Selasa, 26 Juli 2022

NASIHAT TENTANG PERGAULAN

Istiqamah dalam Kebaikan di Zaman Fitnah

Istiqamah dalam Kebaikan di Zaman Fitnah

Dalam tulisan sebelumnya, bagaimana kita bisa istiqamah dalam kebaikan dan ketaatan di zaman penuh fitnah ini, salah satunya adalah seringnya kita berinteraksi dengan teman-teman dekat yang baik dan saleh karena hanya teman-teman yang saleh dan bijak yang bisa mengingatkan dan menasihati agar kita bisa konsisten dalam keimanan dan istiqamah dalam amal kebaikan. Firman Allah ﷻ:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Selayaknya kita bisa berkumpul dengan mereka, berinteraksi aktif dalam komunitas-komunitas yang baik. Cari mereka dalam kegiatan pengajian atau taklim di masjid, dalam organisasi-organisasi Islam, kelompok-kelompok kajian ilmiah baik tergabung dalam grup daring (medsos) ataupun luring. Silaturahmi dengan mereka diharapkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan aktivitas pekanan kita.

Mencari teman dekat yang baik janganlah berdasarkan kepentingan sesaat, tetapi demi kebaikan (maslahat) bersama yang abadi, maslahat di dunia, terlebih maslahat di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi)..." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam Kitab Qutul Qulub Fii Muamalatil Mahbub, Khalifah Umar bin Khattab berkata, “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sesama muslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka peganglah erat-erat.”[1]

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Penawar hati itu ada lima yaitu membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, kosongnya perut, qiyamul lail, berdoa di waktu sahar, dan duduk bersama orang-orang saleh.” [2]

Seorang ulama salaf menyatakan, "Saudaramu yang selalu mengingatkanmu kepada Allah, memberitahukan aib-aibmu itu lebih baik bagimu daripada yang menaruh beberapa uang dinar di tanganmu."

Memilih teman-teman yang baik untuk keselamatan kita menjadi hal yang utama dalam pergaulan, namun bukan berarti kita tidak boleh berteman dengan orang lain misalnya nonmuslim, di lingkungan kita, di kantor, bertetangga sepanjang dalam hubungan muamalah, pekerjaan, sosial, atau kemasyarakatan itu dibolehkan dan bahkan dengan wasilah (melalui) hal tersebut bisa menjadi sebaik-baik manusia dengan balasan pahala yang besar.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. ath-Thabrani)

Memilih teman di sini artinya sebagai teman dekat (karib) yang dapat membawa kita ke maslahat bukan ke kemaksiatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seseorang itu mengikuti din (agama, tabiat, akhlak) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud)

1. Teman yang Mengajak Kita ke Surga

Diriwayatkan bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka bertanyalah mereka tentang sahabat-sahabat itu kepada Allah ﷻ. "Ya Rabb, kami tidak melihat teman-teman kami yang sewaktu di dunia salat bersama dengan kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami." Maka Allah berfirman, "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarah." (HR Ibnul Mubarak, dalam Az-Zuhd).

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”(QS. Al-Kahfi: 28)

Sementara Imam Syafi’i berkata, "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali."

Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat."

Sementara Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, 'Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di surga-Mu.'"

2. Ulama, Tokoh, dan Orang-Orang Bijak

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad di dalamnya menulis hadis yang diriwayatkan ath-Thabrani dari Abu Hanifah disebutkan: “Bergaullah bersama para tokoh dan bertanyalah kepada ulama serta bersahabatlah dengan orang-orang bijak.”

Dalam riwayat lain disebutkan, "Bergaullah dengan para ulama, bersahabatlah dengan orang-orang bijak, dan bersahabatlah dengan para tokoh.”

Mereka adalah orang-orang yang dapat memberikan ketenangan batin karena akhlaknya dengan nasihat-nasihat pengingat kebaikan bahkan tatapan serta senyumannya bisa memberikan rasa bahagia.

Dikisahkan bahwa Imam as-Suhrawardi pernah berkeliling di sekitar Masjid al-Khaif, Mina, sambil menatap wajah setiap orang yang ditemuinya. Dia ditanya tentang sikapnya itu. Dia pun menjawab, "Sesungguhnya, Allah ﷻ memiliki hamba-hamba yang apabila mereka memandang orang lain, mereka dapat memberikan rasa bahagia." Bahkan, terkadang kerlingan mata mereka lebih bermanfaat dari ucapannya.

Syekh Nawawi al-Bantani juga menuliskan bahwa ulama itu terdiri atas tiga golongan:

  • Ulama yang menguasai hukum-hukum Allah ﷻ. Ulama kategori ini adalah mereka yang banyak mengeluarkan fatwa terkait dengan masalah hukum.
  • Ulama yang menguasai ilmu tentang Dzat Allah ﷻ (ilmu makrifat). Mereka kerap disebut hukama, yaitu orang-orang alim yang serius pada upaya perbaikan akhlak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hati mereka selalu bersinar oleh makrifatullah dan jiwa mereka tercerahkan oleh keagungan sifat Allah ﷻ.
  • Ulama yang menguasai dua hal di atas, disebut al-kubaraMereka adalah ahli ibadah dan selalu berbuat hal terpuji demi kepentingan makhluk Allah. Salah satu cirinya adalah, lirikannya lebih memberi manfaat daripada ucapannya. Sesungguhnya, bergaul dengan mereka para ahlullah (orang yang dekat dengan Allah) itu mampu membentuk keluhuran jiwa. Jangan tinggalkan mereka.
"Akan datang suatu masa, saat itu umatku lari dari para ulama dan fuqaha, lalu Allah akan menimpakan kepada mereka cobaan berupa tiga macam musibah yaitu: Pertama, Allah akan mencabut keberkahan rezeki mereka. Kedua, Allah akan angkat penguasa zalim untuk mereka. Ketiga, mereka akan keluar dari kehidupan dunia (meninggal) tanpa membawa iman.”[3]

Termasuk nikmat Allah ﷻ yang paling besar, ketika kita dibimbing-Nya untuk berteman dengan orang-orang saleh. Tentu sebaliknya, termasuk hukuman dari Allah ﷻ adalah menjadikan orang-orang yang buruk sebagai teman karib.

Berteman dengan orang-orang saleh akan membersihkan hati, menghasilkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, akhlak-akhlak yang mulia, dan amal-amal yang saleh baik amal-amal pribadi atau bersama (amal jama’i). Sedangkan berkawan dengan orang-orang yang buruk akan menghalangi semua itu.

Allah ﷻ berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (yakni: sangat menyesal), seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 27–29)

Semoga kita bisa berteman dan bergaul dengan orang-orang yang saleh yang bisa mengantarkan kelak ke Surga-Nya. Amin.

Wallahu a’lam.

-TS Hadi-
Pekanbaru, 26 Juli 2022

Maraji’:
[1] Kitab Qutul Qulub Fii Muamalatil Mahbub, 2/17
[2] Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hlm. 107; Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth
[3] Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani, hlm. 15; Turos Khazanah Pustaka Islam

Selasa, 12 Juli 2022

ISTIQAMAH DI ZAMAN FITNAH

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ummayah asy-Syabani, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Abu Tsa’labah al-Khusyani dan bertanya kepadanya: Bagaimanakah mengamalkan ayat ini? Ia lalu balik bertanya: Ayat yang mana? Aku berkata: Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Surah al-Maidah [5]: 105). Ia menjawab: Demi Allah, sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada orang yang benar-benar mengerti. Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka Nabi menjawab: “Bahkan hendaklah kalian saling menyuruh berbuat makruf dan saling mencegah kemungkaran, sehingga jika engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan kekaguman setiap orang kepada pendapatnya. Hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah orang-orang awam, karena di belakang kalian masih ada hari-hari yang panjang. Orang yang sabar di dalam hari-hari itu tidak ubahnya seperti orang yang menggenggam bara api.” (Riwayat at-Tirmidzi).

Hari hari yang panjang itu adalah zaman penuh fitnah (kekacauan) dan orang yang sabar di dalam hari-hari itu adalah orang yang memiliki karomah (keutamaan) yang besar yaitu Istiqamah.

