Ramadan telah berlalu, diantara kita ada yang sedih, ada yang gembira, dan ada pula yang biasa-biasa saja. Sejatinya sebagai seorang muslim tentu sedih, karena kita meninggalkan bulan mulia yang di dalamnya penuh berbagai kenikmatan dan pahala dan tidak ada jaminan kita bertemu tahun yang akan datang. Disana terdapat ladang-ladang pahala tak terbatas dengan jaminan Surga, bahkan ada satu malam yang jika kita beribadahnya mendapatkan keutamaan seribu bulan. Masha Allah.
Apakah puasa kita diterima? apakah tilawah dan qiyam kita diterima? apakah sedekah dan amalan-amalan lainnya diterima? Siapa yang menjamin itu karena bisa jadi tanpa kita sadari saat puasa kita masih melakukan kemaksiatan, mata, telinga, tangan kaki yang khilaf tidak terjaga, ketika beramal masih ada riya, dan seterusnya. Kuncinya prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dengan berdoa:
"Allahumma taqabbal minna siyamana wa qiyaamana wa ṣalaatana wa ja'alna min al-mutaqabbalīn. Allahumma baarik lana fi Syawwal wa Rabbizzidna min hasanaatina wa tub 'alaina. Allahumma waffir lana fi ma baqiya min umurina thaa'atika wa husna 'ibaadatika wa-j'alna min al-muhsinina ilaika"
Artinya: "Ya Allah, terima kasih atas bulan Ramadan yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Kami berharap agar semua puasa, shalat, dan ibadah yang kami lakukan selama bulan Ramadan ini diterima oleh-Mu dan Engkau menjadikan kami sebagai hamba-Mu yang terbaik. Ya Allah, berkatilah bulan Syawal kami dan tambahkanlah pahala kebaikan kami. Maafkanlah dosa dan kesalahan kami dan jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang terbaik dalam semua hal. Amin"
Konsistensi amalan setelah Ramadan wajib kita jaga. Bahwa konsistensi itu bukan berarti amalan harus sama bahkan lebih dari amalan yang kita lakukan saat Ramadan lalu, namun bandingannya adalah apakah amalan kita setelah Ramadan lebih baik dari sebelum Ramadan. Kita sadari nuansa Ramadan berbeda dengan bulan-bulan lainnya, disana ada pahala yang berlimpah, disana ada kemudahan beramal karena syaitan di belunggu dan seterusnya.
Bahwa konsistensi pasca Ramadan itu adalah bagaimana kita mampu menjaga amalan yang kita lakukan di bulan Ramadan bukan dari kuantitasnya tapi kualitasnya. Saat Ramadan kita mampu membaca quran setiap hari satu dua Juz, pasca Ramadan sesibuk apapun kita minimal satu dua halaman kita harus baca. Saat Ramadan kita mampu memaksimalkan sedekah setiap hari, pasca Ramadan pun kita tetap menyisihkan harta kita walau sedikit untuk sedekah setiap harinya. Begipula dengan puasa-puasa sunah, salat disepertiga malam, dan ibadah sunah lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya: Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ وَكَانَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ
"Kerjakanlah suatu amalan itu sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidak akan bosan sehingga diri kalianlah yang bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus menerus walaupun sedikit." Apabila beliau mengerjakan suatu amalan, beliau akan mengerjakannya secara rutin." (HR. Abu Daud).
Hadis ini menggambarkan pentingnya melakukan amalan secara rutin. Hasan al-Bashri, seorang ulama yang diberi julukan singa podium pernah mengatakan, "Jika setan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, maka ia pun akan menjauhimu. Namun, setan melihatmu beramal, kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, bahkan engkau melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak untuk menggodamu."
Lantas bagaimana kita bisa menjaga konsistensi (istiqamah) dalam beribadah? Kata ulama setidaknya minimal ada 3 yang harus dilakukan:
1. Berusaha menjaga takwa setiap saat, karena sebaik bekal adalah takwa. Takwa memelihara kehidupan di dunia dan mengantarkan kita ke Surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka.” (QS ath-Thur: 17-18).
Takwa diawali dengan keikhlasan dalam penghambaan seraya selalu meminta keteguhan iman kepada Allah, "Dari Anas RA berkata, adalah Rasulullah ﷺ memperbanyak doa, Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu. Anas berkata: Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang datang padamu, apa yang kau khawatirkan? Beliau bersabda: Ya, sesungguhnya hati itu ada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Allah membolak-balikkan kepada yang dikehendaki-Nya," (HR. Tirmidzi).
Ketika hati mudah dibolak balikan oleh syaitan kita akan berada dalam kemudahan berbuat maksiat, sangat sulit melakukan amalan-amalan apalagi untuk konsisten. Takwa menjaga amalan kita terpelihara sekaligus menjadikan kita hamba yang dimuliakan Allah. Baca lengkapnya di menjadi-manusia-mulia
2. Mengingat kematian. Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, dan setelah kematian segala apapun yang kita lakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan ke hadapan Allah. Firman Allah ﷻ, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al Ankabut: 57).
"Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jumu'ah: 8).
Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).
“Maksud dari mengingat kematian yaitu menjadikannya sering teringat dalam pikiran kita, agar kita menyiapkan bekal. Maksud dari ‘pemutus’ yaitu memutuskan kelezatan di dunia dan mendekatkan dengan kelezatan akhirat” (Syarh Bulughul Maram, Kitab Al-Janaiz).
Ketika setiap muslim meyakini tidak jaminan ia akan hidup besok, bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi satu, dua jam ke depan maka ia akan berusaha di setiap waktu kehidupannya dalam kebaikan. Disetiap ibadahnya penuh keihlasan, dengan secara konsisten menjaga amalan-amalan terbaiknya dan tentunya berusaha untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan kepada Allah ﷻ.
Sabda Rasulullah, “Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).
3. Bergaul dengan orang salih. Hanya teman-teman yang salih yang bisa mengingatkan dan menasihati agar kita tetap konsisten dalam keimanan dan istiqamah dalam amal kebaikan. Seyogyanya kita bisa berkumpul dengan mereka, berinteraksi aktif dalam komunitas-komunitas yang baik. Cari mereka dalam kegiatan pengajian atau taklim di masjid, dalam organisasi-organisasi islam, kelompok-kelompok kajian ilmiah baik tergabung dalam grup online (medsos) ataupun offline. Silaturahmi dengan mereka, diharapkan bagian yang tidak terpisahkan dengan aktifitas pekanan kita. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sementara Imam Syafi'i berkata, "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali."
Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu
حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون…
“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka (para sahabat mukmin) memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji…”[HR Muslim 183]
Al Hasan Al Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat."
Sementara Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, 'Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukanlah dia bersama kami di surga-Mu."
Semoga kita bisa menjaga konsistensi beribadah pasca Ramadan untuk menyambut 11 bulan berikutnya, amin.
Wallahu a’lam.
Pekanbaru, 16 Mei 2023
Sumber: https://pijarpunbenderang.blogspot.com/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...
-
Melanjutkan tulisan sebelumnya ayah-jangan-bisu , didalamnya tertulis kesimpulan: “Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahi...
-
Empat Pertanyaan di Hari Kiamat Empat Pertanyaan di Hari Kiamat: Bekal yang Tak Boleh Kita Abaikan 🌙 Dark Mod...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar