Rabu, 07 Desember 2022

MENJAGA UMUR PRODUKTIF DARI DOSA

Masalah yang dihadapi setiap muslim, bahkan setiap manusia, bahwa kehidupan dibatasi oleh tahun, hari, jam, bahkan detik. Manusia tidak mampu menambah atau mengurangi waktu meskipun sedetik. Sebesar apa pun tenaga yang dicurahkan seorang muslim untuk mengumpulkan kebaikan sebanyak-banyaknya, tetap saja jatah hidupnya di dunia ini dibatasi waktu. Umur umat Nabi Muhammad ﷺ lebih singkat dibandingkandengan usia umat-umat terdahulu. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.” (HR At-Tirmidzi)

Usia produktif manusia tidak lebih dari 20 tahun dari seluruh umurnya. Sebagai contoh, salah satu dari kita diberikan jatah hidup di dunia selama 60 tahun. Perinciannya, sepertiga dari usia itu dipergunakan untuk tidur, dengan asumsi tidur selama 8 jam per hari. Lalu 15 tahun masa kanak-kanak sampai usia pubertas. Masa itu, seseorang belum memasuki usia taklif (pembebanan kewajiban oleh syariat). Yang tersisa tinggal sekitar 25 tahun. Dari 25 tahun itu, terambil waktu sedikitnya 2 tahun untuk makan dan minum, buang hajat dan urusan-urusan mendesak lainnya. Jika ia melakukannya selama sekitar 2 jam per hari, maka sisa umurnya sekitar 23 atau hampir sepertiga umurnya. Itulah waktu yang ia harus pergunakan semaksimal mungkin untuk memperoleh kebaikan. Waktu yang sangat singkat, tentu saja. Karenanya, dibutuhkan sejumlah kiat untuk menjadikan umur lebih produktif dalam waktu singkat tersebut.

Definisi Memanjangkan Umur
Anas bin Malik meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ, "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim." (HR. Muslim)

Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam memahami makna "dipanjangkan umurnya”, sebagaimana tersebut dalam hadis di atas. Berikut ini, akan disimpulkan pendapat beberapa ulama seperti Imam An-Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahumullah.

Pertama, makna umur dipanjangkan berarti dipenuhinya umur itu dengan keberkahan.
Kedua, jumlah umur ditambah secara hakiki.
Ketiga, namanya senantiasa dikenang. Kebaikannya selalu disebut-sebut walaupun ia telah tiada. Pendapat ketiga ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi yang dinukil dari Qadhi Iyyadh. Walau begitu, Imam An-Nawawi menganggapnya lemah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam Ibnu Hajar yang dinukil dari Ibnu At-Tiin dan dikuatkan oleh Ath-Thibi. (Majmu' Tsamin Fatawa, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 2/201)

Barangkali yang paling tepat untuk mewakili makna hadis tersebut adalah pendapat pertama dan kedua. Meski begitu, tak mengapa jika ketiga kesimpulan di atas mewakili makna hadis tersebut. Sebaiknya kita menghindari perbedaan pendapat dalam hal ini. Tujuan kita adalah bagaimana sisa umur, kita manfaatkan dengan sebaik mungkin dengan cara mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya. Sebab, seburuk-buruk manusia adalah mereka yang diberikan umur panjang namun diisi dengan hal-hal yang mendekatkan mereka pada neraka.

Ulama Yusuf Qardhawi Rahimahumullah berpendapat yang menukil dari pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziah, bahwa hakikat umur manusia bukanlah tahun-tahun yang ia lewati dari ia lahir sampai meninggal dunia. Tapi hakikat umur manusia adalah berapa banyak jumlah amal shalih yang telah ia kumpulkan dalam neraca kebaikannya. Karena itu, tidak aneh jika Anda melihat seseorang yang diberikan jatah hidup di dunia lebih dari 100 tahun namun kebaikan dan amal shalihnya sama sekali tak ada, atau bahkan dipenuhi dosa dan maksiat. Kadang pula, seseorang meninggal dalam usia muda, namun hari-hari yang ia lewati penuh dengan kebaikan. Seorang ahli hikmah pernah berkata:

Boleh saja seseorang punya jatah hidup panjang namun hari-harinya kosong dari kebaikan. Boleh saja seseorang memiliki usia pendek namun hari-harinya penuh kebaikan. Barangsiapa yang diberkahi umurnya, ia pasti memperoleh karunia Allah. (Al-Waqtu fi Hayah Al-Muslim, Yusuf Al-Qardhawi, hlm. 55)

Kiat Menjaga Umur Produktif dari Dosa
Disebutkan di awal, dengan asumsi umur seorang muslim adalah 60 tahun maka umur produktifnya adalah 23 tahun atau sepertiganya. Mungkin di antara umur produktifnya ada yang memproduksi amal ada pula yang memproduksi dosa. Bisa lebih banyak amalnya ataupun sebaliknya.

Sebagian besar diantara umat Islam sudah memahami dan mungkin sudah mempraktikan amal-amal yang mencatat pahala selama ribuan tahun seperti beramal saat lailatul qadr, amal-amal yang tidak pernah habis walau sudah meninggal, bahkan amal-amal yang menjamin masuk Surga.

Mungkin diantaranya juga ada yang tidak peduli dengan dosa maksiat, ada yang melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, ataupun ada pula yang berhati-hati terhadap dosa maksiat sekecil apapun untuk menjaga amal-amalnya dalam bingkai keikhlasan hingga tiba waktunya bertemu dengan Allah ﷻ di hari kiamat kelak.


Agar amal kebaikan yang telah kita lakukan tetap terjaga hingga Hari Kiamat, waspadai:

1. Dosa-dosa yang Menghapus Kebaikan
Ada beragam maksiat yang termasuk dosa besar dan dapat menghapus kebaikan dan memberatkan timbangan dosa. Segeralah mencari tahu dan menghindarkan diri agar tidak jatuh didalamnya. Sebab, dengan melakukan salah satu saja perkara yang membatalkan kebaikan, amal kebaikan kita bisa terhapus, walau sebesar gunung sekalipun. Tsauban radiallahu ‘ahnu meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.” Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (Shahih. HR. Ibnu Majah).

Tidak hanya tindakan, bermaksiat dengan pikiran-pikiran yang melanggar aturan pun juga mampu memusnahkan pahala seperti, hasad, riya, zina mata, dan lainnya. Meski sesama manusia tidak mengetahuinya, namun Allah ﷻ Maha Mengetahui dan senantiasa mengawasi kita. Sebagaimana berfirman Allah Ta'ala:
"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS An-Nisa’: 108)

2. Bangga dan Tertipu oleh Banyaknya Amal
Suatu hal yang perlu kita hindari adalah bangga diri (ujub) dan tertipu oleh banyaknya amal salih. Allah ﷻ memperingatkan:
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (Q.S. Al-Muddatstsir:7)

Tafsir Al-Mukhtashar (Markaz Tafsir Riyadh), maksud dari ayat dimaksud adalah, “Dan janganlah engkau pamrih terhadap Rabbmu dengan merasa telah banyak amal salihmu”.

Ujub adalah penyakit hati yang paling ditakutkan, terkadang diantara kita menganggap dosa kecil yang kita lakukan tidak berpengaruh dengan berlimpahnya amal salih kita. Kita mengira akan masuk surga dengan banyak amal yang tercatat dalam buku yang dibeberkan Allah kelak. Padahal Allah menyampaikan pesan melalui sabda Rasulullah ﷺ. Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga”. “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Salah satu penyebab munculnya ujub adalah karena merasa telah banyak melakukan amal salih, dan bisa jadi tanpa sadar juga melakukan dosa dosa kecil yang dianggap remeh. Padahal, hal tersebut membuat terhalangnya Rahmat Allah sebagai wasilah mendapatkan kenikmatan yang sangat besar yaitu Surga-Nya.

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Seorang pedagang yang bengharapkan rahmat Allah lebih dicintai Allah dari pada ahli ibadah yang melihat ia tidak memperoleh apa yang ada di sisi Allah kecuali karena amalnya. (Hilya Al-Awliya wa Thabaqat Al-Ashfiya’, Abu Nu’aim, 7/241)

3. Jangan Rugikan Orang Lain
Jangan pernah menyakiti saudaramu sesama muslim, baik berupa ghibah, namimah, hinaan, dan lain-lain. Hindari melanggar hak-hak orang lain. Jika kita melakukan, kelak mereka akan mengambil amal kebaikan yang kita kumpulkan di hari kiamat. Jika amal kebaikan kita habis, jika masih ada hak mereka yang belum tertunaikan, maka mereka akan memberikan dosa-dosa mereka kepada kita. Dan kita akan menjadi orang yang bangkrut (muflis), Naudzubillah.

Suatu ketika Nabi Muhammad ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya, "Tahukah kalian, siapakah orang yang muflis (orang yang bangkrut) itu? Karena tidak tahu apa yang dimaksud oleh Nabi, para sahabat pun menjawab, Menurut kami, muflis itu adalah orang yang tidak mempunyai harta benda.” Jawaban itu tentu bukan yang dimaksud oleh Nabi. Seraya meluruskan jawaban mereka, Nabi lalu menjelaskan bahwa yang muflis di antara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal shalat, puasa, dan zakat. Tetapi, ia pernah mencaci, menuduh zina, merampas harta, membunuh, dan memukul orang lain. Maka pahala kebajikan orang tersebut akan diberikan sebagai tebusan kepada orang-orang yang dizaliminya itu. Dan, apabila kebajikannya sudah habis, sementara kesalahan-kesalahannya belum semua tertebus, dosa orang-orang tersebut akan ditimpakan kepada orang tadi. Kemudian, ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim).
Itulah orang yang muflis!

Karena itu, hendaklah kita berhati-hati dalam bergaul, tampilkan akhlak yang terpuji. Sebab, dengan akhlak yang baik, kita dapat meraih hati dan cinta orang lain, aman dari gangguannya, dan kebaikan kita pun tidak berkurang.

