Rabu, 29 November 2023

PERSAUDARAAN DALAM ISLAM

Firman Allah ﷻ dalam QS. Ali Imran ayat 103 yang artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk".

Sungguh Islam memuliakan umatnya dengan berbagai keistimewaan. Seorang mukmin berhak mendapatkan cinta, kasih sayang, dan sikap-sikap mulia lainnya dari mukmin lainnya. Islam melarang sesama mukmin saling bermusuhan. Seorang mukmin tidak bolehkan membenci saudaranya sesama mukmin, seperti mengghibah, memfitnahnya apalagi membunuh. Seorang mukmin haram menumpahkan darahnya, sebaliknya Islam bertekad untuk mendorong ukhuwah (tali persaudaraan) diantara mereka. Allah ﷻ berfirman, "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS. 49: 10)

Andaikan terpaksa sesama mukmin berselisih paham, Islam hanya memberi batas waktu 3 hari untuk memahami dan menyadari kesalahan masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa segera berdamai. Jika keduanya masih enggan untuk berdamai, maka Allah tidak akan menerima doa mereka selama 40 hari. Sungguh merugilah seorang hamba jika tidak mau berdamai. Ya Allah kurniakanlah hati ini kelembutan dan sifat-sifat mulia agar mampu menjalin hubungan baik dengan sesama mukmin. Seorang mukmin seyogyanya mencintai sesama mukmin layaknya Saudara bahkan seperti kekasihnya.

Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda, "jika kalian mencintai seorang mukmin, mengatakan kepadanya bahwa kalian mencintainya. Semoga ia pun mencintai karena Allah. Karena sungguh-sungguh dua orang mukmin yang saling mencintai karena Allah akan mendapat perlindungan di hari kiamat, dimana tak ada lagi perlindungan selain naungan-Nya.

Menjalin persaudaraan dengan seorang mukmin tidak hanya terbatas pada suku, ras, bahasa ataupun bangsa. Jika mereka beriman kepada Allah, maka mereka adalah saudara seiman sebagai satu kesatuan umat.

Selanjutnya kita bisa melihat kandungan QS. Alhujurat ayat 13.
Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Seseorang yang mencintai saudaranya layaknya kekasih, pasti akan mencintai apapun yang ada dalam diri kekasih tersebut. Baik itu cinta orangtuanya, cara sikap dan tutur katanya, tempat tinggalnya, orang-orang yang dicintainya, dan apapun yang dilakukan oleh kekasihnya.

Salah satu bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad ﷺ, pasti kita akan berusaha meneladani apa yang ada dalam diri Rasulullah dan kita akan sungguh-sungguh meneladani apapun yang Beliau contohkan. Bukan hanya dari ibadah ritual dan akhlaknya saja, tetapi dalam segala aspek kehidupan. Karena Allah ﷻ berfirman yang artinya: "Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik." (QS. 33 : 21).

Termasuk bagaimana kita memperlakukan Saudara kita di Palestina yang menjadi korban ketidakadilan, bahwa zionis Israel merupakan negara penjajah dan semoga Allah ﷻ melaknat mereka. Mengapa kita perlu melantangkan pemahaman itu kepada sesama mukmin khususnya dan masyarakat dunia umumnya, karena segala bentuk penjajahan yang dilakukan zionis yahudi terhadap Palestina harus segera dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Ini sesuai amanat UUD 1945. Kepada warga Palestina yang sedang berjuang atas penjajahan dan kezaliman, kita wajib mendukung dengan materi dan doa.

Dari Nu’man bin Basyir dia berkata: Rasulullah saw. Bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Tinggalkan sikap yang hanya bisa melihat penderitaan mereka, karena terlalu sibuk dengan mengejar kehidupan dunia, dan sibuk mengejar semua ambisi-ambisi dengan nafsu semata. Muncul penyakit Lahwun yaitu cinta dunia dan takut mati.

Persaudaraan dalam Islam hukumnya wajib, bila kita mampu menjaga persaudaraan ini, rahmat Allah ﷻ akan tercurah kepada kita baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat bangsa dan dunia.

Untuk meningkatkan dan menjaga agar persaudaraan ini tetap terikat dengan kuat ada kaidah-kaidah yang harus tertanam dalam diri kita yang kemudian kita terapkan atau kita aplikasikan saat menjalankan jalinan persaudaraan.

Ada tiga kaidah yang terkait dengan persaudaraan yang harus kita perhatikan yang diambil dari berbagai sumber.

1. Kaidah bersaudara, “al-Ukhuwwatun mabniyatun ‘ala almutathallibaati laa ‘ala al id’aa aat.” Artinya, “Persaudaraan itu dibangun di atas apa yang orang lain suka, bukan atas tuntutan hak.” Jelasnya, jangan berpikir tentang apa yang harus saya dapatkan, tetapi berpikirlah apa yang bisa kita berikan untuk menguatkan jalinan persaudaraan.

2. Kaidah fikih, “al aslu fii dammi almuslimi wa ‘irdhihi wamaalihi alhurmatun.” Artinya, hukum asal darah Muslim, hartanya, dan kehormatannya adalah terjaga (dilarang dirampas). Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap Muslim dengan Muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya”. (HR. Muslim)

3. Kaidah hati, “itqaaul qalbi yatsmuru itsqaaal jawaarih.” Artinya, “Hati yang terjaga baik akan berbuah pada anggota badan yang terjaga.”

Semoga Allah ﷻ mempersatukan hati kita dan menguatkan persaudaraan kita sehingga kehidupan masyarakat berbangsa ada dalam keridhaan-Nya dan menjadikan masyarakat dan bangsa ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Amin.

Wallahu a'lam.
Jakarta, 29 November 2023 [TSH]

Sumber:
1. Ukhuwah Fillah Abadan Abada [Qolami Press]
2. Persaudaraan dalam Islam [www.republika.id/posts/29190/]

Selasa, 29 Agustus 2023

PERNIAGAAN YANG TIDAK AKAN MERUGI

Saudaraku, ketika kita berdoa, “Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban nar”, kita berharap tidak hanya sukses dunia juga sukses akhirat. Sebagian kita tentunya ada yang berpendapat bahwa sukses dunia itu ketika kita kaya, mendapatkan jabatan dengan penghasilan yang besar, mendapatkan gelar akademis yang tinggi, usaha yang selalu laba, dan sebagainya yang orientasinya tentu dunia dan menomorduakan akhirat. Namun dalam Islam kedua hal ini harusnya sejalan dan saling mendukung. Tidak hanya materiil seperti harta, gaji, atau laba tapi juga imateriil seperti keimanan, kebahagiaan, atau sehat.

Islam mengajarkan materiil harusnya mendukung imateriil. Bahwa kaya, gaji, atau keuntungan usaha tentunya akan membentuk pribadi yang dermawan gemar bersedekah atau menolong. Hati tenang dalam beribadah, bahagia, dan bisa selalu dalam keadaan sehat.

Islam juga mengajarkan materiil tidaklah segala-galanya. Banyak kisah para sahabat radiallahu anhu, para salafussalih, ulama, dan orang-orang baik dan salih disekitar kita menunjukan bahwa mereka bisa hidup tenang bahagia dan sehat walau dalam keadaan tidak berpunya atau penghasilan yang pas-pasan. Bagi mereka biarkan dunia mengikuti seiiring dengan aktivitas penghambaan sebagai bentuk syukur diciptakan kita sebagai makhluk yang tujuan utama adalah hanya beribadah kepada Allah. Dalam surat Az Zariyat Ayat 56 Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku".

Bagi mereka, ikhtiar berupa perniagaan dunia tidak menjadi tujuan utama sejalan dengan kebiasaan bisnis yang berpotensi mengalami kegagalan dan kerugian. Dan jikalau perniagaan dunia yang diusahakan merugi mereka tetap kokoh dalam keimanan dan syukur kepada Allah karena bagian dari ujian yang diberikan.

Nah, ada loh perniagaan yang di lakukan di dunia tapi tidak pernah merugi, apa itu? Allah berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur`ān), mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. (QS. Fatir (35): 29).

