Kamis, 30 Desember 2021

Hari Jumat, Waktunya Baca Al-Kahfi

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi

Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi: Pelajaran dan Hikmah

Surah Al-Kahfi adalah salah satu surah dalam Al-Qur'an yang sarat akan pelajaran dan hikmah bagi kaum muslimin. Banyak keutamaan yang terkandung di dalamnya, baik terkait dengan perlindungan dari fitnah Dajal maupun pedoman hidup sehari-hari.

Pelajaran Penting dari Surah Al-Kahfi

Pentingnya Mengucapkan "Insya Allah": Jika seseorang hendak melakukan sesuatu, hendaknya mengucapkan, "Insya Allah" (jika Allah menghendaki). Ini menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. (Ayat: 23-24)

Ibnu Abbas r.a.: "Setiap yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an tentang ‘insya Allah’, itu adalah bentuk pengajaran bagi kita agar bersandar kepada Allah dalam setiap urusan."
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di: "Perintah mengucapkan 'Insya Allah' ini adalah adab yang mulia..."

Zikir dan Doa sebagai Penawar Jiwa: Mengingat Allah dan berdoa merupakan penyembuh bagi jiwa dan penangkal dari kelalaian. (Ayat: 24)

Imam Al-Ghazali: "Zikir adalah makanan hati, dan doa adalah senjatanya."
Dr. Aidh Al-Qarni: "Zikir dan doa adalah sumber ketenangan dan kebahagiaan sejati."

Kesabaran Bersama Orang Saleh: Hendaknya bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari. (Ayat: 28)

Imam Asy-Syafi'i: "Jika engkau memiliki teman yang senantiasa membantumu dalam ketaatan..."
Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid: "Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan orang-orang miskin..."

Pahala bagi Orang Beriman dan Beramal Saleh: (Ayat: 30)

Hasan Al-Bashri: "Dunia ini adalah ladang akhirat..."
Dr. Yusuf Al-Qaradawi: "Islam adalah agama amal..."

Harta dan Anak sebagai Perhiasan Dunia: (Ayat: 46)

Umar bin Khattab: "Harta yang paling baik adalah harta yang bermanfaat bagi akhiratmu."
Dr. Zakir Naik: "Kekayaan sejati bukanlah pada harta benda..."

Iblis sebagai Musuh Sejati: (Ayat: 50)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: "Iblis adalah musuh yang nyata bagi manusia..."
Syekh Al-Albani: "Setan adalah musuh yang tidak pernah lelah."

Azab Maksiat Tidak Seketika: (Ayat: 58)

Fudhail bin Iyadh: "Allah menunda hukuman agar hamba bertaubat."
Dr. Bilal Philips: "Allah itu Maha Penyabar..."

Penjagaan Keturunan Saleh: (Ayat: 77, 82)

Hadis Qudsi: "Sesungguhnya Aku (Allah) akan menjaga keturunan hamba-Ku yang saleh."
Dr. Khalid Basalamah: "Cara terbaik menjaga keturunan adalah dengan memperbaiki diri..."

Azab Akhirat Lebih Berat: (Ayat: 87)

Sufyan Ats-Tsauri: "Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin..."
Syekh Muhammad Al-Arifi: "Kenikmatan akhirat jauh lebih abadi..."

Kerugian Orang yang Merasa Berbuat Baik tetapi Sia-sia: (Ayat: 103-105)

Ali bin Abi Talib: "Seorang mukmin tidak akan berbuat sesuatu kecuali ia melihatnya sebagai kebaikan..."
Dr. Zakir Naik: "Pentingnya iman yang benar sebagai dasar amal..."

Surga Firdaus bagi Orang Beriman dan Beramal Saleh: (Ayat: 107-108)

Ibnu Mas'ud: "Surga itu bertingkat-tingkat. Yang paling tinggi adalah Firdaus."
Dr. Syafiq Riza Basalamah: "Keindahan surga Firdaus sebagai puncak kenikmatan..."

Luasnya Ilmu Allah: (Ayat: 109)

Imam Ahmad bin Hanbal: "Ilmu Allah tidak ada habisnya."
Prof. Dr. Quraish Shihab: "Ayat ini adalah pengingat akan keagungan Allah..."
Keutamaan membaca surat Al Kahfi:

1. Disinari Cahaya di Antara Dua Jumat:
Hadis dari Abu Sa'id al-Khudri:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at." (HR. An Nasa'i dan Baihaqi, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami' no. 6470)

Hadis dari Abdullah bin Umar:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَطَعَ لَهُ نُورٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءِ يُضِيءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
"Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya hingga ke langit, yang akan menyinarinya pada hari Kiamat, dan dosa-dosanya akan diampuni di antara dua Jumat." (HR. Ibnu Mardawaih, dari Abdullah bin Umar)

2. Disinari Cahaya Antara Dia dan Baitul Atiq (Ka'bah):
Hadis dari Abu Sa'id al-Khudri:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Baitul 'Atiq (Ka'bah)." (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami' no. 6471)

3. Terlindungi dari Fitnah Dajjal:
Hadis dari Abu Darda' (sepuluh ayat pertama):
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
"Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal (fitnah)." (HR. Muslim no. 809)
|
Dalam riwayat lain disebutkan (sepuluh ayat terakhir):
"...Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim I/555 no.809, Ahmad V/196 no.21760, Ibnu Hibban III/366 no.786 dll)"

Hadis dari Nawas bin Sam'an:
Dalam sebuah hadis yang cukup panjang tentang Dajjal, disebutkan: "Maka barang siapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi." (HR. Muslim)

Merayakan Tahun Baru (Masehi), Bolehkah?

Sudah menjadi kebiasaan di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia dalam setiap akhir tahun menuju pergantian tahun berikutnya, kemeriahannya menjadi momen yang ditunggu-tunggu banyak kalangan. Mungkin pergantian tahun 2021 kemarin saja yang berbeda dikarenakan masih merebaknya pandemi Covid-19. Sebagian besar orang ingin dan terpaksa merayakannya dengan tidak berkumpul atau merayakannya bersama-sama.

Bagaimana dengan pergantian tahun 2022, seiring angka yang terjangkit covid-19 menurun drastis dan aktivitas-aktivitas untuk menjaga protokol kesehatan dan kebersihan sudah menjadi kebiasaan, perayaan dan even tahun baru ini mungkin mulai semarak lagi. Berkumpul bersama dengan keluarga, teman, sahabat, mengunjungi tempat-tempat selebrasi atau bergabung dengan even-even yang telah dirancang pemerintah setempat. Pandemi belum berakhir, jangan abai dan tetap waspada dengan tetap menerapkan prokes dan pola hidup bersih.

Terkait perayaan tahun baru Masehi ini di kalangan umat Islam selalu menjadi perdebatan. Sebagian kalangan ada yang membolehkan dan sebagian lagi ada yang melarang tentunya masing-masing pendapat pasti ada dasar dan alasannya.

Berbicara boleh atau tidaknya merayakan tahun baru Masehi, dalam Islam harus merujuk kepada sumber hukum Islam yang disepakati jumhur ulama yaitu Alquran, Hadis, Ijma' dan Qiyas.

Dari berbagai sumber yang penulis himpun, sebagian ulama yang membolehkan perayaan tahun baru menyatakan tidak ada nas-nas khusus yang melarang ataupun yang mewajibkannya. Bolehnya perayaan tahun baru, semata-mata merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah. Sepanjang perayaan malam tahun baru tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang non-muslim maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan mengikuti ritual kaum non-muslim, maka tidak ada larangannya. Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya dan seseorang akan dibalas sesuai dengan yang diniatkan”. (HR Bukhari-Muslim).

Bagaimana dengan sebagian besar ulama lain yang mengharamkan. Mereka berpendapat bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya. Kemudian merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai (tasyabbuh) itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda: "Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta." Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah SAW, Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi? Beliau menjawab, Selain mereka lantas siapa lagi?" (HR. Bukhari No. 7319).

Perayaan tahun baru seringkali identik dengan kesia-siaan bahkan kemaksiatan seperti minum khamar, berzina, tertawa berlebihan, meniup terompet, dan hura-hura, bahkan umumnya dilakukan sepanjang malam. Padahal Allah telah menjadikan malam untuk beristirahat.
Firman Allah: "Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (QS. Al-Qashas: 73)

Mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam tujuannya adalah untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.
“Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya”. (QS. Al-Maidah: 2).

Ulama lain menganggap perayaan tahun baru termasuk bid’ah, mengingat Rasulullah tidak mengajarkan hal tersebut untuk dilakukan.

Kegiatan perayaan malam tahun baru umumnya dilakukan di luar batas sewajarnya. Yakni dengan menggelontorkan dana besar-besarnya untuk membakar kembang api dan membeli terompet atau semacamnya dalam jumlah yang banyak, maka hal ini termasuk membuang-buang harta. Padahal Allah juga telah berfirman:
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isra’: 27)

Bahwa perayaan tahun baru tersebut tidak berkaitan langsung dengan umat Islam adalah benar. Tahun baru Masehi adalah tahun umat Kristiani yang menghitung awal tahun dari kelahiran Nabi Isa (Yesus) yang sumber sejarahnya yaitu penetapan kalender matahari moleh Julius Caesar 1 Januari sebagai pertanda tahun baru bermula pada abad 46 sebelum masehi (SM). Julius Caesar memilih 1 Januari sebagai hari perayaan tahun baru untuk menghormati nama bulan tersebut. Diketahui bulan Januarius diambil dari nama dewa permulaan di Romawi, yaitu dewa Janus.

Oleh karena itu, tidak ada hubungan dan kepentingan umat Islam dengan pergantian tahun yang dimulai pukul 00.00 pada tanggal 31 Desember itu. Maka untuk menjaga kehormatan dirinya, umat Islam diharapkan untuk tidak menghadiri perayaan-perayaan yang tidak pernah dicontohkan pada masa Rasulullah, para sahabat, dan para salafussalih.

"Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." (QS al-Furqan: 72)

Terlepas dari dua perbedaan tentang boleh tidaknya merayakan tahun baru masehi bagi muslim, bahwa dalam ajaran Islam hari raya hanya ada dua saja, yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha. Selebihnya tidak ada, sehingga tidak ada kepentingan apapun untuk merayakan datangnya tahun baru masehi.

Sebagai kehati-hatian umat Islam diharapkan tidak menjadikan kegiatan ini sebagai rutinitas bahkan keharusan dikarenakan lebih besar mudaratnya dari manfaatnya diantaranya:
1. Tidak ada tuntunannya dari Rasulullah;
2. Tidak ada keuntungan apapun secara moril maupun materil untuk melakukan perayaan itu;
3. Berpotensi jatuh ke dalam kemaksiatan dan kerusakan;
4. Dikhawatirkan pada suatu saat akan dianggap sebagai sebuah kewajiban, bahkan menjadi ritual agama.

Kita perlu menyadari bahwa pergantian tahun itu justru menjadi tanda yang jelas telah semakin berkurangnya umur kita dan semakin dekatnya kita menuju kematian yang sudah ditetapkan.

"Setiap umat memiliki ajal, bila tiba ajal mereka, maka tidak bisa minta mundur dan tidak bisa minta maju." (QS. Al-A’raf: 34)

Sungguh kematian yang indah adalah kematian dalam keadaan melakukan kebaikan, dalam waktu dan tempat yang baik.

Namun jika kita harus melakukan aktivitas akhir tahun untuk menjaga agar kita tidak terperosok dalam kesia-siaan atau kemaksiatan, alangkah baiknya diisi hal-hal yang positif bahkan bisa mendatangkan pahala kebaikan seperti tabligh akbar, pengajian, muhasabah, dan santunan anak yatim atau fakir miskin. Kalaupun dalam aktivitas-aktivitas positif tersebut mengharuskan begadang alangkah baiknya untuk salat disepertiga malam sambil memanjatkan doa-doa terbaik.

Terkait muhasabah yaitu upaya dalam melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap diri sendiri dalam melihat aspek kebaikan dan keburukan, sangat dianjurkan dalam Islam. Muhasabah ketika akan melakukan sesuatu amalan, kegiatan ataupun pekerjaan yang sudah tentu termasuk saat ingin melakukan perayaan tahun baru.

Kita uji dalam hati kita sebagai bentuk intropeksi diri apakah melakukan perayaaan tahun baru itu baik untuk kita atau tidak. Bagaimana cara mengujinya?, menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, muhasabah ada dua macam yaitu, sebelum beramal dan sesudahnya.
1. Sebelum beramal, yaitu dengan berfikir sejenak ketika hendak berbuat sesuatu, dan jangan langsung mengerjakan sampai nyata baginya kemaslahatan untuk melakukan atau tidaknya. Al-Hasan berkata: "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berdiam sejenak ketika terdetik dalam fikirannya suatu hal, jika itu adalah amalan ketaatan pada Allah, maka ia melakukannya, sebaliknya jika bukan, maka ia tinggalkan".
2. Introspeksi diri setelah melakukan perbuatan. Ini ada tiga jenis:
a. Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah yang belum sepenuhnya ia lakukan, lalu ia juga muhasabah, apakah ia sudah melakukan ketaatan pada Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum.
b. Introspeksi diri terhadap setiap perbuatan yang mana meninggalkannya adalah lebih baik dari melakukannya.
c. Introspeksi diri tentang perkara yang mubah atau sudah menjadi kebiasaan, mengapa mesti ia lakukan?, Apakah ia mengharapkan Wajah Allah dan negeri akhirat?, Sehingga (dengan demikian) ia akan beruntung, atau ia ingin dunia yang fana?, Sehingga ia pun merugi dan tidak mendapat keberuntungan.

Hasilnya, ketika mudaratnya lebih besar, maka tinggalkan. Sebaliknya, ketika manfaatnya lebih besar maka silahkan lakukan.

Sisi lain yang bisa kita lakukan, untuk yang masih diberikan nikmat sehat dan keselamatan di masa pandemi ini, manfaatkan untuk kembali menjalin silaturahmi dengan keluarga dan kerabat, bertemu dan berkumpul sebagai bentuk rasa syukur yang dapat diisi dengan tadarus, banyak berdoa, dan diskusi-diskusi ringan atau bisa merancang rencana untuk tahun yang akan datang. Dan hendaknya aktivitas apapun itu tetap disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya, tidak berlebihan, dan tetap memperhatikan manfaat dan mudaratnya.

Semoga kita bisa mengambil keputusan yang terbaik, apakah kita tidak usah merayakan tahun baru atau merayakan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Wallahu a’lam


Pekanbaru, 30 Desember 2021

Kamis, 23 Desember 2021

Sukses, Takdir atau Ikhtiari

Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar
“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201).

Doa singkat ini adalah doa “sapu jagat” yang paling dihafal dan sering dipanjatkan seorang muslim karena mewakili hasrat untuk mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Doa ini pun menurut hadis merupakan doa yang paling sering dipanjatkan oleh Rasullullah ﷺ.

Kesuksesan berupa kebaikan di dunia yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup seluruh keinginan duniawi, baik berupa kesehatan, rumah yang lapang, istri yang cantik, rejeki yang melimpah, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang mewah, pujian dan selainnya (Tafsir Ibn Katsir 1/343).

Sedangkan kebaikan di akhirat tentulah yang dimaksud adalah al-jannah (surga) karena mereka yang tidak dimasukkan ke dalam surga sungguh telah diharamkan untuk memperoleh kebaikan di akhirat (Tafsir ath-Thabari 1/553).

Termasuk juga di dalamnya adalah rasa aman dari rasa takut ketika persidangan di hari kiamat dan kemudahan ketika segala amalan dihisab (Tafsir Ibn Katsir 1/342).

Mewakili makna doa tersebut setiap muslim dibolehkan berharap kebaikan di dunia yang diringi kebaikan akhirat, karena manusia pastilah membutuhkan kebaikan di dunia terlebih kebaikan di akhirat kelak namun sejatinya prioritas utama seorang hamba dalam do’anya adalah perkara akhirat. Hal ini ditunjukkan dalam ayat di atas, dimana terdapat dua permohonan terkait perkara akhirat, yaitu kebaikan akhirat dan perlindungan dari siksa neraka, dan hanya satu permohonan terkait pekara dunia.

Bicara tentang sukses, banyak orang yang mengartikan kesuksesan terletak pada kehidupan di dunia ujungnya kedudukan atau harta, seperti pangkat yang tinggi, jabatan direktur atau manajer di level perusahaan, memiliki harta dan tabungan yang banyak. Fisik yang cantik atau tampan dengan pasangan serta keluarga yang bahagia pun menjadi standar kesuksesan termasuk memiliki banyak teman pejabat, artis, dan lain sebagainya.

