Melanjutkan tulisan sebelumnya ayah-jangan-bisu, didalamnya tertulis kesimpulan:
“Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahirkan generasi istimewa (khoiru ummah) seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rosul-Nya, diperlukan dialog kedua orangtua kepada anak. Dan jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya.”
“Kenapa ayah, bukan ibu? Ini bukan berarti ibu tidak boleh banyak berdialog dengan anak tapi lebih kearah peran ayah harus lebih besar dalam komunikasi dengan anak. Ini seakan Al-Qur’an ingin menyeru kepada semua ayah, “Ayah, engkau harus rajin berdialog dengan anak, seperti dialog Luqman kepada anaknya”. Janganlah jadi “ayah bisu” (sedikit bicara), ayah yang hanya ada ketika menyediakan keperluan anak, ayah yang meninggalkan kepedulian pendidikan dan keteladanan, ayah yang hanya salih sendirian, ayah yang mempercayakan anaknya pada televisi, gadget dan internet tanpa batas, ayah yang egois karena merasa lebih tua, lebih pintar, lebih kuasa, atas anak anaknya, dan banyak lagi.”
“Ayah harus menyempatkan waktu untuk banyak berdialog dengan anak-anak, karena itu adalah bagian penting dalam proses pembentukan karakter dan pendidikan anak. Ayah tidak boleh diam, jangan bisu dan menyerahkan semua komunikasi dengan anak hanya kepada ibu. Karakter dan pendidikan anak harus menjadi tanggung jawab bersama karena sosok keduanya sangat diperlukan. Keseimbangan peran dari ayah dan ibu akan memberikan andil besar bagi keberhasilan pendidikan anak-anak.
“Maka jika ada sosok ayah yang bertanggung jawab dan ibu yang penuh kasih sayang, yang dengan pemahaman islam yang baik sering berdialog dengan anak anaknya sejak dini, maka akan muncul anak-anak yang berahlak baik (mulia), taat kepada Allah dan yang mencintai Rosulullah, serta berbakti pada kedua orangtuanya.”
Tulisan tersebut menunjukan pentingnya dialog (komunikasi) dalam keluarga yang tentunya harus diawali dengan keteladanan dan komunikasi yang baik antara suami dan istri selaku orangtua dari anak –anak keturunannya. Keluarga adalah bagian penting dari pembentukan generasi yang baik. Disana awal pondasi keislaman berupa aturan syariat mulai diterapkan seperti memberi senyum, berprasangka baik, kejujuran, komunikasi, hingga kepemimpinan.
Bagaimana komunikasi dalam keluarga itu agar lebih efektif? karena tujuan akhir keluarga itu adalah keluarga yang sakinah mawadah warohmah, sudah tentu sumber rujukan utama adalah Alquran dan Alhadis.
Selanjutnya tulisan ini hanya menggambarkan secara umum bagaimana bisa menciptakan komunikasi yang efektif dalam keluarga muslim. Diluar sana dalam dunia parenting dengan berbagai teori klasik dan modern bisa jadi lebih sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga berkaitan dengan permasalahan komunikasinya.
Lalu apakah konsep Komunikasi Efektif terkandung dalam Al Quran? meskipun al-Qur'an secara spesifik tidak membicarakan masalah komunikasi, namun, jika diteliti ada banyak ayat yang memberikan gambaran umum prinsip-prinsip komunikasi. Dalam hal ini, penulis merujuk pada term-term khusus yang diasumsikan sebagai penjelasan dari prinsip-prinsip komunikasi tersebut, yaitu:
1. Qawlan Baligha, perkataan tepat sasaran/efektif (QS.4:63);
2. Qawlan Maisura, perkataan yang mudah dicerna (QS.17:28);
3. Qawlan Layyina, perkataan yang lemah lembut(QS.20:44);
4. Qawlan Ma’rufa, perkataan yang sesuai norma/nilai (QS.2:235, QS.4:5 & 8, QS.33:32)
5. Qawlan Kariima, perkataan yang mulia (QS.17:23); dan
6. Qawlan Sadiida (perkataan yang jelas(QS.4:9).
Dari beberapa literasi, Qawlan Baligha adalah yang paling mendekati definisi Komunikasi Efektif sebagaimana Firman Allah ta’ala: “Waqul lahum fii anfusihim qawlan baliighaa” yang artinya: “Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An-Nisa': 63)
Kata “Baligh” yang berasal dari balagha, oleh para ahli bahasa dipahami sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Menurut al-Raghib al-Ishfahani perkataan yang membekas itu mengandung tiga unsur utama, yaitu bahasanya tepat, sesuai dengan yang dikehendaki, dan isi perkataan adalah suatu kebenaran. Sedangkan term baligh dalam konteks pembicara dan lawan bicara, adalah bahwa si pembicara secara sengaja hendak menyampaikan sesuatu dengan cara yang benar agar bisa diterima oleh pihak yang diajak bicara.
Bila dikorelasikan dengan kata “Qawl” (ucapan atau komunikasi), baligh bermakna pula fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Karena itu, prinsip “Qawlan Baligha” dapat diterjemahkan sebagai “Komunikasi Efektif”.
Selanjutnya ada tiga dasar dari komunikasi efektif yang dapat diterapkan dalam keluarga adalah:
Pertama, menyesuaikan pembicaraannya dengan sifat-sifat khalayak yang dihadapinya. Dalam istilah Al Quran, ia berbicara fi anfusihim (tentang diri mereka). Dalam istilah sunah: “Khatibinnaas ‘ala qadri ‘uqulihim, ‘ulumihim, wa lughatihim” yang artinya “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya, ilmunya dan bahasanya (kaumnya)”. Dalam bahasa Arab, ada ungkapan yang berbunyi: "Likulli maqam maqal, wa likulli maqal maqam" yang artinya: “Untuk setiap tempat ada ucapan yang sesuai dan untuk setiap ucapan ada tempat yang sesuai”.
Komunikasi antara suami kepada istri atau orangtua kepada anak hendaknya menyesuaikan dengan kemampuan berpikirnya atau usianya. Minimal dengan bahasa yang di mengerti, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah jika sudah tebiasa sejak kecil.
Hal ini selaras dengan Firman Allah dalam Al Quran yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka”. (Q.S. Ibrahim: 4)
Kedua, menyentuh komunikan pada hati dan pikirannya sekaligus. Dalam istilah bahasa Arab disebut “Maa Kharaja Minal Qalbi fa Dakhala ilal Qalbi” yang artinya “Sesuatu yang keluar dari hati, akan masuk pula ke dalam hati”.
Ini yang sangat berat yang umumnya sulit dilakukan oleh suami ke istri, istri ke suami, ataupun komunikasi kepada anak-anaknya. Ini adalah keteladanan juga, bahwa suatu yang keluar dari hati itu diawali yang masuk ke hati. Bahwa yang kita sampaikan terlebih dahulu kita pahami dan sudah berusaha kita amalkan.
“Ala wa inna fil-jasadi mudhgatan idza shalahat shalahal-jasadu kulluhu wa idza fasadat fasadal-jasadu kulluhu ala wa hiyal-qalbu.”
Yang artinya: “Ingatlah, dan sesungguhnya di dalam hati itu terdapat segumpal darah. Jika ia baik, baik (pula) seluruh tubuh. Dan bila ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”. (Muttafaqun Alaih).
Idealnya suami sebagai pemimpin rumah tangga dalam berkomunikasi kepada istri dalam posisi membimbing dan memberi contoh. Istri harus se-frekuensi, saling mendukung dan melengkapi. Sebagai seorang ayah kepada anak menjadi teladan atas apa yang disampaikan (diperintahkan). Sebagai contoh, menyuruh anak ke masjid tetapi ayahnya tidak, menyuruh anaknya mengaji tetapi ibunya tidak, dan lainnya.
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff:3)
Ketiga, sampaikan dengan perlahan dan jelas Rasulullah berbicara perlahan, jelas, terang, mudah dihafal seperti kata Aisyah radiallahu anha: “Rasulullah ﷺ tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yaitu berbicara dengan cepat). Namun beliau berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya”. (H.R. Abu Daud)
Suami dan istri harus sama-sama punya niat untuk mengamalkan tauladan Rasulullah ini. Berbicaralah dengan perlahan dan jelas termasuk kepada anak anak kita. Jangan terburu-buru yang menjadi tidak jelas didengar oleh pasangan atau anak, terlebih lagi tidak dipungkiri bahwa gawai (gadget) membuat hubungan antara anggota keluarga yang “jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh”. Sebab, tidak sedikit pertengkaran terjadi karena salah paham yang bermula dari pembicaraan yang tidak jelas.
Rasulullah ﷺ dalam berkomunikasi selalu memperhatikan tingkat intelektualitas dan pemahaman lawan bicaranya. Bahkan beliau tak segan untuk mengulang perkataannya agar dapat dipahami lawan bicaranya. Anas bin Malik radiallahu anhu. berkata: “Rasulullah sering mengulang perkataannya tiga kali agar dapat dipahami”.
Demikian tiga dasar komunikasi yang efektif dalam keluarga menurut quran dan sunah. Dalam praktiknya tentunya kita tidak sesempurna Rasulullah, para sahabat beliau hingga para salafusalih dalam berkomunikasi di keluarga. Bahkan, bisa jadi kita memposisikan sebagai hamba yang lemah dengan khilaf dan salah sehinga seringkali salah dalam berkomunikasi. Dalam posisi ini peran apapun kita, suami, istri, ataupun orangtua kepada anaknya harus selalu belajar dan dan melatih komunikasi yang baik apalagi tujuannya sakinah mawadah warohmah yang membentuk generasi rabbani.
Ulama dan para asatidz serta praktisi parenting islam banyak memberikan ilmu dan pengembangan teknik komunikasi yang baik dan efektif dengan berbagai cara termasuk melalui media sosial. Selalu update pengetahuan dalam membina keluarga, mengikuti kajian-kajian parenting keislaman, bertanya berdiskusi dan bergaul dengan orang orang yang punya pengalaman, serta tentunya peran amal dan doa kita kepada Allah menjadi jurus pamungkas agar kita dimudahkan dalam berkomunikasi dalam keluarga.
Insyaa Allah dalam beberapa hari ke depan kita akan menyambut tamu agung bulan Ramadhan. Momentum untuk kembali menguatkan silaturahmi keluarga dan kerabat. Waktunya untuk kembali mengokohkan pondasi keislaman keluarga, berdiskusi, dan berkomunikasi dengan baik sesama anggota keluarga. Bersama-sama belajar kembali bagaimana peran suami dan istri serta peran orangtua bagi anak-anaknya. Mudah-mudahan dengan keikhlasan masing masing dari kita dengan niat untuk menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa akan membawa keluarga ke surga-Nya kelak. Aamiin.
Wallahu a’lam bishawab.
Pekanbaru, 20 Maret 2023
Langganan:
Postingan (Atom)
Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...
-
Melanjutkan tulisan sebelumnya ayah-jangan-bisu , didalamnya tertulis kesimpulan: “Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahi...
-
Empat Pertanyaan di Hari Kiamat Empat Pertanyaan di Hari Kiamat: Bekal yang Tak Boleh Kita Abaikan 🌙 Dark Mod...