4. Waspadai Dosa yang Tak Berhenti Berbuah
Ketika kita sangat menginginkan amal kebaikan yang terus berbuah walaupun kita telah wafat, perlu dicamkan bahwa kita pun selama masih hidup harus bisa menghindarkan diri dari dosa yang terus berbuah. Dosa yang terus berbuah yang menghasilkan turunan-turunan dosa berikutnya contohnya seperti berfatwa tanpa dasar ilmu, menyebarkan informasi, berita, yang ternyata berisi fitnah, video porno dan sejenisnya, memberikan contoh buruk kepada orang lain baik sebagai orang tua ke anak, ataupun guru ke murid, mengarahkan kepada kemaksiatan, dan seterusnya.

“Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah (tradisi yang baik) dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim).

Dari Abdullah bin Mas'ud raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu, "Tidaklah setiap jiwa yang dibunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosa pembunuhan tersebut, karena dialah yang pertama kali melakukan pembunuhan." (Hadis sahih - Muttafaq 'alaih)

Karena itu, berniatlah dengan tekad yang kuat untuk tidak mewariskan dosa sepeninggal kita pada orang lain. Berusahalah agar ketika kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah dengan dosa-dosa yang ikut terkubur pula.

Asy-Syathibi berkata, “Alangkah bagusnya orang yang meninggal dan dosa-dosanya juga ikut terkubur bersamanya.” Sungguh celaka orang yang meninggal namun dosa-dosanya tetap tinggal selama 100 atau 200 tahun. Dia akan disiksa dalam kuburnya dan diminta untuk melunasinya. (Al-Muwafaqat fi Ushul Asy-Syariah, Asy-Syathibi, 1/229)

Hindarilah dosa jariyah yang hakikatnya merupakan salah satu bentuk penjajahan fisik dan pemikiran (gazwul fikr) dalam setiap insan muslim baik pribadi atau melalui rumah tangga muslim.

Jadilah orang yang mewariskan akhlak dan amal kebaikan generasi selanjutnya, umat islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Wallahu a’lam.


Pekanbaru, 7 Desember 2022
Sumber: Muhammad bin Ibrahim an-Nu’aim. 2005. Manajemen Umur. Jakarta: Pustaka at-Tazkia.

Minggu, 13 November 2022

ADAB-ADAB YANG DIREMEHKAN

Hadis ke 15 dalam Kitab Syarah Hadis Arbain an-Nawawiyah, menyebutkan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ﷺ bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan salah satu hadis dari empat hadis berkaitan dengan etika yang baik dalam Islam. Hadis ini mengandung tiga adab penting dalam Islam yang mungkin sering diremehkan diantara umat Islam. Tulisan sebelumnya menyebutkan yang dapat menurunkan Rahmat Allah ﷻ adalah salah satunya tidak meremehkan kebaikan (amal) sekecil apapun.

Pertama: Berkata yang baik atau diam
Lisan adalah anggota badan yang paling banyak melakukan aktivitas, paling banyak mendatangkan pahala, dan paling banyak pula menyebabkan dosa. Lisan termasuk nikmat Allah yang paling aneh, lembut, dan ajaib. Kecil bentuknya, tetapi besar ketaatan dan dosanya. Pasalnya, tidak jelas mana yang kufur dan mana yang iman, kecuali dengan kesaksian lisan.

Barangsiapa melepaskan lisan dan membiarkan tali kendalinya, setan akan menjerumuskannya dalam berbagai arena, hingga ke tepi jurang yang mengantarkannya pada kehancuran. Tak ada yang selamat dari keburukan lisan, kecuali orang yang mengikatnya dengan sabuk syariat dan tidak melepaskannya kecuali dalam hal-hal yang bermanfaat baginya.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa jika seseorang ingin bicara, hendaklah ia berpikir terlebih dulu. Bila pembicaraan itu mendatangkan manfaat, maka silakan dilanjutkan. Namun, bila pembicaraan itu menyebabkan mudarat, hendaklah ia tinggalkan.

Ini juga berlaku ketika kita bergaul di medsos atau di grup-grup online yang ingin berkomentar atas suatu topik pembicaraan atau sekedar men-share sesuatu. Jari-jari kita perlu ditahan untuk tidak mudah memberikan komentar atas hal yang belum jelas atau tidak kita pahami.

Selain hadis di atas, banyak hadis lain yang mengisyaratkan keutamaan diam, di antaranya hadis Sufyan ats-Tsaqafi. la berkata:
"Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan atasku?" Beliau menjawab, "Ini (sambil memegang lisannya)." (HR. Tirmidzi)

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan kita:
"Orang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari-Muslim)

Seyogianya manusia berbicara sesuai kebutuhan. Sebagaimana pula ia tidak perlu menafkahkan sebagian dari hasil usahanya, kecuali sesuai dengan kebutuhan. Kita tidak akan bisa menggapai hakikat keimanan, hingga kita mampu menjaga lisan kita. Keimanan kita juga tidak akan lurus, hingga hati kita lurus. Hati pun tidak akan lurus, hingga perkataan kita lurus. Kita mesti sadar bahwa apa saja yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Tidaklah ada suatu ucapan yang keluar dari lisan kita, melainkan ada malaikat pengawas yang selalu mencatatnya. Allah ﷻ berfirman, yang artinya: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya." (QS. Al-Isra: 36)

Allah ﷻ juga berfirman, yang artinya:
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 18)

Begitu banyak kebaikan yang disebabkan oleh lisan, tapi banyak pula kerusakan dan kesengsaraan yang ia akibatkan. Kala lisan kita enggan untuk berbicara baik, saat itulah kita lebih baik diam. Karena banyak bicara akan menyebabkan kita banyak salah, dan banyak salah akan menyebabkan kita banyak dosa.

Adab dalam bicara
Kita tentu ingin menjadi mukmin yang memiliki iman sempurna. Untuk itu, kita mesti mengetahui adab-adab dalam bicara. Sebab, iman seorang mukmin baru dikatakan sempurna apabila ia mampu membatasi lisannya dengan perkataan yang baik. Berikut ini kami akan menyampaikan beberapa adab dalam bicara.
1) Hanya membicarakan hal-hal yang berguna dan menjauhi perkataan yang diharamkan. Allah ﷻ berfirman tatkala menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang beriman, yang artinya: "Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna." (al-Mu'minun: 3) Maksud perkataan yang tiada guna di sini adalah perkataan yang batil dan diharamkan oleh Allah. Misalnya ghibah, adu domba, mencaci orang lain, dan sebagainya.
2) Tidak berlebihan dalam membicarakan hal-hal yang mubah. Karena hal ini dapat menjerumuskan kita dalam perbuatan haram atau makruh. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Nabi, beliau bersabda, yang artinya: "Janganlah kalian memperbanyak pembicaraan selain zikir kepada Allah ﷻ. Karena memperbanyak pembicaraan selain zikir kepada Allah menyebabkan hati menjadi keras. Padahal, sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah yang paling keras hatinya."
3) Bicara hanya ketika dibutuhkan saja. Misalnya, ketika menjelaskan kebenaran, menyampaikan kebaikan kepada oranglain, atau mencegahnya dari perbuatan maksiat.

Kedua: Menghormati dan memuliakan tetangga
Islam memerintahkan umatnya agar menghormati dan memuliakan tetangga. Allah ﷻ berfirman, yang artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib- kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat." (QS. An-Nisa: 36)

Bahkan, perhatian Islam kepada tetangga sampai pada tingkatan yang tiada tandingannya dalam sejarah hubungan sosial manusia. Hal ini bisa kita lihat dalam hadis Nabi, "Jibril senantiasa mewasiatiku tentang tetangga, sehingga aku mengira bahwa ia akan menjadikannya sebagai ahli waris." (HR. Bukhari Muslim)

Tetangga itu mengandung empat arti:
1) Orang yang tinggal serumah dengan kita.
2) Orang yang rumahnya menempel dengan rumah kita.
3) Empat puluh orang yang rumahnya terletak di samping rumah kita.
4) Orang yang tinggal satu negeri bersama kita.

Para ulama mengatakan, "Jika tetangga itu Muslim sekaligus kerabat, maka ia memiliki tiga hak, yaitu hak ketetanggaan, hak keislaman, dan hak kekerabatan. Jika ia seorang Muslim yang bukan kerabat, maka ia mempunyai dua hak, yaitu hak ketetanggaan dan hak keislaman. Jika ia seorang kafir yang bukan kerabat, maka ia mempunyai satu hak, yaitu hak ketetanggaan."

Dalam hadis yang lain dianjurkan pula kepada tetangga memberikan makanan atau hadiah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Saling memberi hadiah kalian, karena sesungguhnya saling memberi hadiah itu bisa menghilangkan dendam dalam hati, dan jangan sekali-kali meremehkan seseorang kepada tetangganya meskipun dengan sebagian teracak kaki kambing.”

Dilanjutkan lagi bagi tetangga sipenerima hadiaha atau makanan. “Wahai para wanita muslimah, janganlah seorang tetangga memandang rendah pemberian tetangganya, walaupun hanya kaki kambing. (HR. Bukhari)

Demikianlah indahnya ajaran Islam. Ia tidak hanya mengatur kehidupan pribadi kita, tapi juga mengatur kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Islam mengajari kita untuk menghormati dan memuliakan tetangga. Tidak akan masuk surga, sesuai sabda Nabi, “orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”.

Ketiga: Memuliakan tamu
Islam memerintahkan kita untuk memuliakan tamu, sebagaimana terlukis dalam sabda Nabi di atas, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya."

Di antara bentuk memuliakan tamu adalah menyambutnya dengan baik dan menjamunya. Kewajiban menerima dan menjamu tamu adalah sehari semalam, sedang selebihnya hukumnya sunah. Termasuk ketika menjamu tamu dengan makanan terbaik. Rasulullah ﷺ bersabda, “Makanlah bersama-sama dan jangan terpisah, sebab rahmat Allah ada dalam kebersamaan.” (HR Ibnu Majah)

Orang yang bertamu dianjurkan agar tidak banyak merepotkan tuan rumah. Bila ia menginap sampai tiga hari, hendaklah ia meminta izin kepada tuan rumah agar tidak menyebabkan tuan rumah terbebani.

