Rabu, 07 Desember 2022

MENJAGA UMUR PRODUKTIF DARI DOSA

Masalah yang dihadapi setiap muslim, bahkan setiap manusia, bahwa kehidupan dibatasi oleh tahun, hari, jam, bahkan detik. Manusia tidak mampu menambah atau mengurangi waktu meskipun sedetik. Sebesar apa pun tenaga yang dicurahkan seorang muslim untuk mengumpulkan kebaikan sebanyak-banyaknya, tetap saja jatah hidupnya di dunia ini dibatasi waktu. Umur umat Nabi Muhammad ﷺ lebih singkat dibandingkandengan usia umat-umat terdahulu. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.” (HR At-Tirmidzi)

Usia produktif manusia tidak lebih dari 20 tahun dari seluruh umurnya. Sebagai contoh, salah satu dari kita diberikan jatah hidup di dunia selama 60 tahun. Perinciannya, sepertiga dari usia itu dipergunakan untuk tidur, dengan asumsi tidur selama 8 jam per hari. Lalu 15 tahun masa kanak-kanak sampai usia pubertas. Masa itu, seseorang belum memasuki usia taklif (pembebanan kewajiban oleh syariat). Yang tersisa tinggal sekitar 25 tahun. Dari 25 tahun itu, terambil waktu sedikitnya 2 tahun untuk makan dan minum, buang hajat dan urusan-urusan mendesak lainnya. Jika ia melakukannya selama sekitar 2 jam per hari, maka sisa umurnya sekitar 23 atau hampir sepertiga umurnya. Itulah waktu yang ia harus pergunakan semaksimal mungkin untuk memperoleh kebaikan. Waktu yang sangat singkat, tentu saja. Karenanya, dibutuhkan sejumlah kiat untuk menjadikan umur lebih produktif dalam waktu singkat tersebut.

Definisi Memanjangkan Umur
Anas bin Malik meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ, "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim." (HR. Muslim)

Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam memahami makna "dipanjangkan umurnya”, sebagaimana tersebut dalam hadis di atas. Berikut ini, akan disimpulkan pendapat beberapa ulama seperti Imam An-Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahumullah.

Pertama, makna umur dipanjangkan berarti dipenuhinya umur itu dengan keberkahan.
Kedua, jumlah umur ditambah secara hakiki.
Ketiga, namanya senantiasa dikenang. Kebaikannya selalu disebut-sebut walaupun ia telah tiada. Pendapat ketiga ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi yang dinukil dari Qadhi Iyyadh. Walau begitu, Imam An-Nawawi menganggapnya lemah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam Ibnu Hajar yang dinukil dari Ibnu At-Tiin dan dikuatkan oleh Ath-Thibi. (Majmu' Tsamin Fatawa, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 2/201)

Barangkali yang paling tepat untuk mewakili makna hadis tersebut adalah pendapat pertama dan kedua. Meski begitu, tak mengapa jika ketiga kesimpulan di atas mewakili makna hadis tersebut. Sebaiknya kita menghindari perbedaan pendapat dalam hal ini. Tujuan kita adalah bagaimana sisa umur, kita manfaatkan dengan sebaik mungkin dengan cara mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya. Sebab, seburuk-buruk manusia adalah mereka yang diberikan umur panjang namun diisi dengan hal-hal yang mendekatkan mereka pada neraka.

Ulama Yusuf Qardhawi Rahimahumullah berpendapat yang menukil dari pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziah, bahwa hakikat umur manusia bukanlah tahun-tahun yang ia lewati dari ia lahir sampai meninggal dunia. Tapi hakikat umur manusia adalah berapa banyak jumlah amal shalih yang telah ia kumpulkan dalam neraca kebaikannya. Karena itu, tidak aneh jika Anda melihat seseorang yang diberikan jatah hidup di dunia lebih dari 100 tahun namun kebaikan dan amal shalihnya sama sekali tak ada, atau bahkan dipenuhi dosa dan maksiat. Kadang pula, seseorang meninggal dalam usia muda, namun hari-hari yang ia lewati penuh dengan kebaikan. Seorang ahli hikmah pernah berkata:

