“Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu” “Siapa lagi?” “Ibumu” “Siapa lagi” “Bapakmu”. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari mengutip pendapat Ibnu Battal tentang alasan Nabi Muhammad SAW mengulang kata 'ibu' tiga kali. Menurut Ibnu Battal, hal ini disebabkan karena sosok ibulah yang menanggung tiga kesulitan yakni ketika mengandung, melahirkan, dan menyusui. Tiga hal inilah yang harus ditanggung sendirian oleh seorang ibu. Sementara sang ayah berkewajiban memberi nafkah dan ikut serta mendidik anak bersama-sama dengan ibu.
Jika hadits ini dipahami secara
letter lack (per-kata, umumnya berkembang pemahaman di masyarakat bahwa:
1. kasih sayang dan cinta seorang anak kepada ibunya harus lebih besar tiga kali dibanding kepada ayahnya;
2. ibu harus lebih banyak mengobrol (berkomunikasi) dengan anak dibanding dengan ayah karena anak cenderung menurut kepada ibu;
3. mendidik dan mengasuh anak adalah tugas seorang ibu, ayah hanya membantu saja.
Maka tidak heran jika ada undangan dari sekolah untuk menghadiri pertemuan orang tua murid dengan guru baik offline atau online, yang paling banyak datang adalah ibu-ibu. Pada saat acara pengambilan raport semester atau kenaikan kelas, terlihat ibu-ibu yang paling banyak hadir dan lebih rajin berkomunikasi dengan gurunya. Ketika acara pengajian atau taklim terkait keluarga dan pendidikan anak, yang memenuhi ruang adalah ibu-ibu, dan beberapa fenomena lainnya yang menyatakan bahwa ibulah yang paling mendominasi tumbuh kembangnya karakter dan pendidikan seorang anak.
Padahal jika kita lihat ajaran Islam, pembentukan karakter, pola pikir, ahlak, dan pendidikannya adalah kewajiban bersama antara suami dan istri, atau antara ayah dengan ibu. Kedua belah pihak memiliki beban tanggung jawab yang seimbang untuk itu.
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi.” (HR. Muslim)
Namun, fenomena yang terjadi saat ini, tidak sedikit keluarga yang memiliki pemahaman keliru tentang eksistensi anak. Seringkali keluarga yang hanya memiliki filosofi bahwa kehadiran anak semata-mata akibat logis dari hubungan biologis, anak dimanja, semua kebutuhan diberikan dengan alasan kasih sayang, tanpa memilki landasan ilmu dan makna arahan keberadaan anugerah anak. Yang akhirnya anak menjadi fitnah (ujian) dan musuh yang nyata.
Firman Allah:
“Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ath-Taghobun: 14)
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath-Taghobun: 15)
Semua proses “melahirkan” anak yang berakhlak mulia diawali dari hubungan batin orang tua dengan sang pencipta (melalui do’a) dan hubungan komunikasi (dialog) yang baik dengan anak. Jika salah satu atau keduanya buruk maka hasilnya akan buruk pula.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. AlKahfi: 46)
Bahkan jika dicermati secara lebih dalam, legenda dan simbol pendidikan anak yang diabadikan dalam Al Qur’an dan sering menjadi kajian di berbagai majelis ilmu adalah Luqman Alhakim. Sampai dijadikan nama surat dalam Al Qur’an, yaitu surat Luqman. Beliau adalah orang salih yang dikisahkan metode pendidikan anak, dan menjadi pelajaran penting bagi semua umat manusia beriman. Legendanya adalah Luqman, bukan istrinya Luqman. Ini menandakan peran ayah yang sangat penting dalam mendidik anak.
Ada sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar Magister di Universitas Umm al-Quro, Mekkah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan. Judulnya
“Dialog Orangtua dengan Anak dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Aplikasi Pendidikannya”.
Menurut tulisan ilmiah tersebut, ternyata terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam Al-Qur’an yang tersebar dalam sembilan surat.
Pertama dialog antara ayah dengan anaknya sebanyak 14 kali yaitu:
1. QS. Al Baqarah 130 – 133, memuat kisah dialog Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya dan dialog Nabi Ya’qub As dengan anaknya.
2. QS. Al An’am: 74, memuat kisah dialog Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya.
3. QS. Hud: 42 – 43, memuat kisah dialog Nabi Hud AS dengan anaknya.
4. QS. Yusuf: 4 – 5, memuat kisah dialog Nabi Yusuf AS dengan ayahnya.
5. QS. Yusuf: 11 – 14, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
6. QS. Yusuf: 16 – 18, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
7. QS. Yusuf: 63 – 67, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
8. QS. Yusuf: 81 – 87, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
9. QS. Yusuf: 94 – 98, memuat kisah dialog Nabi Ya’qub AS dengan anaknya.
10. QS. Yusuf: 99 – 100, memuat kisah dialog Nabi Yusuf AS dengan ayahnya.
11. QS. Maryam: 41 – 48, memuat kisah dialog Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya.
12. QS. Al-Qashash: 26, memuat kisah dialog Syaikh Madyan dengan anak perempuannya.
13. QS. Luqman: 13 – 19, memuat kisah dialog Luqman dengan anaknya.
14. QS. Ash-Shaffat: 102, memuat kisah dialog Nabi Ibrahim AS dengan anaknya, Ismail. Demikianlah empat belas tempat dalam Al Qur’an yang memuat kisah dialog ayah dengan anak mereka.
Kedua dialog antara ibu dan anaknya sebanyak 2 kali, yaitu:
1. QS. Maryam: 23 – 26, memuat kisah dialog Maryam dengan janinnya.
2. QS. Al-Qashash: 11, memuat kisah dialog Ibu Musa dengan anak perempuannya.
Ketiga dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya 1 kali yaitu di QS. Al-Ahqaf: 17.
Kesimpulannya, ternyata Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahirkan generasi istimewa (khoiru ummah) seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rosul-Nya, diperlukan dialog kedua orangtua kepada anak. Dan jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya.
Kenapa ayah, bukan ibu? Ini bukan berarti ibu tidak boleh banyak berdialog dengan anak tapi lebih kearah peran ayah harus lebih besar dalam komunikasi dengan anak. Ini seakan Al-Qur’an ingin menyeru kepada semua ayah,
“Ayah, engkau harus rajin berdialog dengan anak, seperti dialog Luqman kepada anaknya”. Janganlah jadi “ayah bisu” (sedikit bicara), ayah yang hanya ada ketika menyediakan keperluan anak, ayah yang meninggalkan kepedulian pendidikan dan keteladanan, ayah yang hanya salih sendirian, ayah yang mempercayakan anaknya pada televisi, gadget dan internet tanpa batas, ayah yang egois karena merasa lebih tua, lebih pintar, lebih kuasa, atas anak anaknya, dan banyak lagi.
Inilah mungkin jawaban mengapa seorang anak gadis yang masih belia mudah mudah jatuh dalam “pelukan” laki-laki yang bukan mahromnya, bahkan melabrak hal-hal yang dilarang agama. Ini juga yang membuat anak laki-laki selalu memberontak bahkan durhaka kepada ayahnya, karena mereka telah kehilangan sosok ayah yang melindungi, mengayomi, yang kuat, dan yang ia hormati. mereka tidak ada rasa takut lagi atas peringatan dan ancaman ayahnya, apalagi hukuman Allah. Naudzubillah.
"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Furqan: 74)
Lantas, bagaimana jika
single parent, tidak ada sosok ayah dalam keluarga, maka tugas ayah akan diambil oleh ibu. Dialog-dialog ayah dapat digantikan dengan kakek, paman atau kerabat laki-laki yang dipercaya yang bisa membimbingnya. Dialog-dialog ayah bisa juga dititipkan saat anak bersekolah menimba ilmu disekolah yang baik lewat guru atau ustaz yang faqih.