Sukses tersebut adalah sukses yang bersifat fana atau tidak akan abadi. Orang kaya bisa saja jatuh miskin atau hartanya ditinggal ketika ia mati. Jabatan akan pergi seiring usia pensiun, cantik akan sirna di telan waktu senja, dan seterusnya.

Kesuksesan di dunia bukanlah hal yang mutlak untuk didahulukan dan tidak menjadi yang ditinggalkan demi mengejar akhirat saja. Justru sukses di dunia tersebut haruslah menjadi dasar pencapaian kehidupan sukses di akhirat.

Quran dan Sunah telah mengajarkan kepada kita untuk mendahulukan kesuksesan akhirat karena Allah ﷻ menjamin kebaikan dunia akan datang setelahnya.
“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Imam Ahmad)

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan". (QS.Hud:15-16)

Membicarakan kesuksesan dunia dan akhirat sebagian besar orang percaya, bahwa kesuksesan, kegagalan hidupnya, atau keburukan yang menimpanya adalah tergantung atas usahanya sendiri. Sedang sebagian yang lain lebih percaya bahwa apa yang terjadi adalah karena sudah takdirnya.

Banyak penelitian oleh para ahli dan akademisi mengenai penyebab (pusat) kendali hidup seseorang hingga ia menjadi sukses. Teori itu dikenal dengan sebutan locus of control.
Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian, yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu atau tidaknya seseorang mengontrol nasib atau peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya berada dibawah kontrol dirinya, dikatakan individu tersebut memiliki internal locus of control. Sementara individu yang memiliki keyakinan bahwa lingkunganlah yang mempunyai kontrol terhadap nasib atau kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupannya dikatakan individu tersebut memiliki eksternal locus of control.

Dalam konteks agama, kedua tipe tersebut dikenal dengan kelompok Qodariyah dan Jabariyah. Dengan demikian kelompok Qodariyah memiliki internal locus of control, bahwa apakah seseorang sukses atau tidaknya di dunia, masuk surga ataupun neraka itu adalah karena dia sendiri yang menentukan. Sedangkan kelompok Jabariyah memiliki eksternal locus of control. Jabariyah berasal dari kata jabr yang artinya paksaan, bahwa manusia terpaksa harus menjalani takdir hidupnya. Tokoh utama dari perspektif ini adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Dalam pandangan ini manusia adalah lemah, tidak berdaya, seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak terlepas dari skenario dan kehendak Allah ﷻ (Asyhari, 2016).

Contoh yang mudah dipahami ketika pandemi Covid-19 merebak, beberapa fatwa dari ijtima berbagai belahan dunia keluar, termasuk Indonesia. Kala itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan untuk menghidari penyebaran virus corona dengan meniadakan salat jumat dan menggantikannya dengan salat duhur di rumah masing-masing. Mereka yang taat pada anjuran MUI berkeyakinan bahwa Tuhan adalah pencipta segalanya, yakin bahwa corona itu adalah ciptaan Tuhan, tetapi berbeda keyakinan atau pandangan bagi kelompok yang tidak mau taat. Tujuan dikeluarkan fatwa itu salah satu bentuk berihtiar atau berusaha untuk menjauhi kemungkinan-kemungkinan buruk, termasuk kemungkinan tertular atau menularkan virus Corona ketika tidak menjaga jarak atau berkumpul.

Dalam Islam dikenal bahwa kelompok masyarakat yang mengikuti anjuran MUI disebut dengan Qadariah, sementara Kelompok masyarakat yang menolak disebut dengan Jabariah. Dengan begitu, perilaku masyarakat menghadapi kebijakan pemerintah dan MUI terhadap virus Corona tidak lain adalah pertarungan antara dua aliran yaitu aliran Qadariah dan aliran Jabariah. Dua-duanya sejak lama ada dikalangan ummat Islam, tidak terkecuali di Indonesia dan sangat berpengaruh pada masyarakat muslim, baik dalam berpikir, bersikap dan berperilaku.

Tentunya muncul pertanyaan, mana yang paling benar dari kedua pandangan tersebut. Secara rasional masing-masing punya dasar dan alasan yang tidak akan ada ujungnya jika diperdebatkan. Selanjutnya muncul pertanyaan kembali, sukses itu apakah memang takdir atau ikhtiari (usaha sendiri).

Bila dicari dari kitab suci Al Quran dan hadis, ternyata kedua pandangan tersebut ada dan didukung dengan nas-nas yang kuat. Untuk sukses itu harus dimulai dengan diri sendiri, terdapat dukungan dari Quran Surat Ar Ra’d ayat 11. Dalam ayat tersebut terlihat bahwa manusia sendirilah yang harus berusaha untuk perubahan dirinya.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (QS Ar Ra’d: 11)

Adapun untuk sukses karena sudah ditentukan sesuai takdirnya, terdapat beberapa ayat yang menunjukkan peran Tuhan dalam perilaku kita dan juga hadis sahih yang menjelaskan bahwa segala hal tentang manusia telah dituliskan dengan jelas masalah rejeki, ajal, amal, dan kecelakaan atau kebahagiaannya, ketika ruh janin berumur 40 hari.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shafaat: 96)

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada kami: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila masing-masing pusat kontrol untuk sukses ada dukungannya, apakah memang ada pertentangan antara ayat-ayat quran dan hadis, mengingat kedua pendapat bertolak belakang? Mustahil ada pertentangan antara ayat Al Quran dengan ayat yang lain dan juga dengan hadis tersebut di atas tadi, walaupun sering dikutip banyak pihak, namun belum berisi keseluruhan ayat. Bila kita baca keseluruhan ayat, maka ternyata tersirat bahwa kedua pandangan tersebut benar.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar Ra’d: 11)

Terlihat dalam ayat tersebut bahwa manusia dapat mengubah nasibnya, namun Allah ﷻjuga Maha Berkehendak terhadap segala sesuatu, yang tidak dapat ditolak oleh makhluknya. Dengan demikian, kita akan melihat bahwa sukses itu adalah ikhtiari yang sudah ditakdirkan adalah benar dan tidak saling bertentangan.

Dalam Islam keyakinan akan kemampuan pada diri sendiri sangat penting, karena keyakinan membuat seoarang muslim mampu mengerahkan seluruh tindakan dan perilakunya. Keyakinan akan diri sendiri untuk mencapai kesuksesan dengan sendirinya akan menghapus keraguan, kegelapan, atau kebodohan yang mungkin membayanginya.

Sikap optimis akan kemampuan diri sendiri merupakan faktor yang sangat penting untuk menjadi orang yang maju dan sukses. Sikap optimis membuat kita senantiasa tegar, penuh harapan dalam menatap masa depan. Ketika timbul masalah berusaha dipecahkan dengan pendekatan yang rasional dan tetap dikembalikan pada ketentuan ilahi. Tinggalkan sikap berputus asa dan yakinlah setiap ada kesulitan bersama itu ada kemudahan. Firman Allah ﷻ:
“karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”(QS. Al-Insyirah: 5-6)

Sedangkan meyakini takdir sebagai penentu kesuksesan juga perlu menjadi bagian dari pemahaman setiap mukmin. Takdir diyakini merupakan pertemuan antara ikhtiar atau usaha manusia dan kehendak Allah ﷻ. Orang yang memahami takdir akan teguh menjalani kehidupan. Ia meyakini semua kebaikan dan keburukan semata atas kehendak-Nya. Segala sesuatu yang Allah ﷻ kehendaki pasti terjadi, begitu juga sebaliknya, jika Allah ﷻ tidak menghendaki, tidak akan terjadi. Dan yakinlah setiap yang ditakdirkan-Nya, pastilah ada hikmahnya.

Allah ﷻ berfirman, "Katakanlah: 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orangorang yang beriman harus bertawakal" (QS at-Taubah: 51).

Takdir terkadang disikapi salah. Tak jarang kita ketika mendapat kesulitan langsung berkeluh kesah, frustrasi, atau putus asa, bahkan berani menyalahkan Tuhan. Padahal, bisa jadi apa yang Allah takdirkan ialah untuk menguji seberapa kuat keimanan kita, siapa yang paling berhak berada di sisi- Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah apabila mencintai sebuah kaum, Dia mengujinya. Barang siapa yang ridha maka dia mendapatkan keridhaan dan siapa yang benci maka dia hanya akan mendapatkan kebencian." (HR at-Tirmidzi).

fahamilah takdir itu dengan penuh keimanan. Percaya dan meyakini sepenuh hati adalah kunci ketenangan hati. Sejatinya, takdir bertujuan agar seseorang merasa rendah di hadapan Allah ﷻ. Menyadari bahwa hanya Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Gantungkan segala doa dan ikhtiar kita kepada- Nya. Lakukan yang terbaik dalam setiap prosesnya.

Allah ﷻ telah menggariskan keputusan, dengan menuliskan takdir kehidupan bagi diri kita, namun semua tergantung pada pilihan kita apakah mengambil keputusan yang salah atau benar, jalan yang sesat (fujur), atau jalan yang benar (takwa). Suksesnya kita di dunia yang menjadi pondasi sukses kita di akhirat kelak.

Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha, yakni maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. As-Syams: 8)

Ketika kita selalu berusaha berada dalam kebaikan, menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan bagi seorang Mukmin, sebagaimana disabdakan Nabiullah ﷺ. "Sangat menakjubkan bagi orang Mukmin, apabila segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan terjadi bagi seorang yang beriman, kecuali apabila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, yang demikian itu sangat baik, dan apabila ia tertimpa kesusahan ia bersabar, yang demikian itu sangat baik baginya." (HR Muslim).

Semuanya tergantung kita sebagai seorang mukmin ketika ingin sukses di dunia, bahwa ikhtiar adalah proses yang wajib dijalani disertai keyakinan apapun hasilnya semata karena takdir Allah ﷻ. Begitupun untuk kesuksesan akhirat yang tentunya berharap masuk surga dengan ikhtiar amal-amal terbaik, menjauhi segala larangan-Nya, dan melaksanakan segala perintah-Nya. Dengan demikian, jawaban sukses itu apakah takdir atau ikhtiari adalah dua-duanya benar sebagai syarat kumulatif yang harus dijalani setiap mukmin.

Semoga kita dimampukan untuk memilih jalan yang baik dan benar, hingga mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Aamiin.


Pekanbaru, 23 Desember 2021

Selasa, 16 November 2021

"AYAH JANGAN BISU"
(Serial Parenting)

“Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu” “Siapa lagi?” “Ibumu” “Siapa lagi” “Bapakmu”. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari mengutip pendapat Ibnu Battal tentang alasan Nabi Muhammad SAW mengulang kata 'ibu' tiga kali. Menurut Ibnu Battal, hal ini disebabkan karena sosok ibulah yang menanggung tiga kesulitan yakni ketika mengandung, melahirkan, dan menyusui. Tiga hal inilah yang harus ditanggung sendirian oleh seorang ibu. Sementara sang ayah berkewajiban memberi nafkah dan ikut serta mendidik anak bersama-sama dengan ibu.

Jika hadits ini dipahami secara letter lack (per-kata, umumnya berkembang pemahaman di masyarakat bahwa:
1. kasih sayang dan cinta seorang anak kepada ibunya harus lebih besar tiga kali dibanding kepada ayahnya;
2. ibu harus lebih banyak mengobrol (berkomunikasi) dengan anak dibanding dengan ayah karena anak cenderung menurut kepada ibu;
3. mendidik dan mengasuh anak adalah tugas seorang ibu, ayah hanya membantu saja.

Maka tidak heran jika ada undangan dari sekolah untuk menghadiri pertemuan orang tua murid dengan guru baik offline atau online, yang paling banyak datang adalah ibu-ibu. Pada saat acara pengambilan raport semester atau kenaikan kelas, terlihat ibu-ibu yang paling banyak hadir dan lebih rajin berkomunikasi dengan gurunya. Ketika acara pengajian atau taklim terkait keluarga dan pendidikan anak, yang memenuhi ruang adalah ibu-ibu, dan beberapa fenomena lainnya yang menyatakan bahwa ibulah yang paling mendominasi tumbuh kembangnya karakter dan pendidikan seorang anak.

Padahal jika kita lihat ajaran Islam, pembentukan karakter, pola pikir, ahlak, dan pendidikannya adalah kewajiban bersama antara suami dan istri, atau antara ayah dengan ibu. Kedua belah pihak memiliki beban tanggung jawab yang seimbang untuk itu.

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi.” (HR. Muslim)

Namun, fenomena yang terjadi saat ini, tidak sedikit keluarga yang memiliki pemahaman keliru tentang eksistensi anak. Seringkali keluarga yang hanya memiliki filosofi bahwa kehadiran anak semata-mata akibat logis dari hubungan biologis, anak dimanja, semua kebutuhan diberikan dengan alasan kasih sayang, tanpa memilki landasan ilmu dan makna arahan keberadaan anugerah anak. Yang akhirnya anak menjadi fitnah (ujian) dan musuh yang nyata.

Firman Allah: “Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ath-Taghobun: 14)

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath-Taghobun: 15)

Semua proses “melahirkan” anak yang berakhlak mulia diawali dari hubungan batin orang tua dengan sang pencipta (melalui do’a) dan hubungan komunikasi (dialog) yang baik dengan anak. Jika salah satu atau keduanya buruk maka hasilnya akan buruk pula.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. AlKahfi: 46)

Bahkan jika dicermati secara lebih dalam, legenda dan simbol pendidikan anak yang diabadikan dalam Al Qur’an dan sering menjadi kajian di berbagai majelis ilmu adalah Luqman Alhakim. Sampai dijadikan nama surat dalam Al Qur’an, yaitu surat Luqman. Beliau adalah orang salih yang dikisahkan metode pendidikan anak, dan menjadi pelajaran penting bagi semua umat manusia beriman. Legendanya adalah Luqman, bukan istrinya Luqman. Ini menandakan peran ayah yang sangat penting dalam mendidik anak.

Ada sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar Magister di Universitas Umm al-Quro, Mekkah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan. Judulnya “Dialog Orangtua dengan Anak dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Aplikasi Pendidikannya”.

Menurut tulisan ilmiah tersebut, ternyata terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam Al-Qur’an yang tersebar dalam sembilan surat.
Pertama dialog antara ayah dengan anaknya sebanyak 14 kali yaitu:

1. QS. Al Baqarah 130 – 133, memuat kisah dialog Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya dan dialog Nabi Ya’qub As dengan anaknya.
2. QS. Al An’am: 74, memuat kisah dialog Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya.
3. QS. Hud: 42 – 43, memuat kisah dialog Nabi Hud AS dengan anaknya.
4. QS. Yusuf: 4 – 5, memuat kisah dialog Nabi Yusuf AS dengan ayahnya.
5. QS. Yusuf: 11 – 14, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
6. QS. Yusuf: 16 – 18, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
7. QS. Yusuf: 63 – 67, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
8. QS. Yusuf: 81 – 87, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
9. QS. Yusuf: 94 – 98, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
10. QS. Yusuf: 99 – 100, memuat kisah dialog Nabi Yusuf AS dengan ayahnya.
11. QS. Maryam: 41 – 48, memuat kisah dialog Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya.
12. QS. Al-Qashash: 26, memuat kisah dialog Syaikh Madyan dengan anak perempuannya.
13. QS. Luqman: 13 – 19, memuat kisah dialog Luqman dengan anaknya.
14. QS. Ash-Shaffat: 102, memuat kisah dialog Nabi Ibrahim AS dengan anaknya, Ismail. Demikianlah empat belas tempat dalam Al Qur’an yang memuat kisah dialog ayah dengan anak mereka.

Kedua dialog antara ibu dan anaknya sebanyak 2 kali, yaitu:
1. QS. Maryam: 23 – 26, memuat kisah dialog Maryam dengan janinnya.
2. QS. Al-Qashash: 11, memuat kisah dialog Ibu Musa dengan anak perempuannya.

Ketiga dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya 1 kali yaitu di QS. Al-Ahqaf: 17.

Kesimpulannya, ternyata Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahirkan generasi istimewa (khoiru ummah) seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rosul-Nya, diperlukan dialog kedua orangtua kepada anak. Dan jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya.

Kenapa ayah, bukan ibu? Ini bukan berarti ibu tidak boleh banyak berdialog dengan anak tapi lebih kearah peran ayah harus lebih besar dalam komunikasi dengan anak. Ini seakan Al-Qur’an ingin menyeru kepada semua ayah, “Ayah, engkau harus rajin berdialog dengan anak, seperti dialog Luqman kepada anaknya”. Janganlah jadi “ayah bisu” (sedikit bicara), ayah yang hanya ada ketika menyediakan keperluan anak, ayah yang meninggalkan kepedulian pendidikan dan keteladanan, ayah yang hanya salih sendirian, ayah yang mempercayakan anaknya pada televisi, gadget dan internet tanpa batas, ayah yang egois karena merasa lebih tua, lebih pintar, lebih kuasa, atas anak anaknya, dan banyak lagi.

