Selasa, 21 Februari 2023

MENJADI MANUSIA MULIA

”Wahai manusia sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S. Al Hujarat:13)

Kata “mulia” secara bahasa berarti tinggi atau tertinggi tentang kedudukan, pangkat, martabat, atau kekayaan. Bisa juga diartikan, dermawan, terhormat atau memiliki sifat terpuji, baik hati atau berbudi. Jika ini pengertiannya maka semua orang ingin hidupnya mulia. Dan tentu sebaliknya tak ada seorang pun yang ingin hidupnya sengsara apalagi hina. Mungkin sebagian besar manusia di dunia ini dalam mengukur kemuliaan hanya dari segi materi, kekayaan pribadi, memiliki rupa tampan atau cantik, ataupun jabatan yang tinggi.

Jika kita sandingkan mulia menurut bahasa dengan Surat Al Hujarat ayat 13 diatas maka manusia mulia adalah orang yang memiliki perilaku terpuji, yaitu orang-orang yang memuliakan dirinya dengan cara bertakwa kepada Allah ﷻ yaitu menjaga diri dari perbuatan maksiat tidak akan durhaka kepada Allah.

Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, beragam warna kulit bukan untuk saling menyombongkan atau merendahkan, tetapi supaya saling mengenal, melengkapi, menolong, melakukan sikap terpuji dan berbuat baik kepada sesama. Berbuat baik, terpuji, saling membantu, bermanfaat bagi sesama merupakan bagian yang bisa mendatangkan ketakwaan. Sebaliknya kesombongan, dengki, dusta, dan memperturutkan nafsu serta sifat buruk (fujur) lainnya dari manusia menjadikan dirinya hina di hadapan Allah ﷻ.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ ditanya, "Siapakah orang yang paling mulia?" "Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka," jawab Rasul. Orang tersebut berkata, "Bukan itu yang kami tanyakan”. "Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, Nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya," jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, "Bukan itu yang kami tanyakan." "Apa dari keturunan Arab?" tanya beliau. Mereka menjawab, "Iya betul." Beliau bersabda, "Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama)." (HR Bukhari).

Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi Al-Bantani mengungkapkan perkataan Yahya Ibn Mua’dz Radhiyallahu anhu sebagai berikut:
“Orang mulia (orang yang memiliki perilaku terpuji, yaitu orang-orang yang memuliakan dirinya dengan cara bertakwa kepada Allah ﷻ dan menjaga diri dari perbuatan maksiat) tidak akan durhaka kepada Allah.”

Sebelum manusia itu mulia dengan takwa, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang paling Allah muliakan, “Walaqad karramnaa banii aadama.” (QS. Al-Isra’: 70). Allah ﷻ menyebutkan bahwa dalam diri manusia ada sebagain ruh-Nya: “Wanafakhtu fiihi min ruuhi.” (QS. Shad: 72). Artinya, manusia secara fitrah memang sudah membawa keagungan Allah ﷻ.

Maka, tidak pantas manusia menghinakan dirinya dengan durhaka kepada Allah, melakukan kesyirikan dengan menyembah makhluk apalagi menyembah setan yang dilaknat oleh Allah ﷻ.

Isyarat yang paling kuat atas tingginya derajat manusia adalah ketika diperintahkannya malaikat bersujud kepada Nabi Adam, manusia pertama, “Bersujudlah kepada Adam, maka para malaikat bersujud kecuali iblis.” (QS al-Baqarah: 34).

Maksudnya sujud penghormatan bukan sujud ibadah. Ini untuk menunjukkan betapa tinggi dan mulianya derajat manusia di sisi Allah ﷻ. Dalam ayat itu tampak bahwa iblis tidak mau bersujud kepada nabi Adam, mengapa? Sebab, ia ingin dirinya dimuliakan dengan alasan karena ia diciptakan dari api, sementara Nabi Adam diciptakan dari tanah.

Padahal, kemuliaan itu bukan pada bahan penciptaan, melainkan pada ketakwaan dan ilmu, "Wa ‘allamaa aadamal asamaa kullaha.” (QS al-Baqarah: 31) dan “Iinna akramakum ‘indallahi atqaakum”, sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 tadi.

Kembali kepada manusia menjadi mulia dengan takwa, muncul pertanyaan kembali siapakah manusia yang paling mulia dengan akhlak yang paling terpuji dan agung, tentu jawabannya adalah Rasulullah Muhammad ﷺ. Keagungan akhlaknya tidak hanya tergambar dalam ucapannya, tetapi juga dalam tindakan dan perbuatannya.

Apakah setiap kita menjadi manusia yang mulia? tentu saja bisa. Namun, kemuliaan yang dicapai hendaklah seiring dengan kita mendapatkan keselamatan dunia akhirat. Lantas bagaimana kita bisa menjadi manusia mulia, jawabannya jelas jadilah manusia yang bertakwa dan bagaimana ketakwaan itu bisa muncul, yaitu:

1. Mencontoh Akhlak Rasul
Allah ﷻ telah menegaskan di dalam al-Quran:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam: 4)

Penegasan Allah ini merupakan pengakuan akan keagungan akhlaknya. Di dalam beberapa hadisnya pun beliau sendiri mengungkapkan keagungan ahklaknya itu.
“Sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk menyempurnakan akhlak yang agung.” (HR. Bukhari)
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR Ahmad)
“Tidak ada sesuatu yang paling berat timbangan orang Mukmin di akhirat nanti daripada akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi)


2. Melakukan Salat Malam
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzaariyaat :15-18)
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (mulia).” (QS. Al-Isra:79)
"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Swt pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah, seseorang yang berzikir dalam keadaan sepi hingga menetes air matanya.” (HR. Bukhari-Muslim).


3. Tidak Bergantung kepada Manusia
“Barang siapa yang mendatangkan keridaan manusia padahal Allah tidak rida maka Allah akan membuatnya bergantung kepada manusia. Barang siapa yang membuat manusia marah, tetapi itu dikarenakan menggapai rida Allah maka Allah akan mencukupkannya kepada manusia.” (HR. Ibnu Hibban).

Ketika manusia tidak bergantung ke selain apapun kecuali Allah, maka Allah ﷻ akan rida kepadanya dan Allah akan memudahkan apapun untuknya termasuk kemuliaan akan mengalir kepadanya.

4. Tawadu dan Meninggalkan Sifat Sombong
Berdasarkan hadis qudsi yang ditakhrij oleh Abu Dawud, dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Sombong itu selendang-Ku dan kebesaran itu sarung-Ku, barang siapa yang melawan-Ku dalam salah satunya maka ia Aku lemparkan ke dalam Neraka.”

Seseorang yang sombong, merasa dirinya lebih tinggi, dan berkedudukan mulia dari orang lain, akibatnya tidak mau menerima masukan ataupun kelebihan dari orang lain. Ia tidak mulia di mata manusia, terlebih lagi Allah ﷻ murka kepadanya. Naudzubillah.


Wallahu a’lam.

(TSH)
Pekanbaru, 21 Februari 2023

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...