Jumat, 30 Mei 2025

Kucing, Sumber Kebaikan


Pahala di Balik Kebaikan pada Kucing dan Binatang

Pahala di Balik Kebaikan pada Kucing dan Binatang

Islam adalah agama kasih sayang, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk hidup termasuk hewan. Salah satu hadis yang menunjukkan betapa Islam memuliakan kebaikan kepada binatang adalah:

“Ada seorang lelaki berjalan di sebuah jalan, dia merasa sangat kehausan. Lalu dia menemukan sebuah sumur. Dia turun ke dalam sumur, lalu meminum airnya lalu keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan menjilati debu karena kehausan. Lelaki tersebut berkata, ‘Anjing ini sangat kehausan seperti yang aku rasakan.’ Lalu dia turun lagi ke dalam sumur dan memenuhi khuf-nya (alas kakinya) dengan air. Lalu dia menggigitnya dengan mulutnya agar bisa naik, dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah pun memberi balasan pahala baginya dan mengampuni dosanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan mendapatkan pahala jika berbuat baik kepada binatang ternak kami?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Tentu, setiap kebaikan kepada makhluk yang bernyawa, ada pahalanya” (HR. Al-Bukhari-Muslim).

Hadis ini menekankan bahwa belas kasih kepada binatang merupakan bagian dari ibadah yang mendatangkan pahala dan ampunan dari Allah ﷻ. Bahkan seekor anjing pun, yang dalam sebagian budaya dianggap najis, tetap mendapat perlakuan baik yang berujung pahala bagi pelakunya. Lalu bagaimana jika kita memperluasnya kepada kucing—binatang yang dicintai Nabi ﷺ dan sering tinggal di rumah-rumah kita?

Kucing dalam Pandangan Islam

Kucing bukan hanya binatang peliharaan, melainkan makhluk yang dimuliakan dalam Islam. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya kucing itu tidak najis. Ia termasuk binatang yang sering berada di sekeliling kalian." (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi)

Bahkan dalam sejarah, sahabat Nabi yang terkenal, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, mendapat julukan tersebut karena kedekatannya dengan kucing. Ia dikenal selalu membawa dan merawat kucing kesayangannya.

Dalil Al-Qur’an tentang Kasih Sayang kepada Makhluk

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)

"Seluruh alam" dalam ayat ini mencakup manusia, hewan, dan makhluk hidup lainnya. Rasulullah ﷺ adalah suri teladan dalam menyebarkan rahmat dan kasih sayang, tidak terkecuali kepada binatang.

Ulama Kontemporer tentang Etika terhadap Hewan

Ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa Islam mendorong manusia untuk memperlakukan binatang dengan lembut dan tidak menyakitinya. Beliau menyatakan:

"Memberi makan, memberi minum, dan melindungi binatang dari penderitaan adalah bentuk ibadah yang mendatangkan ridha Allah. Bahkan jika itu kepada binatang yang tampaknya sepele di mata manusia."

Lembaga-lembaga fatwa seperti Al-Azhar dan para ulama dari Dewan Ulama Senior Arab Saudi juga menegaskan bahwa menyiksa hewan termasuk dosa besar, sedangkan berbuat baik kepada mereka adalah bentuk sedekah yang berpahala.

Kebaikan yang Bernyawa Itu Bernilai

Rasulullah ﷺ telah menegaskan, "Setiap kebaikan kepada makhluk bernyawa, ada pahalanya." Maka memberi makan kucing, melindunginya dari panas atau dingin, menyembuhkan kucing yang sakit, atau sekadar membiarkannya tidur di beranda rumah pun termasuk amal yang dicatat oleh Allah ﷻ.

“Barangsiapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhari)

Maka, mari kita tingkatkan kepekaan kita terhadap makhluk-makhluk Allah di sekitar kita. Terutama hewan seperti kucing yang sering datang tanpa meminta, namun keberadaannya membawa keberkahan. Jangan halau mereka, jangan sakiti mereka, karena mungkin pahala besar sedang mengetuk pintu kita melalui ekor dan cakar yang lembut itu.

