Minggu, 28 Desember 2014

MENGAPA SAYA TIDAK INGAT?
Seri Kajian Islam - Ma'rifatul Insan

Pernah dalam suatu Tanya jawab seorang Ulama*) menyampaikan firman Allah:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS.7:172)

Seorang atheis menyanggah : ” mengapa saya tidak ingat, tidak ada siapapun (termasuk Tuhan) yang bertanya itu kepada saya”.
Ulama tersebut menjawab: “brother, setiap manusia telah ditanya, kemudian ingatan itu dihilangkan”. “manusia itu bodoh, saya dan engkau bodoh mengikuti ujianNya (baca:hidup di dunia), firman Allah:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.(QS.7:72)

Lanjut beliau : “Sekarang, ketika engkau (baca:si atheis) sudah ikut ujianNya dan mengikuti perintah Tuhan, engkau telah lebih mulia dari malaikat, tapi ketika engkau menentang Allah maka engkau lebih hina dari para malaikat”.
Kata beliau lagi : ”engkau bilang tidak ingat Tuhan pernah bertanya itu, saya pun tidak ingat ditanya itu, karena ketika kita ingat (baca:persaksian), ketika kita tahu akhir dari kita surga atau neraka, diamanakah letak "ujiannya"?

“Tapi saya percaya Quran", lanjut beliau kembali. "nanti di hari kiamat tidak ada siapapun termasuk engkau yang dapat menentang pengadilan Tuhan, Firman Allah”:

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”.(QS.23:99-100)

Siapa pun diantara kita tidak ada yang ingat ketika Allah mengambil persaksian kita, namun kita akan ingat atas persaksian itu ketika kita mati.

Ibarat ketika kita mengikuti ujian dikelas tentunya semua ilmu yang diujikan ada dalam buku dan catatan, dan ketika ada soal yang kita tidak tahu jawabannya, apakah memang kita tidak mau tahu atau tidak ingat? Dan kalau kita paksa untuk menjawab soal tersebut saat ujian dengan jawaban yang benar maka tentunya kita mencontek dan ini terlarang. Jadi kapan kita bisa mengetahui atau mengingat jawaban yang benar tersebut. Ya, setelah ujian selesai dan kita bisa membuka buku atau catatannya. Ujian selesai itulah “kematian”.

Ketika manusia itu bodoh (jahil) mereka tidak melihat ayat ayat kauniyah dan kauliyah, mereka sulit mendapatkan keimanan. Mereka tidak mengenal (ma’rifat) Allah SWT secara benar, walaupun menurut mereka, mereka sangat pandai, sehingga alqu’an mengibaratkannya :

• Seperti keledai yang membawa kitab (Q.S. 62: 5)
• Mudah digiring kemana-mana seperti binatang ternak. (Q.S. 7: 179)
• Licik sepert monyet. (Q.S. 5: 60)
• Menjijikkan seperti anjing. (Q.S. 7: 176)
• Rakus seperti babi. (Q.S. 63: 4).

Ketika Allah SWT memberikan amanah kepada manusia, padahal amanah ini juga ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung namun mereka tidak sanggup, tetapi manusia menyanggupinya padahal mereka zalim dan bodoh, mengapa?, itu karena Allah subhanahu watala dalam menciptakan manusia memberikan berbagai kelebihan kepada manusia.

Sebelum kita membahas kelebihan-kelebihan manusia dalam ma’rifatul insan ini, kita akan sedikit mundur ke hakikat penciptaan Manusia. Manusia diciptakan oleh Allah di alam ‘azali melalui dua zat dasar, yaitu:

1. Ruh (Q.S. 32: 9, 15: 29),
"Kemudian Dia menyempurnakan (bentuk kejadiannya) dan meniupkan ke dalam (benih janin)nya, ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur."
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (Adam) telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu (para malaikat) kepadanya dengan bersujud."

2. Tanah (Q.S. 32: 7-8, 15: 28).
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya (sempurna), dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah."Kemudian Dia menjadikan keturunannya (keturunan manusia), dari saripati air yang hina (air mani)."
"Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."

Selanjutnya dalam Alqur’an Allah menciptakan manusia dengan membekali tiga potensi dasar, yaitu :

1. Potensi Jasmani
Allah menciptakan jasad yang membutuhkan makanan dan minuman, agar jasad tersebut tumbuh dan berkembang sebagaimana ia juga membutuhkan makanan, pakaian dan tempat tinggal. (QS. Al Mulk (67) : 15, QS. Ibrahim (14) ; 32-34, QS. Al Jaatsiyah (45) : 13).

2. Potensi Akal
Allah menciptakan akal yang tentunya akal ini membutuhkan ilmu (pengetahuan) agar manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai khalifa untuk memakmurkan bumi Allah. (QS. Al Baqarah (2) : 30, QS. An Naml (16) : 78, QS. Al Israa (17): 12, QS. Al ‘Alaq (96):1-5)

3. Potensi Ruh
Allah menciptakan manusia yang membutuhkan petunjuk dan hidayah agar kehidupan manusia menjadi lurus di dunia dan di akhirat. (QS. An Nahl (16) : 36)

Dengan ketiga potensi dasar tersebut, manusia diberi tanggung jawab yang ditujukan hanya kepada Allah melalui:

1. Beribadah
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." – (QS.51:56)

2. dan menjadi Khalifah di bumi
"Ingatlah, ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'. Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih, dengan memuji Engkau, dan mensucikan Engkau'. Rabb berfirman: 'Sesungguhnya, Aku mengetahui, apa yang tidak kamu ketahui'." – (QS.2:30)

Ketika manusia dengan ruh, akal dan jasadnya, mereka beribadah hanya kepada Allah dan menjalankan kalifah dimuka bumi,maka akan mendapatkan balasan dari Allah berupa surganya, sebaliknya jika manusia tersebut tetap zalim dan bodoh maka nerakalah ganjarannya.

"Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya, akan Kami berikan (pula) balasan kepada mereka, dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.16:97)

“Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka.”(QS. 22:51)

Sehingga secara garis besar manusia dimaksud dapat dikelompokan menjadi dua bagian yaitu:

Kelompok pertama, adalah kelompok yang menjalankan amanah disebut khalifah, Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu berada di bumi sebagai khalifatullah. Sebagai khalifatullah ia harus paham:

• Ia adalah bukan penguasa bumi yang sebenarnya. (Q.S. 24: 25)
• Ia harus menggunakannya sesuai perintah dan keinginan yang diwakilinya (Q.S. 76: 30), yaitu Allah
• Ia tidak boleh menentang perintah dari sang penguasa yang sebenarnya. (Q.S. 100: 6-11)

Kelompok kedua, adalah kelompok yang khianat (tidak menjalankan amanah dengan benar), kelompok yang hanya mengandalkan nafsu, mereka bisu,buta, dan tuli akan kebenaran, dan Allah menggambarkan kondisi mereka dalam al-qur’an :

• Menjadi tidak bermanfaat seperti kayu yang tersandar saja. (Q.S. 5: 60)
• Sistem kehidupan mereka sangat lemah seperti sarang laba-laba. (Q.S. 29: 41)
• Hati mereka keras dari zikrullah dan membaca Al-qur’an seperti batu. (Q.S. 2: 74)

Pertanyaannya kemudian adalah, masuk dikelompok manakah kita???

