Minggu, 13 November 2022

ADAB-ADAB YANG DIREMEHKAN

Hadis ke 15 dalam Kitab Syarah Hadis Arbain an-Nawawiyah, menyebutkan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ﷺ bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan salah satu hadis dari empat hadis berkaitan dengan etika yang baik dalam Islam. Hadis ini mengandung tiga adab penting dalam Islam yang mungkin sering diremehkan diantara umat Islam. Tulisan sebelumnya menyebutkan yang dapat menurunkan Rahmat Allah ﷻ adalah salah satunya tidak meremehkan kebaikan (amal) sekecil apapun.

Pertama: Berkata yang baik atau diam
Lisan adalah anggota badan yang paling banyak melakukan aktivitas, paling banyak mendatangkan pahala, dan paling banyak pula menyebabkan dosa. Lisan termasuk nikmat Allah yang paling aneh, lembut, dan ajaib. Kecil bentuknya, tetapi besar ketaatan dan dosanya. Pasalnya, tidak jelas mana yang kufur dan mana yang iman, kecuali dengan kesaksian lisan.

Barangsiapa melepaskan lisan dan membiarkan tali kendalinya, setan akan menjerumuskannya dalam berbagai arena, hingga ke tepi jurang yang mengantarkannya pada kehancuran. Tak ada yang selamat dari keburukan lisan, kecuali orang yang mengikatnya dengan sabuk syariat dan tidak melepaskannya kecuali dalam hal-hal yang bermanfaat baginya.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa jika seseorang ingin bicara, hendaklah ia berpikir terlebih dulu. Bila pembicaraan itu mendatangkan manfaat, maka silakan dilanjutkan. Namun, bila pembicaraan itu menyebabkan mudarat, hendaklah ia tinggalkan.

Ini juga berlaku ketika kita bergaul di medsos atau di grup-grup online yang ingin berkomentar atas suatu topik pembicaraan atau sekedar men-share sesuatu. Jari-jari kita perlu ditahan untuk tidak mudah memberikan komentar atas hal yang belum jelas atau tidak kita pahami.

Selain hadis di atas, banyak hadis lain yang mengisyaratkan keutamaan diam, di antaranya hadis Sufyan ats-Tsaqafi. la berkata:
"Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan atasku?" Beliau menjawab, "Ini (sambil memegang lisannya)." (HR. Tirmidzi)

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan kita:
"Orang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari-Muslim)

Seyogianya manusia berbicara sesuai kebutuhan. Sebagaimana pula ia tidak perlu menafkahkan sebagian dari hasil usahanya, kecuali sesuai dengan kebutuhan. Kita tidak akan bisa menggapai hakikat keimanan, hingga kita mampu menjaga lisan kita. Keimanan kita juga tidak akan lurus, hingga hati kita lurus. Hati pun tidak akan lurus, hingga perkataan kita lurus. Kita mesti sadar bahwa apa saja yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Tidaklah ada suatu ucapan yang keluar dari lisan kita, melainkan ada malaikat pengawas yang selalu mencatatnya. Allah ﷻ berfirman, yang artinya: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya." (QS. Al-Isra: 36)

Allah ﷻ juga berfirman, yang artinya:
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 18)

Begitu banyak kebaikan yang disebabkan oleh lisan, tapi banyak pula kerusakan dan kesengsaraan yang ia akibatkan. Kala lisan kita enggan untuk berbicara baik, saat itulah kita lebih baik diam. Karena banyak bicara akan menyebabkan kita banyak salah, dan banyak salah akan menyebabkan kita banyak dosa.

Adab dalam bicara
Kita tentu ingin menjadi mukmin yang memiliki iman sempurna. Untuk itu, kita mesti mengetahui adab-adab dalam bicara. Sebab, iman seorang mukmin baru dikatakan sempurna apabila ia mampu membatasi lisannya dengan perkataan yang baik. Berikut ini kami akan menyampaikan beberapa adab dalam bicara.
1) Hanya membicarakan hal-hal yang berguna dan menjauhi perkataan yang diharamkan. Allah ﷻ berfirman tatkala menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang beriman, yang artinya: "Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna." (al-Mu'minun: 3) Maksud perkataan yang tiada guna di sini adalah perkataan yang batil dan diharamkan oleh Allah. Misalnya ghibah, adu domba, mencaci orang lain, dan sebagainya.
2) Tidak berlebihan dalam membicarakan hal-hal yang mubah. Karena hal ini dapat menjerumuskan kita dalam perbuatan haram atau makruh. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Nabi, beliau bersabda, yang artinya: "Janganlah kalian memperbanyak pembicaraan selain zikir kepada Allah ﷻ. Karena memperbanyak pembicaraan selain zikir kepada Allah menyebabkan hati menjadi keras. Padahal, sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah yang paling keras hatinya."
3) Bicara hanya ketika dibutuhkan saja. Misalnya, ketika menjelaskan kebenaran, menyampaikan kebaikan kepada oranglain, atau mencegahnya dari perbuatan maksiat.

Kedua: Menghormati dan memuliakan tetangga
Islam memerintahkan umatnya agar menghormati dan memuliakan tetangga. Allah ﷻ berfirman, yang artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib- kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat." (QS. An-Nisa: 36)

Bahkan, perhatian Islam kepada tetangga sampai pada tingkatan yang tiada tandingannya dalam sejarah hubungan sosial manusia. Hal ini bisa kita lihat dalam hadis Nabi, "Jibril senantiasa mewasiatiku tentang tetangga, sehingga aku mengira bahwa ia akan menjadikannya sebagai ahli waris." (HR. Bukhari Muslim)

Tetangga itu mengandung empat arti:
1) Orang yang tinggal serumah dengan kita.
2) Orang yang rumahnya menempel dengan rumah kita.
3) Empat puluh orang yang rumahnya terletak di samping rumah kita.
4) Orang yang tinggal satu negeri bersama kita.

Para ulama mengatakan, "Jika tetangga itu Muslim sekaligus kerabat, maka ia memiliki tiga hak, yaitu hak ketetanggaan, hak keislaman, dan hak kekerabatan. Jika ia seorang Muslim yang bukan kerabat, maka ia mempunyai dua hak, yaitu hak ketetanggaan dan hak keislaman. Jika ia seorang kafir yang bukan kerabat, maka ia mempunyai satu hak, yaitu hak ketetanggaan."

Dalam hadis yang lain dianjurkan pula kepada tetangga memberikan makanan atau hadiah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Saling memberi hadiah kalian, karena sesungguhnya saling memberi hadiah itu bisa menghilangkan dendam dalam hati, dan jangan sekali-kali meremehkan seseorang kepada tetangganya meskipun dengan sebagian teracak kaki kambing.”

Dilanjutkan lagi bagi tetangga sipenerima hadiaha atau makanan. “Wahai para wanita muslimah, janganlah seorang tetangga memandang rendah pemberian tetangganya, walaupun hanya kaki kambing. (HR. Bukhari)

Demikianlah indahnya ajaran Islam. Ia tidak hanya mengatur kehidupan pribadi kita, tapi juga mengatur kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Islam mengajari kita untuk menghormati dan memuliakan tetangga. Tidak akan masuk surga, sesuai sabda Nabi, “orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”.

Ketiga: Memuliakan tamu
Islam memerintahkan kita untuk memuliakan tamu, sebagaimana terlukis dalam sabda Nabi di atas, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya."

Di antara bentuk memuliakan tamu adalah menyambutnya dengan baik dan menjamunya. Kewajiban menerima dan menjamu tamu adalah sehari semalam, sedang selebihnya hukumnya sunah. Termasuk ketika menjamu tamu dengan makanan terbaik. Rasulullah ﷺ bersabda, “Makanlah bersama-sama dan jangan terpisah, sebab rahmat Allah ada dalam kebersamaan.” (HR Ibnu Majah)

Orang yang bertamu dianjurkan agar tidak banyak merepotkan tuan rumah. Bila ia menginap sampai tiga hari, hendaklah ia meminta izin kepada tuan rumah agar tidak menyebabkan tuan rumah terbebani.

Perhatian Islam terhadap tetangga dan tamu semakin mengukuhkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Karena ia tidak hanya mencakup pelaksanaan hak-hak Allah ﷻ, tapi juga hak-hak manusia. Semoga kita bisa merasakan manisnya hidup ini dengan menunaikan hak-hak-Nya dan hak-hak manusia.

Kesimpulan Hadis:
1) Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.
2) Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang di kalangan individu masyarakat Muslim.
3) Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.
4) Islam sangat menjaga agar seorang Muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.
5) Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangga, memperhatikannya, serta tidak menyakitinya.
6) Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang benar dan beramar makruf nahi mungkar.
7) Memuliakan tamu termasuk di antara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmen terhadap syariat Islam.

Wallahu a’lam
Pekanbaru, 14 November 2022

(Disadur dari Buku Syarah Hadis Arbain An-Nawawiyah yang ditulis Ustadz Muhammad Suhadi, Lc., dengan beberapa penambahan)

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...