Kamis, 20 Juni 2024
Lelah Memburu Dunia? Menepilah Sejenak
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid : 20)
“Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Kahfi : 45)
Imam Al Qurthubi Rahimahullah menjelaskan mengapa Allah ﷻ membuat perumpamaan dunia seperti air, kehidupan dunia selalu berubah tidak akan tetap dalam satu keadaan, kehidupan dunia pada saatnya dia akan hilang dan tidak akan tersisa, kehidupan dunia jika seseorang masuk ke dalamnya dia pasti akan terkena fitnahnya, dan kehidupan dunia jika kita menggunakan sesuai kebutuhan, maka dia akan bermanfaat, sebaliknya jika kita menggunakan kehidupan dunia secara berlebihan, maka ia bisa mendatangkan bahaya dan membinasakan.
Bahkan perumpamaan seorang yang mengejar dunia seperti seorang yang minum air laut, semakin banyak dia meminumnya justru akan merasa semakin haus sampai akhirnya dia terbunuh karenanya. (Kitab Al Amstal wal Hikam halaman 173)
Dunia ini bisa dikatakan panggung sandiwara penuh drama dan tipuan. Banyak orang yang sudah masuk ke dalam perangkapnya. Silaunya dunia ini membuat mata hati kita tertutup membuat sangat sulit untuk membedakan mana yang benar dan tidak. Berbagai cara mengejar dunia diterjang tanpa ada rambu-rambu, tak sadar sudah jatuh kedalam kesombongan bahwa dialah yang hanya bisa mengontrol hidupnya hingga melupakan Tuhannya.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)
Jika kita bagian dari orang-orang pemburu dunia tersebut, berhentilah Saudaraku, jangan teruskan untuk menerobos jalan itu, menepilah sejenak sambil beristirahat. Lepaskan pandangan seluas mungkin sambil mengevaluasi diri, ada di posisi mana kita.
Ibarat lampu lalu lintas merah, kuning, dan hijau yang masing-masing punya arti. Begitulah seharusnya kita dalam mengejar dunia bahwa isyarat kapan kita berhenti, bersiaga atau melaju merupakan bagian yang melekat erat dalam setiap pikiran, perkataan, ataupun perbuatan. Kita otomatis tersadar dan berhenti manakala dunia yang kita kejar itu, baik zat, cara, dan hasilnya salah. Kita juga akan berhati-hati dan berpikir dua kali jika dunianya masih meragukan, dan kita akan menjalani dengan tenang jika dunia itu benar dan sesuai dengan ketentuan Allah ﷻ.
Mulailah mengejar dunia yang berorientasi akhirat dengan berpedoman pada ayat-ayat Allah sebagai syarat dan ketentuan yang berlaku, baik ayat-ayat di dalam diri kita, di alam semesta, di dalam Quran dan Hadis, juga pada kisah umat-umat terdahulu. Seperti Al-Quran yang sangat sering menderetkan berbagai hal lalu menegaskannya sebagai ayat-ayat Allah ﷻ, agar kita sadar dan mengerti. Misalnya, dalam surah Ar-Ruum, terdapat tujuh ayat yang diawali dengan kata-kata “wa min aayaatihi” (artinya: dan diantara tanda-tanda-Nya), yaitu ayat ke-20, 21, 22, 23, 24, 25, dan 46. Sempatkan membaca ketujuh ayat ini dengan disertai perenungan, niscaya banyak hikmah yang terpetik darinya.
Misalnya, ayat ke-23 berkata, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang, serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”.
Apapun yang kita ingin capai di dunia ketika akhirat tujuannya maka urusan keduniawian tersebut akan Allah cukupkan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai beraikan urusannya, lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta”. (HR Baihaqi dan Ibnu Hibban)
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)
Menepilah sejenak Saudaraku. Menepi bukan berhenti selamanya atau berputus asa, namun menepi untuk berdiam sejenak berpikir sambil berzikir. Rasulullah ﷺ mengajari kita untuk berzikir dalam segala kesempatan dan suasana, agar jiwa kita mudah terpantik oleh percikan-percikan kecil bahan perenungan dalam seluruh fenomena yang ada, lalu menyala dan terhangatkan oleh istighfar, tasbih, tahmid, dan takbir.
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Zikir dapat mengusir gundah karena persoalan rezeki, zikir menyelesaikan hati gelisah karena urusan jodoh, zikir menenangkan hati karena kesulitan belajar, zikir dapat memantapkan hati dalam memilih rekan kerja, zikir menyabarkan hati saat ujian dan musibah datang, zikir mengusir ketidakkhusyukan dalam shalat, dan seterusnya.
