Rabu, 22 September 2021

RUMAH KITA SEBAGAI JALAN KESELAMATAN

Rumah Islami sebagai Jalan Keselamatan

Rumah Islami sebagai Jalan Keselamatan

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا ...
Artinya: "Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawanya) di waktu kamu berjalan dan di waktu kamu bermukim dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)." (QS. An-Nahl [16]: 80)

Membicarakan jalan keselamatan sebagai seorang muslim tentu tidak terlepas dari Al-Qur'an dan Sunah, yang menjadi pedoman hidup agar tidak tersesat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ"
Artinya: "Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya." " (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)

Al-Qur'an dan Sunah telah memberikan petunjuk yang jelas bagaimana seorang muslim sebagai khalifah di muka bumi melaksanakan tugasnya, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt. Beribadah dengan ikhlas mengharap rida Allah Swt. dan mengikuti cara Rasulullah ﷺ agar mendapatkan rahmat-Nya adalah tujuan akhir yang didambakan setiap muslim, yaitu selamat dari azab api neraka dan mendapatkan surga-Nya.

Berbagai cara dan sarana telah diatur Allah Swt. melalui firman-Nya dan sunah Rasulullah ﷺ agar seorang hamba tidak tersesat dan mendapatkan jalan keselamatan. Salah satu petunjuk dalam hadis Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa ternyata rumah bisa menjadi sebab keselamatan bagi penghuninya.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Aku pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ, 'Apa itu sebab keselamatan?'" Jawab beliau dengan sabdanya:

"أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ"
Artinya: "(Keselamatan itu) yaitu hendaklah engkau menahan lisanmu, perluaslah rumahmu (jadikan nyaman), dan tangisilah dosa-dosamu (bertaubat)." (HR. At-Tirmidzi)

Menahan lisan dan bertaubat mungkin sudah sering dibahas dalam materi atau kajian sebelumnya. Kali ini kita akan membahas "perluaslah rumahmu" sebagai jalan keselamatan.

Memaknai "Perluaslah Rumahmu"

Kalimat "perluaslah rumahmu" dalam arti sebenarnya oleh sebagian ulama diartikan sebagai rumah yang luas, rumah yang nyaman, rumah yang membuat kita tenang dan tenteram di dalamnya, baik ketika melakukan aktivitas duniawi maupun ukhrawi.

Sebagian ulama lain, seperti Imam Ath-Thibi, mengartikan "perluas rumahmu" adalah semata-mata rumah itu digunakan untuk tujuan ibadah kepada Allah Swt. Beliau menjelaskan bahwa perintah yang dimaksud adalah untuk rumah. Namun, yang dimaksud adalah jadikan rumahmu agar tetap betah berada di dalamnya dengan sibuk melakukan ibadah pada Allah dan jauhilah pergaulan yang tidak baik. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7:132).

Sebelum lebih dalam membahas rumah yang luas dan nyaman sebagai jalan keselamatan, mari kita lihat potret rumah Rasulullah ﷺ yang secara hakikat dapat kita ambil sebagai dasar membangun rumah seorang muslim.

Potret Rumah Rasulullah ﷺ sebagai Inspirasi

Rasulullah ﷺ membangun rumah ketika pertama kali tiba di Madinah setelah hijrah. Di antara banyaknya penawaran, Rasulullah ﷺ menerima permintaan sebuah keluarga dari Bani Najjar yang memberikan tanah untuk ditinggali. Tanah ini dulunya adalah tempat mengeringkan kurma dan kuburan orang-orang musyrik. Rasulullah ﷺ menyetujui dengan syarat tanah ini diratakan dan kuburan dipindahkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak dibenarkan dalam Islam, adanya kuburan dalam rumah.