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan tiga jenis amal salih yang diumpamakan dengan perniagaan antara seorang hamba dengan Allah yang tidak akan mengalami kerugian atau dalam kata lain perniagaan yang pasti akan memberikan keuntungan yaitu, membaca al-Qur’an, melaksanakan (menegakkan) salat, dan menginfakkan sebagian rezeki baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Ketiga hal tersebut adalah perniagaan yang tidak akan pernah mendatangkan kerugian. Hal itu disebabkan semua jenis perniagaan tersebut adalah perniagaan yang paling agung, paling tinggi, dan paling utama, karena semata-mata untuk mencari rida tuhan mereka, keuntungan berupa pahala dari-Nya, serta mencari keselamatan dari kemurkaan dan siksa-Nya. Namun, dengan syarat semua hal tersebut dikerjakan secara ikhlas. (Tafsir as-Sa’di, 1442 H.).

Selanjutnya mari kita ungkap beberapa tafsir berkaitan dengan perniagaan yang tidak merugi tersebut.

Pertama, tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut QS. Fatir ayat 29 Allah Ta’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya yang beriman, yang senantiasa membaca kitab-Nya, mengimaninya, dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, lalu hamba tersebut menegakkan salat, menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah karuniakan pada hal-hal yang disyari’atkan baik di waktu malam maupun siang, dan baik secara diam-diam maupun terang-terangan, bahwa hamba tersebut sungguh telah mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah rugi.(Ismail Ibnu Katsir Ad-Damasyqi, 2000)

Dari ayat dan tafsirnya, menjelaskan bahwa Allah menyebutkan perniagaan yang ketika dilakukan tidak akan pernah merasa rugi. Yaitu tiga amalan saleh, pertama membaca al-Qur’an. Kedua, melaksanakan (menegakkan) salat. Ketiga, menginfakkan sebagian rezeki baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Tiga amalan saleh atau diumpamakan sebagai perniagaan yang tidak akan rugi tersebut, akan menguntungkan bagi siapa saja yang melakukannya. Tidak merasa rugi akan tetapi merasakan keuntungan di dunia ataupun di akhirat, dan yang dimaksud dengan "mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi" yaitu mereka yang ketika melakukannya hanya samata-mata mengharap ridha-Nya dan pahala disisi Allah. Semakin tinggi harapan atau niat baik, maka semakin tinggi pula balasannya dan semakin tinggi kedudukan kita di sisi Allah.

Kedua, tafsir Jalalain menjelaskan bahwa (Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca) lalu mempelajari (kitab Allah dan mendirikan shalat) yakni mereka melaksanakannya secara rutin dan memeliharanya, (dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan) berupa zakat dan lain-lainnya (mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi) tidak akan bangkrut sama sekali. (Jalaludin As-Suyuti, 1505)

Ketiga, tafsir Al-Muyasar menjelaskan bahwa Sesungguhnya orang-orang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya, menjaga shalat pada waktunya, menafkahkan dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka dengan berbagai bentuk nafkah, baik yang wajib maupun yang dianjurkan, secara rahasia dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan dengan itu sebuah perniagaan yang tidak merugi dan tidak binasa, yaitu ridha Allah kepada mereka, keberuntungan meraih pahalaNya yang agung, agar Allah memberikan pahala amal kebaikan mereka secara sempurna tanpa dikurangi, dan melipatgandakan kebaikan-kebaikan dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun terhadap keburukan-keburukan mereka, juga Maha membalas dengan kebaikan-kebaikan mereka dan memberi mereka balasan yang besar. (al-Qarni, 2008)

Kemudian Ibnu katsir menjelaskan maksud dari “mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah rugi” adalah mereka mengharapkan pahala di sisi Allah atas segala amal yang telah dilakukan. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala pada ayat berikutnya:
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ
Artinya: Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fatir (35): 30).

Maksud dari ayat tersebut adalah agar Allah menyempurnakan pahala-pahala dari segala ibadah yang telah mereka lakukan dan melipatgandakannya dengan menambahkan beberapa karunia dari yang telah diberikan sebelumnya. Kemudian, Allah juga akan mengampuni segala dosa mereka, karena amat sedikit orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan seperti mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 1997).

Mereka adalah orang sebaik-baiknya orang yang mengamalkan ilmunya dan berbuat baik, melakukan perniagaan yang tidak akan rugi tetapi mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah. Semoga kita termasuk bagian dari mereka itu. Amin. Wallahu a’lam. (dikutip dari berbagai sumber)


Pekanbaru, 29 Agustus 2023 (TSH)

Minggu, 16 Juli 2023

Benteng Orang Mukmin

Dalam tulisan sebelumnya, ada tiga sumber Kekuatan agar bisa bersungguh-sungguh (semangat) dalam beramal dengan merujuk pada hadis Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan”. (HR. Muslim)

Walaupun sebagian ulama yang menyatakan bahwa maksud mukmin yang kuat itu tidak hanya kuat iman tetapi juga kuat (sehat) secara fisik, namun sebagian besar ulama lainnya menegaskan ini merupakan kekuatan iman.

Bahwa dalam hadis tersebut kuat lemahnya iman, jangan engkau lemah, dan perkataan ’seandainya’, ketiganya merupakan pondasi dalam semangat dalam beramal. Manakala pondasi itu lemah maka niscaya bangunan amal diatasnya mudah runtuh. Pondasi inilah menjadi salah satu pusat setan melancarkan godaan, gangguan, tipuan, atau rasa was-was.

Sebagaimana tertuang dalam Al-Qur'an Surat al-A'raf ayat 14-17, yang artinya, Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi penangguhan". “Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”

Firman Allah, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka”. (QS. 4:120)

“Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia”. (QS. 114:4-6)

Ketika setan melancarkan godaannya pada posisi kita tidak ada benteng dengan pondasi yang kokoh yang menghalanginya, sudah tentu iman kita goyah bahkan runtuh. Ketika iman lemah maka mudah kita jatuh dalam kefuturan hingga kekufuran. Kita mudah untuk berbuat maksiat karena tidak ada perisai yang bisa menangkal tipuan atau bisikan setan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Menjadi sangat penting seorang mukmin untuk membentengi dirinya dari godaan setan untuk menjaga imannya agar tetap berada dalam jalur yang lurus sehingga bisa menjaga semangat dan tetap konsisten dalam beribadah.

Dalam Buku Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani tertulis suatu riwayat dari Ka’ab al- Ahbar, seorang pendeta senior rujukan bangsa Yahudi yang masuk Islam pada masa Khalifah Umar bin Khatab Radiallahu’anhu, suatu hari pernah mengatakan:

الْحَصُونَ لِلْمُؤْمِنِينَ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثُ : المَسْجِدُ حِصَنُ وَذِكْرُ اللَّهِ حِصْنٌ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ حِصْنٌ.
“Benteng orang-orang mukmin yang dapat mencegah gangguan setan ada tiga, yaitu masjid, zikrullah (mengingat Allah), dan membaca al-Quran. Masjid menjadi benteng karena ia menjadi tempat berzikir bagi kaum mukmin dan tempat singgah bagi malaikat. Jika mendengar zikir, setan akan bersembunyi dan menjauh, apalagi ketika mendengar kalimat ‘la haula wala quwwata illah billah’. Demikian pula ketika setan mendengar bacaan al-Quran, terutama jika dibacakan Ayat Kursi.”

Pertama, secara bahasa kata masjid (مَسْجِدٌ) adalah tempat yang dipakai untuk bersujud. Kemudian maknanya meluas menjadi bangunan khusus yang dijadikan orang-orang untuk tempat berkumpul menunaikan shalat berjama’ah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak dibenarkan untuk sedikitpun dari air kencing dan kotoran lainnya. Masjid ini hanyalah untuk zikir kepada Allah, sholat, dan membaca Alquran.” (HR. Muslim)

Masjid di zaman Rasulullah digunakan untuk tempat ibadah, tempat pendidikan, tempat kegiatan sosial, tempat pengobatan, dan tempat kegiatan militer.