Boleh saja seseorang punya jatah hidup panjang namun hari-harinya kosong dari kebaikan. Boleh saja seseorang memiliki usia pendek namun hari-harinya penuh kebaikan. Barangsiapa yang diberkahi umurnya, ia pasti memperoleh karunia Allah. (Al-Waqtu fi Hayah Al-Muslim, Yusuf Al-Qardhawi, hlm. 55)

Kiat Menjaga Umur Produktif dari Dosa
Disebutkan di awal, dengan asumsi umur seorang muslim adalah 60 tahun maka umur produktifnya adalah 23 tahun atau sepertiganya. Mungkin di antara umur produktifnya ada yang memproduksi amal ada pula yang memproduksi dosa. Bisa lebih banyak amalnya ataupun sebaliknya.

Sebagian besar diantara umat Islam sudah memahami dan mungkin sudah mempraktikan amal-amal yang mencatat pahala selama ribuan tahun seperti beramal saat lailatul qadr, amal-amal yang tidak pernah habis walau sudah meninggal, bahkan amal-amal yang menjamin masuk Surga.

Mungkin diantaranya juga ada yang tidak peduli dengan dosa maksiat, ada yang melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, ataupun ada pula yang berhati-hati terhadap dosa maksiat sekecil apapun untuk menjaga amal-amalnya dalam bingkai keikhlasan hingga tiba waktunya bertemu dengan Allah ﷻ di hari kiamat kelak.


Agar amal kebaikan yang telah kita lakukan tetap terjaga hingga Hari Kiamat, waspadai:

1. Dosa-dosa yang Menghapus Kebaikan
Ada beragam maksiat yang termasuk dosa besar dan dapat menghapus kebaikan dan memberatkan timbangan dosa. Segeralah mencari tahu dan menghindarkan diri agar tidak jatuh didalamnya. Sebab, dengan melakukan salah satu saja perkara yang membatalkan kebaikan, amal kebaikan kita bisa terhapus, walau sebesar gunung sekalipun. Tsauban radiallahu ‘ahnu meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.” Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (Shahih. HR. Ibnu Majah).

Tidak hanya tindakan, bermaksiat dengan pikiran-pikiran yang melanggar aturan pun juga mampu memusnahkan pahala seperti, hasad, riya, zina mata, dan lainnya. Meski sesama manusia tidak mengetahuinya, namun Allah ﷻ Maha Mengetahui dan senantiasa mengawasi kita. Sebagaimana berfirman Allah Ta'ala:
"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS An-Nisa’: 108)

2. Bangga dan Tertipu oleh Banyaknya Amal
Suatu hal yang perlu kita hindari adalah bangga diri (ujub) dan tertipu oleh banyaknya amal salih. Allah ﷻ memperingatkan:
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (Q.S. Al-Muddatstsir:7)

Tafsir Al-Mukhtashar (Markaz Tafsir Riyadh), maksud dari ayat dimaksud adalah, “Dan janganlah engkau pamrih terhadap Rabbmu dengan merasa telah banyak amal salihmu”.

Ujub adalah penyakit hati yang paling ditakutkan, terkadang diantara kita menganggap dosa kecil yang kita lakukan tidak berpengaruh dengan berlimpahnya amal salih kita. Kita mengira akan masuk surga dengan banyak amal yang tercatat dalam buku yang dibeberkan Allah kelak. Padahal Allah menyampaikan pesan melalui sabda Rasulullah ﷺ. Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga”. “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Salah satu penyebab munculnya ujub adalah karena merasa telah banyak melakukan amal salih, dan bisa jadi tanpa sadar juga melakukan dosa dosa kecil yang dianggap remeh. Padahal, hal tersebut membuat terhalangnya Rahmat Allah sebagai wasilah mendapatkan kenikmatan yang sangat besar yaitu Surga-Nya.