Dari berbagai nash quran dan hadits fitnah akhir zaman itu yang sesuai di era sekarang adalah mewabahnya tha’un (penyakit menular), berlimpahnya harta, hingga tidak ada yang mengeluarkan dan menerima sedekah, muncul nabi-nabi palsu, hilangnya amanat pada suatu kaum, diangkatnya ilmu dan fenomena kebodohan, banyaknya kelompok-kelompok- pendukung kezhaliman, makin maraknya perzinahan, dan LGBT, praktek riba, dan masih banyak lagi.

Masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap muslim. Keteguhan pendirian di jalan Allah dan Rasul-Nya dalam menghadapi fitnah itulah Istiqamah. Dan ketika kita mampu beribadah dengan Istiqamah itulah laksana hijrah untuk Allah ﷻ. Rasulullah bersabda, “Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Tiada balasan yang paling indah bagi orang yang berhijrah adalah Surga Firdaus, yaitu surga yang paling tinggi dan mulia. Seperti yang dijelaskan dari Anas bin Malik Radiallahuanhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Firdaus adalah surga yang paling tinggi, yang paling bagus, dan yang paling utama.” (HR. Turmudzi dan Al-Albani).

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)

Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ, “Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka itu adalah, “Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.” (HR. Thabrani, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)


Bagaimana kita bisa Istiqamah dalam kebaikan dan ketaatan di akhir zaman ini?

1. Rajin ibadah janganlah sesaat

Ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu atau musiman. Perilaku seperti ini bukanlah perilaku yang baik. Pasalnya, Allah senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita setiap waktu. Maka, tidak pantas rasanya bila kita hanya mengenal-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya pada waktu tertentu saja. Atas dasar inilah, para ulama mengatakan, "Seburuk-buruk manusia adalah yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang yang salih adalah orang yang rajin beribadah dan shalat malam sepanjang tahun."

Ini menegaskan kepada kita bahwa melakukan ketaatan kepada Allah tidak terbatas oleh waktu. Bahkan, selama nyawa kita masih dikandung badan, kita wajib taat kepada Allah.

2. Beramal secara kontinu (rutin) walau sedikit

Di antara kelebihan suatu amalan atas amalan lainnya adalah amalan yang rutin dilakukan. Ya amalan yang rutin walau sedikit akan mengungguli amalan yang tidak rutin walaupun banyak. Amalan inilah yang lebih dicintai olah Allah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah yang artinya: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit."(HR Muslim)

Sebagian orang ada yang sengaja menyedikitkan amalannya dengan menjadikan hadis ini sebagai dasar. Ini kesalahan yang fatal, Karena dalam hadis ini, Rasulullah sama sekali tidak melarang kita untuk memperbanyak amalan. Beliau hanya mengingatkan kepada kita bahwa amalan yang rutin dilakukan, meskipun sedikit, itu lebih baik daripada amalan yang jumlahnya banyak tetapi tidak dilakukan secara rutin.

Dari sini dapat kita pahami bahwa ketika seseorang mampu melakukan amalan yang jumlahnya banyak dan dilakukan secara rutin, maka itu lebih baik daripada amalan yang sedikit dan dilakukan secara rutin. Hadis ini membuktikan betapa pentingnya melakukan amalan secara rutin atau istiqamah.

Saking pentingnya, maka Nabi pernah berpesan kepada Abdullah bin 'Amr bin al-Âsh, "Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti Fulan, dulu ia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi" (HR Bukhari).

Hasan al-Bashri, seorang ulama yang diberi julukan singa podium pernah mengatakan, "Jika setan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, maka ia pun akan menjauhimu. Namun, setan melihatmu beramal, kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, bahkan engkau melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak untuk menggodamu."

3. Sering beriteraksi dengan teman-teman yang salih

Sebagai hamba yang lemah, suatu keniscayaan bahwa iman mudah turun dan bisa naik seiring fitnah dunia, nafsu, dan janji setan yang akan selalu mengganggu manusia. Firman Allah ﷻ :
“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (QS. Al-A’raf:17)