Menepilah sejenak Saudaraku. Menepi menyisihkan waktu dari hinggar bingar kehidupan dunia, tahajud-lah bersujud di sepertiga malam terakhir sambil menengadahkan tangan mengadu dengan penuh keikhlasan kepada Allah penentu diri kita.
Salat tahajud adalah cara yang indah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam rutinitas kesibukan dunia, sibuk dengan tuntutan pekerjaan, keluarga, dan aktivitas lainnya. Salat tahajud memberikan kesempatan untuk mengalami momen ketenangan dan kedekatan pribadi dengan Sang Pencipta. Firman Allah, “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Isra : 79)
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 16-17)
Di sini kita mengerti mengapa Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Bilal, “Arihnii bish shalaati yaa Bilaal” (istirahatkan aku dengan shalat wahai Bilal) (HR Abu Daud).
Bahwa dengan shalat jiwa ini akan benar-benar istrahat dan merasa aman dari segala ancaman. Salat adalah solusi segala permasalahan seberat apapun. Bagi Nabi ﷺ, salat malam tetap wajib sampai wafat, sekalipun bagi umatnya diringankan menjadi sunah muakadah seperti yang terdapat pada penutup surah al-Muzzammil: 20.
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah melaksanakan shalat malam sampai bengkak kakinya, sebagai bukti syukur kepada-Nya (HR Bukhari). Bila tidak mampu melaksanakannya karena sakit, Nabi ﷺ menggantinya dengan shalat Duha sebanyak 12 rakaat.
Menepilah Saudaraku. Menepi dalam taman-taman surga di dunia. Singgahlah walau sebentar dalam majelis ilmu. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, Ketika lewat kalian di taman-taman surga, maka singgahlah. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa taman-taman surga itu? Rasulullah menjawab: taman-taman surga itu adalah majelis-majelis ilmu.
Majelis-majelis ilmu itu adalah tempat yang sangat baik yang ada di muka bumi. Karena Rasulullah pun mengibaratkan sebagai taman surga. Sebab memang majelis-majelis ilmu adalah tempat bagi orang-orang yang mau menempuh jalan yang di ridai Allah mencapai surga. Orang yang mau duduk di majelis ilmu dan mendengarkan dengan seksama para ulama yang mengajarkan ilmu, niscaya akan memperoleh kunci meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
"Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” (HR Muslim)
Di majelis ilmu kita akan berkumpul dengan orang-orang salih dan berjumpa dengan sahabat yang benar-benar sejati, yaitu sahabat yang selalu memberikan nasihat dan mengingatkan kita apabila salah. Sebuah ungkapan arab berbunyi, “Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka”. “Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”.
Dengan Sering berjumpa dengan orang salih yang sabar dengan kehidupan dunia ini dan tidak rakus akan kehidupan dunia, hidup kita akan mudah, tenang, dan lebih bahagia.
Perhatikan bagaimana Ibnul Qayyim mengisahkan tentang guru beliau Ibnu Taimiyyah, beliau berkata. “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”[ Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Syamilah]
Demikianlah, lelah memburu dunia? maka menepilah sejenak Saudaraku.
Wallahu a’lam
Jakarta, 13 Zulhijah 1445 H [TSH]
Rabu, 22 Mei 2024
BULAN HARAM BULAN PENINGKATAN AMAL
Secara ringkas menurut tafsir Ibnu Katsir ayat diatas, bahwa Nabi Muhammad ﷺ berkhutbah dalam haji beliau, beliau bersabda, ”Ingatlah, sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, dari semua bulan itu ada empat bulan haram, tiga dari empat bulan itu berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram; serta Rajab Mudhar, yang ada antara bulan Jumadil Akhir dan Sya’ban”.
Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu, karena dalam bulan-bulan haram itu lebih tegas dan jelas dosanya daripada bulan-bulan lainnya, sebagaimana kemaksiatan di kota suci itu berlipat ganda dosanya, berdasarkan firman Allah ﷻ, “dan siapa yang dimaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya Kami akan rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (Surah Al-Hajj: 25)
Kita sekarang sudah memasuki bulan Dzulqa’dah (Zulkaidah-kkbi) salah satu bulan haram yang jika kita melakukan dosa di dalamnya maka dilipatkangandakan dosanya yang berpotensi menjadi lumbung dosa, naudzubillahiminzalik. Sebaliknya jika kita melakukan amal salih dibulan tersebut maka dilipatgandakan pula pahalanya.