Inilah mungkin jawaban mengapa seorang anak gadis yang masih belia mudah mudah jatuh dalam “pelukan” laki-laki yang bukan mahromnya, bahkan melabrak hal-hal yang dilarang agama. Ini juga yang membuat anak laki-laki selalu memberontak bahkan durhaka kepada ayahnya, karena mereka telah kehilangan sosok ayah yang melindungi, mengayomi, yang kuat, dan yang ia hormati. mereka tidak ada rasa takut lagi atas peringatan dan ancaman ayahnya, apalagi hukuman Allah. Naudzubillah.

"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Furqan: 74)

Lantas, bagaimana jika single parent, tidak ada sosok ayah dalam keluarga, maka tugas ayah akan diambil oleh ibu. Dialog-dialog ayah dapat digantikan dengan kakek, paman atau kerabat laki-laki yang dipercaya yang bisa membimbingnya. Dialog-dialog ayah bisa juga dititipkan saat anak bersekolah menimba ilmu disekolah yang baik lewat guru atau ustaz yang faqih.
Kisah Imam Syafi’i kecil yang dititipkan oleh ibunya kepada guru dan ulama di Mekah menjadi pelajaran bagi seorang ibu yang berharap anaknya berhasil dunia akhirat. Perkataan Ibunda Syafi’i kepada anaknya, “kelak kita akan bertemu di akhirat”, merupakan doa sekaligus motivasi bahwa menuntut ilmu agama ataupun ilmu dunia disertai keikhlasan semata karena Allah subhanahu wataala merupakan jalan menuju akhirat yang indah. Namun tentunya ibunda Syafi’i adalah yang ibu cerdas dan berilmu serta paham betul siapa Imam Syafi’i, beliau tidak mungkin melepas Syafi’i muda jauh keluar kota tanpa bekal keilmuan dan keimanan yang kuat. Ataupun belajar ilmu yang tidak jelas. Sehingga ibunya yakin Syafi’i muda tidak akan terperosok kedalam kemaksiatan dan kenistaan dalam menimba ilmu nun jauh disana.

Sabda Rasulullah:
”Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Dan sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena puas dengan apa yang diperbuatnya, dan bahwasanya penghuni langit dan bumi sampai ikan yang ada di lautan itu senantiasa memintakan ampun kepada orang yang pandai. Kelebihan si alim terhadap si ‘abid adalah bagaikan kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi dan bahwasanya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham (kekayaan duniawi) tetapi para Nabi mewariskan ilmu pengetahuan, maka barangsiapa yang mengambil (menuntut ilmu maka ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Abu Daud dan Atturmudzi)

Di era digital ini, di awal tahun 2020, kita dan anak-anak dipaksa berdamai dengan pandemi covid yang mengharuskan menghadirkan gadget (gawai) diantara aktifitas keseharian. Ayah dan anak di suatu kondisi sama-sama bisu dengan gawai di tangan yang membuat jarak yang jauh jadi dekat sekaligus juga efeknya membuat yang dekat terasa jauh. Ayah jangan terlena, rangkul anakmu, batasi gawainya dengan syarat tertentu ketika ia ingin menggunakannya. Bicaralah saat anak di depan mata, saat anak lagi nyaman, ajak komunikasi dengan bahasa mereka, bila perlu ikuti apa yang dimainkan dalam gawainya sambil diskusi hal-hal yang membuat mereka dapat terjaga dalam pola pikir yang islami. Ayah ibu juga harus jadi orang tua pembelajar sehingga bisa memberikan keteladanan dan pemahaman kepada anak tentang hakikat hidup di dunia dan bekal apa yang harus dipersiapkan untuk akhirat, tanamkan dan sampaikan kepada anak-anak kita tentang:
1. Tauhid kepada Allah dan kecintaannya kepada Rasul-Nya;
2. Salat lima waktu yang terlarang untuk ditinggalkan kapan dan dimanapun;
3. Sifat-sifat terpuji serta menghindarkannya dari sifat-sifat tercela;
4. Cara-cara hidup sehat dan gaya hidupmyang baik; dan
5. Ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Hai Anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukanNya adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Q.s. Luqman: 13)

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata), "Hai Anak-Anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam." (Q.s. al-Baqarah: 132)

"Dan Ya'qub berkata, "Hai Anak-Anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan. Namun demikian, aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah Aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang' orang yang bertawakal berserah diri." (Q.s. Yusuf: 67)

Ayah harus menyempatkan waktu untuk banyak berdialog dengan anak-anak, karena itu adalah bagian penting dalam proses pembentukan karakter dan pendidikan anak. Ayah tidak boleh diam, jangan bisu dan menyerahkan semua komunikasi dengan anak hanya kepada ibu. Karakter dan pendidikan anak harus menjadi tanggung jawab bersama karena sosok keduanya sangat diperlukan. Keseimbangan peran dari ayah dan ibu akan memberikan andil besar bagi keberhasilan pendidikan anak-anak.

Maka jika ada sosok ayah yang bertanggung jawab dan ibu yang penuh kasih sayang, yang dengan pemahaman islam yang baik sering berdialog dengan anak anaknya sejak dini, maka akan muncul anak-anak yang berahlak baik (mulia), taat kepada Allah dan yang mencintai Rosulullah, serta berbakti pada kedua orangtuanya. Wallahu a’lam.


Pekanbaru, 16 November 2021
Self Reminder
Selamat Hari Ayah 12 November 2021

Kamis, 21 Oktober 2021

Tertipu Waktu Luang

Jangan Tertipu oleh Waktu Luang

Jangan Tertipu oleh Waktu Luang

“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Pernahkah kita merasa waktu begitu cepat? Hampir setiap orang pasti merasakan itu. Ketika menjelang akhir tahun, terucap, “Wah, sudah mau berganti tahun, tidak terasa, ya.” Begitu pula ketika akhir bulan terasa cepat berganti ke bulan berikutnya. Saat bertemu hari juga demikian, dengan sedikit kaget, “Hah, besok sudah Jumat lagi?” Jam ke jam, menit ke menit, dan detik ke detik cepat berlalu hingga kita tersadar bahwa waktu telah jauh di belakang.

Lihat diri kita sekarang, bandingkan dengan yang dulu. Kaget bercermin membandingkan foto kanak-kanak kita. Ayah dan ibu terlihat renta dengan uban yang semakin banyak. Anak-anak kita yang dahulu masih dalam buaian, kini asyik dalam dunia remajanya hingga susah diajak jalan bersama, dan seterusnya.

Waktu begitu cepat melesat hingga kita terkadang lupa apa yang kita kerjakan kemarin. Hidup instan dengan gaya hedonis dan asosial, uang dan harta dikejar dengan berbagai cara. Halal dan haram menjadi abu-abu, agama menjadi simbol identitas. Hingga tersadar ketika melihat kematian orang tua, keluarga, atau kerabat.

Tersadar bahwa kita akan mengalami kematian. Menangis mengingat kepergian mereka, sedih mengingat amal kita, takut tidak siap dengan apa yang akan kita bawa menghadap Allah ﷻ. Di antara mereka ada yang sadar untuk bertobat dan bersegera memperbaiki iman dengan berazam untuk istiqamah dalam amal-amal terbaik.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabb-mu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu, hingga waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sungguh aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.”
(QS. Hûd: 3)

Bagi yang tidak tersadar atau mengabaikan, hilangnya waktu yang lalu dianggap biasa saja, seakan merasa besok masih hidup. Waktu luang mereka buang, mereka isi dengan aktivitas sia-sia bahkan kemaksiatan. Akhirnya ketika kematian tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya.

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.”
(QS. Yûnus: 49)

Di antara mereka yang tertipu dengan banyaknya waktu luang, mereka menganggap apa yang mereka kerjakan adalah hal yang positif, biasa, atau hal yang dimaklumi. Ketika berkumpul dengan teman-temannya, waktunya digunakan untuk refreshing, merilekskan pikiran, ngobrol, bercanda, gurau, dan nongkrong. Sepanjang untuk menghilangkan rasa lelah, tentu masih bisa dimaklumi bahkan dianjurkan, karena Rasulullah ﷺ pun melakukannya.