Wallahu a’lam.




Bogor, 30 Mei 2025
(Dari berbagai sumber)

Jumat, 23 Mei 2025

Amal Jariyah: Warisan Pahala Tanpa Akhir

Amal Jariyah

Amal Jariyah: Warisan Pahala Tanpa Akhir

Amal jariyah adalah amalan yang pahalanya terus mengalir kepada pelakunya meskipun ia telah meninggal dunia. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, di mana pahala dari kebaikan yang ditanam semasa hidup tetap mengalir dan memberi manfaat jangka panjang.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin: 12)

Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah bentuk amal yang manfaatnya terus berjalan. Ini bisa berupa membangun masjid, menggali sumur, menyumbang Al-Qur’an, hingga membuat fasilitas umum yang digunakan masyarakat.

  • Membangun tempat ibadah
  • Menyumbang buku-buku bermanfaat
  • Menyediakan sarana air bersih
  • Menanam pohon yang dimanfaatkan buah/naungannya
“Sesungguhnya, yang akan mengikuti seorang mukmin dari amal dan kebaikannya setelah kematiannya adalah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak shaleh yang dia tinggalkan, mushaf yang dia wariskan, masjid yang dia bangun atau rumah bagi orang-orang terlantar yang dia bangun atau sungai (sumur) yang dia alirkan atau sedekah  yang dia keluarkan dari hartanya saat dia sehat dan hidup, akan mengikutinya terus setelah kematiannya.” [HR. Ibnu Majah, no. 242, Al-Munziri berkata dalam Targhib wa Tarhib, 1/78, sanadnya hasan, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah]

Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang disampaikan dan memberi manfaat kepada orang lain adalah amal yang pahalanya terus mengalir. Mengajarkan ilmu, menulis buku, menyebarkan konten edukatif, atau mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an merupakan bentuk nyata dari ilmu yang bermanfaat.

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Anak Saleh

Anak yang saleh adalah investasi akhirat. Doa dan kebaikannya akan menjadi aliran pahala bagi orang tua, bahkan setelah mereka wafat.

“...dan berkata: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
  • Mendoakan secara rutin
  • Bersedekah atas nama orang tua
  • Menjaga silaturahmi dengan kerabat orang tua
  • Melunasi utang orang tua
  • Meneruskan amal baik orang tua
  • Menjaga nama baik keluarga

Penutup

Amal jariyah adalah warisan pahala yang terus mengalir. Untuk meraihnya, amal harus dilakukan dengan ikhlas, sesuai syariat, dan memiliki dampak jangka panjang. Hindari riya dan jagalah niat agar amal benar-benar menjadi bekal menuju akhirat.

“Beramallah kalian sebelum datang kematian. Karena nanti kalian akan menyesal tidak berbuat lebih.” (HR. Ahmad)
© 2025 | Artikel Islami
Wallahu a’lam.


Bogor, 23 Mei 2025
Ditulis oleh TS. Hadi diambil dari berbagai sumber.

Kamis, 22 Mei 2025

Di Manakah Takwa Kita, Pasca Ramadan

Menjaga dan Meningkatkan Takwa
🛡️ Tanda Takwa

Secara singkat, tanda “la’allakum tattaqun” (agar kalian bertakwa) sebagaimana disebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 adalah menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah, lebih baik dalam akhlak, dan lebih konsisten dalam ibadah.

Ketakwaan yang hadir dalam diri hendaknya dikawal dengan keteguhan iman kepada Allah ﷻ dengan memperbanyak doa, terutama saat sujud dan pada sepertiga malam terakhir. Dari Anas RA berkata, Rasulullah ﷺ memperbanyak doa:

"Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik."
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agama-Mu.