Dalam kitab Darul Ihya' at-Turats, Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi menjelaskan pahala dan dosa berlipat ganda untuk perbuatan baik atau tercela di bulan Zulkaidah sebagai berikut, "Amal salih lebih agung (besar) pahalanya di dalam bulan-bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab). Sedangkan zalim pada bulan tersebut (juga) lebih besar dari zalim di dalam bulan-bulan selainnya."
Keistimewaan lain Zulkaidah adalah bulan persiapan haji, khususnya bagi saudara-saudara kita yang dipanggil sebagai tamu Allah, baik itu persiapan diri, mental maupun finansial jelang ibadah haji. Selain itu, dalam bulan ini dulu Nabi Muhammad ﷺ sering melakukan umrah. Bahkan, tercatat Nabi empat kali umrah pada bulan ini. Hal ini sebagaimana termaktub dalam hadis Bukhari muslim tentang umrah-umrah yang dilakukan Nabi. Dikatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Zulkaidah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji” (HR. Bukhari).
Menengok bulan Syawal kemarin bisa jadi banyak diantara kita mengalami penurunan ibadah dengan berbagai aktifitas dan alasan. Sejatinya konsistensi amalan setelah Ramadan wajib kita jaga di bulan-bulan berikutnya, apalagi di bulan Zulkaidah. Bahwa konsistensi itu bukan berarti amalan harus sama bahkan lebih dari amalan yang kita lakukan saat Ramadan lalu, namun bandingannya adalah apakah amalan kita setelah Ramadan lebih baik dari sebelum Ramadan.
Ketika bulan Syawal mungkin kita ‘cooling down’ bahkan diantara kita ada yang tidak melanjutkan puasa syawal. Kitapun merasa dosa masa lalu masih ada karena Ramadan kemarin tidak menjamin menghapus dosa. Dan siapa yang menjamin itu puasa kemarin kita mencapai derajat taqwa, karena bisa jadi tanpa kita sadari saat puasa kemarin kita masih melakukan kemaksiatan, mata, telinga, tangan kaki yang khilaf tidak terjaga, ketika beramal masih ada riya, dan seterusnya.
Alhamdulillah, kita dipertemukan bulan Zulkaidah yang Istimewa dan berharap kitapun nanti bertemu Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Mari tingkatkan porsi amal salih kita, salat, puasa, umrah, mencari ilmu, sedekah, berakhlak mulia, silaturahmi dan banyak amal salih lainnya. Yakinlah dengan keimanan dan keikhlasan kepada Allah ﷻ atas peningkatan amal salih tersebut berbuah pahala yang berlimpah yang dapat menutupi dosa-dosa yang masih ada dan ujungnya menghantarkan kenikmatan yang besar yaitu Surga-Nya.
Lantas bagaimana kita bisa meningkatkan amal salih di bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab?, jawabannya adalah dengan membangun istiqomah. Kata ulama setidaknya minimal ada 3 yang harus dilakukan:
Pertama, berusaha menjaga takwa setiap saat, karena sebaik bekal adalah takwa. Takwa memelihara kehidupan di dunia dan mengantarkan kita ke Surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka.” (QS ath-Thur: 17-18).
Takwa diawali dengan keikhlasan dalam penghambaan seraya selalu meminta keteguhan iman kepada Allah, "Dari Anas RA berkata, adalah Rasulullah ﷺ memperbanyak doa, Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu. Anas berkata: Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang datang padamu, apa yang kau khawatirkan? Beliau bersabda: Ya, sesungguhnya hati itu ada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Allah membolak-balikkan kepada yang dikehendaki-Nya," (HR. Tirmidzi).
Ketika hati mudah dibolak balikan oleh syaitan kita akan berada dalam kemudahan berbuat maksiat, sangat sulit melakukan amalan-amalan apalagi untuk konsisten. Takwa menjaga amalan kita terpelihara sekaligus menjadikan kita hamba yang dimuliakan Allah.
Kedua, mengingat kematian. Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, dan setelah kematian segala apapun yang kita lakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan ke hadapan Allah. Firman Allah ﷻ, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al Ankabut: 57). "Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jumu'ah: 8).
Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).
Maksud dari mengingat kematian yaitu menjadikannya sering teringat dalam pikiran kita, agar kita menyiapkan bekal. Maksud dari ‘pemutus’ yaitu "memutuskan kelezatan di dunia dan mendekatkan dengan kelezatan akhirat” (Syarh Bulughul Maram, Kitab Al-Janaiz).