Perhatian Islam terhadap tetangga dan tamu semakin mengukuhkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Karena ia tidak hanya mencakup pelaksanaan hak-hak Allah ﷻ, tapi juga hak-hak manusia. Semoga kita bisa merasakan manisnya hidup ini dengan menunaikan hak-hak-Nya dan hak-hak manusia.

Kesimpulan Hadis:
1) Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.
2) Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang di kalangan individu masyarakat Muslim.
3) Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.
4) Islam sangat menjaga agar seorang Muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.
5) Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangga, memperhatikannya, serta tidak menyakitinya.
6) Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang benar dan beramar makruf nahi mungkar.
7) Memuliakan tamu termasuk di antara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmen terhadap syariat Islam.

Wallahu a’lam
Pekanbaru, 14 November 2022

(Disadur dari Buku Syarah Hadis Arbain An-Nawawiyah yang ditulis Ustadz Muhammad Suhadi, Lc., dengan beberapa penambahan)

Rabu, 12 Oktober 2022

Amalan Mendatangkan Rahmat

Berbagai nash dalam Quran dan hadis menjelaskan bahwa Rahmat Allah adalah kenikmatan yang sangat diidam-idamkan oleh setiap insan. Rahmat yang bersifat umum (rahmat fisik dunia) akan turun kepada seluruh mahluk-Nya, termasuk orang-orang kafir sekalipun seperti pemberian makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain. Sedangkan rahmat yang sifatnya khusus bersifat Imaniyyah Diniyyah baik di dunia maupun akhirat, dalam bentuk taufik untuk berbuat ketaatan kepada Allah ﷻ, kemudahan untuk berbuat baik, diteguhkan keimanannya dan diberi hidayah menuju jalan yang lurus dan dimuliakan dengan masuk ke dalam Surga serta selamat dari Neraka. (Fiqhul Asmail Husna hlm. 102)

Hasil dari Rahmat Allah adalah Surga yang merupakan karunia dari Allah yang sangat besar. Firman Allah ﷻ:
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya (surga), dan menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya”. (QS. An Nisa:175)

Siapa pun orang beragama berharap ujung dari kehidupannya adalah Surga. Begitu pula bagi umat Islam. Apakah mudah mendapatkannya? tentu tidak. Apakah sulit? tidak juga jawabannya karena Allah Taala melalui Rasulullah ﷺ memberikan cara mendapatkannya.

Kata kuncinya pada ‘amal’ (apa yang telah dikerjakan), firman Allah ﷻ dalam Surat An-Nahl ayat 32, “Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Bagaimana dengan hadis bahwa seberapa banyak pun amal seorang muslim termasuk Rasulullah ﷺ tidak menjamin masuk Surga kecuali Rahmat Allah ﷻ.
Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga”. “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah memberikan keterangan yang sangat bagus, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 145)

Syaikh Ibnu ‘Utsamin menjelaskan, “Bagaimana menggabungkan antara ayat dan hadis di atas, jawabannya, kedua dalil di atas bisa dikompromikan, di mana peniadaan masuknya manusia ke dalam surga karena amalnya dalam arti balasan, sedangkan isyarat bahwa amal sebagai kunci masuk surga dalam arti bahwa amal itu adalah sebab, bukan pengganti” (Syarah Riyadhus Sholihin, 1/575).

Dalam melaksanakan amal setidaknya ada 3 hal yang harus diperhatikan menurut ulama yang menghantarkan seorang muslim memperoleh Rahmat-Nya yaitu, Istiqamah, tidak berlebihan, dan tidak meremehkan amal sekecil apapun.

1. Istiqamah dalam beramal yaitu rajin dalam dalam amal yang walaupun sedikit tapi konsisten. Amalan yang yang sedikit namun dilaksanakan terus menerus mendatangkan kecintaan dan rahmat Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya: "Tetaplah dalam kebenaran dan bersikaplah yang lurus. Ketahuilah, bahwasanya amalan seseorang tidak dapat memasukkannya ke dalam surga. Dan bahwasanya amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR Bukhari dan Muslim)
Sebagian orang ada yang sengaja menyedikitkan amalannya dengan menjadikan hadis ini sebagai dasar. Ini kesalahan yang fatal, Karena dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ sama sekali tidak melarang kita untuk memperbanyak amalan. Beliau hanya mengingatkan kepada kita bahwa amalan yang rutin dilakukan, meskipun sedikit, itu lebih baik daripada amalan yang jumlahnya banyak tetapi tidak dilakukan secara rutin.
Dari sini dapat kita pahami bahwa ketika seseorang mampu melakukan amalan yang jumlahnya banyak dan dilakukan secara rutin, maka itu lebih baik daripada amalan yang sedikit dan dilakukan secara rutin. Hadis ini membuktikan betapa pentingnya melakukan amalan secara rutin atau istiqamah.
Hasan al-Bashri, seorang ulama yang diberi julukan singa podium pernah mengatakan, "Jika setan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, maka ia pun akan menjauhimu. Namun, setan melihatmu beramal, kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, bahkan engkau melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak untuk menggodamu."

2. Tidak berlebihan dalam beramal yaitu berlebih-lebihan dalam melaksanakan ibadah. Segala sesuatu yang melampaui termasuk ibadah tidak disukai oleh Allah ﷻ. Apalagi jika hal tersebut sampai merugikan hak diri dan orang lain. Ketika Allah tidak menyukai hambanya mustahil rahmat Allah akan datang kepadanya.
Nabi Muhammah ﷺ pernah menegur sahabat Abdullah bin Amru yang berlebihan dalam beribadah, ia selalu shalat sepanjang malam, puasa sepanjang tahun dan menghatamkan al-Quran sepanjang malam. Dalam Sahih Bukhari diceritakan:
Dari Abdullah bin Amru, dia berkata; “Rasulullah ﷺ menemuiku, lalu beliau bersabda: “Aku memperoleh berita bahwa kamu bangun di malam hari dan berpuasa di siang hari, benarkah itu?” Aku menjawab; “Benar.” Beliau bersabda, “Jangan berlaku demikina, bangun dan tidurlah, puasa dan berbukalah, sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, sesungguhnya matamu memiliki hak atasmu, tamumu memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu. (HR. Bukhari)
Berlebihan adalah sikap tercela meskipun itu dalam hal ibadah. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menjelaskan bahwa berdasarkan hadis ini Islam dengan tegas melarang hambanya berlebihan dalam beribadah. Dengan jelas Nabi menyebutkan bahwa hak istri, keluarga, tamu dan tubuh wajib diberikan haknya masing-masing. Karena demikianlah apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Beliau beribadah tapi tidak menelantarkan istri, keluarga dan umatnya.

3. Tidak meremehkan amal sekecil apapun. Berbuat kebaikan sekecil apapun dapat menurunkan Rahmat Allah.
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, pasti ia akan melihat (balasan)nya."Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, pasti ia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah:7-8)
Seorang muslim tidak tahu amal apa yang bisa menghantarkan ia mendapatkan rahmat-Nya. Sehingga jangan pernah meremehkan amal sekecil apapun walau hanya menyingkirkan duri di jalan, menunjukan arah orang tersesat, termasuk mencium anak kita karena Allah, ini amalan sederhana tapi akan mendatangkan rahmatnya Allah, karena disitu ada kasih sayang manusia pada manusia yang lain.
“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani),
Hadis lainnya mengungkap berbuat baik kepada siapapun termasuk binatang merupakan bentuk kasih sayang yang niscaya disayangi pula oleh si pemilik Rahman.
“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan hasan sahih oleh Tirmidzi dan disahihkan al-Albani)
Dalam suatu riwayat dikisahkan sebab ia memberikan minum anjing yang kehausan menghantarkan ia diampuni dosanya dan mendapatkan Surga.
“Ada seorang lelaki berjalan di sebuah jalan, dia merasa sangat kehausan. Lalu dia menemukan sebuah sumur. Dia turun ke dalam sumur, lalu meminum airnya lalu keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan menjilati debu karena kehausan. Lelaki tersebut berkata, ‘Anjing ini sangat kehausan seperti yang aku rasakan.’ Lalu dia turun lagi ke dalam sumur dan memenuhi khuf-nya (alas kakinya) dengan air. Lalu dia menggigitnya dengan mulutnya agar bisa naik, dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah pun memberi balasan pahala baginya dan mengampuni dosanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan mendapatkan pahala jika berbuat baik kepada binatang ternak kami?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Tentu, setiap kebaikan kepada makhluk yang bernyawa, ada pahalanya” (HR. Al Bukhari-Muslim).
Tidak meremehkan amalan kecil bisa mendatangkan rahmat apalagi ketika seorang muslim bisa melaksanakan amalan besar lainnya. Tentunya apapun amalannya tetap dibingkai karena keikhlasan karena Allah ﷻ dan untuk amalan berupa ibadah mahdah harus sesuai yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.

Sebagai penutup, kita sebagai seorang muslim hendaknya semaksimal mungkin bisa menjadi hamba yang dikehendaki Allah ﷻ untuk mendapatkan rahmat-Nya. Bahwa godaan syaitan pasti selalu menghampiri. Keimanan kita akan diuji dalam keadaan lapang atau sempit namun yakinlah rahmat Allah akan menghampiri.

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21).

Wallahu a’lam

"SHOLLU 'ALAN NABI MUHAMMAD"
TSH_Pekanbaru - 17 Rabiul Awal 1444 H

Selasa, 30 Agustus 2022

Berkatalah yang Baik, Jangan Dusta

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl: 105).


“Mulutmu, Harimaumu” atau “ketikan jarimu, cakar Harimaumu”, itu sebagian istilah yang sering muncul setidaknya di satu dekade terakhir seiring pesatnya teknologi dan media sosial. Ucapan yang “asal jeplak”, jari-jari dengan “rem blong” dengan berbagai komen yang tidak berdasar, meneruskan atau meng-share berita bohong (hoax,) mudah kita temukan sekarang ini dengan bersembunyi dalam akun bodong (fake).

Banyak yang menjadi korban ketika informasi yang viral merupakan fitnah yang mendatangkan kezaliman yang besar. Ketika membaca, mendengar, dan melihat berbagai bentuk media masa dan sosial, berita dusta (bohong) menyebabkan tidak sedikit pribadi yang teraniaya, pasangan yang tersakiti, keluarga yang hancur, menurun atau hilangnya kepercayaan suatu organisasi atau institusi pelayan masyarakat dengan oknum-oknum pelaku melakukan kejahatan atau melanggar kode etik, dan seterusnya.

Secara hukum positif negara sudah berusaha melindungi warganya dari ‘hate of speech’, perbuatan asusila, teror online atau dari serangan hoax, dan lainnya, baik yang menyerang pribadi atau suatu institusi dengan aturan yang mengikat semua warga negara. Aturan dimaksud yaitu Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE.

Pertanyaannya apakah UU ITE tersebut “benar-benar” bisa melindungi warga negara?. Jawabannya mungkin tidak atau jawaban optimisnya belum.

Ada istilah mencegah lebih baik dari mengobati, artinya sebelum terjadi hal-hal berkaitan dengan perkataan yang buruk, ujaran kebencian, fitnah, dan lainnya itu, kita cegah dengan berhati-berhati dalam berkata, berpikir sebelum berucap, atau saring baru sharing.

Teko tidak mengeluarkan berbeda dengan yang diisinya, jika diisi air bening maka yang keluar air bening, dan jika yang diisi air kopi maka air kopinya keluar. Bahwa apa yang kita keluarkan berawal dari yang kita isi, apa yang kita panen berawal dari apa yang kita tanam.

Kalau kita melihat 15 Abad yang silam, Islam sudah mengatur apa yang harus kita lakukan sebagai muslim untuk bertutur atau berkata yang baik dan jangan dusta. Karena semua hal yang diciptakan Allah ﷻ kepada hamba-Nya pasti dimintai pertanggungjawabannya karena ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatat setiap apa yang kita lakukan. Firman Allah:
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.” (QS. Al-Isra:36)

“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf:18)

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar:10–12).


Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih) Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna. Semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.” (lihat Al-Fath, 10:446)

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, ‘Siapakah orang muslim yang paling baik?’ Beliau menjawab, ‘Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)

Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadis tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang sesuatu yang telah berlalu, yang sedang terjadi sekarang, dan juga yang akan terjadi pada masa mendatang. Berbeda dengan tangan; pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh lisan.”

Dan masih banyak rambu-rambu baik dalam quran dan hadis yang menjelaskan wajibnya kita sebagai muslim untuk berkata yang baik dengan menjaga lisan.

Selanjutnya bagaimana dengan perkataan dusta?, Firman Allah, "Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa." (QS. Al Jatsiah:7) “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS At-Taubah: 119).

Diriwayatkan Malik dari Sofwan bin Sulaim dalam kitab Al Muwatha:
"Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut? Nabi menjawab ya. Lalu Nabi ditanya lagi, apakah seorang mukmin isa menjadi bakhil? Nabi menjawab ya. Lalu ditanyakan lagi apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong? Nabi menjawab tidak!"

"Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kezaliman, dan kezaliman itu akan mengantarkan ke arah neraka." (HR. Bukhari muslim)

"Sesudahku nanti akan ada pemimpin yang berbuat zalim dan berdusta, siapa yang membenarkan kedustaannya dan membantu kezalimannya maka tidak termasuk golongan dari umat ku dan aku juga tidak termasuk darinya dan ia tidak akan datang ke telaga (yang ada di surga)." (HR. Nasa'i)


Perkataan dusta adalah perbuatan maksiat yang menimbulkan dosa besar yang merupakan ciri-ciri orang yang munafik dan termasuk perbuatan pengkhianatan terhadap kepercayaan orang lain. Sehingga orang yang berdusta sama seperti melakukan perbuatan maksiat. Allah ﷻ berfirman:
"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil." (QS. Al Maidah:42)

Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya Radhiyallahu anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perhatikanlah (wahai para Sahabat), maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya tiga kali. Kemudian para Sahabat mengatakan, “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Sebelumnya Beliau bersandar, lalu Beliau duduk dan bersabda, “Perhatikanlah! dan perkataan palsu (perkataan dusta)”, Beliau selalu mengulanginya sampai kami berkata, “Seandainya Beliau berhenti”. (HR. Al-Bukhari)

Selanjutnya masih banyak lagi nash-nash dalam islam tentang keharusan berkata yang baik dan jangan dusta. Lantas bagaimana kita sebagai muslim secara dini bisa mencegah untuk tidak berbuat demikian.

Semua berawal dari hati (kalbu). Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di setiap jasad ada sekerat daging. Manakala sekerat daging tersebut baik, akan baik pula seluruh jasad. Namun, manakala sekerat daging tersebut rusak, akan berakibat rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging tersebut adalah kalbu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ucapan yang keluar baik lisan atau tulisan berawal dari kalbu. Kalbu yang sehat, bersih, selamat akan mempengaruhi jasad, pikiran, dan perkataan. Sebaliknya kalbu yang penuh maksiat, kotor, dan gelap niscaya menghasilkan yang kotor pula dan inilah pangkal perkataan, benci, dusta, ataupun fitnah.

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Attirmidzi)

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.”


Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul ‘Ibad menjelaskan bahwa terdapat empat penyebab gelapnya hati manusia. Abdullah bin Mas’ud r.a. pernah berkata:
“Empat yang termasuk penyebab gelapnya hati, yaitu: perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang-orag dzalim, melupakan dosa yang pernah dilakukan, dan panjang angan-angan."

Dalam kitab yang sama sekaligus menjelaskan kiat agar hati menjadi terang sehingga kita terbiasa dengan berkata yang baik dan meninggalkan perkataan dusta yaitu:
1. Perut yang terisi sedikit. Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan. Ibnu Al Qoyyim Rohimahullah berkata "banyak mengkonsumsi makanan adalah sebuah penyakit yang akan menimbulkan keburukan, banyak makan dapat menjerumuskan anggota badan untuk melakukan maksiat, dan berat untuk melakukan ketatan. Maka cermatilah keburukan ini" Rutinkan puasa sunah karena itu bisa meningkatkan aktifitas ibadah yang bisa membersihkan hati seperti zikir atau membaca quran.

2. Bergaul dengan orang-orang salih. Pergaulan dengan orang yang salih (baik) dapat memberikan efek kebaikan termasuk dalam ucapan.
“Seseorang itu mengikuti din (agama, tabiat, akhlak) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud)
Siapa orang-orang salih itu dapat diliat dalam tulisan sebelumnya yaitu ulama dan orang-orang yang mengajak kita ke Surga. nasihat-tentang-pergaulan

3. Mengingat dosa yang pernah dilakukan. Muhasabah diri dapat membersihkan hati karena disitu akan memunculkan rasa ketidaksucian diri sehingga taubat akan muncul dan selanjutnya akan selalu berhati-hati atas ucapannya.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Imam Al-Gazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menuliskan, “Seorang sahabat menemui Rasulullah SAW untuk meminta wejangan kepadanya. ‘Wahai Rasulullah, berilah aku wejangan,’. ‘Apakah kau meminta wejanganku?’. ‘Benar,’. jawabnya dengan bahagia. ‘Bila kau bermaksud untuk melakukan sesuatu, pikirkanlah dampaknya. Jika ia baik, lakukanlah. Tetapi jika itu buruk, tahanlah.”

4. Tidak banyak berkhayal. Banyak berharap dengan angan-angan kosong (kemungkinan jauh untuk dijangkau). Angan-angan (al-amani) adalah ilusi atau khayalan dan merupakan salah satu alat atau perangkat yang dipergunakan setan untuk menyesatkan umat manusia.
"Dan aku (iblis) benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka.'' (QS an-Nisaa': 119).
“Janganlah kalian panjang angan-angan, dan jangan sampai kalian terlena oleh panjang angan-angan. Sesungguhnya semua yang sedang terjadi itu yang dekat. Dan sesuatu yang jauh adalah yang belum datang” (HR. Ibnu Majah)


Hati yang penuh khayalan orientasinya dunia dan cenderung meninggalkan akhirat, segala usaha untuk menerangkan hati seperti memperbanyak ibadah dan zikir sukar dilakukan. Ali bin Abi Thalib radliyllahu anhu berkata, "dua hal yang aku takutkan atas kalian yakni, mengikuti hawa nafsu dan panjang angan. Karena sesungguhnya hawa nafsu menghalangi dari kebenaran dan panjang angan bisa membuat lupa akan akhirat.


Wallahu a’lam.

Pekanbaru, 30 Agustus 2022
(TSH_dari berbagai sumber)

Selasa, 26 Juli 2022

NASIHAT TENTANG PERGAULAN

Istiqamah dalam Kebaikan di Zaman Fitnah

Istiqamah dalam Kebaikan di Zaman Fitnah

Dalam tulisan sebelumnya, bagaimana kita bisa istiqamah dalam kebaikan dan ketaatan di zaman penuh fitnah ini, salah satunya adalah seringnya kita berinteraksi dengan teman-teman dekat yang baik dan saleh karena hanya teman-teman yang saleh dan bijak yang bisa mengingatkan dan menasihati agar kita bisa konsisten dalam keimanan dan istiqamah dalam amal kebaikan. Firman Allah ﷻ:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Selayaknya kita bisa berkumpul dengan mereka, berinteraksi aktif dalam komunitas-komunitas yang baik. Cari mereka dalam kegiatan pengajian atau taklim di masjid, dalam organisasi-organisasi Islam, kelompok-kelompok kajian ilmiah baik tergabung dalam grup daring (medsos) ataupun luring. Silaturahmi dengan mereka diharapkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan aktivitas pekanan kita.

Mencari teman dekat yang baik janganlah berdasarkan kepentingan sesaat, tetapi demi kebaikan (maslahat) bersama yang abadi, maslahat di dunia, terlebih maslahat di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi)..." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam Kitab Qutul Qulub Fii Muamalatil Mahbub, Khalifah Umar bin Khattab berkata, “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sesama muslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka peganglah erat-erat.”[1]

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Penawar hati itu ada lima yaitu membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, kosongnya perut, qiyamul lail, berdoa di waktu sahar, dan duduk bersama orang-orang saleh.” [2]

Seorang ulama salaf menyatakan, "Saudaramu yang selalu mengingatkanmu kepada Allah, memberitahukan aib-aibmu itu lebih baik bagimu daripada yang menaruh beberapa uang dinar di tanganmu."