Tetapi bila sudah menjadi kebiasaan, di era digitalisasi ini, bermedsos, chatting di grup, mabar, kopdar, dan aktivitas lainnya—baik daring maupun luring—yang mengandung unsur kesia-siaan bahkan kemaksiatan, inilah yang dilarang.

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. Al-‘Ankabût: 64)

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu.”
(QS. Luqmân: 33)

Dunia itu sementara, akan lenyap, tidak ada kehidupan yang abadi di dalamnya. Jika kita bisa memanfaatkan waktu di dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah ﷻ, maka kita akan beruntung dan memetik hasilnya di akhirat kelak. Namun, jika waktu digunakan untuk memuaskan hawa nafsu, maka kita akan merugi.

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”
(QS. Al-Ḥajj: 11)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah ﷻ dan perhatikanlah waktu yang telah engkau lewati untuk bekal mengarungi kehidupan waktu mendatang.”
(QS. Al-Ḥasyr: 18)

Sudah seharusnya setiap Muslim tidak tertipu dengan waktu luang.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”
(HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Ulama Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama mengatakan, kata "tertipu" dalam hadis ini bermakna merugi.

Banyak manusia yang merugi karena nikmat sehat dan waktu luang. Ada yang secara fisik sehat, namun tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan akhirat karena terlalu sibuk dengan dunia. Ada juga yang punya waktu, namun fisiknya tidak sehat. Seiring bertambahnya umur, hari-harinya hilang tanpa amal yang menjadi bekal akhirat.

“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).”
(QS. At-Takâtsur: 8)

Hasan al-Bashri berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka hilang pula sebagian dari dirimu.”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Nasai dan Baihaqi)
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-nya, hingga ia ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa yang telah diamalkan dari ilmu yang dimilikinya.”
(HR. Tirmidzi)

Beberapa Cara Agar Tidak Tertipu oleh Waktu Luang

1. Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.”
(HR. Tirmidzi)

Menurut Imam Ibnu Rajab Al-Hambali, ini mencakup meninggalkan perkara haram, syubhat, makruh, bahkan hal-hal mubah yang tidak diperlukan.

2. Jangan Berangan-angan Akan Masih Hidup Besok

“Setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.”
(QS. Muhammad: 25)

Menurut Imam Ghazali, panjang angan-angan disebabkan oleh kebodohan dan cinta dunia. Hasan al-Bashri berkata, “Tidaklah seorang hamba berpanjang angan-angan melainkan akan merusak amalannya.”

3. Sering Mengingat Kematian

Mengingat kematian akan mempersiapkan diri untuk menghadap Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibn Umar:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara.”
(HR. Bukhari)
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian).”
(HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)

4. Jadikan Dunia sebagai Ladang Amal

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding kehidupan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit.”
(QS. Ar-Ra‘d: 26)

Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk digunakan sebagai sarana menuju akhirat.

5. Berteman dengan Orang-orang Saleh

Rasulullah ﷺ bersabda, “Teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi...”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Teman yang saleh akan mengingatkan saat lalai. Namun dalam bermuamalah, tetap tunjukkan akhlak yang baik kepada siapa pun tanpa memandang agama, ras, atau suku.

“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.”
(HR. Tirmidzi)


Waktu adalah karunia dan ujian. Gunakanlah ia untuk memperbanyak amal kebaikan, menambah keimanan, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menebar manfaat bagi sesama. Sebab setiap detik akan ditanya, setiap usia akan dipertanggungjawabkan.

Wallahu a‘lam

TSH
Pekanbaru, 21 Oktober 2021
(Dari berbagai sumber)

Rabu, 22 September 2021

RUMAH KITA SEBAGAI JALAN KESELAMATAN

Rumah Islami sebagai Jalan Keselamatan

Rumah Islami sebagai Jalan Keselamatan

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا ...
Artinya: "Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawanya) di waktu kamu berjalan dan di waktu kamu bermukim dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)." (QS. An-Nahl [16]: 80)

Membicarakan jalan keselamatan sebagai seorang muslim tentu tidak terlepas dari Al-Qur'an dan Sunah, yang menjadi pedoman hidup agar tidak tersesat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ"
Artinya: "Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya." " (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)

Al-Qur'an dan Sunah telah memberikan petunjuk yang jelas bagaimana seorang muslim sebagai khalifah di muka bumi melaksanakan tugasnya, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt. Beribadah dengan ikhlas mengharap rida Allah Swt. dan mengikuti cara Rasulullah ﷺ agar mendapatkan rahmat-Nya adalah tujuan akhir yang didambakan setiap muslim, yaitu selamat dari azab api neraka dan mendapatkan surga-Nya.

Berbagai cara dan sarana telah diatur Allah Swt. melalui firman-Nya dan sunah Rasulullah ﷺ agar seorang hamba tidak tersesat dan mendapatkan jalan keselamatan. Salah satu petunjuk dalam hadis Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa ternyata rumah bisa menjadi sebab keselamatan bagi penghuninya.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Aku pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ, 'Apa itu sebab keselamatan?'" Jawab beliau dengan sabdanya:

"أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ"
Artinya: "(Keselamatan itu) yaitu hendaklah engkau menahan lisanmu, perluaslah rumahmu (jadikan nyaman), dan tangisilah dosa-dosamu (bertaubat)." (HR. At-Tirmidzi)

Menahan lisan dan bertaubat mungkin sudah sering dibahas dalam materi atau kajian sebelumnya. Kali ini kita akan membahas "perluaslah rumahmu" sebagai jalan keselamatan.

Memaknai "Perluaslah Rumahmu"

Kalimat "perluaslah rumahmu" dalam arti sebenarnya oleh sebagian ulama diartikan sebagai rumah yang luas, rumah yang nyaman, rumah yang membuat kita tenang dan tenteram di dalamnya, baik ketika melakukan aktivitas duniawi maupun ukhrawi.

Sebagian ulama lain, seperti Imam Ath-Thibi, mengartikan "perluas rumahmu" adalah semata-mata rumah itu digunakan untuk tujuan ibadah kepada Allah Swt. Beliau menjelaskan bahwa perintah yang dimaksud adalah untuk rumah. Namun, yang dimaksud adalah jadikan rumahmu agar tetap betah berada di dalamnya dengan sibuk melakukan ibadah pada Allah dan jauhilah pergaulan yang tidak baik. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7:132).

Sebelum lebih dalam membahas rumah yang luas dan nyaman sebagai jalan keselamatan, mari kita lihat potret rumah Rasulullah ﷺ yang secara hakikat dapat kita ambil sebagai dasar membangun rumah seorang muslim.

Potret Rumah Rasulullah ﷺ sebagai Inspirasi

Rasulullah ﷺ membangun rumah ketika pertama kali tiba di Madinah setelah hijrah. Di antara banyaknya penawaran, Rasulullah ﷺ menerima permintaan sebuah keluarga dari Bani Najjar yang memberikan tanah untuk ditinggali. Tanah ini dulunya adalah tempat mengeringkan kurma dan kuburan orang-orang musyrik. Rasulullah ﷺ menyetujui dengan syarat tanah ini diratakan dan kuburan dipindahkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak dibenarkan dalam Islam, adanya kuburan dalam rumah.

Dalam segi konstruksi, rumah Rasulullah ﷺ dibangun dari batu bata yang terbuat dari campuran tanah liat dengan serat gandum (barley) dan dikeringkan dengan panas matahari. Rumah Rasulullah ﷺ berdinding bata dilengkapi courtyard yang luas (open space di dalam bangunan), dan memiliki pintu masuk di bagian utara dan selatan. Rumah dengan konsep house-mosque tersebut memiliki tiga pintu. Ketika kiblat diubah dari Yerusalem ke Mekah, pintu selatan ditutup dan dijadikan dinding untuk arah kiblat. Kamar-kamar rumah Rasulullah ﷺ beratap pelepah kurma dengan luas tiap kamar sekitar 23 m² dan tinggi plafon 2,7-3,6 m. Kamar-kamar bertambah dari 1-9 sesuai jumlah istri-istri Rasulullah ﷺ. Ada kebiasaan di zaman Rasulullah ﷺ bahwa jika hendak membangun pondasi rumah, maka para sahabat baik kaum Muhajirin dan Anshar diundang untuk bekerja bersama. (Campo, 1991).