Sebagai penutup

Allah memberikan kelebihan dan keutamaan kepada manusia dengan pendengaran (As Sam’u), penglihatan ( Al Bashor) dan hati (Al Fu’ad): "Katakanlah: 'Dia-lah yang menciptakan kamu, dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati'. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur." – (QS.67:23)

Namun terkadang tidak disyukuri sebagian besar manusia. Terkadang ia sering menggunakan telinganya untuk mendengar hal-hal yang buruk gunjingan, fitnahan, bahkan perkataan yang mungkar. Matanya untuk melihat yang haram, aurat, pornografi, dan terkadang hati yang digunakan untuk membenci, hasad, dendam dan berprasangka buruk kepada orang lain. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka menjadi orang-orang yang lalai. Bahkan Allah telah jadikan neraka jahanam untuk kebanyakan dari jin dan manusia, karena mereka tidak memahami dan menggunakan segala yang dianugerahkan Allah untuk hal-hal yang diperintahkan-Nya.

"Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam, kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."(QS. Al A’raaf (7) : 179)

Wallahu a’lam

*)Ulama tersebut adalah Dr. Zakir Naik, sebuah tanya jawab dengan seorang atheis, diterjemahkan dengan sedikit keterangan.

http://pijarpunbenderang.blogspot.com/

Minggu, 21 Desember 2014

BATU AKIK PEMBATAL SYAHADAH?
Kajian Islam "Syirik"

Di pojok KRL, laki laki itu mengambil sebuah senter pulpen, terlihat beberapa temannya memperhatikan sinar yang keluar menyinari sebuah batu cincin akik, dengan bangganya ia memamerkan cincin akiknya ditambah kelebihan kelebihannya. Temannya yang lain pun serasa tak mau kalah dengan mengeluarkan kotak yang isinya beberapa batu akik dengan jenis dan “manfaat” yang bermacam-macam. Sepanjang perjalanan dari rumah hingga ke kantor, terlihat beberapa lapak bahkan kios batu akik bermunculan bak jamur di musim hujan, dan ini kelihatannya merata diseluruh pelosok Indonesia.

Batu akik kayaknya tidak hanya menjadi sumber penghasilan baru bagi para pengusaha atau para “penggila” batu mulia, tua muda, miskin kaya, tapi juga sudah menjadi life style, sehingga harga sudah tidak jadi masalah terbukti para pecinta batu (baca:kolektor) rela merogoh kocek mereka ratusan juta hingga milyaran rupiah hanya untuk membeli sebuah batu mulia. Terlepas dari hobi, tapi hal ini dalam perkara islam masuk dalam israf (berlebihan) atau ghuluw (melampaui batas).

Akan tetapi bagaimana jika ada perkara lain yang lebih dahsyat dalam fenomena batu akik ini, yaitu Syirik, karena tidak jarang, bahkan banyak yang percaya ada kekuatan di dalam batu-batu cincin di jarinya yang menganggap itu adalah jimat (ajimah/tama’im).

Jika seseorang percaya bahwa jimat itu dapat berpengaruh tanpa kehendak Allah maka ia terjerumus dalam perbuatan syirik besar karena hatinya telah bersandar kepada selain Allah. Adapun jika seseorang meyakini bahwa jimat itu hanya sebagai sebab & tak memiliki kekuatan sendiri maka ia terjatuh dlm perbuatan syirik kecil.
Jimat ini adalah salah satu bentuk syirik yang mungkin sekali dapat membatalkan syahadah kita.

Sebelum kita membahas bentuk-bentuk syirik disekitar kita yang mungkin sadar atau tidak sadar kita sudah terjerumus didalamnya, ada baiknya kita ulas sedikit apa itu syirik.

Definisi syirik adalah sikap menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan, dan ibadah. Ini adalah virus keimanan yang paling berbahaya. Allah subhanahu watala memasukan sebagai kezaliman (dosa) yang besar. Beda dengan istilah “sirik”yang sering diungkapkan dalam bahasa “gaul”yaitu iri/dengki.

Firman Allah:
اِنَّ الشِّرۡكَ لَـظُلۡمٌ عَظِيۡمٌ‏ ﴿۱۳

“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar” (QS. Lukman [31] : 13)

اِنَّهٗ مَنۡ يُّشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدۡ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ الۡجَـنَّةَ وَمَاۡوٰٮهُ النَّارُ‌ ؕ وَمَا لِلظّٰلِمِيۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ‏ ﴿۷۲
“Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun” (QS. Al-Maidah [5] : 72).

Nabi SAW bersabda, “Inginkah aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar? Yaitu mempersekutukan Allah” (HR. Muslim).

Karena itu, siapa pun yang menyembah sesuatu selain Allah atau menyembahnya bersamaan dengan menyembah Allah, dia telah menjadi musyrik (orang yang melakukan perbuatan syirik).

Allah SWT berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’” (QS. Yunus [10] : 18).

Macam-macam Syirik
Ada dua macam syirik, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua dimesi: zhahir (tampak) dan khafiy (tersembunyi).

1) Syirik besar (asy-syirkul akbar). Dikatakan syirik besar karena pelakunya tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia; dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa’ (4): 116]. Contoh syirik besar yang zhahir adalah seperti menyembah matahari, bintang, bulan, berhala (patung), batu-batu, pohon besar, dan bahkan menyembah manusia (seperti menyembah Fir’aun, raja-raja, Budha, Isa bin Maryam, malaikat, jin dan Setan).
Kita lihat “sinetron impor” sepertinya tak kalah dengan film box office, sebut saja: Mahabarata, Mahadewa, dan lainnya yang digandrungi para fans nya yang sebagian besar umat islam Indonesia saat ini, ini termasuk pembodohan akidah yang memperkenalkan syirik yang sebenarnya. Bagaimana bukan pembodohan jikalau Tuhan mereka digambarkan layaknya manusia? Menikah dengan manusia pula. Padahal kita, sebagai manusia itu mustahil “mengindera” bagaimana wujud zat Tuhan (baca: Allah subhanahu wata’ala). Tidak pantas bagi seorang muslim menikmati dan tanpa sadar mempercayai bahwa Tuhan itu bertangan empat atau lebih karena Ia diketahui maha pengatur, para manusia menyembah manusia (raja) secara berlebihan, bahkan "Jodha Akbar" membuat cerita Islam Palsu. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, mereka tidak rela kalo tayangan itu terlewat dan menunggu dengan "ikhlas" setiap episode dengan menyia-nyiakan waktu, Naudzubillah.

Sementara yang asy-syirkul akbar khafiy bisa dicontohkan seperti menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum jahiliyah. Yang dimaksud hukum jahiliyah di sini adalah hukum yang menyalahi / bertentangan dengan hukum Allah atau menghalalkan dan mengharamkan seperti yang seharusnya menjadi hak Allah.

وَمَنۡ لَّمۡ يَحۡكُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡكٰفِرُوۡنَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (al Maidah 44)

Dukun dan sihir, termasuk asy-syirkul akbar. "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan." (QS. Al Jin : 6)

Dalam hadits yang shahih dikatakan; Rasulullah Saw bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengaitkan kesialannya pada burung (atau benda lainnya), melakukan perdukunan atau meminta didukuni, menyihir atau minta disihirkan untuknya. Dan barangsiapa datang kepada dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. al-Bazzar dengan sanad yang baik).
“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230)
Termasuk juga meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini.

2) Syirik kecil (asy-syirkul ashghar) adalah suatu tindakan yang condong ke arah syirik, tetapi belum sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya. Syirik kecil zhahir bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan. Contoh yang berupa lafal adalah bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik seperti “demi Nabi, demi Ka’bah, demi matahari, demi kakek dan nenek.”
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka (siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia kafir dan musyrik).” (HR. Turmidzi nomor 1535).
Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan menganggap seseorang penentu sebanding dengan Allah seperti, “Kalau tidak karena dokter niscaya saya tidak akan sembuh”.

Mempunyai jimat dalam bentuk apapun dan menanggap “jikalau bukan karena jimat ini saya akan tertimpa bahaya”, atau “saya tidak bisa bekerja kalau cincin saya ketinggalan”, dan sebagainya.
Jimat / Tama’im adalah bentuk jamak dari tamimah, yaitu sesuatu yang dikalungkan ke leher atau bagian dari tubuh seseorang yang bertujuan mendatangkan manfaat atau menolak bala (bahaya). Bentuk jimat bisa berupa cincin, batu mulia, keris, tongkat, bahkan ada juga lembaran yang bertuliskan sejumlah ayat Al-Qur’an.
Ibrahim al-Nakha’I berkata, “Jimat itu haram, baik yang berasal dari Al-Qur’an maupun yang bukan dari Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan bukan untuk jimat tapi sebagai petunjuk ke jalan yang benar.”
Hukum memakai jimat adalah syirik sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya jampi, jimat, dan mantra-mantra adalah syirik” (HR. Ibnu Majah).

Jimat diharamkan oleh syariat Islam karena ia mengandung makna keterkaitan hati dan tawakal kepada selain Allah dan membuka pintu bagi masuknya kepercayaan-kepercayaan yang dapat mengantarkan seseorang pada syirik besar. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bergantung kepada sesuatu, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada sesuatu itu” (HR. Tirmidzi dan Imam Ahmad). Jika cincin batu akik yang digunakan seorang muslim masuk dalam ranah jimat seperti diatas, maka BATU AKIK ITU BISA MENJADI PEMBATAL SYAHADAH. Naudzubillah.

Sedangkan syirik kecil yang khafiy biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dilihat atau dipuji orang. Seperti mengerjakan sholat seolah khusyu’ biar terlihat alim, atau bersedekah dengan syarat diumumkan. Intinya, seseorang berbuat seperti itu dengan harapan supaya dipuji sebagai orang baik.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ‌ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ‌ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ‏ ﴿۲۶۴

Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah (2): 264]

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalihnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat.” (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim nomor 2987)

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ


"Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui"[HR. al Bukhari dalam Adabul Mufrad dishahihkan oleh al Albani]

Wallahul musta'an
Wallahu a'lam

http://pijarpunbenderang.blogspot.com/

Minggu, 14 Desember 2014

Batalkah Syahadah Kita???

Pentingnya Syahadat dan Bahaya Ilhad

Memahami Syahadat dan Bahaya Penyimpangan (Ilhad)

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19)

Sedikit kita bermuhasabah, ketika kita melihat fenomena umat Islam khususnya di Indonesia, dalam politik, ekonomi, sosial, konflik, kemaksiatan, penyesatan akidah, perang pemikiran, dan seterusnya hingga masalah yang paling kecil di tatanan kehidupan keluarga, yaitu diri kita sebagai hamba yang menyimpang dari kebenaran. Ketika semua itu kita lihat dengan kacamata “mikroskopis”, maka akan terlihat salah satu penyebabnya berawal dari menafikan sifat, nama, dan perbuatan Allah dalam diri kita.

Kita percaya Allah itu ada, **tetapi** kita meragukan bahkan menolak keberadaan asma wa sifat Allah Subhanahu wa ta'ala meliputi kehidupan kita. Kita tahu Allah itu Esa, tapi kita tanpa sadar atau sadar meyakini kekuatan lain sebagai tandingan-Nya (condong kepada syirik). Kita tahu Allah Maha Pencipta, tetapi kita terlalu bodoh (jahil), kurang bahkan tidak beribadah kepada-Nya. Kita tahu Allah itu Maha Kuasa dan Penentu, tetapi kita selalu berputus asa dan berprasangka buruk (suuzan) ketika suatu kesengsaraan menimpa kita. Kita tahu Allah itu Maha Melihat, tetapi kita selalu bermaksiat seolah-olah Allah itu buta. Kita tahu Allah itu Maha Mendengar, tetapi kita kikir (bakhil) untuk berdoa dan berkhalwat dengan-Nya. Kita tahu Allah itu yang menguasai hari pembalasan, tetapi kita sombong dan seolah-olah mati jauh dari-Nya, dan seterusnya.

Dan, apabila kita jatuh dalam perkara tersebut maka kita telah menjadi “mulhidun” yaitu orang yang berlaku “ilhad” (menyimpang dari kebenaran).

Ilhad ini termasuk salah satu dari tiga penyebab yang dapat membatalkan syahadat kita di samping syirik dan nifak.

Asas Utama: Kalimat Syahadat

Kalimat syahadat sebagaimana kita ketahui dan kita ulang setiap saat, setiap hari, merupakan asas utama dan landasan penting bagi orang Islam karena itu bagian dari rukun Islam. Tanpa syahadat, rukun Islam lainnya akan runtuh. Begitu juga dengan rukun iman. Tegaknya syahadat dalam kehidupan kita akan menegakkan ibadah dan din dalam hidup kita. Dengan syahadatain terwujudlah sikap rohani yang akan memberikan motivasi kepada perbuatan dan akal pikiran, serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.

Tapi realitanya, syahadat tidak cukup memberi pengaruh. Kita selaku umat Islam tanpa sadar atau sadar terpengaruh dengan budaya jahiliah atau cara hidup Barat. Terbukti tidak sedikit dari umat Islam yang tahu Allah itu ada, masih melakukan perkara-perkara yang dilarang dan tidak melakukan segala perintah-Nya. Berbuat zalim ke sesama makhluk, menyakiti tetangga, gibah, fitnah, berbohong, berlaku curang, menelantarkan anak yatim, tidak berzakat untuk si miskin, adu domba, membunuh, memberi kesetiaan bukan kepada kaum muslimin, atau tidak mensyukuri sesuatu yang diberikan kepada mereka, dan seterusnya.

Itu adalah contoh seseorang yang “mulhidun” menyimpang dari kebenaran, karena berawal dari ia tidak memahami syahadat yang dibacanya, tidak mengerti makna yang sebenarnya dari syahadat dan akhirnya syahadatnya batal.

Pemahaman Syahadat di Masa Nabi

Sedikit melihat riwayat ke belakang, di kalangan masyarakat Arab zaman Nabiullah Muhammad, mereka (kaum kuffar Quraisy) memahami betul makna syahadatain ini. Terbukti dalam suatu peristiwa di mana Nabi saw. mengumpulkan para pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim. Nabi saw. bersabda, “Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, di mana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab?” Kemudian Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku.” Kemudian Nabi saw. bersabda, “Ucapkanlah Laa ilaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.” Abu Jahal pun menjawab, “Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.”

Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini bukan karena dia tidak paham akan makna dari kalimat itu. Justru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat, dan patuh kepada Allah swt. saja. Dia sadar betul jika ia bersikap seperti itu, maka semua orang tidak akan tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadat bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliah untuk mengaplikasikan syahadat.

Mengapa Ilhad Membatalkan Syahadat?

Kembali ke umat Islam saat ini yang melakukan penyimpangan-penyimpangan (ilhad) dari ketentuan Allah sehingga boleh jadi syahadatnya batal. Muncul pertanyaan, mengapa “ilhad” dapat membatalkan syahadat kita?

Dalam Al-Qur'an, ilhad ada di banyak tempat. Bentuk “Ilhad” = Orang yang melakukan kejahatan zalim.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. 22:25)

Kadang berbentuk “yulhidun” = menyimpang dari kebenaran.

“hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 7:180)
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah kitab yang mulia.” (QS. 41:40)

Kadang berbentuk “multahada” = tempat berlindung.

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya".” (QS. 72:22)

Imam Ashfahani dalam bukunya “Mufradat Alfazhul Qur'an” menulis, Al-Ilhad berarti menyimpang dari kebenaran. Hal ini terbagi dua makna:

  1. Ilhad yang identik dengan syirik, jika dilakukan otomatis syahadat kita batal dan kita menjadi kafir;
  2. Ilhad yang condong kepada syirik, ini tidak membuat seseorang menjadi kafir, tapi mengurangi kemurnian tauhid.

Sehingga pada hakikatnya “ilhad” adalah segala tindakan yang menyimpang, namun secara definitif khusus menafikan sifat, nama, dan perbuatan Allah. Ilhad tergolong kafir, tetapi orang kafir belum tentu “mulhidun” karena banyak juga di antara orang Nasrani dan Yahudi percaya akan adanya Tuhan dan sifat-sifat-Nya.

Ilhad ini menurut para ulama bisa membahayakan syahadat umat Islam.

  1. Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid itu memiliki 3 dimensi yang salah satu pun tidak boleh diingkari:
    • Tauhid Uluhiyah;
    • Tauhid Rububiyah; dan
    • Tauhid Asma wa Sifat.
    Karena “ilhad” itu menafikan sifat dan nama Allah, berarti telah ingkar atas satu dimensi tauhid maka ia menjadi kafir.
  2. Dengan menafikan asma wa sifat-Nya, ia telah juga mengingkari ayat Al-Qur'an. Mengingkari salah satu ayat Al-Qur'an, ulama sepakat ia telah http://pijarpunbenderang.blogspot.com/

Senin, 08 Desember 2014

Membangun Kesalehan Personal dan Sosial

Kesalehan Personal dan Sosial: Jalan Menuju Kemenangan Hakiki

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)

Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan salat Subuh berjamaah dengan para sahabat hingga menjelang syuruq (terbit matahari). Tak seperti biasanya, beliau memimpin salat dengan lama, terutama saat rukuk pada rakaat kedua.

Setelah salam, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa salat Subuh hari ini berbeda? Mengapa engkau rukuk sangat lama?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku sendiri tidak tahu. Saat aku rukuk, Malaikat Jibril turun dan menekan punggungku, sehingga aku tak bisa bangkit. Itu berlangsung lama, sebagaimana kau saksikan.”

Umar pun bertanya lagi, “Mengapa Jibril melakukan itu?” Nabi ﷺ menjawab, “Aku juga belum tahu.” Tak lama kemudian, Jibril datang dan menjelaskan, “Wahai Muhammad, tadi aku diperintahkan oleh Allah untuk menahan rukukmu, agar Ali bin Abi Thalib mendapat kesempatan mengikuti salat berjamaah. Karena Allah sangat menyukai tindakan Ali yang menghormati seorang kakek Yahudi.”

Ternyata, Ali radhiyallahu ‘anhu sengaja berjalan lambat di belakang kakek itu di lorong sempit agar tidak menyakitinya, walaupun hal itu bisa membuatnya terlambat salat. Allah pun memberikan penghargaan istimewa kepada Ali atas kesalehan sosialnya yang berangkat dari rasa hormat kepada orang tua, tak peduli agama maupun latar belakangnya. Subhanallah.

Kesalehan Ganda: Pribadi dan Sosial

Kisah ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menekankan kesalehan personal (ibadah vertikal kepada Allah), tetapi juga menuntut kesalehan sosial (hubungan baik dengan sesama). QS. Al-Hajj: 77 menyuguhkan rumus kemenangan: rukuk dan sujud sebagai simbol ibadah pribadi, lalu “berbuat kebajikan” sebagai simbol relasi sosial.

"Kesalehan sosial adalah bukti nyata dari kesalehan pribadi. Ibadah sejati tak hanya mengangkat tangan ke langit, tapi juga menjulurkan tangan kepada sesama." — Imam al-Ghazali

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah mengajarkan bahwa dalam dilema antara hak Allah dan hak sesama, terkadang menghormati sesama justru menjadi bentuk terbaik dari ketaatan kepada Allah. Rasulullah ﷺ pun memuji tindakan itu dengan memberikan ganjaran luar biasa: salat berjamaah bersama Nabi.

Kesalehan Personal Adalah Landasan

Tidak sedikit manusia mengabaikan kesalehan personal dengan alasan sosial. Padahal, fondasi dari amal sosial adalah kesalehan pribadi. Salat, puasa, dan zikir adalah energi ruhani untuk memampukan seseorang bersikap adil, jujur, dan penyayang kepada sesama.

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Namun, ibadah yang tidak membuahkan akhlak adalah ibadah yang cacat. Rasulullah ﷺ bersabda tentang seorang wanita yang rajin ibadah, namun menyakiti tetangganya dengan lisannya:

“Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Bukhari)

Kesalehan Sosial Tanpa Ikatan Langit

Di sisi lain, banyak pula yang aktif dalam kegiatan sosial, namun kosong dari ibadah. Mereka lupa bahwa amal tanpa ikhlas akan sia-sia. Firman Allah tentang penghuni neraka Saqar menegaskan:

“Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Mudatsir: 42–44)

Maka, seimbanglah dalam beribadah dan bersosial. Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang orang muflis (bangkrut) di akhirat:

“Dia datang dengan pahala salat, puasa, dan zakat, namun ia telah mencaci orang lain, memfitnah, mengambil harta dan menumpahkan darah. Maka pahalanya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya, hingga pahalanya habis, dan dosanya ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim)

Keseimbangan Menuju Ihsan

Dalam QS. Adz-Dzariyat: 16–19, Allah menggambarkan orang yang berbuat ihsan dengan ciri khas: bangun malam dan dermawan.

“Mereka sedikit tidur di malam hari, dan di waktu sahur mereka memohon ampunan. Pada harta mereka terdapat hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 17–19)

Ibnu Asyur menafsirkan bahwa dua amal tersebut—ibadah malam dan berbagi harta—mewakili perjuangan kesalehan pribadi dan sosial. Sebab keduanya paling berat dijalani.

