Minggu, 23 Februari 2025

Menyambut Ramadan Riang Gembira

Mengapa harus riang gembira menyambut Ramadan?, firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam Kitab Tafsir wa Khawathiru Al-Qur’an al-Karim mengatakan, ayat ini dimulai dengan penyebutan sebuah hukum kewajiban puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan bagi umat nabi terdahulu. Seolah, Allah hendak mengatakan, “Wahai orang yang beriman kepada-Ku, dan mencintai-Ku, sungguh telah Aku wajibkan puasa pada kalian semua.”

Karena Allah memiliki hak preogratif untuk memilih (اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ ) maka Allah memilih bulan waktu yang istimewa yaitu Ramadan sebagai hukum (kewajiban) orang beriman untuk menjalankan puasa.

Syekh Mutawalli dalam tafsirnya menjelaskan juga, pertama dibalik pilihan (istisfa’) Allah memberikan kewajiban berupa beban (masyaqqah), maka sudah seharusnya orang-orang yang beriman percaya kepada-Nya, bahwa di balik beban itu terdapat manfaat dan keberkahan.

Kedua, Allah menggunakan kalimat pasif (fi'il mabni majhul), yakni “kutiba” (diwajibkan), dan bukan kalimat aktif “kataba” (mewajibkan). Tafsir asy-Sya’rawi menyebut redaksi semacam ini bermakna kata kerja yang memberatkan (fi‘lun taklîfiyyun) sebagaimana perintah berperang dalam QS al-Baqarah ayat 216 yang juga menggunakan kalimat “kutiba”.

Dalam tafsir tersebut, puasa memiliki arti menahan, sebab makna dari shaum (puasa) sendiri adalah imsak (menahan). Dengan demikian, puasa adalah menahan diri dari syahwat-syahwat perut, seperti makan dan minum, dan juga mencegah syahwat-syahwat kemaluan, seperti jimak dan semacamnya, dimulai sejak terbitnya fajar sadiq hingga terbenamnya matahari. Menahan inilah bagian dari beban yang harus di pikul oleh semua orang yang mengaku beriman, namun tentunya tidak semua orang yang bisa menjalaninya dengan baik sesuai ketentuan syariat.

Puasa sendiri bukanlah syariat baru yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ. Sejak zaman dahulu sudah ada dalam semua agama samawi, dan menjadi salah satu kewajiban yang sifatnya ta’aabbudi (tidak bisa dinalar oleh akal). Semua manusia hanya bisa menerima dan menjalankan kewajiban yang satu ini, tanpa perlu mencari alasan kenapa diwajibkan. Namun khusus berpuasa di bulan Ramadan dengan berbagai keberkahan di dalamnya kata Rasulullah hanya untuk nabi Muhammad ﷺ dan ummatnya.

Selanjutnya menurut ulama Syekh Mutawalli yang memiliki gelar Imam ad-Du’ah abad 20 itu, pada dasarnya ketika Allah memilih apapun menjadi istimewa misalnya suatu tempat yang istimewa bukan dikhususkan untuk tempat itu saja yang bisa. Contohnya tempat yang sangat istimewa, dimuliakan dan disucikan bisa ditemukan dalam surah Al-Maidah 97:
جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلْكَعْبَةَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ قِيَٰمًا لِّلنَّاسِ وَٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَٱلْهَدْىَ وَٱلْقَلَٰٓئِدَ ۚ

“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid”

Dalam tafsir beliau bisa diilustrasikan, ketika beribadah ke tanah suci ke Baitullah Mekkah Al Mukaromah dengan perjuangan waktu, tenaga dan materi, karena keistimewaannya tempat tersebut kita berusaha mendapatkan kenikmatan dan kekhusyuan beribadah yang maksimal. Hal ini bukan berarti masjid-masjid dimana kita tinggal, masjid tempat lain ataupun yang terjangkau tidak bisa kita munculkan rasa khusyu dan nikmat dalam beribadah sepertinya di Mekkah. Imam Sya’rawi menegaskan kita bisa juga mendapatkan kenikmatan beribadah di masjid lain karena masjid dimanapun juga adalah Baitun min Buyutillah (Rumah Allah).