Kisah Imam Syafi’i kecil yang dititipkan oleh ibunya kepada guru dan ulama di Mekah menjadi pelajaran bagi seorang ibu yang berharap anaknya berhasil dunia akhirat. Perkataan Ibunda Syafi’i kepada anaknya,
“kelak kita akan bertemu di akhirat”, merupakan doa sekaligus motivasi bahwa menuntut ilmu agama ataupun ilmu dunia disertai keikhlasan semata karena Allah subhanahu wataala merupakan jalan menuju akhirat yang indah. Namun tentunya ibunda Syafi’i adalah yang ibu cerdas dan berilmu serta paham betul siapa Imam Syafi’i, beliau tidak mungkin melepas Syafi’i muda jauh keluar kota tanpa bekal keilmuan dan keimanan yang kuat. Ataupun belajar ilmu yang tidak jelas. Sehingga ibunya yakin Syafi’i muda tidak akan terperosok kedalam kemaksiatan dan kenistaan dalam menimba ilmu nun jauh disana.
Sabda Rasulullah:
”Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Dan sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena puas dengan apa yang diperbuatnya, dan bahwasanya penghuni langit dan bumi sampai ikan yang ada di lautan itu senantiasa memintakan ampun kepada orang yang pandai. Kelebihan si alim terhadap si ‘abid adalah bagaikan kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi dan bahwasanya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham (kekayaan duniawi) tetapi para Nabi mewariskan ilmu pengetahuan, maka barangsiapa yang mengambil (menuntut ilmu maka ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Abu Daud dan Atturmudzi)
Di era digital ini, di awal tahun 2020, kita dan anak-anak dipaksa berdamai dengan pandemi covid yang mengharuskan menghadirkan gadget (gawai) diantara aktifitas keseharian. Ayah dan anak di suatu kondisi sama-sama bisu dengan gawai di tangan yang membuat jarak yang jauh jadi dekat sekaligus juga efeknya membuat yang dekat terasa jauh. Ayah jangan terlena, rangkul anakmu, batasi gawainya dengan syarat tertentu ketika ia ingin menggunakannya. Bicaralah saat anak di depan mata, saat anak lagi nyaman, ajak komunikasi dengan bahasa mereka, bila perlu ikuti apa yang dimainkan dalam gawainya sambil diskusi hal-hal yang membuat mereka dapat terjaga dalam pola pikir yang islami. Ayah ibu juga harus jadi orang tua pembelajar sehingga bisa memberikan keteladanan dan pemahaman kepada anak tentang hakikat hidup di dunia dan bekal apa yang harus dipersiapkan untuk akhirat, tanamkan dan sampaikan kepada anak-anak kita tentang:
1. Tauhid kepada Allah dan kecintaannya kepada Rasul-Nya;
2. Salat lima waktu yang terlarang untuk ditinggalkan kapan dan dimanapun;
3. Sifat-sifat terpuji serta menghindarkannya dari sifat-sifat tercela;
4. Cara-cara hidup sehat dan gaya hidupmyang baik; dan
5. Ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Hai Anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukanNya adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Q.s. Luqman: 13)
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata), "Hai Anak-Anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam." (Q.s. al-Baqarah: 132)
"Dan Ya'qub berkata, "Hai Anak-Anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan. Namun demikian, aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah Aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang' orang yang bertawakal berserah diri." (Q.s. Yusuf: 67)
Ayah harus menyempatkan waktu untuk banyak berdialog dengan anak-anak, karena itu adalah bagian penting dalam proses pembentukan karakter dan pendidikan anak. Ayah tidak boleh diam, jangan bisu dan menyerahkan semua komunikasi dengan anak hanya kepada ibu. Karakter dan pendidikan anak harus menjadi tanggung jawab bersama karena sosok keduanya sangat diperlukan. Keseimbangan peran dari ayah dan ibu akan memberikan andil besar bagi keberhasilan pendidikan anak-anak.
Maka jika ada sosok ayah yang bertanggung jawab dan ibu yang penuh kasih sayang, yang dengan pemahaman islam yang baik sering berdialog dengan anak anaknya sejak dini, maka akan muncul anak-anak yang berahlak baik (mulia), taat kepada Allah dan yang mencintai Rosulullah, serta berbakti pada kedua orangtuanya. Wallahu a’lam.
Pekanbaru, 16 November 2021
Self Reminder
Selamat Hari Ayah 12 November 2021