
Pengalaman di Kopaja
Sedikit berbagi pengalaman pribadi:
Kemarin siang, saat menaiki Kopaja P20 dari Gondangdia, tiga orang naik dari Tugu Tani. Saya tetap berpikiran positif meskipun merasakan keanehan kecil. Kebetulan saya duduk di bagian belakang karena kosong dan dekat pintu.
Lelaki pertama meminta saya bergeser karena ingin dekat dengan pintu. Lelaki kedua duduk di sebelah kanan saya. Lelaki ketiga justru berdiri, padahal masih banyak tempat duduk kosong. Ia sempat memberi uang receh kepada pengamen lalu berjalan ke depan, celingak-celinguk, memberi ongkos ke kenek, dan tetap berdiri.
Tak lama, lelaki ketiga itu menelepon seseorang yang ia panggil “Pak Haji”. Ia berkata, “Assalamualaikum, saya sudah di Kopaja, Pak Haji.” Ia lalu bertanya kepada kenek, “Ini daerah apa, Bang?” Kenek menjawab, “Tugu Tani. Emang mau ke mana?” “Tanah Abang,” jawabnya. “Naik itu, Kopaja 502 ke Tanah Abang,” kata kenek lagi. Tapi si lelaki langsung menutup telepon dan tak peduli.
Kemudian ia mengeluarkan amplop berisi brosur pengobatan alternatif Kalimantan. Ia membagikannya ke semua penumpang. Katanya, pengobatan tersebut bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Saya langsung membaca brosur itu.
Sambil berdiri, ia menanyakan keadaan penumpang di sebelah kanan saya. “Bapak kelihatannya sedang sakit, coba sini tangannya,” katanya. Ia menarik tangan bapak itu, memutarnya ke belakang kepala, memijat dari paha sampai mata kaki, dan menggoyang-goyangkan kakinya. “Ooh, bapak asam urat ya? Bener ini uratnya asam.” Bapak itu mengangguk setuju.
“Aih, kok bisa tahu penyakit bapak itu,” pikir saya dalam hati.
Klimaksnya terjadi ketika lelaki itu langsung memegang tangan saya. “Mari, Pak, saya cek.” Ia mulai mempraktikkan jurus yang sama. Karena ia sudah memegang tangan saya dan saya masih berpikiran baik, saya biarkan. Penumpang kiri dan kanan tampak memperhatikan dengan senyum-senyum.
Ketika ia menggoyang kaki saya dan berkata, “Bapak pernah jatuh ya? Ini ada pembengkakan tulang.” Saya menjawab, “Jatuh iya, dari motor.” Saya merasa gerakan di saku saya. Ternyata ponsel saya bergerak ke atas. Saya refleks memegangnya. Di situlah saya sadar: ini bahaya! Saya langsung berkata ke kenek, “Stop, Bang,” kebetulan saya memang ingin turun di Gambir.
Lelaki itu berkata, “Tunggu Pak, kaki satunya belum dicek, ini ada pembengkakan tulang.” Saya menolak dengan halus, “Gak usah, Pak. Saya memang mau berhenti di sini. Itu kantor saya.” Sambil menunjuk Gedung Kelautan, saya melompat turun. Alhamdulillah, selamat.
Jika kalian bukan kelompok pencopet, saya minta maaf sudah berprasangka buruk. Tapi jika kalian memang pencopet, semoga Allah memberi kalian hidayah dan mengampuni kalian. Aamiin.
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari-Muslim)