Kesimpulan: Jadilah Sholih yang Sejati

Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa wanita yang hanya salat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak menyakiti orang lain, adalah penghuni surga. Maka jelas, Islam menuntut keseimbangan: baik kepada Allah dan baik kepada manusia.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

Sudah saatnya kita melahirkan generasi yang tidak hanya rajin ibadah, tetapi juga amanah, jujur, dermawan, dan peduli. Masyarakat akan sejahtera bukan hanya dengan banyaknya salat, tetapi juga dengan banyaknya jiwa yang tulus menebar manfaat bagi sesama.

Wallāhu a‘lam.

Rabu, 26 November 2014

These too, will pass...OPTIMIS!

Dan Inipun Akan Berlalu

Dan Inipun Akan Berlalu

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?..." (QS. Al-Baqarah: 214)

Alkisah, seorang raja yang bijaksana meminta kepada tukang emasnya yang sudah tua untuk menuliskan sesuatu di cincin emasnya. Ia berkata, "Tuliskan sesuatu yang merupakan pelajaran dari seluruh perjalanan hidupmu."

Berbulan-bulan tukang emas tersebut berpikir dan berdoa, hingga akhirnya menyerahkan cincin dengan tulisan kecil: "Dan inipun akan berlalu" (These too, will pass).

Sang Raja tidak langsung memahami maknanya. Namun ketika ia mengalami kesulitan dan membaca tulisan itu, hatinya menjadi tenang. Begitu pula ketika ia sedang bersuka cita, tulisan itu membawanya kembali rendah hati.

"Ketika kita memiliki masalah besar ataupun sedang dalam kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat itu: Dan inipun akan berlalu."

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Segala hal—baik musibah maupun kenikmatan—semuanya akan berlalu.

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡہَا فَانٍ۬ (٢٦) وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَـٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ (٢٧)

"Semua yang ada di bumi itu akan sirna. Dan tetap kekal zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (Ar-Rahman: 26-27)

Allah telah menetapkan segala sesuatu: rezeki, ajal, amal, dan nasib kita. Bahkan kesulitan yang kita alami telah tertulis sebelum kita diciptakan.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ ... إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬ (٢٢)

(QS. Al-Hadid: 22-23)

Allah memberikan ujian sebagai cara untuk mendekatkan kita kepada-Nya. Bahkan rasa sakit sekecil apapun adalah penghapus dosa.

"Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, atau kesedihan, kecuali Allah akan menghapuskan kesalahannya karena hal itu." (HR. Bukhari & Muslim)

Bersabarlah. Setiap musibah mengandung pelajaran dan ganjaran yang besar:

  • Menghapus dosa dan mengangkat derajat.
  • Tanda kecintaan Allah.
  • Pahala tanpa batas bagi yang bersabar.
  • Bisa menjadi sebab mati syahid.
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Maka jika mendapat musibah, bersabarlah dan harapkan pahala dari Allah. Jika mendapat nikmat, bersyukurlah dan gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُم

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..." (QS. Ibrahim: 7)

Akhirnya, yakinlah bahwa segala sesuatu, baik suka maupun duka, semuanya akan berlalu. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar, bersyukur, dan mendapat rahmat Allah.

Wallahu a'lam


https://pijarpunbenderang.blogspot.com/2014/11/these-too-will-passnanda.html

Senin, 24 November 2014

MENJADI PRIBADI ISLAMI

Membangun Pribadi Islami: Tanggung Jawab Fitrah dan Sosial

Membangun Pribadi Islami: Tanggung Jawab Fitrah dan Sosial

Firman Allah Swt.:
"وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا"

Artinya: "Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra' [17]: 70)

Setiap jiwa dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu suci dan cenderung kepada kebaikan. Namun, kesucian ini tidak berarti meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya. Justru karena telah diawali dengan fitrah, jiwa harus dipelihara kesuciannya dan dikembangkan agar menjadi pribadi yang Islami.

Dalam pribadi yang Islami ini, terdapat tanggung jawab besar secara sosial. Setiap individu tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga atas lingkungan sekitarnya, meliputi keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat luas. Tanggung jawab ini selaras dengan ajaran Islam yang komprehensif, memadukan keyakinan dan aplikasi, norma dan perbuatan, keimanan dan amal saleh. Oleh karena itu, ajaran yang diyakini seorang muslim harus tercermin dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya.

Tiga Aspek Pembentuk Pribadi Islami

Untuk menjadi pribadi yang Islami, terdapat tiga sisi utama yang harus dibangun dan diperkuat:

1. Ruhiyah (Ma'nawiyah)

Ruhiyah adalah kesadaran mendalam tentang eksistensi Allah Swt. dengan segala sifat-Nya, serta keterikatan dan hubungan seseorang dengan Allah Swt. yang mewarnai seluruh perilakunya. Allah Swt. telah mengilhamkan kepada jiwa manusia jalan kefasikan dan ketakwaan, seperti yang termaktub dalam firman-Nya:

"وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۝ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا"

Artinya: "Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams [91]: 7-10)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa Allah Swt. juga memberikan pilihan atau jalan untuk menjauhi kebaikan. Oleh karena itu, menjaga ruhiyah sangatlah penting. Kerugian besar akan menimpa orang yang mengotori jiwanya. Peringatan keras agar meninggalkan perbuatan yang membuat hati menjadi keras juga disampaikan dalam Al-Qur'an:

"أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ"

Artinya: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Al-Hadid [57]: 16)

Tarbiyah ruhiyah (pembinaan spiritual) adalah dasar dari seluruh bentuk pembinaan, pendorong untuk beramal saleh, dan unsur yang memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan. Aspek-aspek yang terkait erat dengan ma'nawiyah seseorang adalah:

Akidah

Ruhiyah yang baik melahirkan akidah yang lurus dan kokoh. Sebaliknya, ruhiyah yang lemah menyebabkan lemahnya akidah. Akidah yang benar dan lurus adalah akidah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan dijalankan oleh para sahabat, karena mampu menanamkan jiwa, semangat, dan kekuatan luar biasa ke dalam hati para penganutnya. Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi sering menekankan pentingnya akidah salimah (akidah yang bersih) sebagai fondasi kehidupan muslim, yang melahirkan ketenangan batin dan kekuatan dalam menghadapi tantangan zaman.

Tingkah Laku (Suluk)

Yang membedakan manusia sebagai pribadi yang luhur/mulia atau sebaliknya, menjadi pribadi yang kasar dan jahil, adalah dari perbuatannya. Kumpulan dari perbuatan-perbuatan disebut tingkah laku (suluk). Tingkah laku seorang manusia sangat ditentukan oleh pemahaman akan suatu hal. Ketika dinul Islam (agama Islam) yang membingkai pemahaman terhadap tingkah lakunya, maka ruhiyahnya akan menjadi lurus. Namun, sebaliknya jika hedonisme, kapitalisme, atau liberalisme menjadi dasar tingkah lakunya, maka hasilnya adalah hurriyatu al-syakhsiyyah (kebebasan perilaku) yang menjauhkan ia dari Allah Swt.