Seorang mukmin ketika ingin membangun benteng pertahanan dari godaan setan seharusnya fisik dan hatinya terpaut di masjid. Fisik dalam hal melakukan kegiatan ibadah salat, amal berjamaah, dan aktifitas muamallah dengan masjid sebagai sentral kegiatan umat islam. Hati yang selalu terpaut untuk selalu melakukan ibadah ibadah pembersih hati lewat salat, zikir, dan membaca Quran. Seorang muslim hendaknya selalu dapat terpaut dengan masjid. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Salah satu golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak adalah seorang hamba yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 9: 18)

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ
"Apabila kamu melihat seseorang membiasakan diri (beribadah) di masjid, maka bersaksilah bahwa ia orang yang beriman." (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abi Said al-Khudri)

Kedua, zikrullah (mengingat Allah) merupakan suatu perintah yang sering kali disepelekan kita, bahkan ditinggalkan. Padahal Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).

Dengan menyebut nama Allah dan mengingat-Nya maka seorang muslim tidak akan terganggu oleh setan. Karena di hatinya ada Allah dan yakin bahwa Allah sebaik-baiknya pelindung. Rasulullah ﷺ bersabda, “Zikir yang paling utama adalah Lailaaha illallah (Tidak ada tuhan (ilah) yang berhak disembah kecuali Allah). Dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah (segala puji bagi Allah).”

Dengan mengingat Allah ﷻ, seorang mukmin pun menjadi lebih peka akan kewajibannya sebagai hamba, mudah membedakan mana perbuatan yang dilarang mana yang diperintahkan-Nya. Bahkan berzikir dapat menenteramkan hati, menjadi penghapus doa, dijanjikan surga dan dijauhkan dari setan. Hal ini tertera dalam Quran Surat Al-Imran ayat 176, “Sesungguhnya mereka adalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.”

Sesuai janjinya setan akan selalu mengganggu seorang mukmin dalam setiap hidupnya, maka berzikirlah untuk terhindar dari rasa takut dan segala gangguannya. Karena dengan berzikir kita akan terus menerus mengingat Allah.

Ketiga, Alquran memberikan syafaat dan pertolongan kepada orang yang senantiasa membacanya.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim)

Alquran juga dapat menjadi benteng bagi umat Islam dari godaan setan. Dengan membaca Alquran, setan pun akan bersembunyi dan menjauh, terutama jika dibacakan ayat kursi. Suatu ketika setan yang berwujud seorang pencuri pernah berpesan dan membukasalah satu rahasianya kepada Abu Hurairah. Hal ini dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ. Setan mengatakan, “Jika engkau menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi sampai engkau menyelesaikan ayat tersebut. Maka sesungguhnya akan selalu ada padamu seorang penjaga dari Allah, dan setan tidak akan mendekatimu sampai engkau masuk waktu pagi”.

Dalam surat an-Nahl ayat 89, Allah ﷻ berfirman, “Dan Kami turunkan Kitab (Alquran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim)”.

Mulailah dengan kalimat isti'adzah atau ta’awudz yang merupakan doa untuk memohon perlindungan dan penjagaan dari setan ketika ingin memulai membaca Quran. Firman Allah ﷻ, "apabila kamu membaca Al-Qur'an, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. 16: 98)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa membaca ta'awudz merupakan permohonan agar terhindar dari hal-hal negatif yang bersifat batiniah dan untuk mendatangkan kebaikan.

Ketiga benteng orang mukmin dari godaan setan tersebut harus dibingkai dalam ketaatan kepada Allah ﷻ dan selalu meningkatkan ibadah dengan menjalankannya secara ikhlas (lurus).

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS. 98:5)Z


Wallahu a’lam.

Pekanbaru, 16 Juli 2023 (TSH)

Rabu, 21 Juni 2023

KONSISTENSI AMAL MEMBUTUHKAN KESUNGGUHAN

Konsistensi dalam Beramal

Konsistensi dalam Beramal

Setidaknya ada 5 alasan yang membuat konsistensi menjadi sangat penting dalam beramal.

Pertama, Allah ﷻ mencintai amalan yang dilakukan secara konsisten walaupun sedikit. Dalam sebuah hadis dinyatakan, "Sebaik-baik amal adalah yang dilakukan secara konsisten walaupun sedikit. Allah kurang menyukai orang yang tahajud suatu malam tetapi pada malam berikutnya tidak tahajud karena tidak konsisten." (HR. Abu Daud)

Kedua, ibarat perlombaan lari maraton, jika kencang di awal lelah di akhir, berpotensi tidak sampai finis. Konsisten dalam beramal akan memudahkan seseorang untuk mencapai garis akhir kemenangan yaitu mendapatkan cinta dan rahmat Allah ﷻ.
“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang Aku cintai daripada kewajiban yang Aku bebankan kepadanya. Dan senantiasa (terus-menerus istiqamah) hamba-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Ketiga, memudahkan seseorang untuk beramal secara rutin sesuai kesanggupannya sehingga tidak merasa kesulitan dalam mengerjakannya dan tidak mudah lupa.
“Apa yang Aku larang untukmu, maka jauhilah. Dan apa yang Aku perintahkan untukmu, maka kerjakanlah menurut kesanggupanmu.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Keempat, konsisten dalam beramal walaupun sedikit ibadah (jangan berlebihan), mendorong untuk berhemat waktu dan tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban lainnya.
“Celakalah orang-orang yang ekstrem (berlebihan)!” Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim)

Kelima, konsisten dengan amalan rutin akan membuat seseorang bersemangat terus dengan variasi amalannya.
“Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barang siapa yang kemalasannya masih dalam sunah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barang siapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Thabrani)

Dalam materi sebelumnya konsistensi dalam beramal itu ujungnya berbuah kenikmatan yang sangat besar yaitu rahmat Allah berupa surga. Konsistensi itu harus dijaga karena gangguan, hambatan, dan aral lintang yang disebut ujian pasti ada dalam berbagai macam bentuk. Firman Allah ﷻ:

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2–3)

Manusia sering kali mendefinisikan ujian sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan saja. Mereka lupa bahwa hal yang menyenangkan pun merupakan sebuah ujian. Kedudukan, harta melimpah, keluarga, anak yang sehat, dan waktu luang pun merupakan sebuah ujian.

Ujian ini dapat mengganggu konsistensi kita dalam beramal. Bagi muslim dengan keimanan yang baik, insyaallah dengan mudah bisa menjaganya. Namun, ketika seorang muslim berada dalam keimanan yang lemah, sangat sulit untuk mempertahankan untuk terus rutin beramal. Sabda Rasulullah ﷺ:
"Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaruilah iman kalian dengan La Ilaha Illallah." (HR. Ibn Hibban)

Dalam suatu riwayat Hanzhalah Al-Usayyidi, sahabat Rasulullah ﷺ, pernah merasa dirinya seorang munafik ketika ditanya Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu tentang kondisi keimanannya. Kemudian Hanzhalah dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak, dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan kalian. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim)

Agar konsistensi beramal bisa terpelihara dan terjaga tentunya membutuhkan kesungguhan. Karena kesungguhan itu, Allah ﷻ akan memberikan taufik-Nya untuk selalu dimudahkan dalam beramal dan diberikan solusi ketika amal kita melambat atau berhenti. Firman Allah ﷻ:

“Mereka yang bersungguh-sungguh pada Kami, maka akan Kami tunjuki mereka akan jalan Kami dan sesungguhnya Allah beserta orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Ada tiga sumber kekuatan agar bisa bersungguh-sungguh (semangat) dalam beramal, merujuk pada hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah ﷺ:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ "لَوْ" تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
  1. Selalu menjaga tubuh agar kuat (sehat). Amalan bisa terpelihara dikarenakan kondisi fisik kita yang sehat. Ini menjadi keharusan setiap muslim ketika ingin beramal dalam kondisi bugar, sehat, minimal tidak dalam keadaan lelah.
    “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.”
  2. Menjaga waktu-waktu luang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Waktu luang merupakan pintu masuk setan untuk merusak hati dan pikiran hingga jatuh ke perbuatan yang sia-sia bahkan maksiat. Waspada terhadap waktu luang tersebut kala iman kita lemah dan bersegera untuk beristigfar bangkit dengan meminta pertolongan Allah ﷻ.
    “Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.”
    Firman Allah ﷻ:
    (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ)
    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
  3. Tidak mengatakan “seandainya” ketika ada musibah, karena hakikatnya apa pun yang terjadi atas diri kita itu sudah ketentuan Allah ﷻ. Inilah yang membuat seorang muslim harus optimis untuk selalu bergerak ketika sudah beramal ke amal berikutnya.
    “Maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan ‘law’ (seandainya) dapat membuka pintu setan.” (HR. Muslim)

Di setiap kesukaran ketika kita yakini dengan selalu berprasangka baik terhadap ketentuan Allah, niscaya akan diiringi kemudahan kemudian. Allah ﷻ berfirman:

(فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا)
“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya keberhasilan ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesusahan, dan sesungguhnya bersama kepayahan ada kesenangan.” (HR. At-Tirmidzi)

Semoga kita bisa menjaga konsistensi dalam amal dengan memaksimalkan kekuatan hati dan fisik kita sehingga bisa memunculkan semangat dan kesungguhan untuk rutin melaksanakannya. Di momen 10 Hari Pertama Zulhijah mari kita tingkatkan dan perbanyak ibadah serta amal salih lainnya karena di dalamnya akan ada cinta Allah yang mengalir sehingga kita bisa mendapatkan rahmat-Nya.

“Tidak ada satu amal salih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal salih yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Zulhijah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun.” (HR. Abu Daud)

Wallahu a’lam
Pekanbaru, 21 Juni 2023 / 2 Zulhijah 1444 H – TSH

Selasa, 16 Mei 2023

Menjaga Konsistensi Amalan Pasca Ramadan

Ramadan telah berlalu, diantara kita ada yang sedih, ada yang gembira, dan ada pula yang biasa-biasa saja. Sejatinya sebagai seorang muslim tentu sedih, karena kita meninggalkan bulan mulia yang di dalamnya penuh berbagai kenikmatan dan pahala dan tidak ada jaminan kita bertemu tahun yang akan datang. Disana terdapat ladang-ladang pahala tak terbatas dengan jaminan Surga, bahkan ada satu malam yang jika kita beribadahnya mendapatkan keutamaan seribu bulan. Masha Allah.

Apakah puasa kita diterima? apakah tilawah dan qiyam kita diterima? apakah sedekah dan amalan-amalan lainnya diterima? Siapa yang menjamin itu karena bisa jadi tanpa kita sadari saat puasa kita masih melakukan kemaksiatan, mata, telinga, tangan kaki yang khilaf tidak terjaga, ketika beramal masih ada riya, dan seterusnya. Kuncinya prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dengan berdoa: "Allahumma taqabbal minna siyamana wa qiyaamana wa ṣalaatana wa ja'alna min al-mutaqabbalīn. Allahumma baarik lana fi Syawwal wa Rabbizzidna min hasanaatina wa tub 'alaina. Allahumma waffir lana fi ma baqiya min umurina thaa'atika wa husna 'ibaadatika wa-j'alna min al-muhsinina ilaika" Artinya: "Ya Allah, terima kasih atas bulan Ramadan yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Kami berharap agar semua puasa, shalat, dan ibadah yang kami lakukan selama bulan Ramadan ini diterima oleh-Mu dan Engkau menjadikan kami sebagai hamba-Mu yang terbaik. Ya Allah, berkatilah bulan Syawal kami dan tambahkanlah pahala kebaikan kami. Maafkanlah dosa dan kesalahan kami dan jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang terbaik dalam semua hal. Amin"

Konsistensi amalan setelah Ramadan wajib kita jaga. Bahwa konsistensi itu bukan berarti amalan harus sama bahkan lebih dari amalan yang kita lakukan saat Ramadan lalu, namun bandingannya adalah apakah amalan kita setelah Ramadan lebih baik dari sebelum Ramadan. Kita sadari nuansa Ramadan berbeda dengan bulan-bulan lainnya, disana ada pahala yang berlimpah, disana ada kemudahan beramal karena syaitan di belunggu dan seterusnya.

Bahwa konsistensi pasca Ramadan itu adalah bagaimana kita mampu menjaga amalan yang kita lakukan di bulan Ramadan bukan dari kuantitasnya tapi kualitasnya. Saat Ramadan kita mampu membaca quran setiap hari satu dua Juz, pasca Ramadan sesibuk apapun kita minimal satu dua halaman kita harus baca. Saat Ramadan kita mampu memaksimalkan sedekah setiap hari, pasca Ramadan pun kita tetap menyisihkan harta kita walau sedikit untuk sedekah setiap harinya. Begipula dengan puasa-puasa sunah, salat disepertiga malam, dan ibadah sunah lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya: Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ وَكَانَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ
"Kerjakanlah suatu amalan itu sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidak akan bosan sehingga diri kalianlah yang bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus menerus walaupun sedikit." Apabila beliau mengerjakan suatu amalan, beliau akan mengerjakannya secara rutin." (HR. Abu Daud).

Hadis ini menggambarkan pentingnya melakukan amalan secara rutin. Hasan al-Bashri, seorang ulama yang diberi julukan singa podium pernah mengatakan, "Jika setan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, maka ia pun akan menjauhimu. Namun, setan melihatmu beramal, kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, bahkan engkau melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak untuk menggodamu."

Lantas bagaimana kita bisa menjaga konsistensi (istiqamah) dalam beribadah? Kata ulama setidaknya minimal ada 3 yang harus dilakukan:

1. Berusaha menjaga takwa setiap saat, karena sebaik bekal adalah takwa. Takwa memelihara kehidupan di dunia dan mengantarkan kita ke Surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka.” (QS ath-Thur: 17-18).
Takwa diawali dengan keikhlasan dalam penghambaan seraya selalu meminta keteguhan iman kepada Allah, "Dari Anas RA berkata, adalah Rasulullah ﷺ memperbanyak doa, Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu. Anas berkata: Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang datang padamu, apa yang kau khawatirkan? Beliau bersabda: Ya, sesungguhnya hati itu ada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Allah membolak-balikkan kepada yang dikehendaki-Nya," (HR. Tirmidzi).
Ketika hati mudah dibolak balikan oleh syaitan kita akan berada dalam kemudahan berbuat maksiat, sangat sulit melakukan amalan-amalan apalagi untuk konsisten. Takwa menjaga amalan kita terpelihara sekaligus menjadikan kita hamba yang dimuliakan Allah. Baca lengkapnya di menjadi-manusia-mulia

2. Mengingat kematian. Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, dan setelah kematian segala apapun yang kita lakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan ke hadapan Allah. Firman Allah ﷻ, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al Ankabut: 57).
"Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jumu'ah: 8).

Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).
“Maksud dari mengingat kematian yaitu menjadikannya sering teringat dalam pikiran kita, agar kita menyiapkan bekal. Maksud dari ‘pemutus’ yaitu memutuskan kelezatan di dunia dan mendekatkan dengan kelezatan akhirat” (Syarh Bulughul Maram, Kitab Al-Janaiz).
Ketika setiap muslim meyakini tidak jaminan ia akan hidup besok, bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi satu, dua jam ke depan maka ia akan berusaha di setiap waktu kehidupannya dalam kebaikan. Disetiap ibadahnya penuh keihlasan, dengan secara konsisten menjaga amalan-amalan terbaiknya dan tentunya berusaha untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan kepada Allah ﷻ.
Sabda Rasulullah, “Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).

