Firman Allah ﷻ dalam QS. Ali Imran ayat 103 yang artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk".
Sungguh Islam memuliakan umatnya dengan berbagai keistimewaan. Seorang mukmin berhak mendapatkan cinta, kasih sayang, dan sikap-sikap mulia lainnya dari mukmin lainnya. Islam melarang sesama mukmin saling bermusuhan. Seorang mukmin tidak bolehkan membenci saudaranya sesama mukmin, seperti mengghibah, memfitnahnya apalagi membunuh. Seorang mukmin haram menumpahkan darahnya, sebaliknya Islam bertekad untuk mendorong ukhuwah (tali persaudaraan) diantara mereka.
Allah ﷻ berfirman, "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS. 49: 10)
Andaikan terpaksa sesama mukmin berselisih paham, Islam hanya memberi batas waktu 3 hari untuk memahami dan menyadari kesalahan masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa segera berdamai. Jika keduanya masih enggan untuk berdamai, maka Allah tidak akan menerima doa mereka selama 40 hari. Sungguh merugilah seorang hamba jika tidak mau berdamai. Ya Allah kurniakanlah hati ini kelembutan dan sifat-sifat mulia agar mampu menjalin hubungan baik dengan sesama mukmin. Seorang mukmin seyogyanya mencintai sesama mukmin layaknya Saudara bahkan seperti kekasihnya.
Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda, "jika kalian mencintai seorang mukmin, mengatakan kepadanya bahwa kalian mencintainya. Semoga ia pun mencintai karena Allah. Karena sungguh-sungguh dua orang mukmin yang saling mencintai karena Allah akan mendapat perlindungan di hari kiamat, dimana tak ada lagi perlindungan selain naungan-Nya.
Menjalin persaudaraan dengan seorang mukmin tidak hanya terbatas pada suku, ras, bahasa ataupun bangsa. Jika mereka beriman kepada Allah, maka mereka adalah saudara seiman sebagai satu kesatuan umat.
Selanjutnya kita bisa melihat kandungan QS. Alhujurat ayat 13.
Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Seseorang yang mencintai saudaranya layaknya kekasih, pasti akan mencintai apapun yang ada dalam diri kekasih tersebut. Baik itu cinta orangtuanya, cara sikap dan tutur katanya, tempat tinggalnya, orang-orang yang dicintainya, dan apapun yang dilakukan oleh kekasihnya.
Salah satu bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad ﷺ, pasti kita akan berusaha meneladani apa yang ada dalam diri Rasulullah dan kita akan sungguh-sungguh meneladani apapun yang Beliau contohkan. Bukan hanya dari ibadah ritual dan akhlaknya saja, tetapi dalam segala aspek kehidupan. Karena Allah ﷻ berfirman yang artinya: "Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik." (QS. 33 : 21).
Termasuk bagaimana kita memperlakukan Saudara kita di Palestina yang menjadi korban ketidakadilan, bahwa zionis Israel merupakan negara penjajah dan semoga Allah ﷻ melaknat mereka. Mengapa kita perlu melantangkan pemahaman itu kepada sesama mukmin khususnya dan masyarakat dunia umumnya, karena segala bentuk penjajahan yang dilakukan zionis yahudi terhadap Palestina harus segera dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Ini sesuai amanat UUD 1945. Kepada warga Palestina yang sedang berjuang atas penjajahan dan kezaliman, kita wajib mendukung dengan materi dan doa.
Dari Nu’man bin Basyir dia berkata: Rasulullah saw. Bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR. Bukhari dan Muslim).
Tinggalkan sikap yang hanya bisa melihat penderitaan mereka, karena terlalu sibuk dengan mengejar kehidupan dunia, dan sibuk mengejar semua ambisi-ambisi dengan nafsu semata. Muncul penyakit Lahwun yaitu cinta dunia dan takut mati.
Persaudaraan dalam Islam hukumnya wajib, bila kita mampu menjaga persaudaraan ini, rahmat Allah ﷻ akan tercurah kepada kita baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat bangsa dan dunia.
Untuk meningkatkan dan menjaga agar persaudaraan ini tetap terikat dengan kuat ada kaidah-kaidah yang harus tertanam dalam diri kita yang kemudian kita terapkan atau kita aplikasikan saat menjalankan jalinan persaudaraan.
Ada tiga kaidah yang terkait dengan persaudaraan yang harus kita perhatikan yang diambil dari berbagai sumber.
1. Kaidah bersaudara, “al-Ukhuwwatun mabniyatun ‘ala almutathallibaati laa ‘ala al id’aa aat.” Artinya, “Persaudaraan itu dibangun di atas apa yang orang lain suka, bukan atas tuntutan hak.” Jelasnya, jangan berpikir tentang apa yang harus saya dapatkan, tetapi berpikirlah apa yang bisa kita berikan untuk menguatkan jalinan persaudaraan.
2. Kaidah fikih, “al aslu fii dammi almuslimi wa ‘irdhihi wamaalihi alhurmatun.” Artinya, hukum asal darah Muslim, hartanya, dan kehormatannya adalah terjaga (dilarang dirampas). Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap Muslim dengan Muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya”. (HR. Muslim)
3. Kaidah hati, “itqaaul qalbi yatsmuru itsqaaal jawaarih.” Artinya, “Hati yang terjaga baik akan berbuah pada anggota badan yang terjaga.”
Semoga Allah ﷻ mempersatukan hati kita dan menguatkan persaudaraan kita sehingga kehidupan masyarakat berbangsa ada dalam keridhaan-Nya dan menjadikan masyarakat dan bangsa ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Amin.
Wallahu a'lam.
Jakarta, 29 November 2023 [TSH]
Sumber:
1. Ukhuwah Fillah Abadan Abada [Qolami Press]
2. Persaudaraan dalam Islam [www.republika.id/posts/29190/]
Langganan:
Postingan (Atom)
Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...
-
Melanjutkan tulisan sebelumnya ayah-jangan-bisu , didalamnya tertulis kesimpulan: “Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahi...
-
Empat Pertanyaan di Hari Kiamat Empat Pertanyaan di Hari Kiamat: Bekal yang Tak Boleh Kita Abaikan 🌙 Dark Mod...