Dalam segi konstruksi, rumah Rasulullah ﷺ dibangun dari batu bata yang terbuat dari campuran tanah liat dengan serat gandum (barley) dan dikeringkan dengan panas matahari. Rumah Rasulullah ﷺ berdinding bata dilengkapi courtyard yang luas (open space di dalam bangunan), dan memiliki pintu masuk di bagian utara dan selatan. Rumah dengan konsep house-mosque tersebut memiliki tiga pintu. Ketika kiblat diubah dari Yerusalem ke Mekah, pintu selatan ditutup dan dijadikan dinding untuk arah kiblat. Kamar-kamar rumah Rasulullah ﷺ beratap pelepah kurma dengan luas tiap kamar sekitar 23 m² dan tinggi plafon 2,7-3,6 m. Kamar-kamar bertambah dari 1-9 sesuai jumlah istri-istri Rasulullah ﷺ. Ada kebiasaan di zaman Rasulullah ﷺ bahwa jika hendak membangun pondasi rumah, maka para sahabat baik kaum Muhajirin dan Anshar diundang untuk bekerja bersama. (Campo, 1991).

Ciri khas rumah-rumah di zaman Rasulullah ﷺ dan di zaman-zaman setelahnya hingga zaman kekaisaran Ottoman Turki (1590-1700) sama, yakni courtyard dan taman. Selain itu, patut pula dicatat bahwa bagi yang mempunyai kuda sebagai kendaraan di masa itu, rumah dilengkapi dengan istal. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa konsep rumah dalam peradaban Islam adalah rumah yang mempunyai banyak kamar, dan dilengkapi tabhane (ruang utama), taman, dan courtyard. Hal ini menegaskan bahwa keluarga dalam konsep Islam cenderung besar. Keluarga besar ini tentu membutuhkan privasi yang dapat dipenuhi ketersediaan kamar yang cukup. Kamar-kamar ini juga diperuntukkan bagi orang tua atau sanak keluarga yang datang bersilaturahmi. (Campo, 1991)

"أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ"
Artinya: "Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salihah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak." (HR. Ibnu Hibban)

Sejatinya demikian, namun itu bukan menjadi keharusan, karena banyak juga kisah para sahabat, salafus saleh, atau ulama-ulama terdahulu yang karena kezuhudannya hidup sederhana tanpa memiliki rumah bahkan harta sedikit pun, namun tetap mulia di mata Allah dan Rasul-Nya.

Konsep Dasar Perencanaan Rumah Islami

Ketika kita diberikan rezeki yang halal dan lapang serta berkesempatan untuk bisa membangun rumah dari awal, hendaknya kita bisa merencanakan dengan baik dan menyesuaikan dengan konsep rumah yang Islami, di antaranya:

  • Memilih Lingkungan yang Islami atau Baik. Rasulullah ﷺ bersabda: "اِخْتَرْ الْجَارَ قَبْلَ الدَّارِ وَالرَّفِيقَ قَبْلَ الطَّرِيقِ وَالزَّادَ قَبْلَ السَّفَرِ" Artinya: "Pilihlah tetangga (lihat calon tetangganya atau lingkungannya dulu) sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian)." (HR. Al-Khatib) Imam Hasan Al-Bashri (seorang tabi'in terkemuka) pernah menekankan pentingnya memilih tetangga yang baik karena mereka adalah cerminan bagi akhlak kita dan lingkungan tempat anak-anak kita tumbuh.
  • Bangunan didirikan tanpa unsur syirik dalam pembuatannya, termasuk desain dan ornamen di dalamnya seperti penggunaan patung dan sebagainya. Hiasan dan ornamen interior sebaiknya menggunakan motif tumbuhan, kaligrafi, dan geometri. Memodifikasi pencahayaan, ventilasi, efek suara, lanskap, warna, dan tekstur agar terlihat indah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin sering mengingatkan bahwa seni dalam Islam harus terbebas dari unsur syirik dan fitnah, serta mendorong pada kebaikan dan keindahan yang sesuai syariat.
  • Mengusahakan dan menyesuaikan rumah dengan kamar yang banyak, sehingga kita bisa memisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan. Di dalamnya juga terdapat kamar untuk ibadah termasuk adanya kamar tamu. Namun hendaknya kamar untuk tamu terpisah dari ruang keluarga sehingga tidak memungkinkan tamu bisa melihat dengan bebas ruang keluarga. Ini penting untuk menjaga privasi dalam keluarga, sesuai dengan ajaran Islam tentang adab bertamu dan menjaga pandangan.
  • Arsitektur Islam sangat dipengaruhi oleh konsep taman dan courtyard sehingga lanskap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangunan. (Rehman, 2002). Dr. Abdul Qadir al-Fasi, seorang ahli arsitektur Islam, menjelaskan bahwa taman dalam arsitektur Islam bukan hanya estetika, tetapi juga simbol jannah (surga) dan tempat refleksi.