Ciri khas rumah-rumah di zaman Rasulullah ﷺ dan di zaman-zaman setelahnya hingga zaman kekaisaran Ottoman Turki (1590-1700) sama, yakni courtyard dan taman. Selain itu, patut pula dicatat bahwa bagi yang mempunyai kuda sebagai kendaraan di masa itu, rumah dilengkapi dengan istal. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa konsep rumah dalam peradaban Islam adalah rumah yang mempunyai banyak kamar, dan dilengkapi tabhane (ruang utama), taman, dan courtyard. Hal ini menegaskan bahwa keluarga dalam konsep Islam cenderung besar. Keluarga besar ini tentu membutuhkan privasi yang dapat dipenuhi ketersediaan kamar yang cukup. Kamar-kamar ini juga diperuntukkan bagi orang tua atau sanak keluarga yang datang bersilaturahmi. (Campo, 1991)

"أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ"
Artinya: "Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salihah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak." (HR. Ibnu Hibban)

Sejatinya demikian, namun itu bukan menjadi keharusan, karena banyak juga kisah para sahabat, salafus saleh, atau ulama-ulama terdahulu yang karena kezuhudannya hidup sederhana tanpa memiliki rumah bahkan harta sedikit pun, namun tetap mulia di mata Allah dan Rasul-Nya.

Konsep Dasar Perencanaan Rumah Islami

Ketika kita diberikan rezeki yang halal dan lapang serta berkesempatan untuk bisa membangun rumah dari awal, hendaknya kita bisa merencanakan dengan baik dan menyesuaikan dengan konsep rumah yang Islami, di antaranya:

  • Memilih Lingkungan yang Islami atau Baik. Rasulullah ﷺ bersabda: "اِخْتَرْ الْجَارَ قَبْلَ الدَّارِ وَالرَّفِيقَ قَبْلَ الطَّرِيقِ وَالزَّادَ قَبْلَ السَّفَرِ" Artinya: "Pilihlah tetangga (lihat calon tetangganya atau lingkungannya dulu) sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian)." (HR. Al-Khatib) Imam Hasan Al-Bashri (seorang tabi'in terkemuka) pernah menekankan pentingnya memilih tetangga yang baik karena mereka adalah cerminan bagi akhlak kita dan lingkungan tempat anak-anak kita tumbuh.
  • Bangunan didirikan tanpa unsur syirik dalam pembuatannya, termasuk desain dan ornamen di dalamnya seperti penggunaan patung dan sebagainya. Hiasan dan ornamen interior sebaiknya menggunakan motif tumbuhan, kaligrafi, dan geometri. Memodifikasi pencahayaan, ventilasi, efek suara, lanskap, warna, dan tekstur agar terlihat indah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin sering mengingatkan bahwa seni dalam Islam harus terbebas dari unsur syirik dan fitnah, serta mendorong pada kebaikan dan keindahan yang sesuai syariat.
  • Mengusahakan dan menyesuaikan rumah dengan kamar yang banyak, sehingga kita bisa memisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan. Di dalamnya juga terdapat kamar untuk ibadah termasuk adanya kamar tamu. Namun hendaknya kamar untuk tamu terpisah dari ruang keluarga sehingga tidak memungkinkan tamu bisa melihat dengan bebas ruang keluarga. Ini penting untuk menjaga privasi dalam keluarga, sesuai dengan ajaran Islam tentang adab bertamu dan menjaga pandangan.
  • Arsitektur Islam sangat dipengaruhi oleh konsep taman dan courtyard sehingga lanskap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangunan. (Rehman, 2002). Dr. Abdul Qadir al-Fasi, seorang ahli arsitektur Islam, menjelaskan bahwa taman dalam arsitektur Islam bukan hanya estetika, tetapi juga simbol jannah (surga) dan tempat refleksi.

Hal-hal tersebut hanya merupakan konsep dasar dan masih ada konsep lainnya yang belum diuraikan. Namun, dari kesemuanya itu tidak serta-merta menjadi wajib, contohnya taman atau ruang terbuka, atau keharusan menyiapkan space untuk tanaman hijau. Semuanya tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Rumah Islami sebagai Jalan Keselamatan Akhirat

  • Berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ: "أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ" Artinya: "Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salihah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak." (HR. Ibnu Hibban)
  • Sejatinya demikian, namun itu bukan menjadi keharusan, karena banyak juga kisah para sahabat, salafus saleh, atau ulama-ulama terdahulu yang karena kezuhudannya hidup sederhana tanpa memiliki rumah bahkan harta sedikit pun, namun tetap mulia di mata Allah dan Rasul-Nya.,/p>

    Dari berbagai sumber, ciri-ciri rumah yang Islami di antaranya adalah:

    • Rumah sebagai pusat ibadah kepada Allah Swt., di mana terjadi internalisasi nilai Islam secara baik dan komprehensif. Ini berarti rumah menjadi pusat ibadah, bukan sekadar tempat tinggal.
    • Rumah yang menghindarkan dari hal-hal tidak Islami , seperti tontonan yang tidak baik, bacaan yang sia-sia, musik yang menjauhkan dari keimanan, patung, memelihara anjing di dalam rumah, dan seterusnya.
    • Rumah sebagai tempat pembinaan generasi mendatang. Suami membimbing istri, orang tua memberikan contoh dan arahan yang baik untuk anak-anaknya, dan seterusnya. Ini sejalan dengan konsep keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.
    • Menjaga adab dan privasi, saling berinteraksi, dan menghormati hak-hak sesama anggota rumah. Namun privasi masing-masing orang di dalamnya tetap terjaga.
    • Terbuka untuk interaksi sosial yang tidak menutup diri dari dunia luar, atau merasa saleh sendiri. Rumah yang memungkinkan interaksi dan hubungan sosial dengan lingkungan sekitar dan para tetangga bisa berlangsung dengan baik, dengan tidak menonjolkan kemewahan dan kekayaan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam tentang silaturahmi dan ukhuwah islamiyah.

    "Baiti Jannati" (Rumahku adalah Surgaku). Demikian sabda Rasulullah ﷺ, adalah rumah yang dibangun semata-mata hanya untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah Swt. Selanjutnya akan terwujud rumah tinggal yang didasari nilai-nilai Islam dan membentuk suatu perilaku dan akhlak yang menuju kepribadian dan citra diri Islam yang terbentuk dari lingkungan tersebut. Allah Swt. berfirman:,/p>

    "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا"
    Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim [66]: 6)

    Seorang muslim selamanya akan selalu aktif melaksanakan ibadah sesuai tuntutan agama, dan mempunyai kewajiban terhadap keluarganya. Ia juga berusaha untuk menjauhkan dirinya dan keluarganya dari hal-hal yang dilarang oleh agama, kapan dan di mana pun, termasuk di dalam rumahnya.

    Ketika belum bisa melakukan amalan-amalan sunah di rumah kita, minimal dan menjadi mutlak untuk ibadah-ibadah wajib. Salat fardu jangan sampai ditinggalkan oleh setiap anggota keluarga di rumah, puasa Ramadan menjadi keharusan, serta mengusahakan juga jangan sampai jatuh ke dalam hal-hal yang makruh, bahkan haram.

    Kebersihan dan Kerapian sebagai Penunjang Ibadah

    Untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah Swt. saat di rumah, tentunya membutuhkan tempat yang bersih dan rapi. Rumah yang bersih dan rapi sangat mendukung agar ibadah kita menjadi lebih khusyuk dan tenang. Kualitas ibadah kita menjadi lebih baik manakala rumah yang kita huni bersama anggota keluarga yang lain, semua saling memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kerapian. Dimulai dari diri kita, apakah sebagai seorang anak, atau sebagai seorang suami/istri yang memberikan keteladanan bagi anak-anaknya, saling mendukung, dan bekerja sama menjaga kebersihan dan keindahan rumahnya.

