Hijrah Zaman Now
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 100)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)
Ketika Makkah tak lagi aman bagi umatnya, Rasulullah ﷺ mengizinkan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah. Kisah pergerakan beliau bersama para sahabat karena perlakuan buruk, penganiayaan, dan pengejaran dari kaum Quraisy menjadi fondasi hijrah fisik dalam Islam. Hijrah secara fisik ini mengharuskan seorang muslim meninggalkan tempatnya demi keselamatan dan keamanan.
Zaman itu, hijrah fisik menjadi transisi antara dua keadaan: dari situasi tidak aman dan lemah (Makkah) menuju kondisi aman dan kuat (Madinah). Peristiwa ini menyisakan hikmah mendalam bagi umat Islam: bahwa perubahan ke arah yang lebih baik membutuhkan keberanian untuk meninggalkan kenyamanan demi kemuliaan iman.
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan juga proses menuju transformasi jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-muhâjir man hajara mâ nahallâhu ‘anhu — Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Hijrah spiritual atau hijrah jiwa adalah perubahan yang lahir dari kesadaran iman. Setidaknya ada dua makna mendalam:
- Hijrah adalah keberanian meninggalkan zona nyaman menuju kebaikan. Ia lahir dari ilmu, diyakini dengan iman, dan ditunaikan lewat amal.
- Hijrah didahului oleh iman dan diakhiri dengan jihad. Tanpa iman, hijrah tak bermakna. Dan tanpa jihad (perjuangan), iman tak akan membuahkan perubahan.
Dalam konteks ini, Ustaz Salim A. Fillah menulis: “Hijrah adalah melangkah menuju Allah, meninggalkan apa yang dibenci-Nya, menuju yang diridai-Nya. Dan langkah itu harus kita jaga sepanjang hayat.”
Fenomena Hijrah Zaman Now
Satu dekade terakhir, fenomena hijrah menjadi tren di kalangan muda Indonesia. Banyak dari mereka memulai perubahan lewat penampilan: wanita yang berhijab syar’i, pria yang memelihara jenggot dan mengenakan gamis, ikut kajian, bergabung dengan komunitas dakwah. Ini adalah hal baik, meskipun harus dikawal dengan ilmu dan akhlak.
Namun, sangat disayangkan jika hijrah hanya dimaknai sebagai identitas luar. Bahkan lebih parah jika berubah menjadi eksklusif, merasa paling benar, dan menilai orang lain dengan pandangan sempit. Seperti dikatakan Buya Yahya, “Hijrah yang benar adalah ketika seseorang merasa hina atas dosanya dan rendah hati di hadapan Allah, bukan merasa suci lalu merendahkan yang lain.”
Hijrah di Masa Pandemi
Dua tahun belakangan, pandemi COVID-19 menguji manusia dalam banyak sisi: kesehatan, ekonomi, psikologis, dan spiritual. Kita terkurung dalam kekhawatiran dan kecemasan, seperti sahabat Rasulullah ﷺ yang dahulu merasa terhimpit di Makkah sebelum hijrah. Maka, semangat hijrah spiritual relevan untuk membangun kembali optimisme dan kesabaran.
Berbagai kebijakan seperti PPKM, vaksinasi, protokol kesehatan, bahkan pembatasan ibadah berjemaah adalah ikhtiar kolektif menuju keselamatan bersama. Semua ini bisa menjadi ladang hijrah — dari abai menuju peduli, dari lalai menuju taat.
Saat sulit bergerak dan sesak menghadapi kehidupan, kita dituntut untuk move on, memulai langkah kecil menuju kebaikan. Hijrah bukan soal waktu atau tempat. Ia bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun.
Pelajaran dari Hijrah
- Bersemangat menjadi lebih baik. Sesuaikan aktivitas di era new normal. Biasakan hidup bersih, disiplin, dan taat aturan. Optimis bahwa pandemi akan berakhir. Seperti kata Ustaz Adi Hidayat: “Setiap kesempitan menyimpan celah kebaikan. Hijrah itu menemukan celah tersebut lalu melangkah ke sana.”
- Yakin bahwa ini takdir Allah. Meski ada yang menyebut teori konspirasi, kita tetap harus yakin bahwa segala peristiwa adalah kehendak-Nya. Ketika mendengar orang-orang terdekat wafat, jadikan itu motivasi untuk memperbaiki diri.
- Langkah-langkah hijrah zaman now:
- Perbaiki shalat, zikir, tilawah, puasa, dan infak.Perbaiki keilmuan kita sebelum beramal dengan selalu belajar ilmu agama
- Tambah ilmu: ikut pengajian, belajar dari ustaz atau guru yang faqih.
- Peduli sosial: bantu yang terdampak pandemi. Saling mendukung dan membantu dan senantiasa menebar kebaikan.
- Gabung komunitas yang positif, perbaiki komunikasi, hindari ghibah.
- Jadikan Allah tempat bersandar. Menangislah dalam doa disepertiga malam, mohon agar pandemi ini segera usai.
- Rendah hatilah. Jangan sombong atas amal hijrah yang kita lakukan.
Penutup
Hijrah zaman now bukan sekadar tren. Ia bukan milik satu kelompok. Hijrah adalah proses panjang, terus-menerus, menuju Allah. Hijrah adalah komitmen untuk memperbaiki diri, pikiran, ucapan, dan tindakan.
Seperti kata Syekh Abdurrazzaq al-Badr, “Hijrah sejati adalah hijrah dari maksiat kepada ketaatan, dari kebodohan menuju ilmu, dari riya kepada ikhlas.”
Semoga kita termasuk dalam barisan orang yang terus berhijrah hingga akhir hayat.
📍Pekanbaru, 18 Agustus 2021
✍️ Oleh: Tri Satya Hadi
Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar