Selasa, 16 Mei 2023

“Memburu” Malam Lailatul Qadar

[17.53, 14/4/2023, Late Post]
Allah ﷻ memberikan keutamaan pada sebagian makhluk-Nya di atas sebagian lainnya. Meninggikan derajat sebagian makhluknya atas sebagian yang lain. Dia Allah ﷻ mengutamakan sebagian hari dan bulan atas sebagian yang lain, dengan menjadikan sepuluh hari pertama dari Dzul Hijah sebagai hari-hari yang paling utama, sedangkan sebaik-baik hari dalam sepekan adalah hari Jumat. Dia mengutamakan bulan Ramadan atas bulan-bulan lainnya, dan menjadikan sepuluh malam terakhir darinya sebagai sebaik-baik malam. Sementara malam paling utama di antara sepuluh malam itu adalah Lailatul Qadar, dan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Menggapai Lailatul Qadar tidak boleh dipisahkan dengan kesungguhan dalam beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan. “Dari Aisyah ra, Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada 10 hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim).

Sebagai seorang muslim sejatinya adalah menutup amalan Ramadan dengan amalan terbaik. “Sungguh (baik atau buruknya) amalan itu tergantung dari penutupnya. (HR. Bukhari-Muslim)

Lailatul Qadar itu terjadi dari waktu malam dimulai yaitu tenggelamnya matahari hingga terbit fajar shubuh. Dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5)

"Barang siapa yang pada malam lailatul qadar mengerjakan ibadah dan berdoa dengan penuh keimanan yang dipersembahkan semata-mata untuk Allah, akan diampuni dari segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang." (HR Ahmad dan Thabrani).

Bagaimana cara menggapai dan menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Maksud dari menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan sebagian besar waktu malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam (saat terbenam sampai fajar).

Ada ulama yang mengatakan bahwa menghidupkannya bisa hanya sesaat.
Sebagaimana dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas disebutkan, “Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.” Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan, “Siapa yang menghadiri shalat berjama’ah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.”

Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.” Semua perkataan di atas diambil dari Lathaif Al-Ma’arif.

Ini sejalan dengan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim).

Tips menggapai malam Lailatul Qadar tentunya mengisi malam-malamnya dengan ibadah. Kesungguhan Ibadah di sepuluh hari terakhir dilakukan melalui i'tikaf di masjid.

Rasulullah melakukan i'tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i'tikaf setelah beliau wafat." (HR Muslim)

Dalam i'tikaf hendaknya setiap muslim secara konsisten dengan mendirikan salat, membaca al Quran, berzikir, muhasabah, bersedekah atau berdoa. Tentunya tanpa mengabaikan di siang haripun tetap di maksimalkan untuk beribadah karena keutamaan sepuluh hari terakhir tadi.

Lantas bagaimana mana dengan wanita yang sedang haid atau nifas.
v "Jubair berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Adh-Dhahhak, bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang sedang nifas, haid, orang yang bepergian (musafir), dan orang tidur, apakah mereka bisa memperoleh bagian dari Lailatulqadar? Jawabnya, ya, mereka masih bisa memperoleh bagian. Setiap orang yang Allah SWT menerima amalnya maka Allah SWT akan memberikan bagiannya dari Lailatulqadar,'" [Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha`iful Ma'arif fima Limawasimil 'Am minal Wazha`if, halaman 264]

Amalan apa yang dilakukan ketika i'tikaf untuk menggapai Lailatul Qadar:

1. Salat fardu berjaamaah di awal waktu dan salat sunah. Salat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah ﷻ, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

2. Membaca al Quran. “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan dengan membaca tersebut. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan di setiap satu huruf: akan tetapi Alif satu huruf, lam satu. Aku tidak mengatakan bahwa (yang dimaksud huruf) berarti Mim (dimaknai) satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

3. Perbanyak zikir. Abu Ad Darda meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidakkah aku akan memberitahumu tentang tindakan terbaikmu, yang paling murni di hadapan Tuhanmu, yang menaikkan peringkatmu ke posisi tertinggi, yang lebih baik bagimu daripada menghabiskan emas dan perak, lebih baik daripada bertemu musuhmu sehingga kau menyerang di leher mereka dan mereka menyerang Anda? 'Mereka menjawab, 'Ya, memang', lalu Nabi bersabda, Itu adalah mengingat Allah." (HR. At-Tirmidzi)

4. Perbanyak Doa. mengamalkan do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita ﷺ jikalau kita bertemu dengan malam Lailatul Qadar yaitu do’a: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).

5. Istighfar. Setiap Muslim dianjurkan agar menutup Ramadan dengan memperbanyak istighfar pada sepuluh malam terakhir ini, yaitu dengan memohon ampunan, dan doa orang yang berpuasa itu mustajab pada saat puasanya dan berbukanya. Istighfar adalah penutup amal-amal salih. Salat, haji dan qiyamul lail ditutup dengannya, begitu juga dengan suatu majelis, ia ditutup dengannya. Demikian pula hendaknya seorang Muslim menutup puasa Ramadan dengan istighfar. Karena itu, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada penduduk negerinya (ketika menjadi khalifah) memerintahkan mereka supaya menutup Ramadan dengan istighfar dan membayar zakat fitrah. Sebab, zakat fitrah itu menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan keji, sedangkan istighfar menambal apa yang terkoyak dari puasa itu karena perkataan sia-sia dan keji. Istighfar yang paling bermanfaat ialah yang diiringi dengan taubat, meninggalkan kemaksiatan, menyesalinva, bertekad untuk tidak mengulanginya kembali, dan mengembalikan hak-hak yang dizalimi kepada orang yang berhak menerimanya apabila dosa itu berkenaan dengan orang lain.

Kapan datangnya malam Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, dan berpindah-pindah di antara malam-malam itu. Akan tetap berlangsung setiap tahun hingga hari kiamat. Karena itu, hendaknya setiap Muslim bersungguh-sungguh dalam mencarinya di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan demi mencari pahala, dan meraih keutamaannya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi, "Sungguh aku diperlihatkan pada Lailatul Qadar, lalu aku dilupakan, maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir yang ganjil."(HR. Bukhari)

Lailatul Qadar terjadi pada malam- malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dan berpindah-pindah diantara malam-malam ganjil itu. la tidak dikhususkan pada malam tertentu dalam semua tahun. Adakalanya di suatu tahun Lailatul Qadarnya terdapat pada malam ke-27, di tahun yang lain pada malam ke-21, di tahun yang lain pada malam ke-23, atau selainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di malam yang ganjil." (HR. Bukhari)

Dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar di tujuh malam terakhir, karena malam-malam ini terdapat kemungkinan lebih besar daripada malam-malam lainnya. Hal ini berdasarkan hadits, “Carilah (Lailatul Qadar) pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang dari kalian lemah atau tidak mampu, maka janganlah ia terkalahkan (menyerah) untuk mencari pada tujuh malam tersisa (HR. Bukhari-Muslim)

Yuk, perbanyak shalat sunah, perbanyak doa, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni, perbanyak tilawah al-Qur’an, perbanyak zikir, dan perbanyak istighfar.

Semoga kita dimudahkan meraih keutamaan Lailatul Qadar yang ibadah di dalamnya dapat dilipatgandakan hingga seribu bulan ibadah. Aamin Yaa Mujibbas Saa-ilin.

Wallahu a’lam
Pekanbaru, hari ke-23 Ramadan 1444 H

Sumber: 38 Faidah fil ‘asyril awakhiri wa lailatul qadar. Muhammad Shalih al-Munajjid

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...