Seratus Rupiah dan Sebongkah Akhlak
Suasana di supermarket sore itu tak begitu ramai. Lampu-lampu menggantung dari langit-langit dengan cahaya kuning yang lembut. Aku berdiri dalam antrean kasir, menunggu giliranku untuk membayar beberapa barang kebutuhan rumah tangga.
Di depanku, sepasang suami istri tengah menyelesaikan pembayaran. Sang suami tampak rapi, sementara sang istri mengenakan jilbab cokelat tua yang sederhana namun anggun. Proses pembayaran berjalan seperti biasa: barang-barang dipindai, total dibacakan, dan uang tunai diserahkan. Kasir wanita itu lalu memberikan kembalian beserta struk.
Tiba-tiba, sang suami memeriksa kembalian dengan teliti, lalu keningnya berkerut.
“Mbak, kok kembaliannya kurang seratus rupiah?” tanyanya dengan suara pelan namun tegas.
Kasir tak langsung merespons, ia sibuk memindai barang belanjaanku. Mungkin ia tak mendengar, atau mungkin sedang mencoba menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Beberapa detik kemudian, suara sang suami meninggi, “Mbak, kurang seratus mana? Dikorupsi, ya?!”
Kasir itu tampak terkejut. Wajahnya memerah, nadanya gugup namun tetap sopan. “Tidak, Pak. Kalau saya punya uang recehan seratus, pasti saya kasih. Biasanya saya ganti pakai permen, tapi maaf, permennya habis.”
Sang suami tampak tak puas. “Alaa... bohong! Bisa-bisa kamu yang ambil!”
“Tidak, Pak. Kalau Bapak punya seratus, kasih ke saya, nanti saya kembalikan lima ratus,” jawab si kasir sambil menunduk. Suaranya terdengar hampir putus, dan seluruh area kasir mulai melirik ke arah kami.
Sang suami berseru, “Saya punya, tapi di mobil. Masa harus ke parkiran cuma buat ngambil hak saya?”
Istrinya mencoba menenangkan, “Sudah, Pak. Hanya seratus ini. Sudah, pulang yuk.”
Namun sang suami tetap bersikeras, “Enggak, Mah. Biar seratus, tapi kalau diambil di tiap transaksi, bayangkan berapa ratus ribu yang dia kumpulkan!”
Air mata jatuh di pipi si kasir. Dua rekan kerjanya mendekat, bertanya dengan pelan. Ia menjawab sambil terisak, menjelaskan semuanya.
Sang suami, dengan wajah tetap murka, akhirnya digandeng istrinya meninggalkan tempat itu—menggenggam kekecewaan yang mungkin lebih dari seratus rupiah, namun kehilangan sesuatu yang lebih berharga: akhlak.
Pelajaran dari Seratus Rupiah
Dalam kehidupan ini, kadang Allah SWT memberi pelajaran dari hal yang paling kecil dan sederhana. Seratus rupiah mungkin remeh di mata kita, tetapi bisa menjadi jalan muhasabah tentang kejujuran, amarah, hingga prasangka.
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Sekecil apa pun kebaikan dan keburukan tidak akan luput dari pengawasan Allah. Termasuk kejujuran atau kebohongan dalam transaksi.
“Tidaklah seorang mukmin menjadi pembohong.” (HR. Malik)
Namun, Islam tidak hanya bicara soal kejujuran. Marah, yang muncul spontan, juga mendapat perhatian.
“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)
“Jangan marah.” (HR. Bukhari)
Jika amarah dibiarkan, ia bisa memunculkan tuduhan yang tidak berdasar.
“Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Muslim)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa...” (QS. Al-Hujurat: 12)
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti...” (QS. Al-Hujurat: 6)
Tiga Ruang yang Diizinkan untuk Berbohong
“Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan manusia, melainkan ia mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Strategi perang,
- Mendamaikan dua orang yang bertikai,
- Suami istri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Menjadi Teladan, Bukan Sekadar Pembela Hak
Sikap si bapak yang keras dalam membela haknya memang secara logika mungkin bisa dimaklumi. Namun sebagai seorang muslim, adab dan akhlak tetap menjadi standar tertinggi.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Penutup: Mari Belajar dari Hal Kecil
Seratus rupiah mungkin hanya logam kecil dalam saku, tapi bisa menjadi kaca pembesar untuk melihat betapa pentingnya kejujuran, kontrol diri, dan prasangka baik dalam kehidupan ini.
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21)
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam perkara besar maupun kecil.
Wallahu a‘lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar