Rabu, 18 Januari 2023

NIKMAT YANG TERLUPA

Diberbagai kesempatan baik Syukur atas Nikmat Rasa Aman

Syukur atas Nikmat Rasa Aman

Di berbagai kesempatan, baik ketika momen pengajian, khutbah, seremoni, dan kegiatan lainnya, selalu disampaikan kalimat pembuka berupa ucapan syukur atas nikmat sehat, keislaman, keimanan, rezeki yang berkecukupan, dan nikmat-nikmat lainnya. Sering juga kalimat syukur tersebut ditambah kutipan firman Allah ﷻ:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Mungkin di antara kita, ketika mendengar ungkapan dan ayat tersebut, terenyuh sambil berucap, “Alhamdulillah”. Mungkin juga ada yang beristigfar atas kelalaian, kurangnya bersyukur, atau lupa atas nikmat-nikmat tersebut. Dan bisa jadi, di antara kita pun ada yang menganggap hal tersebut biasa saja, masuk ke telinga dan hilang begitu saja. Bahkan mungkin ada pula yang dengan congkaknya menganggap apa pun yang ada dan dimilikinya merupakan jerih payahnya tanpa merasa ada campur tangan Allah sedikit pun. Naudzubillah.

Dari berbagai nikmat yang kita rasakan dan tidak bisa kita hitung tersebut, ada satu nikmat yang pernah diungkapkan Rasulullah ﷺ sebagai nikmat besar yang sering dilupakan atau tidak diperhatikan. Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshari dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga, dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmizi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib)

Rasa aman inilah yang mungkin di antara kita tidak menyadari bahwa itu bagian dari nikmat. Rasa aman itu dimulai dari diri kita yang mudah dan tenang dalam beribadah dan beraktivitas lainnya. Di masyarakat, kita mudah bergaul, memiliki tetangga yang baik, lingkungan yang baik, hingga aman untuk berjalan ke masjid di gelapnya malam ketika berjamaah subuh.

Bandingkan dengan negara yang saat ini sedang konflik: Palestina, perang Rusia dan Ukraina, atau pelosok negara lain yang sedang berkecamuk perang saudara. Tentunya sangat patut kita berucap syukur bahwa negara Indonesia masih relatif aman dan tenteram. Bahwa kejahatan, tindak pidana, dan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan memang ada dan selalu ada, seiring dengan perilaku manusia secara umum—jahat, tamak, rakus, hasad, sombong, dan sifat lainnya yang merupakan sunatullah hingga akhir zaman.

Kita pun tidak bisa menyamaratakan kondisi setiap orang dalam memahami rasa aman di Indonesia, di lingkungan masyarakat, atau di rumahnya. Bisa jadi saat ini di antara kita ada yang sedang mengalami musibah, baik yang disebabkan oleh manusia maupun bencana alam. Namun, di sinilah peran agama sebagai wasilah hubungan makhluk dan Sang Khalik harusnya berjalan. Ketika kita sebagai muslim seharusnya memahami bahwa ada sabar dan syukur sebagai jawaban untuk itu. Sekalipun bagi sebagian orang ada yang menganggap dirinya tidak pernah lepas dari musibah, namun pasti rasa aman itu ada atau pernah ada, tetapi tidak disadarinya.

Rasa aman itu adalah suatu nikmat yang tidak boleh kita ingkari. Manakala kita mengingkarinya, Allah akan memberikan rasa ketidakamanan (rasa takut) dan kelaparan dalam berbagai bentuk atau kondisi yang tidak bisa diduga. Firman Allah ﷻ:

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit (1) ketakutan, (2) kelaparan, (3) kekurangan harta, (4) jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Sudah banyak kisah dan contoh bagaimana Allah ﷻ mencabut rasa aman umat terdahulu hingga sekarang. Dahulu, saat seseorang berkuasa melakukan kezaliman dan semena-mena, semua bisa diatur; tidak ada rasa takut dalam berbuat kejahatan. Namun setelahnya Allah cabut rasa aman itu dengan mendatangkan rasa takut melalui berbagai hukuman dunia dan hukuman di akhirat kelak. Di kalangan masyarakat umum pun kita pernah melihat, bahkan mengalami, dan mungkin lebih banyak contohnya.

“Maka, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di malam hari, di waktu mereka sedang tidur? Atau, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami kepada mereka di waktu dhuha, ketika mereka sedang bermain-main? Maka, apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 97–99)

Kepekaan dalam melihat nikmat rasa aman ini mungkin berbeda bagi setiap orang. Dalam Islam, kadar keimanan menjadi pembeda setiap muslim dalam melihat nikmat iman ini. Ketika keimanan tinggi, musibah pun dirasakan sebagai nikmat, seperti judul novel Sengsara Membawa Nikmat. Namun, sebaliknya, bagi orang yang kadar imannya rendah, musibah merupakan azab. Ketakutan selalu muncul, tidak tenang, gerutu, sumpah serapah, prasangka buruk kepada Allah, kufur nikmat, dan lainnya.

Orang yang beriman bisa menciptakan rasa aman. Ketika imannya tidak dicampuradukkan dengan kezaliman, maka keamanan akan datang. Petunjuk (hidayah) untuk menyelesaikan rasa takut hadir seiring ketakwaan yang mereka bangun. Tidak mencampuri imannya dengan kezaliman adalah tidak berbuat syirik dan menghindari semua maksiat yang merupakan lawan dari iman. Firman Allah ﷻ:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mere Pekanbaru, 18 Januari 2023
(TSH)

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...