Hal-hal tersebut hanya merupakan konsep dasar dan masih ada konsep lainnya yang belum diuraikan. Namun, dari kesemuanya itu tidak serta-merta menjadi wajib, contohnya taman atau ruang terbuka, atau keharusan menyiapkan space untuk tanaman hijau. Semuanya tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Rumah Islami sebagai Jalan Keselamatan Akhirat

  • Berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ: "أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ" Artinya: "Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salihah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak." (HR. Ibnu Hibban)
  • Sejatinya demikian, namun itu bukan menjadi keharusan, karena banyak juga kisah para sahabat, salafus saleh, atau ulama-ulama terdahulu yang karena kezuhudannya hidup sederhana tanpa memiliki rumah bahkan harta sedikit pun, namun tetap mulia di mata Allah dan Rasul-Nya.,/p>

    Dari berbagai sumber, ciri-ciri rumah yang Islami di antaranya adalah:

    • Rumah sebagai pusat ibadah kepada Allah Swt., di mana terjadi internalisasi nilai Islam secara baik dan komprehensif. Ini berarti rumah menjadi pusat ibadah, bukan sekadar tempat tinggal.
    • Rumah yang menghindarkan dari hal-hal tidak Islami , seperti tontonan yang tidak baik, bacaan yang sia-sia, musik yang menjauhkan dari keimanan, patung, memelihara anjing di dalam rumah, dan seterusnya.
    • Rumah sebagai tempat pembinaan generasi mendatang. Suami membimbing istri, orang tua memberikan contoh dan arahan yang baik untuk anak-anaknya, dan seterusnya. Ini sejalan dengan konsep keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.
    • Menjaga adab dan privasi, saling berinteraksi, dan menghormati hak-hak sesama anggota rumah. Namun privasi masing-masing orang di dalamnya tetap terjaga.
    • Terbuka untuk interaksi sosial yang tidak menutup diri dari dunia luar, atau merasa saleh sendiri. Rumah yang memungkinkan interaksi dan hubungan sosial dengan lingkungan sekitar dan para tetangga bisa berlangsung dengan baik, dengan tidak menonjolkan kemewahan dan kekayaan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam tentang silaturahmi dan ukhuwah islamiyah.

    "Baiti Jannati" (Rumahku adalah Surgaku). Demikian sabda Rasulullah ﷺ, adalah rumah yang dibangun semata-mata hanya untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah Swt. Selanjutnya akan terwujud rumah tinggal yang didasari nilai-nilai Islam dan membentuk suatu perilaku dan akhlak yang menuju kepribadian dan citra diri Islam yang terbentuk dari lingkungan tersebut. Allah Swt. berfirman:,/p>

    "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا"
    Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim [66]: 6)

    Seorang muslim selamanya akan selalu aktif melaksanakan ibadah sesuai tuntutan agama, dan mempunyai kewajiban terhadap keluarganya. Ia juga berusaha untuk menjauhkan dirinya dan keluarganya dari hal-hal yang dilarang oleh agama, kapan dan di mana pun, termasuk di dalam rumahnya.

    Ketika belum bisa melakukan amalan-amalan sunah di rumah kita, minimal dan menjadi mutlak untuk ibadah-ibadah wajib. Salat fardu jangan sampai ditinggalkan oleh setiap anggota keluarga di rumah, puasa Ramadan menjadi keharusan, serta mengusahakan juga jangan sampai jatuh ke dalam hal-hal yang makruh, bahkan haram.