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Seorang pedagang yang bengharapkan rahmat Allah lebih dicintai Allah dari pada ahli ibadah yang melihat ia tidak memperoleh apa yang ada di sisi Allah kecuali karena amalnya. (Hilya Al-Awliya wa Thabaqat Al-Ashfiya’, Abu Nu’aim, 7/241)

3. Jangan Rugikan Orang Lain
Jangan pernah menyakiti saudaramu sesama muslim, baik berupa ghibah, namimah, hinaan, dan lain-lain. Hindari melanggar hak-hak orang lain. Jika kita melakukan, kelak mereka akan mengambil amal kebaikan yang kita kumpulkan di hari kiamat. Jika amal kebaikan kita habis, jika masih ada hak mereka yang belum tertunaikan, maka mereka akan memberikan dosa-dosa mereka kepada kita. Dan kita akan menjadi orang yang bangkrut (muflis), Naudzubillah.

Suatu ketika Nabi Muhammad ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya, "Tahukah kalian, siapakah orang yang muflis (orang yang bangkrut) itu? Karena tidak tahu apa yang dimaksud oleh Nabi, para sahabat pun menjawab, Menurut kami, muflis itu adalah orang yang tidak mempunyai harta benda.” Jawaban itu tentu bukan yang dimaksud oleh Nabi. Seraya meluruskan jawaban mereka, Nabi lalu menjelaskan bahwa yang muflis di antara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal shalat, puasa, dan zakat. Tetapi, ia pernah mencaci, menuduh zina, merampas harta, membunuh, dan memukul orang lain. Maka pahala kebajikan orang tersebut akan diberikan sebagai tebusan kepada orang-orang yang dizaliminya itu. Dan, apabila kebajikannya sudah habis, sementara kesalahan-kesalahannya belum semua tertebus, dosa orang-orang tersebut akan ditimpakan kepada orang tadi. Kemudian, ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim).
Itulah orang yang muflis!

Karena itu, hendaklah kita berhati-hati dalam bergaul, tampilkan akhlak yang terpuji. Sebab, dengan akhlak yang baik, kita dapat meraih hati dan cinta orang lain, aman dari gangguannya, dan kebaikan kita pun tidak berkurang.

4. Waspadai Dosa yang Tak Berhenti Berbuah
Ketika kita sangat menginginkan amal kebaikan yang terus berbuah walaupun kita telah wafat, perlu dicamkan bahwa kita pun selama masih hidup harus bisa menghindarkan diri dari dosa yang terus berbuah. Dosa yang terus berbuah yang menghasilkan turunan-turunan dosa berikutnya contohnya seperti berfatwa tanpa dasar ilmu, menyebarkan informasi, berita, yang ternyata berisi fitnah, video porno dan sejenisnya, memberikan contoh buruk kepada orang lain baik sebagai orang tua ke anak, ataupun guru ke murid, mengarahkan kepada kemaksiatan, dan seterusnya.

“Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah (tradisi yang baik) dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim).

Dari Abdullah bin Mas'ud raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu, "Tidaklah setiap jiwa yang dibunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosa pembunuhan tersebut, karena dialah yang pertama kali melakukan pembunuhan." (Hadis sahih - Muttafaq 'alaih)

Karena itu, berniatlah dengan tekad yang kuat untuk tidak mewariskan dosa sepeninggal kita pada orang lain. Berusahalah agar ketika kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah dengan dosa-dosa yang ikut terkubur pula.

Asy-Syathibi berkata, “Alangkah bagusnya orang yang meninggal dan dosa-dosanya juga ikut terkubur bersamanya.” Sungguh celaka orang yang meninggal namun dosa-dosanya tetap tinggal selama 100 atau 200 tahun. Dia akan disiksa dalam kuburnya dan diminta untuk melunasinya. (Al-Muwafaqat fi Ushul Asy-Syariah, Asy-Syathibi, 1/229)

Hindarilah dosa jariyah yang hakikatnya merupakan salah satu bentuk penjajahan fisik dan pemikiran (gazwul fikr) dalam setiap insan muslim baik pribadi atau melalui rumah tangga muslim.

Jadilah orang yang mewariskan akhlak dan amal kebaikan generasi selanjutnya, umat islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Wallahu a’lam.


Pekanbaru, 7 Desember 2022
Sumber: Muhammad bin Ibrahim an-Nu’aim. 2005. Manajemen Umur. Jakarta: Pustaka at-Tazkia.

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...