Memilih teman-teman yang baik untuk keselamatan kita menjadi hal yang utama dalam pergaulan, namun bukan berarti kita tidak boleh berteman dengan orang lain misalnya nonmuslim, di lingkungan kita, di kantor, bertetangga sepanjang dalam hubungan muamalah, pekerjaan, sosial, atau kemasyarakatan itu dibolehkan dan bahkan dengan wasilah (melalui) hal tersebut bisa menjadi sebaik-baik manusia dengan balasan pahala yang besar.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. ath-Thabrani)

Memilih teman di sini artinya sebagai teman dekat (karib) yang dapat membawa kita ke maslahat bukan ke kemaksiatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seseorang itu mengikuti din (agama, tabiat, akhlak) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud)

1. Teman yang Mengajak Kita ke Surga

Diriwayatkan bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka bertanyalah mereka tentang sahabat-sahabat itu kepada Allah ﷻ. "Ya Rabb, kami tidak melihat teman-teman kami yang sewaktu di dunia salat bersama dengan kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami." Maka Allah berfirman, "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarah." (HR Ibnul Mubarak, dalam Az-Zuhd).

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”(QS. Al-Kahfi: 28)

Sementara Imam Syafi’i berkata, "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali."

Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat."

Sementara Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, 'Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di surga-Mu.'"

2. Ulama, Tokoh, dan Orang-Orang Bijak

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad di dalamnya menulis hadis yang diriwayatkan ath-Thabrani dari Abu Hanifah disebutkan: “Bergaullah bersama para tokoh dan bertanyalah kepada ulama serta bersahabatlah dengan orang-orang bijak.”

Dalam riwayat lain disebutkan, "Bergaullah dengan para ulama, bersahabatlah dengan orang-orang bijak, dan bersahabatlah dengan para tokoh.”

Mereka adalah orang-orang yang dapat memberikan ketenangan batin karena akhlaknya dengan nasihat-nasihat pengingat kebaikan bahkan tatapan serta senyumannya bisa memberikan rasa bahagia.

Dikisahkan bahwa Imam as-Suhrawardi pernah berkeliling di sekitar Masjid al-Khaif, Mina, sambil menatap wajah setiap orang yang ditemuinya. Dia ditanya tentang sikapnya itu. Dia pun menjawab, "Sesungguhnya, Allah ﷻ memiliki hamba-hamba yang apabila mereka memandang orang lain, mereka dapat memberikan rasa bahagia." Bahkan, terkadang kerlingan mata mereka lebih bermanfaat dari ucapannya.

Syekh Nawawi al-Bantani juga menuliskan bahwa ulama itu terdiri atas tiga golongan:

  • Ulama yang menguasai hukum-hukum Allah ﷻ. Ulama kategori ini adalah mereka yang banyak mengeluarkan fatwa terkait dengan masalah hukum.
  • Ulama yang menguasai ilmu tentang Dzat Allah ﷻ (ilmu makrifat). Mereka kerap disebut hukama, yaitu orang-orang alim yang serius pada upaya perbaikan akhlak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hati mereka selalu bersinar oleh makrifatullah dan jiwa mereka tercerahkan oleh keagungan sifat Allah ﷻ.
  • Ulama yang menguasai dua hal di atas, disebut al-kubaraMereka adalah ahli ibadah dan selalu berbuat hal terpuji demi kepentingan makhluk Allah. Salah satu cirinya adalah, lirikannya lebih memberi manfaat daripada ucapannya. Sesungguhnya, bergaul dengan mereka para ahlullah (orang yang dekat dengan Allah) itu mampu membentuk keluhuran jiwa. Jangan tinggalkan mereka.
"Akan datang suatu masa, saat itu umatku lari dari para ulama dan fuqaha, lalu Allah akan menimpakan kepada mereka cobaan berupa tiga macam musibah yaitu: Pertama, Allah akan mencabut keberkahan rezeki mereka. Kedua, Allah akan angkat penguasa zalim untuk mereka. Ketiga, mereka akan keluar dari kehidupan dunia (meninggal) tanpa membawa iman.”[3]

Termasuk nikmat Allah ﷻ yang paling besar, ketika kita dibimbing-Nya untuk berteman dengan orang-orang saleh. Tentu sebaliknya, termasuk hukuman dari Allah ﷻ adalah menjadikan orang-orang yang buruk sebagai teman karib.

Berteman dengan orang-orang saleh akan membersihkan hati, menghasilkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, akhlak-akhlak yang mulia, dan amal-amal yang saleh baik amal-amal pribadi atau bersama (amal jama’i). Sedangkan berkawan dengan orang-orang yang buruk akan menghalangi semua itu.

Allah ﷻ berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (yakni: sangat menyesal), seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 27–29)

Semoga kita bisa berteman dan bergaul dengan orang-orang yang saleh yang bisa mengantarkan kelak ke Surga-Nya. Amin.

Wallahu a’lam.

-TS Hadi-
Pekanbaru, 26 Juli 2022

Maraji’:
[1] Kitab Qutul Qulub Fii Muamalatil Mahbub, 2/17
[2] Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hlm. 107; Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth
[3] Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani, hlm. 15; Turos Khazanah Pustaka Islam

Selasa, 12 Juli 2022

ISTIQAMAH DI ZAMAN FITNAH

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ummayah asy-Syabani, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Abu Tsa’labah al-Khusyani dan bertanya kepadanya: Bagaimanakah mengamalkan ayat ini? Ia lalu balik bertanya: Ayat yang mana? Aku berkata: Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Surah al-Maidah [5]: 105). Ia menjawab: Demi Allah, sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada orang yang benar-benar mengerti. Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka Nabi menjawab: “Bahkan hendaklah kalian saling menyuruh berbuat makruf dan saling mencegah kemungkaran, sehingga jika engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan kekaguman setiap orang kepada pendapatnya. Hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah orang-orang awam, karena di belakang kalian masih ada hari-hari yang panjang. Orang yang sabar di dalam hari-hari itu tidak ubahnya seperti orang yang menggenggam bara api.” (Riwayat at-Tirmidzi).

Hari hari yang panjang itu adalah zaman penuh fitnah (kekacauan) dan orang yang sabar di dalam hari-hari itu adalah orang yang memiliki karomah (keutamaan) yang besar yaitu Istiqamah.

Dari berbagai nash quran dan hadits fitnah akhir zaman itu yang sesuai di era sekarang adalah mewabahnya tha’un (penyakit menular), berlimpahnya harta, hingga tidak ada yang mengeluarkan dan menerima sedekah, muncul nabi-nabi palsu, hilangnya amanat pada suatu kaum, diangkatnya ilmu dan fenomena kebodohan, banyaknya kelompok-kelompok- pendukung kezhaliman, makin maraknya perzinahan, dan LGBT, praktek riba, dan masih banyak lagi.

Masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap muslim. Keteguhan pendirian di jalan Allah dan Rasul-Nya dalam menghadapi fitnah itulah Istiqamah. Dan ketika kita mampu beribadah dengan Istiqamah itulah laksana hijrah untuk Allah ﷻ. Rasulullah bersabda, “Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Tiada balasan yang paling indah bagi orang yang berhijrah adalah Surga Firdaus, yaitu surga yang paling tinggi dan mulia. Seperti yang dijelaskan dari Anas bin Malik Radiallahuanhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Firdaus adalah surga yang paling tinggi, yang paling bagus, dan yang paling utama.” (HR. Turmudzi dan Al-Albani).

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)

Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ, “Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka itu adalah, “Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.” (HR. Thabrani, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)


Bagaimana kita bisa Istiqamah dalam kebaikan dan ketaatan di akhir zaman ini?

1. Rajin ibadah janganlah sesaat

Ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu atau musiman. Perilaku seperti ini bukanlah perilaku yang baik. Pasalnya, Allah senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita setiap waktu. Maka, tidak pantas rasanya bila kita hanya mengenal-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya pada waktu tertentu saja. Atas dasar inilah, para ulama mengatakan, "Seburuk-buruk manusia adalah yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang yang salih adalah orang yang rajin beribadah dan shalat malam sepanjang tahun."

Ini menegaskan kepada kita bahwa melakukan ketaatan kepada Allah tidak terbatas oleh waktu. Bahkan, selama nyawa kita masih dikandung badan, kita wajib taat kepada Allah.

2. Beramal secara kontinu (rutin) walau sedikit

Di antara kelebihan suatu amalan atas amalan lainnya adalah amalan yang rutin dilakukan. Ya amalan yang rutin walau sedikit akan mengungguli amalan yang tidak rutin walaupun banyak. Amalan inilah yang lebih dicintai olah Allah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah yang artinya: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit."(HR Muslim)

Sebagian orang ada yang sengaja menyedikitkan amalannya dengan menjadikan hadis ini sebagai dasar. Ini kesalahan yang fatal, Karena dalam hadis ini, Rasulullah sama sekali tidak melarang kita untuk memperbanyak amalan. Beliau hanya mengingatkan kepada kita bahwa amalan yang rutin dilakukan, meskipun sedikit, itu lebih baik daripada amalan yang jumlahnya banyak tetapi tidak dilakukan secara rutin.

Dari sini dapat kita pahami bahwa ketika seseorang mampu melakukan amalan yang jumlahnya banyak dan dilakukan secara rutin, maka itu lebih baik daripada amalan yang sedikit dan dilakukan secara rutin. Hadis ini membuktikan betapa pentingnya melakukan amalan secara rutin atau istiqamah.

Saking pentingnya, maka Nabi pernah berpesan kepada Abdullah bin 'Amr bin al-Âsh, "Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti Fulan, dulu ia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi" (HR Bukhari).

Hasan al-Bashri, seorang ulama yang diberi julukan singa podium pernah mengatakan, "Jika setan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, maka ia pun akan menjauhimu. Namun, setan melihatmu beramal, kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, bahkan engkau melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak untuk menggodamu."