Akhlak

Akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari kata khuluqun (خُلُقٌ) yang secara bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun (خَلْقٌ) yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan Khaliq (خَالِقٌ) yang berarti pencipta. Oleh karena itu, akhlak merupakan bagian penting dari keimanan.

Terawatnya ruhiyah akan memperbagus akhlak seseorang. Allah Swt. dalam beberapa ayat selalu menggandengkan antara iman dan amal saleh. Rasulullah ﷺ sendiri ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya, beliau menjawab:

"أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا"

Artinya: "Mukmin yang paling baik akhlaknya." (HR. Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam An-Nasa'i)

Bahkan, diutusnya Rasulullah ﷺ pun untuk menyempurnakan akhlak manusia sehingga menjadi akhlak yang Islami:

"إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ"

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia." (HR. Ahmad)

Tolak ukur dan patokan baik tidaknya akhlak adalah Al-Qur'an. Ini terbukti dari jawaban Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ:

"كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ"

Artinya: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim)

Dr. Zakir Naik, seorang ulama kontemporer, sering menekankan bahwa Al-Qur'an bukan hanya kitab suci untuk dibaca, tetapi juga pedoman hidup yang membentuk karakter dan akhlak mulia.

2. Fikriyah ('Aqliyah)

Kepribadian Islami juga sangat ditentukan oleh kokoh tidaknya aspek fikriyah (pemikiran). Kejernihan fikrah atau kekuatan akal seseorang akan mendorong amal dan kreativitas, sehingga manfaatnya lebih terasa bagi orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:

Wawasan (Tsaqafah) Keislaman yang Luas dan Menyeluruh (Syumuliyah)

Wawasan yang luas dan menyeluruh akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri seseorang untuk orang lain, serta menjaganya dari Gazwul Fikri (perang pemikiran). Setan ataupun musuh-musuh Islam akan mencoba menyerang melalui pemikiran atau ideologi agar umat Islam terpecah dan terjerumus ke dalam kerusakan. Oleh karena itu, pemikiran harus tetap dalam koridor tauhid dan Islam rahmatan lil 'alamin.

Wawasan dan Kepribadian yang Komprehensif

Seorang muslim yang memiliki fikrah yang sehat juga akan mampu mengembangkan diri dan berkontribusi positif dalam berbagai aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, maupun politik, selama semuanya tetap berlandaskan syariat Islam.

3. Jasadiyah (Tubuh)

Dalam Islam, kesehatan jasmani tidak kalah penting dengan kesehatan ruhaniyah dan fikriyah. Tubuh yang sehat adalah amanah dari Allah Swt. yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Oleh karena itu, Islam mengatur pola makan, istirahat, olahraga, dan pola hidup bersih untuk menjaga kesehatan jasmani.

Seorang muslim harus menjaga tubuhnya agar tetap kuat dan sehat supaya mampu menjalankan ibadah dan aktivitas sosial dengan baik. Sehatnya jasmani mendukung tercapainya produktivitas yang maksimal dalam dakwah dan kegiatan kemasyarakatan.

Kesimpulan

Membangun pribadi Islami adalah proses yang menyeluruh dan harus memperhatikan tiga aspek utama: ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah. Ketiganya saling melengkapi dan harus berada pada kondisi terbaik agar seseorang dapat menjadi muslim yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia serta mampu menjalankan tanggung jawab sosial secara optimal.

Semoga kita semua termasuk golongan yang dijaga fitrah dan keislamannya serta dapat membangun diri dan lingkungan dengan akhlak mulia dan amal saleh.

Sumber: LKMT-Dakwatuna

Minggu, 09 November 2014

100 PERAK, SEBUAH IBROH

Seratus Rupiah dan Sebongkah Akhlak

Seratus Rupiah dan Sebongkah Akhlak

Suasana di supermarket sore itu tak begitu ramai. Lampu-lampu menggantung dari langit-langit dengan cahaya kuning yang lembut. Aku berdiri dalam antrean kasir, menunggu giliranku untuk membayar beberapa barang kebutuhan rumah tangga.

Di depanku, sepasang suami istri tengah menyelesaikan pembayaran. Sang suami tampak rapi, sementara sang istri mengenakan jilbab cokelat tua yang sederhana namun anggun. Proses pembayaran berjalan seperti biasa: barang-barang dipindai, total dibacakan, dan uang tunai diserahkan. Kasir wanita itu lalu memberikan kembalian beserta struk.

Tiba-tiba, sang suami memeriksa kembalian dengan teliti, lalu keningnya berkerut.

“Mbak, kok kembaliannya kurang seratus rupiah?” tanyanya dengan suara pelan namun tegas.

Kasir tak langsung merespons, ia sibuk memindai barang belanjaanku. Mungkin ia tak mendengar, atau mungkin sedang mencoba menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

Beberapa detik kemudian, suara sang suami meninggi, “Mbak, kurang seratus mana? Dikorupsi, ya?!”

Kasir itu tampak terkejut. Wajahnya memerah, nadanya gugup namun tetap sopan. “Tidak, Pak. Kalau saya punya uang recehan seratus, pasti saya kasih. Biasanya saya ganti pakai permen, tapi maaf, permennya habis.”

Sang suami tampak tak puas. “Alaa... bohong! Bisa-bisa kamu yang ambil!”

“Tidak, Pak. Kalau Bapak punya seratus, kasih ke saya, nanti saya kembalikan lima ratus,” jawab si kasir sambil menunduk. Suaranya terdengar hampir putus, dan seluruh area kasir mulai melirik ke arah kami.

Sang suami berseru, “Saya punya, tapi di mobil. Masa harus ke parkiran cuma buat ngambil hak saya?”

Istrinya mencoba menenangkan, “Sudah, Pak. Hanya seratus ini. Sudah, pulang yuk.”

Namun sang suami tetap bersikeras, “Enggak, Mah. Biar seratus, tapi kalau diambil di tiap transaksi, bayangkan berapa ratus ribu yang dia kumpulkan!”

Air mata jatuh di pipi si kasir. Dua rekan kerjanya mendekat, bertanya dengan pelan. Ia menjawab sambil terisak, menjelaskan semuanya.

Sang suami, dengan wajah tetap murka, akhirnya digandeng istrinya meninggalkan tempat itu—menggenggam kekecewaan yang mungkin lebih dari seratus rupiah, namun kehilangan sesuatu yang lebih berharga: akhlak.

Pelajaran dari Seratus Rupiah

Dalam kehidupan ini, kadang Allah SWT memberi pelajaran dari hal yang paling kecil dan sederhana. Seratus rupiah mungkin remeh di mata kita, tetapi bisa menjadi jalan muhasabah tentang kejujuran, amarah, hingga prasangka.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Sekecil apa pun kebaikan dan keburukan tidak akan luput dari pengawasan Allah. Termasuk kejujuran atau kebohongan dalam transaksi.

“Tidaklah seorang mukmin menjadi pembohong.” (HR. Malik)

Namun, Islam tidak hanya bicara soal kejujuran. Marah, yang muncul spontan, juga mendapat perhatian.

“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)
“Jangan marah.” (HR. Bukhari)

Jika amarah dibiarkan, ia bisa memunculkan tuduhan yang tidak berdasar.

“Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Muslim)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa...” (QS. Al-Hujurat: 12)
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti...” (QS. Al-Hujurat: 6)

Tiga Ruang yang Diizinkan untuk Berbohong

“Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan manusia, melainkan ia mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Strategi perang,
  • Mendamaikan dua orang yang bertikai,
  • Suami istri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

Menjadi Teladan, Bukan Sekadar Pembela Hak

Sikap si bapak yang keras dalam membela haknya memang secara logika mungkin bisa dimaklumi. Namun sebagai seorang muslim, adab dan akhlak tetap menjadi standar tertinggi.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Penutup: Mari Belajar dari Hal Kecil

Seratus rupiah mungkin hanya logam kecil dalam saku, tapi bisa menjadi kaca pembesar untuk melihat betapa pentingnya kejujuran, kontrol diri, dan prasangka baik dalam kehidupan ini.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21)

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam perkara besar maupun kecil.

Wallahu a‘lam.

Minggu, 19 Oktober 2014

Efesiensi Waktu-Konsep Islam

“Ada dua nikmat, dimana banyak manusia tertipu didalamnya: Kesehatan dan Kesempatan.”(HR.Bukhari)
Umar bin Khaththab - semoga Allah ridha kepadanya - berkata, "Sesungguhnya aku benci jika melihat salah seorang di antara kalian berpangku tangan, tanpa amal, baik amal dunia maupun akhirat."
Setidaknya ada tujuh aktivitas dalam buku Efesiensi Waktu yang ditulis oleh Jasiem M. Badr Al-Muthawi. Ketujuh aktivitas ini adalah kegiatan yang dapat mengisi ruang-ruang kosong yang muncul dalam diri setiap hamba: Kekosongan akal (QS. Al-Anfal:22), Kekosongan Hati (QS. An-nur:50), Kekosongan Jiwa (QS. Asy-Syam:9-10).
Pertama: Pergerakan Terarah
Inilah cara awal untuk memanfaatkan (menguasai) waktu, dimana seseorang menggunakan waktunya untuk pergerakan (Harakah). Harakah adalah suatu gerakan tertentu dan memiliki keistimewaan tersendiri daripada yang lainnya. Lebih dari itu, harakah adalah gerak terarah atas dasar ikhlas di jalan Allah swt., dan berjalan sesuai manhaj-Nya. Karenanya, manusia akan rnemperoleh keuntungan sesuai yang ia harapan. Seorang hamba yang ingin mengefesienkan waktu seharusnya bisa memposisikan sebagai “AIR” yang ketika ia mengalir bergerak ia akan menjadi kekuatan yang bermanfaat, sebaliknya ketia ia diam tergenang akan menjadi sumber “penyakit”. Inilah lahan subur bagi siapa pun yang hendak menguasai waktunya, dimana ia selalu berjalan (haroki) dengan senantiasa berbekal kalimatullah ke mana pun ia pergi, baik di rumah, seko­lah, tempat ia mengajar, di tempat kerjanya (kantor) atau di tem pat-tempat lainnya. Apabila seseorang telah mencapai tingkatan ini, maka jiwanya tidak lagi kosong (hampa).
Kedua: Bergaul dengan Masyarakat
Manusia secara instinktif adalah makhluk sosial, dimana ia tidak akan dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Karenanya, ia membutuhkan, saudara, teman, tetangga, serta masyarakat untuk berinteraksi dan bergaul, baik pergaulan bersifat batin ataupun lahiriah sesuai yang dibutuhkan. Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan, "Pergaulilah orang mukmin dengan hatimu dan pergaulilah orang yang rusak (fasik:) dengan perangaimu." (Imam al-Qurthubi, Bahjatul Majlis.
Thalhah al­ Qurasyi berkata, "Sesungguhnya aib terkecil yang menimpa seseorang ialah apabila ia hanya duduk saja di rumah." (Thabaqat, Ibnu Sa'ad)
Ketiga: Suka Membantu Orang Lain
"Manakala nilai hidup hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi kita bahwa kehidupan ini kecil dan singkat. Yang dimulai sejak kita memahami arti hidup dan berakhir hingga batas umur kita. Tetapi apabila kita hidup juga untuk orang lain, maka jadilah hidup ini bermakna panjang dan dalam.
"Sesungguhnya, jika sekiranya salah seorang di antara kalian berjalan bersama saudaranya untuk membantu menunaikan keperluannya lalu (sekadar) ia memberi petunjuk dengan dua jarinya, itu lebih utama daripada ia beri'tikaf di masjidku ini (Masjid Nabawi) dua bulan lamanya." (H.r. ath­ Thabrani dan al-Hakim, Al-Hakim berkata bahwa sanadnya shahih).
"Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi orang mukmin, maka Allah pasti melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat." (H.r. Muslim).
Keempat: Lima Perkara yang Disukai Para Sahabat
Ada lima perkara yang senantiasa diperhatikan para sahabat N abi saw. Perhatian mereka terhadap lima perkara tersebut meru­ pakan bukti bagaimana mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan menjaga setiap detik dari umur mereka agar tidak sia-sia, Lima perkara tersebut - sebagaimana dinukil oleh Imam Au­ za'i - (Imam al-Qurthubi, Bahjatul Majalis, Jilid III, hlm. 140) ialah:
(1) Senantiasa bersama jamaah;
"Barangsiapa menginginkan keleluasaan surga, maka senantiasalah bersama kelompok (jamaah), karena setan itu bersama (menyertai) orang yang sendirian, dan ia akan menjauhi mereka yang lebih dari seorang. " (H.r. at-Tirmidzi
(2) Mengikuti Sunnah Nabi saw;
Abu Bakar r.a. berkata, "Aku tidak pernah meninggal­ kan sesuatu yang pernah diamalkan oleh Rasulullah saw. Sebab aku khawatir jika meninggalkan perintah beliau, maka aku akan menyeleweng (dari kebenaran)."
(3) Memakmurkan masjid;
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah, maka merekalan orang yg diharapkan termasuk golongan orang yg mendapat petunjuk (QS.At-taubah:18)
(4) Tilawatil Qur'an;
Sebaik-baik kesibukan adalah menyibukkan diri dengan al­ Qur'an, baik dengan membacanya, menghafal atau menafsirkannya. Khalifah Utsman bin Affan r.a. berkata, "Tiada perbuatan yang paling kusukai, baik di waktu siang atau malam, selain berpi­ kir tentang Allah, yakni dengan mengkaji al-Qur'an." (Ibnu Hanbal, az-Zuhud)
(5) Jihad fisabilillah.
Jihad di jalan Allah adalah titik puncak agama Islam. Konon para sahabat dan salafus saleh berjihad dijalan Allah, dan untuk itu mereka tidak takut akan cacian siapa pun.Apabila sebagian dari kita tidak berkesempatan berjihad melalui pintu perjuangan (berperang) di jalan Allah, namun pintu-pintu jihad yang lain bagi kita tetap terbuka lebar. Seperti pintu dakwah, jihad dengan pemikiran dan harakah di jalan Allah swt.
Kelima: Membaca
Membaca adalah salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan waktu. Di sini Allah memerintahkan kepada hamba- Nya agar terlebih dahulu menuntut ilmu, kemudian beramal dengan ilmu yang ia dapatkan. Karenanya, ia akan melakukan pergerakan atau dakwah atas dasar pengetahuan yang benar (bashirah) dan di atas jalan yang jelas, sehingga tidak bimbang dan tersesat di dalam suramnya kebodohan. Karena itu dikatakan, "Ilmu tanpa amal, laksana pohon tak berbuah." (Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa,Jilid)
“Maka ketahuilah (berilmulah), bahwa tiada Tuhan yang hak disembah, melainkan Allah dan mohonlah. ampunan bagi dosamu” (Q.s. Muhammad: 19).
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di aniara hamba­hamba-Nya, hanyalah orang-orang berilmu.”(Q.s. Fathir: 28).
Keenam: Berdiskusi dan Bertamasya (Rihlah)
Bertamasya adalah salah satu sarana penghibur hati, yang biasa dilakukan pada hari libur di akhir pekan. Amat baik bagi seorang hamba ataupun aktivis jika bertamasya apakah bersama keluarga atau Saudara, tetangga, teman pengajian, untuk memanfaatkan waktu luangnya tersebut dengan kegiatan-kegiatan tertentu dan terarah. Agar tidak mem bosankan, acara tamasya ini hendaknya tidak hanya mengambil satu pola tertentu, tetapi harus ada penyegaran dan mencari ben­ tuk lain yang sekiranya mengesankan.
Adapun ten tang diskusi atau seminar, maka kita katakan pula sebagai salah satu forum atau lahan untuk memanfaatkan waktu secara efektif. Disamping itu berdiskusi dapat menjadikannya sebagai ahli berargumen. Sehingga bagi seorang aktivis, berdiskusi harus dijadikan rujukan dalam metode berpikir secara aktif, yang selanjutnya ia dapat membedakan antara yang baik dan buruk dari ideologi-ideologi luar yang merusak. Dan hal inilah yang pernah dilakukan oleh salafus saleh - semoga Allah merahmatl mereka _ guna mengisi waktu-waktu mereka, sebagaimana di antara mereka mengatakan, "Bertukar pikiran satu jam lebih balk daripada mengulang sebulan." (Al-Kannani, Tadzkiratus Sami' walMutakllim)
Ketujuh: Berolah Raga
Berolah raga adalah salah satu cara mengisi waktu secara efektif. Di satu pihak olah raga dimaksudkan untuk mengembangkan potensi seorang muslim dan di lain pihak untuk menggerakkan tubuh agar membuatnya aktif dan dinamis. Tetapi dengan catatan, bahwa olah raga yang ditekuni tidak sampai meninggalkan kewajiban yang menyia-nyiakan hak yang seharusnya dipenuhi. Dan jangan menjadikan olah raga sebagai tujuan. Minimal, dengan berolah raga dapat: "Melancarkan peredaran darah, menambah keaktifan paru-paru dan menguatkan jantung."
Sesungguhnya Imam Bukhari - semoga Allah merahmatinya juga berolah raga. Beliau spesialis dalam olah raga panahan dan selalu menern­ pati urutan teratas. Sehingga Imam Muhammad bin Abi Hatim berkomentar, "Selama aku bersahabat dengan Imam Bukhari, tidak pernah k~lihat bidikannya meleset sedikit pun dari sasaran, kecuali dua kali. Imam Bukhari dalam olah raga panahan belum pemah terkalahkan." (As-Subki, Thabaqat asy-Syaifi'iyah) sesungguhnya tubuh mempunyai hak atas kamu."(H.r. Muttafaq 'Alaih).
Wallahu ‘alam.