    Kebersihan dan Kerapian sebagai Penunjang Ibadah

    Untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah Swt. saat di rumah, tentunya membutuhkan tempat yang bersih dan rapi. Rumah yang bersih dan rapi sangat mendukung agar ibadah kita menjadi lebih khusyuk dan tenang. Kualitas ibadah kita menjadi lebih baik manakala rumah yang kita huni bersama anggota keluarga yang lain, semua saling memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kerapian. Dimulai dari diri kita, apakah sebagai seorang anak, atau sebagai seorang suami/istri yang memberikan keteladanan bagi anak-anaknya, saling mendukung, dan bekerja sama menjaga kebersihan dan keindahan rumahnya.

    "إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ، جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ، فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ"
    Artinya: "Sesungguhnya Allah itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu." (HR. At-Tirmizi)

    Tips Kebersihan

    • Hendaklah seorang muslim dan anggota keluarganya membiasakan untuk tidak membuang sesuatu, atau sampah, kecuali pada tempat yang sudah disediakan.
    • Hendaklah kaum wanita mengatur waktu tertentu untuk mencuci pakaian dan perabotan bekas makan.
    • Hendaklah anggota keluarga memperhatikan barang-barang yang sering terkena debu, kemudian membersihkannya.
    • Hendaklah setiap anggota keluarga rutin mandi dan mempunyai jadwal membersihkan kamar mandi tersendiri. Di antara sunah Rasulullah ﷺ adalah mandi di hari Jumat, menggunakan siwak untuk membersihkan gigi dan menyehatkan gusi.
    • Hendaklah penghuni rumah menata rumahnya, sehingga terbebas dari polusi udara yang tak sedap, yang membahayakan penghuni rumah, atau tetangganya. Yang paling penting untuk diperhatikan adalah kebersihan dapur, kamar mandi, dan WC. (Sa'id, 2002)

    Tips Kerapian

    • Menata barang dengan rapi dan terorganisir, dan ditempatkan pada tempatnya. Apabila kita menggunakan suatu barang, hendaklah kita letakkan kembali pada tempatnya. Adapun waktu yang tepat untuk menata dan merapikan rumah adalah waktu pagi hari.
    • Setiap anggota keluarga diharapkan tidak memaksakan kehendaknya sendiri dalam menata barang-barang yang ada, akan tetapi hendaklah membiasakan meletakkan suatu barang pada tempat yang sudah ditentukan.
    • Setiap kamar harus ditata sesuai dengan situasi dan kondisi kamar tersebut, sesuai dengan sifat dan kegunaan kamar.

    Rumah yang bersih dan rapi, diharapkan menghasilkan kenyamanan bagi penghuninya, namun belum tentu menghasilkan keselamatan untuk akhirat dengan berbagai sebab. Sejatinya, rumah menjadi sebab keselamatan tersebut, di samping memang nyaman secara fisik juga nyaman dalam melaksanakan ibadah-ibadah. Ketenangan dan ketenteraman menaungi segala aktivitas di dalam rumah. Penghuninya mudah mengingat Allah, sering terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an.

    Keteladanan dengan adab Islami selalu muncul dalam setiap interaksi antara sesama penghuninya maupun penghuni dengan tetangga sekitar, dan seterusnya.

    Tidak ada yang serba instan, semua butuh proses, butuh kesungguhan, butuh keikhlasan. Bahwa rumah sebagai jalan keselamatan menjadi keniscayaan bagi penghuninya manakala kita melaksanakan tahap demi tahap dengan berpedoman kepada Al-Qur'an dan Sunah.

    Wallahu a’lam.

    Pekanbaru, 23 September 2021
    (Barakallah fi umrik, my love)

    Daftar Pustaka:


    Campo, J.E. (1991). The Other Side of Paradise. South Carolina: University of South Carolina Press.
    Rehman, A. (2002). The Grand Tradition of Islamic Architecture. London: Routledge Curzon.
    Sa’id, Syaikh. (2002). Tatanan Rumah Islami. Bandung: Robbani Press.

    Tidak ada komentar:

    Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...