Ketika setiap muslim meyakini tidak jaminan ia akan hidup besok, bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi satu, dua jam ke depan maka ia akan berusaha di setiap waktu kehidupannya dalam kebaikan. Disetiap ibadahnya penuh keihlasan, dengan berusaha menjaga dan meningkatkan amalan-amalan terbaiknya dan tentunya berusaha untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan kepada Allah ﷻ.
Sabda Rasulullah ﷺ, “Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).
Ketiga, bergaul dengan orang salih. Hanya teman-teman yang salih yang bisa mengingatkan dan menasihati agar kita tetap konsisten dalam keimanan dan istiqamah dalam amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sementara Imam Syafi'i berkata, "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali."
Al Hasan Al Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat."
Sementara Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, 'Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukanlah dia bersama kami di surga-Mu."
Semoga kita bisa menjauhi segala bentuk dosa dan berusaha meningkatkan amal salih kita khususnya di bulan bulan haram. Kata ulama, “al muwaffaq man wuffiqa li amali waqtihi, orang-orang yang diberikan taufik adalah orang-orang yang ditunjukan oleh Allah, beramal tepat pada waktunya”.
Wallahu a’lam.
Jakarta, 8 Dzulqa'dah 1445 H (TSH)
Selasa, 20 Februari 2024
MEMBANGUN OPTIMISME
Sikap Optimisme dalam Perspektif Islam dan Psikologi
Optimisme dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah al-fa’l atau at-tafa’ul, yang secara harfiah bermakna harapan serta pandangan positif terhadap masa depan. Oleh karena itu, sikap optimistis dapat dimaknai sebagai kemampuan individu dalam memaknai kesulitan-kesulitan saat ini sebagai peluang menuju kondisi yang lebih baik di masa mendatang.
Dalam perspektif psikologi, para ahli tidak berbeda jauh dalam memberikan definisi terhadap konsep optimisme. Snyder dan Lopez (dalam Ghufron & Risnawita, 2010) mendefinisikan optimisme sebagai ekspektasi positif individu bahwa segala sesuatu akan berkembang ke arah yang lebih baik. Perasaan optimisme mendorong individu untuk memiliki tujuan, kepercayaan diri, serta keyakinan atas kemampuan diri dalam mengatasi tantangan.
Dalam konteks keislaman, nilai-nilai optimisme telah dicontohkan secara nyata oleh Nabi Muhammad ﷺ sejak lebih dari empat belas abad yang lalu. Keteladanan beliau tercermin melalui sikap, ucapan, dan tindakan yang sarat dengan semangat positif dan keyakinan atas pertolongan Allah. Hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang mengandung janji kemenangan, pahala, dan kebaikan merupakan manifestasi dari sikap optimisme yang beliau ajarkan.
Beberapa contoh konkrit dari optimisme Rasulullah ﷺ antara lain:
- Ketika berlindung di Gua Tsur bersama Abu Bakar r.a., Rasulullah ﷺ menenangkan sahabatnya dengan berkata, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).
- Dalam peristiwa penggalian parit menjelang Perang Khandaq, ketika para sahabat menghadapi kesulitan menghancurkan batu besar, Rasulullah ﷺ berkata, “Allahu Akbar, Romawi pasti akan ditaklukkan… Persia pasti akan ditaklukkan,” seraya memukul batu tersebut hingga pecah.
- Dalam hadis eskatologis, Rasulullah ﷺ menggambarkan kemenangan kaum Muslimin atas kaum Yahudi, dengan keyakinan bahwa kemenangan tersebut merupakan ketetapan Allah.
- Dalam konteks penderitaan, beliau menyampaikan bahwa setiap musibah yang menimpa seorang Muslim akan menjadi penghapus dosa, bahkan termasuk duri yang menusuknya.
- Dalam konteks mencari rezeki, beliau bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung yang berangkat pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi).
- Kepada seorang pemuda yang sedang sakaratulmaut, beliau menegaskan bahwa harapan kepada Allah dan rasa takut kepada dosa akan membawa kepada pengampunan dan perlindungan dari Allah.
- Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Jika terjadi kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian terdapat benih pohon kurma, maka tanamlah,” yang mencerminkan semangat produktif meski dalam situasi paling genting sekalipun.