3. Sering beriteraksi dengan teman-teman yang salih

Sebagai hamba yang lemah, suatu keniscayaan bahwa iman mudah turun dan bisa naik seiring fitnah dunia, nafsu, dan janji setan yang akan selalu mengganggu manusia. Firman Allah ﷻ :
“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (QS. Al-A’raf:17)

Hanya teman-teman yang salih yang bisa mengingatkan dan menasihati agar kita tetap konsisten dalam keimanan dan istiqamah dalam amal kebaikan. Seyogyanya kita bisa berkumpul dengan mereka, berinteraksi aktif dalam komunitas-komunitas yang baik. Cari mereka dalam kegiatan pengajian atau taklim di masjid, dalam organisasi-organisasi islam, kelompok-kelompok kajian ilmiah baik tergabung dalam grup online (medsos) ataupun offline. Silaturahmi dengan mereka, diharapkan bagian yang tidak terpisahkan dengan aktifitas pekanan kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
”Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kita yakin tidak ada seorang pun di dunia yang luput dari aib dan dosa. Namun terkadang di era zaman fitnah ini, kita tidak jujur terhadap diri kita. Kita tidak siap mental menerima ketika ada aib yang jatuh ke diri kita, bahkan sering terkesan membela-bela diri dan dengan berbagai alasan tidak mau menerima aib atau dosa kita yang terungkap, bahkan sebaliknya bangga denga dosa-dosa, naudzubillah. Seandainya energi yang kita pergunakan untuk membela diri itu kita alihkan untuk melaksanakan ketaatan secara konsisten dengan bantuan teman-teman yang salih yang selalu mengingatkan, maka perlahan namun pasti, aib-aib kita itu akan terlihat oleh kita dan segera bisa instropeksi dan memperbaikinya.

Seorang Ulama Salaf menyatakan, "Saudaramu yang selalu mengingatkanmu kepada Allah, membertahukan aib-aibmu itu lebih baik bagimu daripada yang menaruh beberapa uang dinar ditanganmu".


Orang yang melakukan amalan dengan Istiqamah akan mendapatkan banyak keutamaan, di antaranya:

1. Dimasukkan ke dalam surga Firdaus

Dalam hal ini, Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an (Fushshilat:30) yg artinya seperti diatas tadi. Ayat tersebut menjelaskan bahwa siapa saja yang memiliki sifat istiqamah, maka Allah akan memberinya kabar gembira saat ia sedang mengalami sakaratul maut, di mana seseorang mengalami rasa sakit yang luar biasa.
Dalam kondisi seperti itu, Allah mengirimkan para malaikat kepadanya untuk menghiburnya seraya mengatakan, "Janganlah kamu takut terhadap apa yang akan kamu alami setelah kematianmu, karena keridhaan dan rahmat Allah akan terlimpah untukmu. Janganlah pula kamu bersedih terhadap apa yang telah engkau tinggalkan di dunia dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

2. Mendapat pahala meskipun tidak melakukannya karena uzur

lbnu Rajab al-Hambali mengatakan, "Sesungguhnya seorang hamba hanya diberi balasan sesuai amalan yang ia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amalan bukan karena uzur syar'i, seperti sakit atau safar, maka ia tidak akan mendapatkan balasan pahala bila ia meninggalkan amalan tersebut. Namun bila seseorang meninggalkan amalan yang rutin ia lakukan karena alasan sakit, bepergian (safar), atau uzur syar'i lainnya, maka ia akan tetap memperoleh pahala dari Allah.

Rasulullah bersabda: "Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka ia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika muqim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat." (HR.Bukhari)

3.Tidak akan terkena virus futur (jenuh dalam beramal)

Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya, jika seseorang beramal sedikit namun kontinu (terus-menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, "Sesungguhnya bangunan surga dibangun oleh para malaikat disebabkan amalan zikir yang terus menerus dilakukan. Apabila seorang hamba merasa bosan untuk berzikir, maka malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya. Lantas malaikat berkata, "Apa yang terjadi kepadamu, wahai Fulan?" Sebab malaikat bisa menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berzikir tadi mengalami futur (kemalasan) dalam beramal."

Berbahagialah orang-orang yang dapat menjaga keimanan dan keistiqamahan dalam beramal. Pasalnya, iman dan istiqamah akan membuahkan keselamatan dari segala macam keburukan dan meraih segala hal yang dicintai.

Orang yang istiqamah juga akan dianugerahi kekokohan dan kemenangan, serta kesuksesan dalam memerangi hawa nafsu. Beruntunglah mereka yang mampu beristiqamah dalam melakukan ketaatan kepada Allah, khususnya di zaman yang penuh fitnah sekarang, ketika cobaan, ujian, dan godaan selalu mewarnai kehidupan kita.

Maka Istiqamahlah!

Wallahualam (TS Hadi).

Pekanbaru, 12 Juli 2022

Sumber buku: Syarah hadits Arbain-an Nawawiyah, disusun oleh M Suhadi, Lc.

Senin, 16 Mei 2022

SEMANGAT IBADAH SELEPAS RAMADAN


Tj Medang Rupat Utara, 15 Syawal 1443 H

Saudaraku, Ramadan telah meninggalkan kita, madrasah yang telah menggembleng kita untuk menjadikan hamba yang bertakwa dengan balasan rahmat, ampunan, dan surgaNya. Alhamdulillah Ramadan yang lalu, oleh sebagian besar umat islam khususnya di Indonesia merupakan Ramadan yang terbaik pasca 2 tahun terakhir dilanda pandemi Covid. Ibadah-ibadah jama’i kembali marak, pengajian-pengajian, salat tarawih, buka puasa bersama, ujungnya kumandang takbir bersahu-sahutan secara langsung disetiap penjuru wilayah. Selanjutnya yang tak kalah indahnya, tradisi mudik lebaran yang merupakan momentum silaturahim dengan orangtua, sanak saudara, dan handai tolan kembali seperti dulu lagi. Masya Allah, Tabarakallah.

Semoga kita menjadi pribadi yang bertakwa yang berharap Insya Allah berkumpul semua di Surga-Nya kelak. Saudaraku, life must go on, hidup belum berhadapan dengan kematian, harapannya kita berharap semoga bisa istiqamah, taubat diterima, dan husnul khatimah, amin.

Untuk itu, ada yang harus kita pertahankan selepas ramadan, yaitu semangat ibadahnya. Bahwa sebulan lalu kita dibersihkan harusnya menjadi modal untuk mempertahankan di sebelas bulan berikutnya.

Bisa jadi mulai 1 syawal hingga saat ini, dengan aktivitas offline, silaturahmi dengan orang tua, sanak saudara, dan teman tetap dilakukan, saat kembali bekerja, dengan rutinitas yang kembali normal, bisa jadi membuat kita :
1. lalai (malas) dalam beribadah karena kurang memahami urgensinya;
2. khilaf dalam maksiat;
3. kurang mengingat kematian;
4. berlebihan dalam hal-hal yang mubah, dan seterusnya.

Bangun Saudaraku, semangatkan kembali ibadah ibadah ramadan yg pernah kita lakukan, berat memang, susah iya, tapi itulah hakikat orang yang bertaqwa, jaga agar husnul khatimah, jaga agar bisa istiqamah.


فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka istiqamahlah kamu (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga kepada orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud:112)

1. Selalu perbaiki niat, karena niat merupakan pondasi ibadah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya....(HR. Bukhari)

2. Lakukan ibadah dan perbuatan baik sekecil apapun secara konsisten
"Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara teratur, bahkan jika itu kecil." ( HR. Bukhari) Kebiasaan tilawah Quran setiap hari dibulan ramadan bahkan dengan target 1-2 Juz sehari, hendaknya kita lakukan walaupun dengan intensitas yang berkurang misal 1-2 lembar namun setiap hari harus kita (paksakan) lakukan.
“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

3. Memahami urgensi Ibadah dan balasan pahalanya dengan selalu mencari ilmu, membaca buku, mendengarkan kajian, berkumpul dengan orang-orang yang sholih (saling menasehati).

4. Membiasakan berpuasa sunnah
"Siapa saja berpuasa ramadhan kemudian mengikutkan dengan puasa 6 hari syawal maka seperti puasa selama setahun." (HR. Muslim)
Rasulullah menyebutkan keutamaan puasa sunnah sebagai berikut: “Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai,…” (HR. Tirmidzi).M
Karena dengan puasa kita bisa menjaga dari perbuatan lalai dan maksiat, seperti saat kita di bulan ramadan.
“Puasa adalah perisai, karenanya, pada hari puasa salah seorang dari kalian maka ia tidak boleh berkata jelek, membodohkan. Dan jika ia dihina seseorang maka hendaklah ia berkata, ‘Aku orang yang berpuasa.”(HR. Bukhori)

5. Biasakan kembali bersedekah setiap hari.
Ketika Ramadan mengajarkan kita untuk berbagi dengan sesama, begitu pula dibulan bulan selanjutnya, sebagaimana kita tahu besarnya pahala bersedekah dalam QS Al-Baqarah ayat ayat : 261).
“Perumpamaan orang yang menginfakan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai yang pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.”

6. Ajak (ingatkan) orang lain untuk berbuat baik, karena minimal ketika kita mengajak orang lain kita sudah berusaha untuk melakukannya terlebih dahulu.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

7. Biasakan beristighfar dan selalu berdoa di waktu waktu yang mustajab. Sehabis sholat fardhu, saat sujud di sepertiga malam.

Saudaraku, demikian sedikit kiat-kiat agar bisa semangat beribadah kembali selepas Ramadan.

Semoga kita bisa menjadi pribadi muslim yang bisa istiqomah dalam keislaman. Amin.

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah', lalu mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidaklah mereka merasa sedih. Mereka itulah para penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-Ahqaf: 13-14).

Wallahu a’lam
(TSH, saat rihlah di Pulau Rupat)

Senin, 11 April 2022

TIGA AMALAN UTAMA RAMADAN


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ

تَتَّقُونَ Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan dan pahala yang besar bagi setiap mukmin yang bisa mencapai derajat takwa (kenaikan takwa). Sebaliknya jika seorang muslim yang mendapatkan bulan Ramadan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja maka ia termasuk orang merugi, apalagi sampai tidak berpuasa, naudzubillah,. Bagaimana mencapai derajat takwa di bulan Ramadan ini, kuncinya di sungguh-sungguh melaksanakan amalan-amalan Ramadan.

Berbagai amalan untuk mencapai derajat takwa di bulan Ramadan, amalan sunah di ganjar pahala wajib, dengan pahala yang berlimpah dan berkali-kali lipat, diampuni segala dosa yang lalu, dan bahkan bisa mendapatkan pahala 1000 bulan di malam Lailatul Qadr. Dari sekian banyak amalan, Nabiullah ﷺ mengajarkan tiga amalan utama yang dapat menghasilkan pribadi yang bertakwa pasca Ramadan. 3 amalan ini harus dilaksanakan, minimal meningkat dari sebelumnya, yaitu:

Pertama melaksanakan Salat. Salat Fardu itu pasti, mutlak tidak boleh ditinggalkan kemudian ditambah salat sunah yang ganjarannya pahala seperti wajib harus ditingkatkan dan terpelihara. Apa saja salat sunah itu:

1. Rawatib, salat sunah yang dikerjakan antara azan dan iqamah, kecuali yang pelaksanaannya setelah shalat wajib. Salat sunah rawatib muakad selalu dikerjakan Rasulullah ﷺ. Salat ini totalnya ada 10 atau 12 rakaat, yaitu 2 rakaat sebelum Subuh, 2 atau 4 rakaat sebelum zuhur, 2 rakaat sesudah zuhur, 2 rakaat setelah magrib, dan 2 rakaat setelah Isya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Saya jaga (amalan) dari Rasulullah 10 rakaat salat sunnah; yaitu: 2 rakaat sebelum zuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat sesudah magrib dan 2 rakaat sesudah Isya, serta 2 rakaat sebelum subuh.” (Muttafaq alaih)
“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan salat sunnah 12 rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu 4 rakaat sebelum zuhur, 2 rakaat setelah zuhur, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah isya, dan 2 rakaat sebelum shubuh.” (HR. At-Tirmizi dan An-Nasai).
Diluar rawatib ada salat sunah mutlak yaitu ada yang berdampingan dengan salat fardu seperti 4 rakaat rakaat sebelum salat asar dengan jaminan mendapatkan rahmat Allah atau salat antara azan dan ikamah (iqomat).

2. Duha, dikenal sebagai salat tanda syukur dan gembira kepada Allah ﷻ. Waktu duha dibagi, awal duha (syuruk) 2 rakaat, pertengahan duha antara jam 8-10 pagi sebanyak 2-4 rakaat, dan akhir duha mulai jam 10 hingga menjelang duhur 2-8 rakaat.
"Barangsiapa yang mengerjakan sholat subuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan sholat sunnah dhuha (di awal waktu, syuruq), maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna." (HR. Thabrani)
“Allah akan mencukupkan rezeki bagi orang yang melaksanakan sholat dhuha, sebagaimana bunyi hadits berikut “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya akan Aku cukupkan untukmu (rezeki) di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad).
“Pada setiap persendian kalian harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi; Setiap tasbih (membaca subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (membaca Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (membaca Lailaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (membaca Allahu Akbar) adalah sedekah, amar bil ma'ruf adalah sedekah, nahi ‘anil munkar adalah sedekah. Semua itu dapat terpenuhi dengan (shalat) dua rakaat yang dilakukan di waktu Dhuha." (HR. Muslim)_

3. Salat Qiyamulail, salat qiyam ada yang dikenal dengan tahajud, salat malam yang dilaksanakan sesudah tengah malam dan setelah tidur. Di bulan Ramadan salat qiyam ini dikenal salat tarawih yang waktunya digeser di awal yaitu setelah isya yang ditutup dengan salat witir.
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا Artinya: "Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajud lah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS. Al Isra: 79)
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
"Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR Muslim)
“Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim)

Kedua berinteraksi dengan Alquran. Ada 3 interaksi dengan quran yang harus dimaksimalkan di bulan Ramadan yaitu :

1. Membaca (qiraah), dengan cara perbanyak membaca Quran dengan target target tertentu misal 1 juz sehari.
“Bacalah Al-Qur'an. Sebab, ia akan datang memberikan syafaat pada hari Kiamat kepada pemilik (pembaca, pengamal)-nya,” (HR. Ahmad).
"Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf," (HR. At-Tirmidzi).
“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

2. Mengkaji (tilawah), yaitu dengan mempelajari dan berusaha memahami (mentadaburi) quran. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, melainkan diturunkan ke atas mereka sakinah, rahmat menyirami mereka, para malaikat mengerumuni mereka, dan Allah ﷻ menyebut-nyebut mereka di kalangan (malaikat) yang ada di sisinya.” (HR Muslim dan Abu Dawud).
“Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebaik-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya. (Riwayat Tirmidzi)

3. Mengajarkan dan mengamalkan, tingkatkan tertinggi berinteraksi dengan Alquran dibulan Ramadan adalah dengan mengamal isinya dengan rida dan ikhlas karena Allah ﷻ.
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.” (Riwayat Abu Dawud)
“Barang siapa membaca Alquran dan menghafalnya, lalu menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya maka Allah SWT akan memasukkannya ke dalam surga dan allah menjaminnya untuk memberi syafaat kepada sepuluh orang keluarganya yang kesemuanya telah diwajibkan masuk neraka.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dalam Kitab Jam'ul Fawa'id terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan Imam at-Thabrani dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mengajarkan anaknya membaca Al-Qur'an, maka dosa-dosanya yang akan datang dan yang telah lalu akan diampuni. Dan barangsiapa mengajarkan Al-Qur'an pada anaknya sehingga menjadi hafizh Qur'an, maka pada hari Kaimat ia akan dibangkitkan dengan wajah bercahaya seperti cahaya bulan purnama, dan dikatakan kepada anaknya, "Mulailah membaca Al-Qur'an! " Ketika anaknya mulai membaca satu ayat Al-Qur'an, maka ayahnya dinaikkan satu derajat, demikian terus ditinggikan derajatnya hingga tamat bacaannya."

Ketiga berinfak,, yaitu menjadi lebih dermawan di bulan Ramadan dengan membelanjakan di jalan Allah ﷻ. Berinfak bisa dengan bersedekah uang untuk kegiatan amal di bulan Ramadan, menyediakan makan orang yang berpuasa, atau memberi makan fakir miskin, yatim piatu dan lainnya yang mebutuhkan.

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67).“Kelak pada hari Qiyamat, kaki setiap anak Adam tidak akan bergeser dari hadapan Allah hingga ditanya perihal lima hal: umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia lewatkan, harta kekayaannya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan (belanjakan) dan apa yang ia lakukan dengan ilmunya.” (HR. at-Tirmidzi)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an” (HR Al Bukhari).

Demikianlah, semoga kita bisa mengisi Ramadan tahun ini dengan bersungguh-sungguh dan memaksimalkan waktu dengan amalan-amalan terbaik yang berharap kelak mendapatkan kemuliaan yang besar berupa surga-Nya dan bisa berkumpul dengan Rasulullah ﷺ, keluarga dan orang-orang salih. Amin.


Wallah a’lam.

Pekanbaru, 9 Ramadan 1443 H

Kamis, 24 Maret 2022

4 Waktu Penting bagi Orang Berakal dan Bijak
(Bekal dalam Ramadan)

Allah ﷻ berfirman dalam Kitab-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya, manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orangorang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat- menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr:1-3).

Arti kata waktu ada yang bersifat umum dan ada juga waktu yang dibatasi. Berikut merupakan Istilah-istilah tentang waktu dalam al-Quran, yaitu:
1. Ad-Dahr, terdapat dalam surat surat al-Insan atau ad-Dahr surat ke-76. Digunakan untuk menjelaskan masa yang panjang dan lama yang dilalui oleh alam raya dalam kehidupan, yakni sejak diciptakan sampai punah. Istilah ini memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu itu pernah tiada dan akan tiada kembali. Artinya, keberadaannya menjadi terikat oleh waktu. Contohnya, keberadaan manusia dan semesta alam raya ini;
2. Al-Ajal, yaitu nama yang digunakan untuk menjelaskan masa tertentu yang ditetapkan bagi sesuatu. Kata ini bisa digunakan untuk menunjuk waktu berakhirnya sesuatu, seperti berakhirnya usia manusia dan masyarakat. Istilah ini ada dalam QS Al-Jasiah ayat 24, dan QS Al-Insan ayat 1. Dengan demikian kata ‘ajal’ menjelaskan bahwa segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya sehingga tidak ada yang abadi, kecuali Dzat Allah ﷻ;
3. Al-Ashr, kata ini digunakan untuk menjelaskan waktu menjelang terbenamnya matahari. Namun, kata ini juga digunakan untuk menjelaskan masa secara mutlak. Kata ini terdapat dalam Q.S. Al-Ashr ayat 1; dan
4. Al-Waktu, kata ini biasa digunakan untuk memberi arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu kegiatan, karena itu Al-Quran seringkali menggunakan kata Al-Waktu ini untuk menjelaskan kontek kadar tertentu dari suatu massa. Kata ini menghendaki adanya keharusan untuk pembagian teknis mengenai massa yang dialami seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahunan. Kata ini terdapat dalam: QS Al-Hajr ayat 38, QS Al-A ‘raf ayat 187, QS An-Nisa ayat 103, QS Al-Baqarah ayat 189.

Terkait dengan berbagai makna Al-Waktu diatas, ada satu nash yang tersebut dalam kitab Nashaihul ibad yang ditulis oleh Syekh Nawawi Al-Bantani, dijelaskan bahwa ada 4 waktu penting bagi orang berakal dan bijak adalah, bahwa Allah ﷻ pernah mewahyukan kepada Nabi Daud Alaihisalam:
“Sesungguhnya orang yang berakal dan bijak tidak akan melewatkan 4 waktu penting baginya yaitu, waktu untuk bermunajat kepada TuhanMu (dengan berdzikir, membaca Al Quran dan mendekatkan diri kepadaNya), waktu untuk berintrospeksi diri (dengan mengingat-ingat amal-amal yang telah dilakukan, baik siang maupun malam, lalu mengakhirinya dengan syukur dan istighfar), waktu untuk silaturahmi kepada saudara-saudaranya yang berani, jujur dan mau menunjukkan aib-aibnya, dan waktu untuk melepaskan diri dari kesenangan duniawi, sekalipun itu halal.”