Anas berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa. Apa yang engkau khawatirkan?”
Beliau bersabda: “Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Allah membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.”
(HR. Tirmidzi)

🛡️Tingkatan Takwa

Seiring itu, muncul pertanyaan: Apakah kita meyakini telah mencapai takwa? Dan sampai di manakah derajat (tingkatan) takwa kita?

Dalam kitab At-Tashil li ‘Ulūm at-Tanzīl halaman 51, Ulama Besar Ibnu Juzay al-Kalbī rahimahullah menjelaskan tingkatan orang yang bertakwa sebagai berikut:

1. Tingkatan takwa pertama yaitu takut terhadap kekufuran (syarat minimal seorang Muslim)

Tingkatan paling dasar dari takwa, yakni menjaga diri dari perbuatan kufur dan syirik.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya...”
(QS. An-Nisa: 48)
“Barang siapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah, maka dia masuk neraka.”
(HR. Bukhari)

2. Tingkatan takwa kedua, takut terhadap maksiat dan larangan agama (kondisi tobat)

Menjaga diri dari dosa besar dan segera bertobat bila terjatuh ke dalamnya.

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahanmu...”
(QS. An-Nisa: 31)
“Hindarilah tujuh dosa yang membinasakan...”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Tingkatan takwa yang ketiga adalah takut terhadap perkara syubhat (kondisi wara’)

Tingkatan tinggi dari takwa, berhati-hati terhadap hal yang belum jelas hukumnya.

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah...”
(QS. Al-Hujurat: 3)
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas...”
(HR. Bukhari-Muslim)
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
(HR. Tirmidzi)

4. Takut terhadap perkara mubah (kondisi zuhud) adalah tingkatan takwa keempat

Zuhud berarti meninggalkan hal duniawi yang mubah demi akhirat dan keridaan Allah.

“Barang siapa yang tidak menginginkan dunia, maka Allah akan memberinya kekuatan untuk meninggalkannya.”
(HR. Muslim)

Ciri orang zuhud:

  • Tidak terlalu menginginkan harta dan kesenangan dunia
  • Fokus mencari keridaan Allah
  • Pengendalian diri dari syahwat duniawi
  • Lebih memprioritaskan akhirat

5. dan tingkatan yang kelima berupa takut terhadap kehadiran selain Allah dalam hati (kondisi musyahadah/ihsan)

Puncak takwa adalah hidup dalam kesadaran penuh akan pengawasan Allah.

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya...”
(QS. Qaf: 16)
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya...”
(HR. Muslim)

Ciri orang ihsan:

  • Menjauhi maksiat meski dalam kesendirian
  • Ikhlas dalam ibadah
  • Tenang karena yakin Allah bersamanya
  • Hati-hati dalam ucapan dan perbuatan
🛡️ Menjaga Takwa Pasca-Ramadan

Pasca-Ramadan, kita akan menghadapi godaan dari berbagai arah.

“Aku akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan, dan kiri mereka...”
(QS. Al-A‘raf: 17)

Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Menjaga takwa adalah keharusan. Bila iman melemah, kuatkan kembali. Berikut kiat singkatnya:

  • Niatkan segala sesuatu karena Allah — “Innamal a‘mālu binniyāt.”
  • Salat tepat waktu — Awal waktu adalah pengingat terbaik.
  • Zikir dan doa ringan — Istigfar, tasbih, tahmid, takbir.
  • Membaca Al-Qur’an — 1–2 ayat per hari sudah sangat baik.
  • Pilih lingkungan yang baik — Teman dan kajian yang mendekatkan pada Allah.
  • Hindari dosa kecil yang dilakukan sadar — Seperti ghibah dan menunda salat.
  • Sedekah rutin — “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
  • Muhasabah sebelum tidur — Evaluasi 1–3 menit tentang amal harian.

Maka itu, Saudaraku! Di mana pun tingkat takwa kita saat ini, naikkan levelnya dan pertahankan.

Wallahu a’lam

Bogor, 22 Mei 2025
ditulis oleh TS. Hadi dari berbagai sumber.

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...