    "إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ، جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ، فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ"
    Artinya: "Sesungguhnya Allah itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu." (HR. At-Tirmizi)

    Tips Kebersihan

    • Hendaklah seorang muslim dan anggota keluarganya membiasakan untuk tidak membuang sesuatu, atau sampah, kecuali pada tempat yang sudah disediakan.
    • Hendaklah kaum wanita mengatur waktu tertentu untuk mencuci pakaian dan perabotan bekas makan.
    • Hendaklah anggota keluarga memperhatikan barang-barang yang sering terkena debu, kemudian membersihkannya.
    • Hendaklah setiap anggota keluarga rutin mandi dan mempunyai jadwal membersihkan kamar mandi tersendiri. Di antara sunah Rasulullah ﷺ adalah mandi di hari Jumat, menggunakan siwak untuk membersihkan gigi dan menyehatkan gusi.
    • Hendaklah penghuni rumah menata rumahnya, sehingga terbebas dari polusi udara yang tak sedap, yang membahayakan penghuni rumah, atau tetangganya. Yang paling penting untuk diperhatikan adalah kebersihan dapur, kamar mandi, dan WC. (Sa'id, 2002)

    Tips Kerapian

    • Menata barang dengan rapi dan terorganisir, dan ditempatkan pada tempatnya. Apabila kita menggunakan suatu barang, hendaklah kita letakkan kembali pada tempatnya. Adapun waktu yang tepat untuk menata dan merapikan rumah adalah waktu pagi hari.
    • Setiap anggota keluarga diharapkan tidak memaksakan kehendaknya sendiri dalam menata barang-barang yang ada, akan tetapi hendaklah membiasakan meletakkan suatu barang pada tempat yang sudah ditentukan.
    • Setiap kamar harus ditata sesuai dengan situasi dan kondisi kamar tersebut, sesuai dengan sifat dan kegunaan kamar.

    Rumah yang bersih dan rapi, diharapkan menghasilkan kenyamanan bagi penghuninya, namun belum tentu menghasilkan keselamatan untuk akhirat dengan berbagai sebab. Sejatinya, rumah menjadi sebab keselamatan tersebut, di samping memang nyaman secara fisik juga nyaman dalam melaksanakan ibadah-ibadah. Ketenangan dan ketenteraman menaungi segala aktivitas di dalam rumah. Penghuninya mudah mengingat Allah, sering terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an.

    Keteladanan dengan adab Islami selalu muncul dalam setiap interaksi antara sesama penghuninya maupun penghuni dengan tetangga sekitar, dan seterusnya.

    Tidak ada yang serba instan, semua butuh proses, butuh kesungguhan, butuh keikhlasan. Bahwa rumah sebagai jalan keselamatan menjadi keniscayaan bagi penghuninya manakala kita melaksanakan tahap demi tahap dengan berpedoman kepada Al-Qur'an dan Sunah.

    Wallahu a’lam.

    Pekanbaru, 23 September 2021
    (Barakallah fi umrik, my love)

    Daftar Pustaka:


    Campo, J.E. (1991). The Other Side of Paradise. South Carolina: University of South Carolina Press.
    Rehman, A. (2002). The Grand Tradition of Islamic Architecture. London: Routledge Curzon.
    Sa’id, Syaikh. (2002). Tatanan Rumah Islami. Bandung: Robbani Press.

    Kamis, 19 Agustus 2021

    HIJRAH ZAMAN NOW (Pandemi Covid-19)

    Hijrah Zaman Now

    Hijrah Zaman Now

    “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 100)

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)

    Ketika Makkah tak lagi aman bagi umatnya, Rasulullah ﷺ mengizinkan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah. Kisah pergerakan beliau bersama para sahabat karena perlakuan buruk, penganiayaan, dan pengejaran dari kaum Quraisy menjadi fondasi hijrah fisik dalam Islam. Hijrah secara fisik ini mengharuskan seorang muslim meninggalkan tempatnya demi keselamatan dan keamanan.

    Zaman itu, hijrah fisik menjadi transisi antara dua keadaan: dari situasi tidak aman dan lemah (Makkah) menuju kondisi aman dan kuat (Madinah). Peristiwa ini menyisakan hikmah mendalam bagi umat Islam: bahwa perubahan ke arah yang lebih baik membutuhkan keberanian untuk meninggalkan kenyamanan demi kemuliaan iman.

    Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan juga proses menuju transformasi jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Al-muhâjir man hajara mâ nahallâhu ‘anhu — Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)

    Hijrah spiritual atau hijrah jiwa adalah perubahan yang lahir dari kesadaran iman. Setidaknya ada dua makna mendalam:

    1. Hijrah adalah keberanian meninggalkan zona nyaman menuju kebaikan. Ia lahir dari ilmu, diyakini dengan iman, dan ditunaikan lewat amal.
    2. Hijrah didahului oleh iman dan diakhiri dengan jihad. Tanpa iman, hijrah tak bermakna. Dan tanpa jihad (perjuangan), iman tak akan membuahkan perubahan.

    Dalam konteks ini, Ustaz Salim A. Fillah menulis: “Hijrah adalah melangkah menuju Allah, meninggalkan apa yang dibenci-Nya, menuju yang diridai-Nya. Dan langkah itu harus kita jaga sepanjang hayat.”

    Fenomena Hijrah Zaman Now

    Satu dekade terakhir, fenomena hijrah menjadi tren di kalangan muda Indonesia. Banyak dari mereka memulai perubahan lewat penampilan: wanita yang berhijab syar’i, pria yang memelihara jenggot dan mengenakan gamis, ikut kajian, bergabung dengan komunitas dakwah. Ini adalah hal baik, meskipun harus dikawal dengan ilmu dan akhlak.

    Namun, sangat disayangkan jika hijrah hanya dimaknai sebagai identitas luar. Bahkan lebih parah jika berubah menjadi eksklusif, merasa paling benar, dan menilai orang lain dengan pandangan sempit. Seperti dikatakan Buya Yahya, “Hijrah yang benar adalah ketika seseorang merasa hina atas dosanya dan rendah hati di hadapan Allah, bukan merasa suci lalu merendahkan yang lain.”

    Hijrah di Masa Pandemi

    Dua tahun belakangan, pandemi COVID-19 menguji manusia dalam banyak sisi: kesehatan, ekonomi, psikologis, dan spiritual. Kita terkurung dalam kekhawatiran dan kecemasan, seperti sahabat Rasulullah ﷺ yang dahulu merasa terhimpit di Makkah sebelum hijrah. Maka, semangat hijrah spiritual relevan untuk membangun kembali optimisme dan kesabaran.

    Berbagai kebijakan seperti PPKM, vaksinasi, protokol kesehatan, bahkan pembatasan ibadah berjemaah adalah ikhtiar kolektif menuju keselamatan bersama. Semua ini bisa menjadi ladang hijrah — dari abai menuju peduli, dari lalai menuju taat.

    Saat sulit bergerak dan sesak menghadapi kehidupan, kita dituntut untuk move on, memulai langkah kecil menuju kebaikan. Hijrah bukan soal waktu atau tempat. Ia bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun.

    Pelajaran dari Hijrah

    1. Bersemangat menjadi lebih baik. Sesuaikan aktivitas di era new normal. Biasakan hidup bersih, disiplin, dan taat aturan. Optimis bahwa pandemi akan berakhir. Seperti kata Ustaz Adi Hidayat: “Setiap kesempitan menyimpan celah kebaikan. Hijrah itu menemukan celah tersebut lalu melangkah ke sana.”
    2. Yakin bahwa ini takdir Allah. Meski ada yang menyebut teori konspirasi, kita tetap harus yakin bahwa segala peristiwa adalah kehendak-Nya. Ketika mendengar orang-orang terdekat wafat, jadikan itu motivasi untuk memperbaiki diri.
    3. Langkah-langkah hijrah zaman now:
      • Perbaiki shalat, zikir, tilawah, puasa, dan infak.Perbaiki keilmuan kita sebelum beramal dengan selalu belajar ilmu agama
      • Tambah ilmu: ikut pengajian, belajar dari ustaz atau guru yang faqih.
      • Peduli sosial: bantu yang terdampak pandemi. Saling mendukung dan membantu dan senantiasa menebar kebaikan.
      • Gabung komunitas yang positif, perbaiki komunikasi, hindari ghibah.
      • Jadikan Allah tempat bersandar. Menangislah dalam doa disepertiga malam, mohon agar pandemi ini segera usai.
      • Rendah hatilah. Jangan sombong atas amal hijrah yang kita lakukan.

    Penutup

    Hijrah zaman now bukan sekadar tren. Ia bukan milik satu kelompok. Hijrah adalah proses panjang, terus-menerus, menuju Allah. Hijrah adalah komitmen untuk memperbaiki diri, pikiran, ucapan, dan tindakan.

    Seperti kata Syekh Abdurrazzaq al-Badr, “Hijrah sejati adalah hijrah dari maksiat kepada ketaatan, dari kebodohan menuju ilmu, dari riya kepada ikhlas.”

    Semoga kita termasuk dalam barisan orang yang terus berhijrah hingga akhir hayat.

    📍Pekanbaru, 18 Agustus 2021
    ✍️ Oleh: Tri Satya Hadi

    Wallahu a'lam

    © 2025 Hijrah Inspiratif - Tri Satya Hadi

    Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...