Berbagai penelitian ilmiah modern mendukung nilai-nilai optimisme yang telah diwariskan Rasulullah ﷺ. Studi dalam bidang psikologi positif menunjukkan bahwa individu yang memiliki sikap optimistis cenderung memiliki usia yang lebih panjang, tingkat stres yang lebih rendah, serta ketahanan psikologis yang lebih tinggi. Sebuah studi bahkan menyatakan bahwa optimisme dapat memperpanjang usia manusia hingga rata-rata tujuh setengah tahun.
Penting untuk dicatat bahwa Islam tidak hanya mendorong umatnya untuk bersikap optimis, tetapi juga memadukan optimisme tersebut dengan usaha nyata (ikhtiar) dan ketergantungan penuh kepada Allah (tawakal). Kedua prinsip ini menjadi fondasi utama dalam membentuk sikap optimistis yang seimbang dan bertanggung jawab.
Pilar Optimisme dalam Islam
Ikhtiar
Ikhtiar merupakan upaya maksimal yang dilakukan individu dengan memanfaatkan seluruh potensi dan sumber daya untuk meraih tujuan, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah ﷻ:
"Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kalian beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
Hadis Nabi Muhammad ﷺ juga menegaskan pentingnya ikhtiar:
"Jika salah seorang di antara kalian membawa tali, lalu kembali dengan membawa seikat kayu di atas punggungnya dan menjualnya, sehingga Allah mencukupi kebutuhannya dari hasil itu, maka itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia." (HR. Bukhari)
Aspek-aspek penting dalam pelaksanaan ikhtiar meliputi:
- Penguatan iman kepada Allah;
- Menghindari sikap malas dan putus asa;
- Konsistensi dan ketekunan dalam usaha;
- Doa sebagai penguat batiniah;
- Inovasi dan kreativitas dalam meraih tujuan.
Tawakal
Tawakal berarti berserah diri secara total kepada Allah sembari tetap berikhtiar secara rasional dan proporsional. Tawakal mencerminkan ketundukan dan kepercayaan penuh kepada kebijakan dan ketentuan Allah ﷻ. Konsep ini tercermin dalam firman-Nya:
"Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran: 159)
Manfaat dari sikap tawakal antara lain:
- Mendapatkan kecukupan dari Allah (QS. At-Talaq: 3);
- Menjadi indikator keimanan yang sejati (QS. Al-Ma’idah: 23);
- Mempermudah urusan, termasuk dalam memperoleh rezeki (HR. Tirmidzi).
Dengan demikian, sikap optimisme dalam Islam bukan sekadar sikap mental positif, melainkan merupakan hasil dari gabungan antara keyakinan spiritual, usaha nyata, dan penyerahan diri kepada Allah. Optimisme yang islami bersifat proaktif, realistis, dan berbasis pada pengharapan yang disertai dengan tanggung jawab.
Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi utama dalam meraih keberhasilan di dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka hendaklah ia menguasai ilmu." (HR. Ahmad)
Ilmu menjadi penuntun dalam menentukan arah ikhtiar yang benar dan memastikan bahwa tawakal tidak menjadi dalih untuk kemalasan atau ketidaksiapan. Oleh karena itu, sikap optimisme harus selalu berjalan selaras dengan peningkatan ilmu, ibadah, serta perbaikan diri secara terus-menerus.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.,
"Hati manusia tetap muda dalam dua hal: cinta dunia dan panjang harapan." (HR. al-Bukhari)
Panjang harapan, jika didasarkan pada keimanan, ilmu, dan amal, akan menjadi sumber motivasi dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan optimisme yang berbasis spiritual dan ilmiah, seorang Muslim akan senantiasa tegar, tangguh, dan produktif dalam setiap fase kehidupannya.
Wallāhu a‘lam.
Jakarta, 20 Februari 2024 (TSH)Sumber:
1. Dr. Aidh Al-Qarni. (2022). Muhammad: sang Inspirator. Jakarta: Almahira.
2. Zulkifli. (2016, 28 Oktober). Mewujudkan Generas Islam Perspektif Islam. Diakses pada 20 Februari 2024, dari file:///C:/Users/060088522/Downloads/665-1976-1-PB.pdf
Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...
-
Melanjutkan tulisan sebelumnya ayah-jangan-bisu , didalamnya tertulis kesimpulan: “Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahi...
-
Empat Pertanyaan di Hari Kiamat Empat Pertanyaan di Hari Kiamat: Bekal yang Tak Boleh Kita Abaikan 🌙 Dark Mod...