Hanya teman-teman yang salih yang bisa mengingatkan dan menasihati agar kita tetap konsisten dalam keimanan dan istiqamah dalam amal kebaikan. Seyogyanya kita bisa berkumpul dengan mereka, berinteraksi aktif dalam komunitas-komunitas yang baik. Cari mereka dalam kegiatan pengajian atau taklim di masjid, dalam organisasi-organisasi islam, kelompok-kelompok kajian ilmiah baik tergabung dalam grup online (medsos) ataupun offline. Silaturahmi dengan mereka, diharapkan bagian yang tidak terpisahkan dengan aktifitas pekanan kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
”Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kita yakin tidak ada seorang pun di dunia yang luput dari aib dan dosa. Namun terkadang di era zaman fitnah ini, kita tidak jujur terhadap diri kita. Kita tidak siap mental menerima ketika ada aib yang jatuh ke diri kita, bahkan sering terkesan membela-bela diri dan dengan berbagai alasan tidak mau menerima aib atau dosa kita yang terungkap, bahkan sebaliknya bangga denga dosa-dosa, naudzubillah. Seandainya energi yang kita pergunakan untuk membela diri itu kita alihkan untuk melaksanakan ketaatan secara konsisten dengan bantuan teman-teman yang salih yang selalu mengingatkan, maka perlahan namun pasti, aib-aib kita itu akan terlihat oleh kita dan segera bisa instropeksi dan memperbaikinya.

Seorang Ulama Salaf menyatakan, "Saudaramu yang selalu mengingatkanmu kepada Allah, membertahukan aib-aibmu itu lebih baik bagimu daripada yang menaruh beberapa uang dinar ditanganmu".


Orang yang melakukan amalan dengan Istiqamah akan mendapatkan banyak keutamaan, di antaranya:

1. Dimasukkan ke dalam surga Firdaus

Dalam hal ini, Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an (Fushshilat:30) yg artinya seperti diatas tadi. Ayat tersebut menjelaskan bahwa siapa saja yang memiliki sifat istiqamah, maka Allah akan memberinya kabar gembira saat ia sedang mengalami sakaratul maut, di mana seseorang mengalami rasa sakit yang luar biasa.
Dalam kondisi seperti itu, Allah mengirimkan para malaikat kepadanya untuk menghiburnya seraya mengatakan, "Janganlah kamu takut terhadap apa yang akan kamu alami setelah kematianmu, karena keridhaan dan rahmat Allah akan terlimpah untukmu. Janganlah pula kamu bersedih terhadap apa yang telah engkau tinggalkan di dunia dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

2. Mendapat pahala meskipun tidak melakukannya karena uzur

lbnu Rajab al-Hambali mengatakan, "Sesungguhnya seorang hamba hanya diberi balasan sesuai amalan yang ia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amalan bukan karena uzur syar'i, seperti sakit atau safar, maka ia tidak akan mendapatkan balasan pahala bila ia meninggalkan amalan tersebut. Namun bila seseorang meninggalkan amalan yang rutin ia lakukan karena alasan sakit, bepergian (safar), atau uzur syar'i lainnya, maka ia akan tetap memperoleh pahala dari Allah.

Rasulullah bersabda: "Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka ia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika muqim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat." (HR.Bukhari)

3.Tidak akan terkena virus futur (jenuh dalam beramal)

Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya, jika seseorang beramal sedikit namun kontinu (terus-menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, "Sesungguhnya bangunan surga dibangun oleh para malaikat disebabkan amalan zikir yang terus menerus dilakukan. Apabila seorang hamba merasa bosan untuk berzikir, maka malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya. Lantas malaikat berkata, "Apa yang terjadi kepadamu, wahai Fulan?" Sebab malaikat bisa menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berzikir tadi mengalami futur (kemalasan) dalam beramal."

Berbahagialah orang-orang yang dapat menjaga keimanan dan keistiqamahan dalam beramal. Pasalnya, iman dan istiqamah akan membuahkan keselamatan dari segala macam keburukan dan meraih segala hal yang dicintai.

Orang yang istiqamah juga akan dianugerahi kekokohan dan kemenangan, serta kesuksesan dalam memerangi hawa nafsu. Beruntunglah mereka yang mampu beristiqamah dalam melakukan ketaatan kepada Allah, khususnya di zaman yang penuh fitnah sekarang, ketika cobaan, ujian, dan godaan selalu mewarnai kehidupan kita.

Maka Istiqamahlah!

Wallahualam (TS Hadi).

Pekanbaru, 12 Juli 2022

Sumber buku: Syarah hadits Arbain-an Nawawiyah, disusun oleh M Suhadi, Lc.

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...