Tidak berapa lama lagi kita akan memasuki bulan Ramadan bulan yang mulia, bulan diturunkan alquran, bulan dikabulkan doa, bulan penuh ampunan, bulan keberkahan dilipatgandakan seluruh amalan, bulan dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka, serta bulan di dalamnya terdapat malam seribu bulan. Kesemuanya itu bisa kita peroleh apabila dipersiapkan dengan baik ruhiyah (hati), fikriyah (ilmu), jasadiyah (fisik), dan maliyah (harta).

1. Persiapan Ruhiyah
Rasulllah ﷺ mengajarkan kepada kita tentang sebuah doa menjelang Ramadan:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)
Persiapan secara ruhiyah adalah menjaga keimanan dengan cara hati agar ikhlas, perbanyak istighfar (taubat), bersihkan dari penyakit hati seperti iri, dengki, riya, dendam dan juga permusuhan. Bahwa ada sebuah tradisi menjelang Ramadan meminta maaf kepada kaum kerabat boleh-boleh saja sepanjang dilakukan untuk sarana silaturahmi dengan keikhlasan dan bukan karena ikut-ikutan. Meminta maaf sejatinya tidak dilakukan menjelang Ramadan tapi saat manusia tersebut melakukan kesalahan apalagi berkaitan dengan hak orang lain.
Hadis Rasulullah ﷺ:
“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi”. (HR. Bukhari no.2449)

2. Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Ramadhan merupakan bulan yang ketika kita melakukan kebaikan maka kita akan mendapatkan pahala yang berlipat, ibadah sunnah akan mendapatkan pahala wajib, dan pahala ibadah wajib berlipat-lipat. Untuk bisa maksimal tentunya perlu disiapkan untuk mendukung fisik yang optimal untuk beribadah seperti, berolah raga teratur, makanan yang sehat, banyak minum air putih dan makan vitamin atau suplemen lainnya.

3. Persiapan Fikriyah (Keilmuan)
Rasulullah ﷺ, bersabda:
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
Memahami tata cara ibadah yang benar akan membawa kita untuk meraih pahala, karena apabila suatu aktifitas kita tidak ditunjang dengan pengetahuan yang baik maka kita juga tidak akan mendapat hasil yang baik. Persiapan ilmu seperti fiqh shiyam (fikih puasa), mempelajari sunnah Nabi Muhammad dalam berpuasa, mencari dan mengikuti majelis ilmu serta ibadah lain terkait di Bulan Ramadan menjadi keharusan bagi setiap muslim.

4. Persiapan Maaliyah (Harta)
Persiapan harta yang dimaksud seperti persiapan untuk bisa menambah pundi pahala di akhirat dengan bersedekah, infaq, zakat, ataupun wakaf.

Kembali keempat waktu yang penting bagi orang berakal dan bijak, bahwa Ramadan menjadi sarana waktu-waktu tersebut untuk dimaksimalkan didalamnya.

Pertama, waktu memaksimalkan untuk bermunajat kepada TuhanMu (dengan berdzikir, membaca Al Quran dan mendekatkan diri kepadaNya). Zikir yang utama adalah membaca Al-Quran, sebagai mana hadis Rasulullah ﷺ:
Dari Aisyah RA, Rasulullah ﷺ bersabda: "Membaca Al-Qur'an di dalam salat lebih utama daripada membaca Al-Qur'an di luar salat. Membaca Al-Qur'an di luar salat lebih utama daripada tasbih dan takbir. Tasbih lebih utama daripada sedekah, sedekah lebih utama daripada shaum (puasa), dan shaum adalah perisai dari api neraka." (HR Al-Baihaqi)

Karena Ramadan disebut bulan Al-Quran, berdasarkan contoh Rasulullah, kebiasaan para sahabat, salafusalih, dan para ulama yang sangat akrab dengan Al-Quran seperti, rajin membacanya, mengkhatamkan, merenungkan dan (berusaha) mengamalkan kandungan di dalamnya.
Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Nabiullah ﷺ adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul ﷺ adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kedua, waktu untuk berintrospeksi diri (dengan mengingat-ingat amal-amal yang telah dilakukan, baik siang maupun malam, lalu mengakhirinya dengan syukur dan istighfar). Instropeksi atau muhasabah diri untuk membersihkan hati, bertaubat merupakan bagian dari bekal Ramadan. Saat memasuki bulan Ramadan pun, meminta ampun harus menjadi rutinitas harian, karena sebagai hambah yang tak luput dari khilaf dan salah.
Rasulullah ﷺ bersabda, كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Sesungguhnya setiap anak adam bersalah, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat.”

وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Ramadan bulan ampunan menjadi momentum memanfaatkan di waktu tersebut untuk bisa meraih ampunan-Nya. Sungguh sangatlah merugi bagi kita yang mendapati Ramadan tapi tidak mendapatkan keberkahan ampunan Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda:مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena keimanan dan hanya mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari).

“Siapa yang mendapati Ramadhan dan tidak mendapatkan keberkahannya, di antaranya ampunan maka sungguh ia orang merugi. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sangat merugi, sangat merugi, sangat merugi orang yang mendapati Ramadhan dan dosanya tidak terampuni." (HR. Al-Hakim)

Sayyidul Istighfar sejatinya menjadi zikir yang sering kita panjatkan dalam setiap aktifitas pagi dan petang selama Ramadan.
Allahumma anta robbi la illa ha illa anta kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu u laka bini’matika ‘alayya wa wa abu u dibdzanbi fahgfirli fa innahu la yaghfirudz dzunaba illa anta.

"Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Dan aku atas tanggungan dan janji-Mu selama aku masih mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat yang Kau berikan kepadaku. Aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau."

Ketiga, waktu untuk silaturahmi kepada saudara-saudaranya yang berani, jujur dan mau menunjukkan aib-aibnya. Maksudnya adalah kita mencari waktu diluar atau di dalam bulan Ramadan untuk bergaul dengan teman, saudara, atau kaum kerabat yang baik dan salih. Mereka bisa mengingatkan atas salah dan aib-aib kita yang tujuannya untuk rida Allah. Harapannya agar kita bisa segera menghentikan dan bertaubat atas hal itu, tanpa bermaksud mencela ataupun menyebarkannya kepada khalayak ramai, seiring memang menjalin silaturahmi itu sangat dianjurkan, karena merupakan amalan yang sangat disukai Allah ﷻ.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.” (H.R. Bukhari & Muslim).

Bahwa kita yakin tidak ada seorang pun di dunia yang luput dari aib. Namun terkadang, kita tidak jujur terhadap diri kita. Kita tidak siap mental menerima ketika ada aib yang jatuh ke diri kita, bahkan sering terkesan membela-bela diri dan dengan berbagai alasan tidak mau menerima aib kita yang terungkap. Seandainya energi yang kita pergunakan untuk membela diri itu kita alihkan untuk melaksanakan ketaatan, maka perlahan namun pasti, aib-aib kita itu akan terlihat oleh kita dan segera bisa instropeksi dan memperbaikinya.

Seorang Ulama Salaf menyatakan, "Saudaramu yang selalu mengingatkanmu kepada Allah, membertahukan aib-aibmu itu lebih baik bagimu daripada yang menaruh beberapa uang dinar ditanganmu".

Keempat, waktu untuk melepaskan diri dari kesenangan duniawi, sekalipun itu halal. Dalam literatur islam yang umum, melepaskan diri dari kesenangan, kecintaan, atau kecondongan duniawi disebut Zuhud.
Menurut Imam Ahmad, terdapat 3 tingkatan zuhud yang dapat kita pahami:
1. Orang awam menganggap zuhud adalah meninggalkan keharaman.
2. Orang istimewa (khawash) menganggap zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang halal sekalipun melebihi kebutuhannya.
3. Orang sangat istimewa (al-arifin) mengganggap zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk mengingat Allah SWT.

Kembali kepada waktu Ramadan yang menjadi madrasah (penggemblengan) diri untuk bisa lepas (menahan syahwat nafsu) dari kesenangan duniawi sekalipun itu halal dan berpahala dikerjakan, namun di waktu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari itu menjadi haram. Seperti, makan dan minum atau berhubungan suami istri.

Hikmah yang bisa kita rasakan setelah lulus menahan (mengendalikan) nafsu menurut Imam Al-Gazali dalam kitabnya Ihya 'Ulumuddin adalah:
1. Memutuskan keterikatan. Kita terikat kepada benda yang menguatkan nafsu syahwat. Maka, tidak boleh tidak, kita harus belajar memutuskan keterikatan itu. Misalnya, keterikatan kepada makanan diputus dengan berpuasa, keterikatan untuk berbuat zina diputus dengan berpuasa atau menikah, dan banyak contoh lainnya.
2. Memadamkan api. Sesungguhnya nafsu syahwat itu dapat berkobar dengan pandangan kepada hal-hal yang dapat memancing nafsu syahwat. Rasulullah ﷺ bersabda, "Pandangan itu adalah salah satu panah beracun dari panah-panah iblis." Menjaga pandangan dari hal-hal tercela, menjaga telinga dari ucapan-ucapan kotor, menjaga langkah kaki dari tempat-tempat yang tidak pantas, menjaga pikiran dari bacaan-bacaan yang tidak bermanfaat, merupakan langkah-langkah memadamkan api nafsu syahwat.
3. Mencari jalan yang halal. Setiap manusia tentu memiliki kebutuhan jasmaniah yang harus dipenuhi, baik makanan, pakaian, maupun pasangan. Maka semua itu dapat dipenuhi dengan menjaga diri dengan syari’at yang kuat, yakni mencari jalan yang halal atas setiap kebutuhan hidup.

Demikian 4 waktu penting bagi orang berakal dan bijak yang harus kita manfaatkan dan maksimalkan sebagai bekal dan saat Ramadan. Semoga kita tersampaikan di bulan Ramadan dan berhasil menjadi orang yang bertakwa yang dengan rahmat-Nya kita semua bisa berkumpul di surga-Nya kelak. Amin.

Wallahu a’lam.


Pekanbaru, 24 Maret 2022,

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...