorang pendeta senior rujukan bangsa Yahudi yang masuk Islam pada masa Khalifah Umar bin Khatab Radiallahu’anhu, suatu hari pernah mengatakan:

الْحَصُونَ لِلْمُؤْمِنِينَ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثُ : المَسْجِدُ حِصَنُ وَذِكْرُ اللَّهِ حِصْنٌ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ حِصْنٌ.
“Benteng orang-orang mukmin yang dapat mencegah gangguan setan ada tiga, yaitu masjid, zikrullah (mengingat Allah), dan membaca al-Quran. Masjid menjadi benteng karena ia menjadi tempat berzikir bagi kaum mukmin dan tempat singgah bagi malaikat. Jika mendengar zikir, setan akan bersembunyi dan menjauh, apalagi ketika mendengar kalimat ‘la haula wala quwwata illah billah’. Demikian pula ketika setan mendengar bacaan al-Quran, terutama jika dibacakan Ayat Kursi.”

Pertama, secara bahasa kata masjid (مَسْجِدٌ) adalah tempat yang dipakai untuk bersujud. Kemudian maknanya meluas menjadi bangunan khusus yang dijadikan orang-orang untuk tempat berkumpul menunaikan shalat berjama’ah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak dibenarkan untuk sedikitpun dari air kencing dan kotoran lainnya. Masjid ini hanyalah untuk zikir kepada Allah, sholat, dan membaca Alquran.” (HR. Muslim)

Masjid di zaman Rasulullah digunakan untuk tempat ibadah, tempat pendidikan, tempat kegiatan sosial, tempat pengobatan, dan tempat kegiatan militer.

Seorang mukmin ketika ingin membangun benteng pertahanan dari godaan setan seharusnya fisik dan hatinya terpaut di masjid. Fisik dalam hal melakukan kegiatan ibadah salat, amal berjamaah, dan aktifitas muamallah dengan masjid sebagai sentral kegiatan umat islam. Hati yang selalu terpaut untuk selalu melakukan ibadah ibadah pembersih hati lewat salat, zikir, dan membaca Quran. Seorang muslim hendaknya selalu dapat terpaut dengan masjid. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Salah satu golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak adalah seorang hamba yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 9: 18)

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ
"Apabila kamu melihat seseorang membiasakan diri (beribadah) di masjid, maka bersaksilah bahwa ia orang yang beriman." (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abi Said al-Khudri)

Kedua, zikrullah (mengingat Allah) merupakan suatu perintah yang sering kali disepelekan kita, bahkan ditinggalkan. Padahal Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).

Dengan menyebut nama Allah dan mengingat-Nya maka seorang muslim tidak akan terganggu oleh setan. Karena di hatinya ada Allah dan yakin bahwa Allah sebaik-baiknya pelindung. Rasulullah ﷺ bersabda, “Zikir yang paling utama adalah Lailaaha illallah (Tidak ada tuhan (ilah) yang berhak disembah kecuali Allah). Dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah (segala puji bagi Allah).”

Dengan mengingat Allah ﷻ, seorang mukmin pun menjadi lebih peka akan kewajibannya sebagai hamba, mudah membedakan mana perbuatan yang dilarang mana yang diperintahkan-Nya. Bahkan berzikir dapat menenteramkan hati, menjadi penghapus doa, dijanjikan surga dan dijauhkan dari setan. Hal ini tertera dalam Quran Surat Al-Imran ayat 176, “Sesungguhnya mereka adalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.”

Sesuai janjinya setan akan selalu mengganggu seorang mukmin dalam setiap hidupnya, maka berzikirlah untuk terhindar dari rasa takut dan segala gangguannya. Karena dengan berzikir kita akan terus menerus mengingat Allah.

Ketiga, Alquran memberikan syafaat dan pertolongan kepada orang yang senantiasa membacanya.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim)

Alquran juga dapat menjadi benteng bagi umat Islam dari godaan setan. Dengan membaca Alquran, setan pun akan bersembunyi dan menjauh, terutama jika dibacakan ayat kursi. Suatu ketika setan yang berwujud seorang pencuri pernah berpesan dan membukasalah satu rahasianya kepada Abu Hurairah. Hal ini dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ. Setan mengatakan, “Jika engkau menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi sampai engkau menyelesaikan ayat tersebut. Maka sesungguhnya akan selalu ada padamu seorang penjaga dari Allah, dan setan tidak akan mendekatimu sampai engkau masuk waktu pagi”.

Dalam surat an-Nahl ayat 89, Allah ﷻ berfirman, “Dan Kami turunkan Kitab (Alquran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim)”.

Mulailah dengan kalimat isti'adzah atau ta’awudz yang merupakan doa untuk memohon perlindungan dan penjagaan dari setan ketika ingin memulai membaca Quran. Firman Allah ﷻ, "apabila kamu membaca Al-Qur'an, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. 16: 98)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa membaca ta'awudz merupakan permohonan agar terhindar dari hal-hal negatif yang bersifat batiniah dan untuk mendatangkan kebaikan.

Ketiga benteng orang mukmin dari godaan setan tersebut harus dibingkai dalam ketaatan kepada Allah ﷻ dan selalu meningkatkan ibadah dengan menjalankannya secara ikhlas (lurus).

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS. 98:5)Z


Wallahu a’lam.

Pekanbaru, 16 Juli 2023 (TSH)

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...