Begitu pula ketika Allah memilih orang beriman untuk memaksimalkan berbagai ibadah dan berusaha istiqamah pada bulan Ramadan tujuannya untuk melatih orang-orang yang beriman agar bisa istiqamah juga dalam beribadah di bulan-bulan lainnya, khususnya ibadah puasa.

Selain itu, Allah memilih satu bulan untuk dijadikan bulan secara khusus untuk beribadah, seperti Ramadan, tidak menunjukkan bahwa bulan-bulan yang lain adalah bulan hina, bukan pula untuk meremehkan suatu tempat, atau manusia yang ada di dalamnya.

Oleh karenanya, sangat heran jika ada umat Islam ketika bulan Ramadan telah tiba sangat semangat dalam beribadah, banyak membaca Alquran, berzikir kapada Allah, ataupun salat malam, namun lupa akan ibadah-ibadah tersebut ketika bulan Ramadan telah pergi, bahkan cenderung tidak beribadah.

Bagi orang beriman ketika dipilih dan diistimewakan oleh Allah untuk menjalankan puasa yang ujungnya mendapatkan kenikmatan besar berupa surga-Nya, maka sudah selayaknya bagi mereka untuk mengistimewakan Ramadan dengan menyambutnya dengan riang gembira.

Dan sebaliknya, hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena karunia dari Allah inilah seorang muslim harus bergembira. Allah berfirman,
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Wajibnya bergembira bagi setiap mukmin dalam menyambut Ramadan karena diberikan suatu kepastian mendapatkan kenikmatan yang luar biasa sebagaimana dalam hadis berikut.
ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991))

Ibnu Rajab Al-Hambali (736–795 H) menjelaskan, “Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)

Syaikh Shalih Al-Fauzan seorang ulama dan anggota kehormatan dari Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam di Arab Saudi menjelaskan,“Hadis ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh salih dengan datangnya Ramadan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.” (Ahaditsus Shiyam hal. 13)

Ada hadis yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadan, akan tetapi hadisnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu), “Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)

Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambutnya agar Ramadan yang kita jalankan bisa maksimal, yaitu:

1. Tanamkan Rasa Syukur dan Niat yang Kuat
Sadari bahwa Ramadan adalah bulan penuh berkah yang tidak ada jaminan tahun depan kita bisa bisa menemuinya Kembali. Perbanyak doa agar Allah memberikan kesempatan menjalani Ramadan dengan sehat dan penuh keberkahan.

2. Persiapkan Diri Secara Spiritual
Mempelajari fikih puasa, mulai memperbanyak ibadah seperti salat sunah, membaca Al-Qur’an, dan zikir sejak sebelum Ramadan. Buat target ibadah agar lebih semangat, misalnya khatam Al-Qur’an, selesai membaca terjemahannya, memperbaiki salat malam, atau ibadah sunah lainnya.

3. Ciptakan Suasana Ramadan di Rumah
Dekorasi rumah dengan nuansa Ramadan agar lebih semarak, misalnya dengan lampu hias atau kalender ibadah. Siapkan alat ibadah seperti mukena, sajadah, dan Al-Qur’an yang nyaman digunakan. Bagi yang mempunyai anak penting bagi kita sebagai orang tua mulai melatih dan menanamkan nilai-nilai puasa sejak dini.

4. Sambut dengan Kebersamaan
Bersilaturahmi dengan keluarga dan teman, baik langsung maupun melalui pesan, untuk berbagi kebahagiaan menyambut Ramadan. Ajak anak-anak atau anggota keluarga untuk ikut serta dalam menyambut Ramadan. Mengikuti kajian-kajian Tarhib Ramadan bersama keluarga, kerabat, dan teman-teman sekitar. Ikut kegiatan-kegiatan yang menfasilitasi kebaikan di dalam Ramadan seperti ikut kepanitiaan Ramadan di masjid tempat kita tinggal atau tempat kerja kita.

5. Persiapkan Fisik dan Mental
Mulai membiasakan diri untuk rutin berolah raga, jangan biasakan “mager. Mulai mengatur pola makan sehat dan bergizi serta mengurangi kebiasaan buruk agar tubuh siap menjalani puasa. Niatkan Ramadan sebagai momen penyucian hati dan perbaikan diri untuk fisik dan ruhiyah.

Demikian beberapa persiapan melengkapi rasa riang gembira ketika menyambut Bulan Suci Ramadan. Semoga kita disampaikan di bulan Ramadan tahun ini, bisa memaksimalkan berbagai ibadah, dan tentunya berhasil mencapai derajat takwa sebagai kompensasi tertinggi yang dijanjikan Allah ﷻ.

Wallahu a’lam.
Bogor, 23 Sya’ban 1446 H – (TSH)

Jumat, 07 Februari 2025

Perkataan Ulama tentang Bulan Sya’ban

Keutamaan Bulan Sya’ban

Menanam Amal Sebelum Menuai Ramadhan


🌿 Kata Ulama Salaf

Abu Bakr Al-Balkhi berkata dalam Lathā’if al-Ma‘ārif:
Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen hasilnya di bulan Ramadhan?

Beliau juga menyampaikan, Perumpamaan bulan Rajab seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan (yang membawa hujan), dan bulan Ramadhan seperti hujan.

Habib bin Abi Tsabit rahimahullah berkata, Ini adalah bulannya para qurrā’ (para pembaca Al-Qur'an).

Salamah bin Kuhail rahimahullah berkata, Dahulu, bulan Sya’ban disebut sebagai bulannya para qurrā’. Bahkan Amr bin Qais al-Malā’ī menutup tokonya di bulan Sya’ban untuk fokus membaca Al-Qur’an.

🌙 Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam Majmū‘ al-Fatāwā (23/123):
Pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama, termasuk dalam mazhab Hanbali, adalah adanya keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad, karena banyaknya hadits dan riwayat sahabat serta tabi’in yang mendukungnya.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan. (HR. Ibnu Mājah, Ath-Thabrānī; shahih oleh Al-Albāni)

☀️ Amalan Bulan Sya’ban

Usamah bin Zaid berkata, “Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau banyak berpuasa di bulan lain seperti di bulan Sya’ban.” Rasulullah ﷺ bersabda:
Itulah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa. (HR. An-Nasa’i, Ahmad, Abu Dawud; hasan menurut Al-Albani)

Maka amalan seperti puasa sunnah, membaca dan menghafal Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, sedekah, serta memperbaiki hubungan sesama menjadi sangat dianjurkan.

🧭 Pandangan Ulama Kontemporer

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata:
Bulan Sya’ban adalah bulan persiapan mental dan spiritual sebelum Ramadhan. Siapa yang menghidupkannya dengan ibadah, maka ia akan lebih siap dan ringan dalam menyambut bulan puasa.

Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam salah satu ceramahnya menegaskan:
Siapa yang mempersiapkan dirinya di bulan Sya’ban dengan amal saleh, maka ia telah membuat pondasi kuat untuk memasuki Ramadhan dengan semangat yang stabil dan tidak mudah futur.

Syaikh Muhammad Al-Utsaimin juga menyarankan:
Perbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Sya’ban karena bulan ini adalah bulan para qurrā’. Jika tidak membiasakan di Sya’ban, akan berat mengkhatamkan Al-Qur’an di Ramadhan.

🌟 Motivasi dan Penutup

Kini kita telah berada di bulan Sya’ban. Maka marilah kita memaksimalkan waktu ini untuk memperbanyak amal saleh: puasa sunah, membaca dan menghafal Al-Qur’an, istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menyiapkan hati dan jiwa untuk menyambut Ramadhan yang penuh keberkahan.

Al-Qur'an – QS. Al-Isrā’: 19
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang dia adalah mukmin, maka usaha mereka itu akan dibalasi.”

Semoga kita tergolong orang-orang yang memanfaatkan Sya’ban untuk menyiram benih iman, agar menuai hasilnya dengan manis di bulan Ramadhan kelak.

Ditulis khusus menyambut Ramadhan 🌙
Wallahu a'lam
Bogor, 8 Sya'ban 1446 H - (TSH)

*)dari berbagai sumber

Sabtu, 01 Februari 2025

Membangun Keteladanan Keluarga dalam Bingkai Islam

Keteladanan Keluarga dalam Islam

(Disampaikan dalam Kajian Daring Akhwat (MSR 4), Kamis, 21 November 2024)

Keteladanan atau "uswatun hasanah" dalam Islam adalah cara menunjang kehidupan yang diridai oleh Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan telah diikuti oleh Nabi Ibrahim عَلَیهِ‌ السَّلام serta para pengikutnya.

Keluarga adalah bagian terkecil dalam masyarakat. Islam mengakui keluarga sebagai fondasi dasar cerminan akhlak umat. Jika keluarga menjalankan perannya dengan baik, masyarakat secara keseluruhan akan menjadi lebih baik. Di dalamnya pula, ikatan suami istri dipandang sebagai bagian fondasi yang membangun keluarga kuat. Keluarga dalam bingkai Islam, melalui ikatan inilah anak-anak akan dibesarkan dengan nilai-nilai ilahiah, cinta, perhatian, dan rasa tanggung jawab.

Nilai-nilai ilahiah adalah nilai-nilai yang berasal dari keyakinan dan merupakan petunjuk dari Allah ﷻ seperti iman, Islam, ihsan, takwa, ikhlas, tawakal, syukur, dan sabar. Dengan demikian, keteladanan keluarga adalah suatu cara mendidik dan membimbing individu dalam keluarga dengan menggunakan contoh baik yang diridai oleh Allah ﷻ sebagaimana yang telah dicerminkan oleh perilaku Rasulullah ﷺ.

Setiap muslim meyakini bahwa cara mendidik dan membimbing yang diridai ini sumber utamanya adalah Al-Qur'an dan hadis. Maka, sudah saatnya kita kembali kepada Al-Qur'an dan sunah Rasulullah ﷺ sebagai panduan yang telah melahirkan generasi-generasi hebat dalam keluarga dan para pemimpin bumi lebih dari 1400 tahun. Tentunya hal tersebut dapat kita peroleh melalui lisan atau tulisan para ulama dan ustaz dalam berbagai kajian dan pengajian.

Kemudian, berkaitan dengan tugas sebagai orang tua dalam keluarga, wawasan mengenai hal tersebut dapat diperoleh melalui lisan atau tulisan para pakar parenting Islam. Sebab, era digitalisasi memunculkan cara dan teknik mendidik yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal ini sesuai dengan pesan Ali bin Abu Talib, “Didiklah anak sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu.”

Potret Keteladanan Keluarga dalam Al-Qur'an

Jika kita sedikit mengulas 'potret keluarga' sebagai bentuk keteladanan keluarga, di dalam Al-Qur'an diceritakan, dikisahkan, dan diajarkan perihal:

  • Keluarga Nabi Ibrahim عَلَیهِ‌ السَّلام. Nabi Ibrahim digambarkan sangat dominan sebagai sosok ayah istimewa, ayah hebat. Selain melahirkan keturunan orang saleh, beliau juga melahirkan dua nabi sekaligus, yaitu Ismail عَلَیهِ‌ السَّلام dan Ishaq عَلَیهِ‌ السَّلام. Dari keduanya, lahir pula para nabi berikutnya.
  • Keluarga Nabi Nuh عَلَیهِ‌ السَّلام. Nabi Nuh ditegur oleh Allah ﷻ dalam Surah Hud karena gagal dalam mendidik salah satu anak laki-lakinya. Nabi pun seorang manusia yang bisa gagal. Dari hal tersebut, dapat menjadi acuan semangat kita sebagai orang tua untuk tetap bertanggung jawab.
  • Kisah Keluarga Nabi Ya’qub عَلَیهِ‌ السَّلام. Seorang ayah yang berasal dari kampung di pelosok padang pasir, hidup dalam perjalanan yang setiap segmennya adalah cobaan berat, ternyata mampu menghantarkan anaknya sampai di kursi kepemimpinan negeri besar, Mesir.
  • Kisah Keluarga Rasulullah ﷺ. Jika Ibrahim sangat dominan digambarkan perannya sebagai kepala keluarga, Rasulullah Muhammad ﷺ justru digambarkan dengan cara sebaliknya. Keluarga Rasulullah ﷺ banyak digambarkan dengan pihak wanita atau Ummahatul Mukminin (istri-istri beliau). Untuk mengetahui alasan mengapa yang dibahas Ummahatul Mukminin, kita dapat menelusurinya ayat per ayat dalam Al-Qur'an.
  • Kisah Keluarga Imran dan Lukman. Dari 114 surah dalam Al-Qur'an, hanya satu surah yang namanya mengandung kata keluarga, yaitu Ali Imran (Keluarga Imran). Padahal, Imran bukanlah nabi. Seakan ada sebuah perintah agar kita punya fokus dalam mengambil pelajaran dari keluarga manusia biasa yang istimewa ini.

Keluarga Imran merupakan sebuah keluarga yang utuh keberhasilannya, mulai dari pasangan, anak, hingga cucu. Imran adalah tokoh di masyarakat dan seorang imam besar. Berbeda dengan Lukman, yang hanya orang biasa. Meski bukan pemimpin dan hanya seorang penggembala kambing miskin yang tersingkirkan, kisah Lukman tetap diabadikan di dalam Al-Qur'an. Allah ﷻ juga memuliakannya dalam Al-Qur'an. Bahkan, nasihatnya pun dipilih Allah ﷻ dari sekian banyak nasihat para ayah hebat di muka bumi ini. Jelas, Lukman bukan sembarang ayah.

Tidak setiap keluarga beruntung sejak awal. Ada yang perlu berusaha keras dalam mengubah karakter keluarganya. Tetapi ada juga yang seperti keluarga Nabi Daud عَلَیهِ‌ السَّلام, keluarga yang ditakdirkan Allah ﷻ sebagai keluarga yang baik. Daud sebagai raja dan memiliki anak Sulaiman yang juga menjadi raja.

Membangun keteladanan dalam keluarga menurut Islam adalah salah satu cara penting untuk menciptakan keluarga yang harmonis, penuh cinta kasih, saling menghormati, dan sesuai dengan nilai-nilai agama. Keteladanan ini diawali oleh orang tua sebagai panutan dan dapat diterapkan oleh semua anggota keluarga.

Keteladanan yang Dapat Dibangun dalam Keluarga

Keteladanan apa saja yang dapat dibangun dalam keluarga:

  • Menjadi teladan dalam akhlak
    Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap keluarganya." (HR. Tirmidzi). Orang tua harus menunjukkan akhlak yang baik, seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan keadilan, dalam kehidupan sehari-hari.
  • Mengajarkan dan mengamalkan nilai-nilai Islam
    Menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa bersama. Mengajarkan juga bisa melalui lembaga pendidikan tempat anak-anak kita titipkan, melalui guru, ulama, atau kerabat yang kita percayai. Bahkan lingkungan yang baik sangat berperan dalam membangun keteladanan keluarga. Dan yang paling penting, orang tua sebagai teladan harus memberi contoh, tidak hanya kata-kata. Minimal berusaha untuk baik di hadapan anggota keluarga.
  • Mempraktikkan kesabaran dan kasih sayang
    Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam bersikap lemah lembut kepada keluarganya. Menunjukkan kasih sayang kepada pasangan dan anak-anak melalui tindakan, seperti mendengarkan mereka, membantu pekerjaan rumah, dan memaafkan kesalahan.
  • Menjaga komunikasi yang baik
    Orang tua jangan membisu, pastikan dan cari waktu untuk mengobrol dan berdiskusi, khususnya berkaitan dengan akidah dan akhlak. Karena Islam juga menekankan pentingnya musyawarah (berdiskusi) dalam menyelesaikan masalah keluarga. Dengarkan pendapat setiap anggota keluarga dengan penuh perhatian dan rasa hormat.

Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Asy-Syura: 38:
“… Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka...”

  • Menegakkan kejujuran dan amanah
    Kejujuran adalah inti dari keteladanan. Orang tua harus menjadi teladan dalam berkata dan bertindak jujur. Menjaga amanah, baik yang besar maupun kecil, agar anak-anak belajar tentang tanggung jawab.
  • Memperbaiki diri secara terus-menerus
    Keteladanan tidak hanya didasarkan pada nasihat, tetapi juga pada usaha untuk terus menjadi lebih baik dalam ibadah dan perilaku. Beristigfar dan belajar dari kesalahan sebagai contoh rendah hati di hadapan Allah dan keluarga.
  • Menjaga keadilan dan memenuhi hak kebutuhan anggota keluarga
    Islam mengajarkan keadilan dalam memperlakukan anak-anak dan pasangan. Tidak boleh ada favoritisme atau diskriminasi. Rasulullah ﷺ bersabda, "Berlaku adillah di antara anak-anakmu." (HR. Abu Dawud).
    Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak mendapatkan kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual, termasuk memberikan nafkah yang halal.
  • Melibatkan keluarga dalam kegiatan positif
    Mengajak anggota keluarga melakukan kegiatan bermanfaat seperti bersedekah, kerja bakti membersihkan lingkungan, atau bersama-sama mengikuti kajian agama. Menanamkan kebiasaan baik yang memperkuat hubungan dengan Allah dan antaranggota keluarga.
  • Berdoa untuk keluarga
    Senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Salah satu doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan: 74).