Senin, 08 September 2014

Copet???



Pengalaman di Kopaja

Pengalaman di Kopaja

Sedikit berbagi pengalaman pribadi:

Kemarin siang, saat menaiki Kopaja P20 dari Gondangdia, tiga orang naik dari Tugu Tani. Saya tetap berpikiran positif meskipun merasakan keanehan kecil. Kebetulan saya duduk di bagian belakang karena kosong dan dekat pintu.

Lelaki pertama meminta saya bergeser karena ingin dekat dengan pintu. Lelaki kedua duduk di sebelah kanan saya. Lelaki ketiga justru berdiri, padahal masih banyak tempat duduk kosong. Ia sempat memberi uang receh kepada pengamen lalu berjalan ke depan, celingak-celinguk, memberi ongkos ke kenek, dan tetap berdiri.

Tak lama, lelaki ketiga itu menelepon seseorang yang ia panggil “Pak Haji”. Ia berkata, “Assalamualaikum, saya sudah di Kopaja, Pak Haji.” Ia lalu bertanya kepada kenek, “Ini daerah apa, Bang?” Kenek menjawab, “Tugu Tani. Emang mau ke mana?” “Tanah Abang,” jawabnya. “Naik itu, Kopaja 502 ke Tanah Abang,” kata kenek lagi. Tapi si lelaki langsung menutup telepon dan tak peduli.

Kemudian ia mengeluarkan amplop berisi brosur pengobatan alternatif Kalimantan. Ia membagikannya ke semua penumpang. Katanya, pengobatan tersebut bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Saya langsung membaca brosur itu.

Sambil berdiri, ia menanyakan keadaan penumpang di sebelah kanan saya. “Bapak kelihatannya sedang sakit, coba sini tangannya,” katanya. Ia menarik tangan bapak itu, memutarnya ke belakang kepala, memijat dari paha sampai mata kaki, dan menggoyang-goyangkan kakinya. “Ooh, bapak asam urat ya? Bener ini uratnya asam.” Bapak itu mengangguk setuju.

“Aih, kok bisa tahu penyakit bapak itu,” pikir saya dalam hati.

Klimaksnya terjadi ketika lelaki itu langsung memegang tangan saya. “Mari, Pak, saya cek.” Ia mulai mempraktikkan jurus yang sama. Karena ia sudah memegang tangan saya dan saya masih berpikiran baik, saya biarkan. Penumpang kiri dan kanan tampak memperhatikan dengan senyum-senyum.

Ketika ia menggoyang kaki saya dan berkata, “Bapak pernah jatuh ya? Ini ada pembengkakan tulang.” Saya menjawab, “Jatuh iya, dari motor.” Saya merasa gerakan di saku saya. Ternyata ponsel saya bergerak ke atas. Saya refleks memegangnya. Di situlah saya sadar: ini bahaya! Saya langsung berkata ke kenek, “Stop, Bang,” kebetulan saya memang ingin turun di Gambir.

Lelaki itu berkata, “Tunggu Pak, kaki satunya belum dicek, ini ada pembengkakan tulang.” Saya menolak dengan halus, “Gak usah, Pak. Saya memang mau berhenti di sini. Itu kantor saya.” Sambil menunjuk Gedung Kelautan, saya melompat turun. Alhamdulillah, selamat.

Jika kalian bukan kelompok pencopet, saya minta maaf sudah berprasangka buruk. Tapi jika kalian memang pencopet, semoga Allah memberi kalian hidayah dan mengampuni kalian. Aamiin.

إنَّ الصِّدقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِندَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِندَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari-Muslim)

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...