Pahala di Balik Kebaikan pada Kucing dan Binatang
Islam adalah agama kasih sayang, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk hidup termasuk hewan. Salah satu hadis yang menunjukkan betapa Islam memuliakan kebaikan kepada binatang adalah:
“Ada seorang lelaki berjalan di sebuah jalan, dia merasa sangat kehausan. Lalu dia menemukan sebuah sumur. Dia turun ke dalam sumur, lalu meminum airnya lalu keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan menjilati debu karena kehausan. Lelaki tersebut berkata, ‘Anjing ini sangat kehausan seperti yang aku rasakan.’ Lalu dia turun lagi ke dalam sumur dan memenuhi khuf-nya (alas kakinya) dengan air. Lalu dia menggigitnya dengan mulutnya agar bisa naik, dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah pun memberi balasan pahala baginya dan mengampuni dosanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan mendapatkan pahala jika berbuat baik kepada binatang ternak kami?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Tentu, setiap kebaikan kepada makhluk yang bernyawa, ada pahalanya” (HR. Al-Bukhari-Muslim).
Hadis ini menekankan bahwa belas kasih kepada binatang merupakan bagian dari ibadah yang mendatangkan pahala dan ampunan dari Allah ﷻ. Bahkan seekor anjing pun, yang dalam sebagian budaya dianggap najis, tetap mendapat perlakuan baik yang berujung pahala bagi pelakunya. Lalu bagaimana jika kita memperluasnya kepada kucing—binatang yang dicintai Nabi ﷺ dan sering tinggal di rumah-rumah kita?
Kucing dalam Pandangan Islam
Kucing bukan hanya binatang peliharaan, melainkan makhluk yang dimuliakan dalam Islam. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya kucing itu tidak najis. Ia termasuk binatang yang sering berada di sekeliling kalian." (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi)
Bahkan dalam sejarah, sahabat Nabi yang terkenal, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, mendapat julukan tersebut karena kedekatannya dengan kucing. Ia dikenal selalu membawa dan merawat kucing kesayangannya.
Dalil Al-Qur’an tentang Kasih Sayang kepada Makhluk
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
"Seluruh alam" dalam ayat ini mencakup manusia, hewan, dan makhluk hidup lainnya. Rasulullah ﷺ adalah suri teladan dalam menyebarkan rahmat dan kasih sayang, tidak terkecuali kepada binatang.
Ulama Kontemporer tentang Etika terhadap Hewan
Ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa Islam mendorong manusia untuk memperlakukan binatang dengan lembut dan tidak menyakitinya. Beliau menyatakan:
"Memberi makan, memberi minum, dan melindungi binatang dari penderitaan adalah bentuk ibadah yang mendatangkan ridha Allah. Bahkan jika itu kepada binatang yang tampaknya sepele di mata manusia."
Lembaga-lembaga fatwa seperti Al-Azhar dan para ulama dari Dewan Ulama Senior Arab Saudi juga menegaskan bahwa menyiksa hewan termasuk dosa besar, sedangkan berbuat baik kepada mereka adalah bentuk sedekah yang berpahala.
Kebaikan yang Bernyawa Itu Bernilai
Rasulullah ﷺ telah menegaskan, "Setiap kebaikan kepada makhluk bernyawa, ada pahalanya." Maka memberi makan kucing, melindunginya dari panas atau dingin, menyembuhkan kucing yang sakit, atau sekadar membiarkannya tidur di beranda rumah pun termasuk amal yang dicatat oleh Allah ﷻ.
Maka, mari kita tingkatkan kepekaan kita terhadap makhluk-makhluk Allah di sekitar kita. Terutama hewan seperti kucing yang sering datang tanpa meminta, namun keberadaannya membawa keberkahan. Jangan halau mereka, jangan sakiti mereka, karena mungkin pahala besar sedang mengetuk pintu kita melalui ekor dan cakar yang lembut itu.
Wallahu a’lam.
Bogor, 30 Mei 2025
(Dari berbagai sumber)