Keteladanan dalam keluarga adalah proses yang memerlukan usaha dan kesabaran. Dengan membangun keteladanan, keluarga akan menjadi tempat yang penuh keberkahan dan rahmat Allah ﷻ.

Wallahu a’lam.

“Ayah!, Jangan Fatherless"

Dalam satu dekade terakhir ini muncul Fenomena Fatherless: Ayah Ada Tapi Tiada

Fenomena Fatherless: Ayah Ada Tapi Tiada

Sebuah refleksi tentang pentingnya peran ayah dalam keluarga

🛡️"Ayah dan anak"

Dalam satu dekade terakhir ini muncul istilah fatherless (ada ayah tapi tiada). Fatherless adalah suatu kondisi kurangnya keterlibatan seorang ayah dalam pengasuhan dan pembentukan kepribadian anaknya...

Fatherless bukan hanya ketidakhadiran fisik, tapi absennya perhatian, waktu, dan kasih sayang dari sosok ayah.

Menurut penelitian, fatherless ini terjadi dengan berbagai alasan seperti ekonomi, sosial, dan budaya, ditambah masih adanya budaya patriarki...

"Ayah dan anak berbicara"

Bisa jadi, ketika sentuhan nurani dari ayah berupa didikan integritas, bagaimana dalam bertanggung jawab, memegang teguh prinsip, dan tentang kepemimpinan, yang harusnya diberikan tidak terjadi, maka potensi anak jatuh dalam prilaku negatif sangatlah besar...

“Anak-anak yang tumbuh tanpa pengasuhan ayah lebih mudah terjerumus melakukan tindakan kriminal.” – Demuth and Brown, 2004

Solusi Fatherless

Sebuah artikel menyebutkan beberapa cara yang bisa dilakukan oleh ayah untuk meningkatkan keterlibatannya dalam kehidupan anak:

  • Mengajarkan cara memecahkan masalah dengan logika dan kasih sayang.
  • Memberikan teladan berperilaku yang benar dan baik serta bertanggung jawab.
  • Menyediakan waktu berkualitas untuk bermain dan berinteraksi dengan anak.
  • Menunjukkan rasa sayang dan perhatian secara verbal dan nonverbal.
  • Mendengarkan dan memahami perasaan dan kebutuhan anak.
  • Memberikan dukungan dan motivasi untuk prestasi dan minat anak.
  • Menghargai dan menghormati peran ibu sebagai pasangan hidup dan mitra pengasuhan.

Peran Ayah dalam Al-Qur'an

Islam telah lama menekankan pentingnya komunikasi orang tua, terutama ayah, kepada anak-anaknya...

"Keluarga Muslim"
“Ayah, engkau harus rajin berdialog dengan anak, seperti dialog Luqman kepada anaknya.”

Peran penting ayah juga tergambar dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam:

“Seorang ayah adalah bagian tengah dari gerbang surga. Jadi, tetaplah di gerbang itu atau lepaskan.” (H.R. Tirmidzi)

Penutup

Ayah harus menyempatkan waktu untuk banyak berdialog dengan anak-anak, karena itu adalah bagian penting dalam proses pembentukan karakter dan pola pikir anak...

“Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a'yun, waja'alna lil muttaqina imama.”
QS. Al-Furqan: 74

Wallahu a’lam.
Pekanbaru, 14 September 2023

Tulisan ini telah dimuat di . "Ayah Engkau Jangan Bisu", dimuat dalam Rubrik Orangtua Berbagi di https://www.ummulqurobogor.org/blog/read/ayah-engkau-jangan-bisu.

© 2023 | Ditulis untuk menyuarakan pentingnya kehadiran sosok ayah dalam keluarga.

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...