3. Bergaul dengan orang salih. Hanya teman-teman yang salih yang bisa mengingatkan dan menasihati agar kita tetap konsisten dalam keimanan dan istiqamah dalam amal kebaikan. Seyogyanya kita bisa berkumpul dengan mereka, berinteraksi aktif dalam komunitas-komunitas yang baik. Cari mereka dalam kegiatan pengajian atau taklim di masjid, dalam organisasi-organisasi islam, kelompok-kelompok kajian ilmiah baik tergabung dalam grup online (medsos) ataupun offline. Silaturahmi dengan mereka, diharapkan bagian yang tidak terpisahkan dengan aktifitas pekanan kita. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sementara Imam Syafi'i berkata, "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali."

Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu
حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون…
“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka (para sahabat mukmin) memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji…”[HR Muslim 183]

Al Hasan Al Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat."
Sementara Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, 'Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukanlah dia bersama kami di surga-Mu."

Semoga kita bisa menjaga konsistensi beribadah pasca Ramadan untuk menyambut 11 bulan berikutnya, amin.
Wallahu a’lam.

Pekanbaru, 16 Mei 2023
Sumber: https://pijarpunbenderang.blogspot.com/

“Memburu” Malam Lailatul Qadar

[17.53, 14/4/2023, Late Post]
Allah ﷻ memberikan keutamaan pada sebagian makhluk-Nya di atas sebagian lainnya. Meninggikan derajat sebagian makhluknya atas sebagian yang lain. Dia Allah ﷻ mengutamakan sebagian hari dan bulan atas sebagian yang lain, dengan menjadikan sepuluh hari pertama dari Dzul Hijah sebagai hari-hari yang paling utama, sedangkan sebaik-baik hari dalam sepekan adalah hari Jumat. Dia mengutamakan bulan Ramadan atas bulan-bulan lainnya, dan menjadikan sepuluh malam terakhir darinya sebagai sebaik-baik malam. Sementara malam paling utama di antara sepuluh malam itu adalah Lailatul Qadar, dan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Menggapai Lailatul Qadar tidak boleh dipisahkan dengan kesungguhan dalam beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan. “Dari Aisyah ra, Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada 10 hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim).

Sebagai seorang muslim sejatinya adalah menutup amalan Ramadan dengan amalan terbaik. “Sungguh (baik atau buruknya) amalan itu tergantung dari penutupnya. (HR. Bukhari-Muslim)

Lailatul Qadar itu terjadi dari waktu malam dimulai yaitu tenggelamnya matahari hingga terbit fajar shubuh. Dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5)

"Barang siapa yang pada malam lailatul qadar mengerjakan ibadah dan berdoa dengan penuh keimanan yang dipersembahkan semata-mata untuk Allah, akan diampuni dari segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang." (HR Ahmad dan Thabrani).

Bagaimana cara menggapai dan menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Maksud dari menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan sebagian besar waktu malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam (saat terbenam sampai fajar).

Ada ulama yang mengatakan bahwa menghidupkannya bisa hanya sesaat.
Sebagaimana dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas disebutkan, “Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.” Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan, “Siapa yang menghadiri shalat berjama’ah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.”

Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.” Semua perkataan di atas diambil dari Lathaif Al-Ma’arif.

Ini sejalan dengan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim).

Tips menggapai malam Lailatul Qadar tentunya mengisi malam-malamnya dengan ibadah. Kesungguhan Ibadah di sepuluh hari terakhir dilakukan melalui i'tikaf di masjid.

Rasulullah melakukan i'tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i'tikaf setelah beliau wafat." (HR Muslim)

Dalam i'tikaf hendaknya setiap muslim secara konsisten dengan mendirikan salat, membaca al Quran, berzikir, muhasabah, bersedekah atau berdoa. Tentunya tanpa mengabaikan di siang haripun tetap di maksimalkan untuk beribadah karena keutamaan sepuluh hari terakhir tadi.

Lantas bagaimana mana dengan wanita yang sedang haid atau nifas.
v "Jubair berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Adh-Dhahhak, bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang sedang nifas, haid, orang yang bepergian (musafir), dan orang tidur, apakah mereka bisa memperoleh bagian dari Lailatulqadar? Jawabnya, ya, mereka masih bisa memperoleh bagian. Setiap orang yang Allah SWT menerima amalnya maka Allah SWT akan memberikan bagiannya dari Lailatulqadar,'" [Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha`iful Ma'arif fima Limawasimil 'Am minal Wazha`if, halaman 264]

Amalan apa yang dilakukan ketika i'tikaf untuk menggapai Lailatul Qadar:

1. Salat fardu berjaamaah di awal waktu dan salat sunah. Salat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah ﷻ, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

2. Membaca al Quran. “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan dengan membaca tersebut. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan di setiap satu huruf: akan tetapi Alif satu huruf, lam satu. Aku tidak mengatakan bahwa (yang dimaksud huruf) berarti Mim (dimaknai) satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

3. Perbanyak zikir. Abu Ad Darda meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidakkah aku akan memberitahumu tentang tindakan terbaikmu, yang paling murni di hadapan Tuhanmu, yang menaikkan peringkatmu ke posisi tertinggi, yang lebih baik bagimu daripada menghabiskan emas dan perak, lebih baik daripada bertemu musuhmu sehingga kau menyerang di leher mereka dan mereka menyerang Anda? 'Mereka menjawab, 'Ya, memang', lalu Nabi bersabda, Itu adalah mengingat Allah." (HR. At-Tirmidzi)

4. Perbanyak Doa. mengamalkan do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita ﷺ jikalau kita bertemu dengan malam Lailatul Qadar yaitu do’a: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).

5. Istighfar. Setiap Muslim dianjurkan agar menutup Ramadan dengan memperbanyak istighfar pada sepuluh malam terakhir ini, yaitu dengan memohon ampunan, dan doa orang yang berpuasa itu mustajab pada saat puasanya dan berbukanya. Istighfar adalah penutup amal-amal salih. Salat, haji dan qiyamul lail ditutup dengannya, begitu juga dengan suatu majelis, ia ditutup dengannya. Demikian pula hendaknya seorang Muslim menutup puasa Ramadan dengan istighfar. Karena itu, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada penduduk negerinya (ketika menjadi khalifah) memerintahkan mereka supaya menutup Ramadan dengan istighfar dan membayar zakat fitrah. Sebab, zakat fitrah itu menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan keji, sedangkan istighfar menambal apa yang terkoyak dari puasa itu karena perkataan sia-sia dan keji. Istighfar yang paling bermanfaat ialah yang diiringi dengan taubat, meninggalkan kemaksiatan, menyesalinva, bertekad untuk tidak mengulanginya kembali, dan mengembalikan hak-hak yang dizalimi kepada orang yang berhak menerimanya apabila dosa itu berkenaan dengan orang lain.

Kapan datangnya malam Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, dan berpindah-pindah di antara malam-malam itu. Akan tetap berlangsung setiap tahun hingga hari kiamat. Karena itu, hendaknya setiap Muslim bersungguh-sungguh dalam mencarinya di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan demi mencari pahala, dan meraih keutamaannya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi, "Sungguh aku diperlihatkan pada Lailatul Qadar, lalu aku dilupakan, maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir yang ganjil."(HR. Bukhari)

Lailatul Qadar terjadi pada malam- malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dan berpindah-pindah diantara malam-malam ganjil itu. la tidak dikhususkan pada malam tertentu dalam semua tahun. Adakalanya di suatu tahun Lailatul Qadarnya terdapat pada malam ke-27, di tahun yang lain pada malam ke-21, di tahun yang lain pada malam ke-23, atau selainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di malam yang ganjil." (HR. Bukhari)

Dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar di tujuh malam terakhir, karena malam-malam ini terdapat kemungkinan lebih besar daripada malam-malam lainnya. Hal ini berdasarkan hadits, “Carilah (Lailatul Qadar) pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang dari kalian lemah atau tidak mampu, maka janganlah ia terkalahkan (menyerah) untuk mencari pada tujuh malam tersisa (HR. Bukhari-Muslim)

Yuk, perbanyak shalat sunah, perbanyak doa, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni, perbanyak tilawah al-Qur’an, perbanyak zikir, dan perbanyak istighfar.

Semoga kita dimudahkan meraih keutamaan Lailatul Qadar yang ibadah di dalamnya dapat dilipatgandakan hingga seribu bulan ibadah. Aamin Yaa Mujibbas Saa-ilin.

Wallahu a’lam
Pekanbaru, hari ke-23 Ramadan 1444 H

Sumber: 38 Faidah fil ‘asyril awakhiri wa lailatul qadar. Muhammad Shalih al-Munajjid

Senin, 20 Maret 2023

Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Melanjutkan tulisan sebelumnya ayah-jangan-bisu, didalamnya tertulis kesimpulan:

“Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahirkan generasi istimewa (khoiru ummah) seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rosul-Nya, diperlukan dialog kedua orangtua kepada anak. Dan jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya.”
“Kenapa ayah, bukan ibu? Ini bukan berarti ibu tidak boleh banyak berdialog dengan anak tapi lebih kearah peran ayah harus lebih besar dalam komunikasi dengan anak. Ini seakan Al-Qur’an ingin menyeru kepada semua ayah, “Ayah, engkau harus rajin berdialog dengan anak, seperti dialog Luqman kepada anaknya”. Janganlah jadi “ayah bisu” (sedikit bicara), ayah yang hanya ada ketika menyediakan keperluan anak, ayah yang meninggalkan kepedulian pendidikan dan keteladanan, ayah yang hanya salih sendirian, ayah yang mempercayakan anaknya pada televisi, gadget dan internet tanpa batas, ayah yang egois karena merasa lebih tua, lebih pintar, lebih kuasa, atas anak anaknya, dan banyak lagi.”
“Ayah harus menyempatkan waktu untuk banyak berdialog dengan anak-anak, karena itu adalah bagian penting dalam proses pembentukan karakter dan pendidikan anak. Ayah tidak boleh diam, jangan bisu dan menyerahkan semua komunikasi dengan anak hanya kepada ibu. Karakter dan pendidikan anak harus menjadi tanggung jawab bersama karena sosok keduanya sangat diperlukan. Keseimbangan peran dari ayah dan ibu akan memberikan andil besar bagi keberhasilan pendidikan anak-anak.
“Maka jika ada sosok ayah yang bertanggung jawab dan ibu yang penuh kasih sayang, yang dengan pemahaman islam yang baik sering berdialog dengan anak anaknya sejak dini, maka akan muncul anak-anak yang berahlak baik (mulia), taat kepada Allah dan yang mencintai Rosulullah, serta berbakti pada kedua orangtuanya.”

Tulisan tersebut menunjukan pentingnya dialog (komunikasi) dalam keluarga yang tentunya harus diawali dengan keteladanan dan komunikasi yang baik antara suami dan istri selaku orangtua dari anak –anak keturunannya. Keluarga adalah bagian penting dari pembentukan generasi yang baik. Disana awal pondasi keislaman berupa aturan syariat mulai diterapkan seperti memberi senyum, berprasangka baik, kejujuran, komunikasi, hingga kepemimpinan.

Bagaimana komunikasi dalam keluarga itu agar lebih efektif? karena tujuan akhir keluarga itu adalah keluarga yang sakinah mawadah warohmah, sudah tentu sumber rujukan utama adalah Alquran dan Alhadis.

Selanjutnya tulisan ini hanya menggambarkan secara umum bagaimana bisa menciptakan komunikasi yang efektif dalam keluarga muslim. Diluar sana dalam dunia parenting dengan berbagai teori klasik dan modern bisa jadi lebih sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga berkaitan dengan permasalahan komunikasinya.

Lalu apakah konsep Komunikasi Efektif terkandung dalam Al Quran? meskipun al-Qur'an secara spesifik tidak membicarakan masalah komunikasi, namun, jika diteliti ada banyak ayat yang memberikan gambaran umum prinsip-prinsip komunikasi. Dalam hal ini, penulis merujuk pada term-term khusus yang diasumsikan sebagai penjelasan dari prinsip-prinsip komunikasi tersebut, yaitu:
1. Qawlan Baligha, perkataan tepat sasaran/efektif (QS.4:63);
2. Qawlan Maisura, perkataan yang mudah dicerna (QS.17:28);
3. Qawlan Layyina, perkataan yang lemah lembut(QS.20:44);
4. Qawlan Ma’rufa, perkataan yang sesuai norma/nilai (QS.2:235, QS.4:5 & 8, QS.33:32)
5. Qawlan Kariima, perkataan yang mulia (QS.17:23); dan
6. Qawlan Sadiida (perkataan yang jelas(QS.4:9).

Dari beberapa literasi, Qawlan Baligha adalah yang paling mendekati definisi Komunikasi Efektif sebagaimana Firman Allah ta’ala: “Waqul lahum fii anfusihim qawlan baliighaa” yang artinya: “Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An-Nisa': 63)

Kata “Baligh” yang berasal dari balagha, oleh para ahli bahasa dipahami sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Menurut al-Raghib al-Ishfahani perkataan yang membekas itu mengandung tiga unsur utama, yaitu bahasanya tepat, sesuai dengan yang dikehendaki, dan isi perkataan adalah suatu kebenaran. Sedangkan term baligh dalam konteks pembicara dan lawan bicara, adalah bahwa si pembicara secara sengaja hendak menyampaikan sesuatu dengan cara yang benar agar bisa diterima oleh pihak yang diajak bicara.

Bila dikorelasikan dengan kata “Qawl” (ucapan atau komunikasi), baligh bermakna pula fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Karena itu, prinsip “Qawlan Baligha” dapat diterjemahkan sebagai “Komunikasi Efektif”.

Selanjutnya ada tiga dasar dari komunikasi efektif yang dapat diterapkan dalam keluarga adalah:

Pertama, menyesuaikan pembicaraannya dengan sifat-sifat khalayak yang dihadapinya. Dalam istilah Al Quran, ia berbicara fi anfusihim (tentang diri mereka). Dalam istilah sunah: “Khatibinnaas ‘ala qadri ‘uqulihim, ‘ulumihim, wa lughatihim” yang artinya “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya, ilmunya dan bahasanya (kaumnya)”. Dalam bahasa Arab, ada ungkapan yang berbunyi: "Likulli maqam maqal, wa likulli maqal maqam" yang artinya: “Untuk setiap tempat ada ucapan yang sesuai dan untuk setiap ucapan ada tempat yang sesuai”.
Komunikasi antara suami kepada istri atau orangtua kepada anak hendaknya menyesuaikan dengan kemampuan berpikirnya atau usianya. Minimal dengan bahasa yang di mengerti, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah jika sudah tebiasa sejak kecil.
Hal ini selaras dengan Firman Allah dalam Al Quran yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka”. (Q.S. Ibrahim: 4)

Kedua, menyentuh komunikan pada hati dan pikirannya sekaligus. Dalam istilah bahasa Arab disebut “Maa Kharaja Minal Qalbi fa Dakhala ilal Qalbi” yang artinya “Sesuatu yang keluar dari hati, akan masuk pula ke dalam hati”.
Ini yang sangat berat yang umumnya sulit dilakukan oleh suami ke istri, istri ke suami, ataupun komunikasi kepada anak-anaknya. Ini adalah keteladanan juga, bahwa suatu yang keluar dari hati itu diawali yang masuk ke hati. Bahwa yang kita sampaikan terlebih dahulu kita pahami dan sudah berusaha kita amalkan.

“Ala wa inna fil-jasadi mudhgatan idza shalahat shalahal-jasadu kulluhu wa idza fasadat fasadal-jasadu kulluhu ala wa hiyal-qalbu.” Yang artinya: “Ingatlah, dan sesungguhnya di dalam hati itu terdapat segumpal darah. Jika ia baik, baik (pula) seluruh tubuh. Dan bila ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”. (Muttafaqun Alaih).
Idealnya suami sebagai pemimpin rumah tangga dalam berkomunikasi kepada istri dalam posisi membimbing dan memberi contoh. Istri harus se-frekuensi, saling mendukung dan melengkapi. Sebagai seorang ayah kepada anak menjadi teladan atas apa yang disampaikan (diperintahkan). Sebagai contoh, menyuruh anak ke masjid tetapi ayahnya tidak, menyuruh anaknya mengaji tetapi ibunya tidak, dan lainnya. “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff:3)

Ketiga, sampaikan dengan perlahan dan jelas Rasulullah berbicara perlahan, jelas, terang, mudah dihafal seperti kata Aisyah radiallahu anha: “Rasulullah ﷺ tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yaitu berbicara dengan cepat). Namun beliau berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya”. (H.R. Abu Daud)
Suami dan istri harus sama-sama punya niat untuk mengamalkan tauladan Rasulullah ini. Berbicaralah dengan perlahan dan jelas termasuk kepada anak anak kita. Jangan terburu-buru yang menjadi tidak jelas didengar oleh pasangan atau anak, terlebih lagi tidak dipungkiri bahwa gawai (gadget) membuat hubungan antara anggota keluarga yang “jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh”. Sebab, tidak sedikit pertengkaran terjadi karena salah paham yang bermula dari pembicaraan yang tidak jelas.
Rasulullah ﷺ dalam berkomunikasi selalu memperhatikan tingkat intelektualitas dan pemahaman lawan bicaranya. Bahkan beliau tak segan untuk mengulang perkataannya agar dapat dipahami lawan bicaranya. Anas bin Malik radiallahu anhu. berkata: “Rasulullah sering mengulang perkataannya tiga kali agar dapat dipahami”.

Demikian tiga dasar komunikasi yang efektif dalam keluarga menurut quran dan sunah. Dalam praktiknya tentunya kita tidak sesempurna Rasulullah, para sahabat beliau hingga para salafusalih dalam berkomunikasi di keluarga. Bahkan, bisa jadi kita memposisikan sebagai hamba yang lemah dengan khilaf dan salah sehinga seringkali salah dalam berkomunikasi. Dalam posisi ini peran apapun kita, suami, istri, ataupun orangtua kepada anaknya harus selalu belajar dan dan melatih komunikasi yang baik apalagi tujuannya sakinah mawadah warohmah yang membentuk generasi rabbani.

Ulama dan para asatidz serta praktisi parenting islam banyak memberikan ilmu dan pengembangan teknik komunikasi yang baik dan efektif dengan berbagai cara termasuk melalui media sosial. Selalu update pengetahuan dalam membina keluarga, mengikuti kajian-kajian parenting keislaman, bertanya berdiskusi dan bergaul dengan orang orang yang punya pengalaman, serta tentunya peran amal dan doa kita kepada Allah menjadi jurus pamungkas agar kita dimudahkan dalam berkomunikasi dalam keluarga.

Insyaa Allah dalam beberapa hari ke depan kita akan menyambut tamu agung bulan Ramadhan. Momentum untuk kembali menguatkan silaturahmi keluarga dan kerabat. Waktunya untuk kembali mengokohkan pondasi keislaman keluarga, berdiskusi, dan berkomunikasi dengan baik sesama anggota keluarga. Bersama-sama belajar kembali bagaimana peran suami dan istri serta peran orangtua bagi anak-anaknya. Mudah-mudahan dengan keikhlasan masing masing dari kita dengan niat untuk menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa akan membawa keluarga ke surga-Nya kelak. Aamiin.


Wallahu a’lam bishawab.
Pekanbaru, 20 Maret 2023

Selasa, 21 Februari 2023

MENJADI MANUSIA MULIA

”Wahai manusia sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S. Al Hujarat:13)

Kata “mulia” secara bahasa berarti tinggi atau tertinggi tentang kedudukan, pangkat, martabat, atau kekayaan. Bisa juga diartikan, dermawan, terhormat atau memiliki sifat terpuji, baik hati atau berbudi. Jika ini pengertiannya maka semua orang ingin hidupnya mulia. Dan tentu sebaliknya tak ada seorang pun yang ingin hidupnya sengsara apalagi hina. Mungkin sebagian besar manusia di dunia ini dalam mengukur kemuliaan hanya dari segi materi, kekayaan pribadi, memiliki rupa tampan atau cantik, ataupun jabatan yang tinggi.

Jika kita sandingkan mulia menurut bahasa dengan Surat Al Hujarat ayat 13 diatas maka manusia mulia adalah orang yang memiliki perilaku terpuji, yaitu orang-orang yang memuliakan dirinya dengan cara bertakwa kepada Allah ﷻ yaitu menjaga diri dari perbuatan maksiat tidak akan durhaka kepada Allah.

Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, beragam warna kulit bukan untuk saling menyombongkan atau merendahkan, tetapi supaya saling mengenal, melengkapi, menolong, melakukan sikap terpuji dan berbuat baik kepada sesama. Berbuat baik, terpuji, saling membantu, bermanfaat bagi sesama merupakan bagian yang bisa mendatangkan ketakwaan. Sebaliknya kesombongan, dengki, dusta, dan memperturutkan nafsu serta sifat buruk (fujur) lainnya dari manusia menjadikan dirinya hina di hadapan Allah ﷻ.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ ditanya, "Siapakah orang yang paling mulia?" "Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka," jawab Rasul. Orang tersebut berkata, "Bukan itu yang kami tanyakan”. "Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, Nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya," jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, "Bukan itu yang kami tanyakan." "Apa dari keturunan Arab?" tanya beliau. Mereka menjawab, "Iya betul." Beliau bersabda, "Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama)." (HR Bukhari).

Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi Al-Bantani mengungkapkan perkataan Yahya Ibn Mua’dz Radhiyallahu anhu sebagai berikut:
“Orang mulia (orang yang memiliki perilaku terpuji, yaitu orang-orang yang memuliakan dirinya dengan cara bertakwa kepada Allah ﷻ dan menjaga diri dari perbuatan maksiat) tidak akan durhaka kepada Allah.”

Sebelum manusia itu mulia dengan takwa, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang paling Allah muliakan, “Walaqad karramnaa banii aadama.” (QS. Al-Isra’: 70). Allah ﷻ menyebutkan bahwa dalam diri manusia ada sebagain ruh-Nya: “Wanafakhtu fiihi min ruuhi.” (QS. Shad: 72). Artinya, manusia secara fitrah memang sudah membawa keagungan Allah ﷻ.

Maka, tidak pantas manusia menghinakan dirinya dengan durhaka kepada Allah, melakukan kesyirikan dengan menyembah makhluk apalagi menyembah setan yang dilaknat oleh Allah ﷻ.

Isyarat yang paling kuat atas tingginya derajat manusia adalah ketika diperintahkannya malaikat bersujud kepada Nabi Adam, manusia pertama, “Bersujudlah kepada Adam, maka para malaikat bersujud kecuali iblis.” (QS al-Baqarah: 34).

Maksudnya sujud penghormatan bukan sujud ibadah. Ini untuk menunjukkan betapa tinggi dan mulianya derajat manusia di sisi Allah ﷻ. Dalam ayat itu tampak bahwa iblis tidak mau bersujud kepada nabi Adam, mengapa? Sebab, ia ingin dirinya dimuliakan dengan alasan karena ia diciptakan dari api, sementara Nabi Adam diciptakan dari tanah.

Padahal, kemuliaan itu bukan pada bahan penciptaan, melainkan pada ketakwaan dan ilmu, "Wa ‘allamaa aadamal asamaa kullaha.” (QS al-Baqarah: 31) dan “Iinna akramakum ‘indallahi atqaakum”, sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 tadi.

Kembali kepada manusia menjadi mulia dengan takwa, muncul pertanyaan kembali siapakah manusia yang paling mulia dengan akhlak yang paling terpuji dan agung, tentu jawabannya adalah Rasulullah Muhammad ﷺ. Keagungan akhlaknya tidak hanya tergambar dalam ucapannya, tetapi juga dalam tindakan dan perbuatannya.

Apakah setiap kita menjadi manusia yang mulia? tentu saja bisa. Namun, kemuliaan yang dicapai hendaklah seiring dengan kita mendapatkan keselamatan dunia akhirat. Lantas bagaimana kita bisa menjadi manusia mulia, jawabannya jelas jadilah manusia yang bertakwa dan bagaimana ketakwaan itu bisa muncul, yaitu:

1. Mencontoh Akhlak Rasul
Allah ﷻ telah menegaskan di dalam al-Quran:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam: 4)

Penegasan Allah ini merupakan pengakuan akan keagungan akhlaknya. Di dalam beberapa hadisnya pun beliau sendiri mengungkapkan keagungan ahklaknya itu.
“Sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk menyempurnakan akhlak yang agung.” (HR. Bukhari)
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR Ahmad)
“Tidak ada sesuatu yang paling berat timbangan orang Mukmin di akhirat nanti daripada akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi)


2. Melakukan Salat Malam
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzaariyaat :15-18)
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (mulia).” (QS. Al-Isra:79)
"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Swt pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah, seseorang yang berzikir dalam keadaan sepi hingga menetes air matanya.” (HR. Bukhari-Muslim).


3. Tidak Bergantung kepada Manusia
“Barang siapa yang mendatangkan keridaan manusia padahal Allah tidak rida maka Allah akan membuatnya bergantung kepada manusia. Barang siapa yang membuat manusia marah, tetapi itu dikarenakan menggapai rida Allah maka Allah akan mencukupkannya kepada manusia.” (HR. Ibnu Hibban).

Ketika manusia tidak bergantung ke selain apapun kecuali Allah, maka Allah ﷻ akan rida kepadanya dan Allah akan memudahkan apapun untuknya termasuk kemuliaan akan mengalir kepadanya.

4. Tawadu dan Meninggalkan Sifat Sombong
Berdasarkan hadis qudsi yang ditakhrij oleh Abu Dawud, dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Sombong itu selendang-Ku dan kebesaran itu sarung-Ku, barang siapa yang melawan-Ku dalam salah satunya maka ia Aku lemparkan ke dalam Neraka.”

Seseorang yang sombong, merasa dirinya lebih tinggi, dan berkedudukan mulia dari orang lain, akibatnya tidak mau menerima masukan ataupun kelebihan dari orang lain. Ia tidak mulia di mata manusia, terlebih lagi Allah ﷻ murka kepadanya. Naudzubillah.


Wallahu a’lam.

(TSH)
Pekanbaru, 21 Februari 2023

Rabu, 18 Januari 2023

NIKMAT YANG TERLUPA

Diberbagai kesempatan baik Syukur atas Nikmat Rasa Aman

Syukur atas Nikmat Rasa Aman

Di berbagai kesempatan, baik ketika momen pengajian, khutbah, seremoni, dan kegiatan lainnya, selalu disampaikan kalimat pembuka berupa ucapan syukur atas nikmat sehat, keislaman, keimanan, rezeki yang berkecukupan, dan nikmat-nikmat lainnya. Sering juga kalimat syukur tersebut ditambah kutipan firman Allah ﷻ:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Mungkin di antara kita, ketika mendengar ungkapan dan ayat tersebut, terenyuh sambil berucap, “Alhamdulillah”. Mungkin juga ada yang beristigfar atas kelalaian, kurangnya bersyukur, atau lupa atas nikmat-nikmat tersebut. Dan bisa jadi, di antara kita pun ada yang menganggap hal tersebut biasa saja, masuk ke telinga dan hilang begitu saja. Bahkan mungkin ada pula yang dengan congkaknya menganggap apa pun yang ada dan dimilikinya merupakan jerih payahnya tanpa merasa ada campur tangan Allah sedikit pun. Naudzubillah.

Dari berbagai nikmat yang kita rasakan dan tidak bisa kita hitung tersebut, ada satu nikmat yang pernah diungkapkan Rasulullah ﷺ sebagai nikmat besar yang sering dilupakan atau tidak diperhatikan. Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshari dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga, dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmizi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib)

Rasa aman inilah yang mungkin di antara kita tidak menyadari bahwa itu bagian dari nikmat. Rasa aman itu dimulai dari diri kita yang mudah dan tenang dalam beribadah dan beraktivitas lainnya. Di masyarakat, kita mudah bergaul, memiliki tetangga yang baik, lingkungan yang baik, hingga aman untuk berjalan ke masjid di gelapnya malam ketika berjamaah subuh.

Bandingkan dengan negara yang saat ini sedang konflik: Palestina, perang Rusia dan Ukraina, atau pelosok negara lain yang sedang berkecamuk perang saudara. Tentunya sangat patut kita berucap syukur bahwa negara Indonesia masih relatif aman dan tenteram. Bahwa kejahatan, tindak pidana, dan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan memang ada dan selalu ada, seiring dengan perilaku manusia secara umum—jahat, tamak, rakus, hasad, sombong, dan sifat lainnya yang merupakan sunatullah hingga akhir zaman.

Kita pun tidak bisa menyamaratakan kondisi setiap orang dalam memahami rasa aman di Indonesia, di lingkungan masyarakat, atau di rumahnya. Bisa jadi saat ini di antara kita ada yang sedang mengalami musibah, baik yang disebabkan oleh manusia maupun bencana alam. Namun, di sinilah peran agama sebagai wasilah hubungan makhluk dan Sang Khalik harusnya berjalan. Ketika kita sebagai muslim seharusnya memahami bahwa ada sabar dan syukur sebagai jawaban untuk itu. Sekalipun bagi sebagian orang ada yang menganggap dirinya tidak pernah lepas dari musibah, namun pasti rasa aman itu ada atau pernah ada, tetapi tidak disadarinya.

Rasa aman itu adalah suatu nikmat yang tidak boleh kita ingkari. Manakala kita mengingkarinya, Allah akan memberikan rasa ketidakamanan (rasa takut) dan kelaparan dalam berbagai bentuk atau kondisi yang tidak bisa diduga. Firman Allah ﷻ:

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit (1) ketakutan, (2) kelaparan, (3) kekurangan harta, (4) jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Sudah banyak kisah dan contoh bagaimana Allah ﷻ mencabut rasa aman umat terdahulu hingga sekarang. Dahulu, saat seseorang berkuasa melakukan kezaliman dan semena-mena, semua bisa diatur; tidak ada rasa takut dalam berbuat kejahatan. Namun setelahnya Allah cabut rasa aman itu dengan mendatangkan rasa takut melalui berbagai hukuman dunia dan hukuman di akhirat kelak. Di kalangan masyarakat umum pun kita pernah melihat, bahkan mengalami, dan mungkin lebih banyak contohnya.

“Maka, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di malam hari, di waktu mereka sedang tidur? Atau, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami kepada mereka di waktu dhuha, ketika mereka sedang bermain-main? Maka, apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 97–99)

Kepekaan dalam melihat nikmat rasa aman ini mungkin berbeda bagi setiap orang. Dalam Islam, kadar keimanan menjadi pembeda setiap muslim dalam melihat nikmat iman ini. Ketika keimanan tinggi, musibah pun dirasakan sebagai nikmat, seperti judul novel Sengsara Membawa Nikmat. Namun, sebaliknya, bagi orang yang kadar imannya rendah, musibah merupakan azab. Ketakutan selalu muncul, tidak tenang, gerutu, sumpah serapah, prasangka buruk kepada Allah, kufur nikmat, dan lainnya.

Orang yang beriman bisa menciptakan rasa aman. Ketika imannya tidak dicampuradukkan dengan kezaliman, maka keamanan akan datang. Petunjuk (hidayah) untuk menyelesaikan rasa takut hadir seiring ketakwaan yang mereka bangun. Tidak mencampuri imannya dengan kezaliman adalah tidak berbuat syirik dan menghindari semua maksiat yang merupakan lawan dari iman. Firman Allah ﷻ:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mere Pekanbaru, 18 Januari 2023
(TSH)

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...