Membangun Pribadi Islami: Tanggung Jawab Fitrah dan Sosial
Firman Allah Swt.:
"وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا"
Artinya: "Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra' [17]: 70)
Setiap jiwa dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu suci dan cenderung kepada kebaikan. Namun, kesucian ini tidak berarti meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya. Justru karena telah diawali dengan fitrah, jiwa harus dipelihara kesuciannya dan dikembangkan agar menjadi pribadi yang Islami.
Dalam pribadi yang Islami ini, terdapat tanggung jawab besar secara sosial. Setiap individu tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga atas lingkungan sekitarnya, meliputi keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat luas. Tanggung jawab ini selaras dengan ajaran Islam yang komprehensif, memadukan keyakinan dan aplikasi, norma dan perbuatan, keimanan dan amal saleh. Oleh karena itu, ajaran yang diyakini seorang muslim harus tercermin dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya.
Tiga Aspek Pembentuk Pribadi Islami
Untuk menjadi pribadi yang Islami, terdapat tiga sisi utama yang harus dibangun dan diperkuat:
1. Ruhiyah (Ma'nawiyah)
Ruhiyah adalah kesadaran mendalam tentang eksistensi Allah Swt. dengan segala sifat-Nya, serta keterikatan dan hubungan seseorang dengan Allah Swt. yang mewarnai seluruh perilakunya. Allah Swt. telah mengilhamkan kepada jiwa manusia jalan kefasikan dan ketakwaan, seperti yang termaktub dalam firman-Nya:
"وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا"
Artinya: "Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams [91]: 7-10)
Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa Allah Swt. juga memberikan pilihan atau jalan untuk menjauhi kebaikan. Oleh karena itu, menjaga ruhiyah sangatlah penting. Kerugian besar akan menimpa orang yang mengotori jiwanya. Peringatan keras agar meninggalkan perbuatan yang membuat hati menjadi keras juga disampaikan dalam Al-Qur'an:
"أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ"
Artinya: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Al-Hadid [57]: 16)
Tarbiyah ruhiyah (pembinaan spiritual) adalah dasar dari seluruh bentuk pembinaan, pendorong untuk beramal saleh, dan unsur yang memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan. Aspek-aspek yang terkait erat dengan ma'nawiyah seseorang adalah:
Akidah
Ruhiyah yang baik melahirkan akidah yang lurus dan kokoh. Sebaliknya, ruhiyah yang lemah menyebabkan lemahnya akidah. Akidah yang benar dan lurus adalah akidah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan dijalankan oleh para sahabat, karena mampu menanamkan jiwa, semangat, dan kekuatan luar biasa ke dalam hati para penganutnya. Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi sering menekankan pentingnya akidah salimah (akidah yang bersih) sebagai fondasi kehidupan muslim, yang melahirkan ketenangan batin dan kekuatan dalam menghadapi tantangan zaman.
Tingkah Laku (Suluk)
Yang membedakan manusia sebagai pribadi yang luhur/mulia atau sebaliknya, menjadi pribadi yang kasar dan jahil, adalah dari perbuatannya. Kumpulan dari perbuatan-perbuatan disebut tingkah laku (suluk). Tingkah laku seorang manusia sangat ditentukan oleh pemahaman akan suatu hal. Ketika dinul Islam (agama Islam) yang membingkai pemahaman terhadap tingkah lakunya, maka ruhiyahnya akan menjadi lurus. Namun, sebaliknya jika hedonisme, kapitalisme, atau liberalisme menjadi dasar tingkah lakunya, maka hasilnya adalah hurriyatu al-syakhsiyyah (kebebasan perilaku) yang menjauhkan ia dari Allah Swt.
Akhlak
Akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari kata khuluqun (خُلُقٌ) yang secara bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun (خَلْقٌ) yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan Khaliq (خَالِقٌ) yang berarti pencipta. Oleh karena itu, akhlak merupakan bagian penting dari keimanan.
Terawatnya ruhiyah akan memperbagus akhlak seseorang. Allah Swt. dalam beberapa ayat selalu menggandengkan antara iman dan amal saleh. Rasulullah ﷺ sendiri ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya, beliau menjawab:
"أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا"
Artinya: "Mukmin yang paling baik akhlaknya." (HR. Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam An-Nasa'i)
Bahkan, diutusnya Rasulullah ﷺ pun untuk menyempurnakan akhlak manusia sehingga menjadi akhlak yang Islami:
"إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ"
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia." (HR. Ahmad)
Tolak ukur dan patokan baik tidaknya akhlak adalah Al-Qur'an. Ini terbukti dari jawaban Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ:
"كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ"
Artinya: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim)
Dr. Zakir Naik, seorang ulama kontemporer, sering menekankan bahwa Al-Qur'an bukan hanya kitab suci untuk dibaca, tetapi juga pedoman hidup yang membentuk karakter dan akhlak mulia.
2. Fikriyah ('Aqliyah)
Kepribadian Islami juga sangat ditentukan oleh kokoh tidaknya aspek fikriyah (pemikiran). Kejernihan fikrah atau kekuatan akal seseorang akan mendorong amal dan kreativitas, sehingga manfaatnya lebih terasa bagi orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:
Wawasan (Tsaqafah) Keislaman yang Luas dan Menyeluruh (Syumuliyah)
Wawasan yang luas dan menyeluruh akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri seseorang untuk orang lain, serta menjaganya dari Gazwul Fikri (perang pemikiran). Setan ataupun musuh-musuh Islam akan mencoba menyerang melalui pemikiran atau ideologi agar umat Islam terpecah dan terjerumus ke dalam kerusakan. Oleh karena itu, pemikiran harus tetap dalam koridor tauhid dan Islam rahmatan lil 'alamin.
Wawasan dan Kepribadian yang Komprehensif
Seorang muslim yang memiliki fikrah yang sehat juga akan mampu mengembangkan diri dan berkontribusi positif dalam berbagai aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, maupun politik, selama semuanya tetap berlandaskan syariat Islam.
3. Jasadiyah (Tubuh)
Dalam Islam, kesehatan jasmani tidak kalah penting dengan kesehatan ruhaniyah dan fikriyah. Tubuh yang sehat adalah amanah dari Allah Swt. yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Oleh karena itu, Islam mengatur pola makan, istirahat, olahraga, dan pola hidup bersih untuk menjaga kesehatan jasmani.
Seorang muslim harus menjaga tubuhnya agar tetap kuat dan sehat supaya mampu menjalankan ibadah dan aktivitas sosial dengan baik. Sehatnya jasmani mendukung tercapainya produktivitas yang maksimal dalam dakwah dan kegiatan kemasyarakatan.
Kesimpulan
Membangun pribadi Islami adalah proses yang menyeluruh dan harus memperhatikan tiga aspek utama: ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah. Ketiganya saling melengkapi dan harus berada pada kondisi terbaik agar seseorang dapat menjadi muslim yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia serta mampu menjalankan tanggung jawab sosial secara optimal.
Semoga kita semua termasuk golongan yang dijaga fitrah dan keislamannya serta dapat membangun diri dan lingkungan dengan akhlak mulia dan amal saleh.
Sumber: LKMT-Dakwatuna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar