Minggu, 23 Februari 2025

Menyambut Ramadan Riang Gembira

Mengapa harus riang gembira menyambut Ramadan?, firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam Kitab Tafsir wa Khawathiru Al-Qur’an al-Karim mengatakan, ayat ini dimulai dengan penyebutan sebuah hukum kewajiban puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan bagi umat nabi terdahulu. Seolah, Allah hendak mengatakan, “Wahai orang yang beriman kepada-Ku, dan mencintai-Ku, sungguh telah Aku wajibkan puasa pada kalian semua.”

Karena Allah memiliki hak preogratif untuk memilih (اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ ) maka Allah memilih bulan waktu yang istimewa yaitu Ramadan sebagai hukum (kewajiban) orang beriman untuk menjalankan puasa.

Syekh Mutawalli dalam tafsirnya menjelaskan juga, pertama dibalik pilihan (istisfa’) Allah memberikan kewajiban berupa beban (masyaqqah), maka sudah seharusnya orang-orang yang beriman percaya kepada-Nya, bahwa di balik beban itu terdapat manfaat dan keberkahan.

Kedua, Allah menggunakan kalimat pasif (fi'il mabni majhul), yakni “kutiba” (diwajibkan), dan bukan kalimat aktif “kataba” (mewajibkan). Tafsir asy-Sya’rawi menyebut redaksi semacam ini bermakna kata kerja yang memberatkan (fi‘lun taklîfiyyun) sebagaimana perintah berperang dalam QS al-Baqarah ayat 216 yang juga menggunakan kalimat “kutiba”.

Dalam tafsir tersebut, puasa memiliki arti menahan, sebab makna dari shaum (puasa) sendiri adalah imsak (menahan). Dengan demikian, puasa adalah menahan diri dari syahwat-syahwat perut, seperti makan dan minum, dan juga mencegah syahwat-syahwat kemaluan, seperti jimak dan semacamnya, dimulai sejak terbitnya fajar sadiq hingga terbenamnya matahari. Menahan inilah bagian dari beban yang harus di pikul oleh semua orang yang mengaku beriman, namun tentunya tidak semua orang yang bisa menjalaninya dengan baik sesuai ketentuan syariat.

Puasa sendiri bukanlah syariat baru yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ. Sejak zaman dahulu sudah ada dalam semua agama samawi, dan menjadi salah satu kewajiban yang sifatnya ta’aabbudi (tidak bisa dinalar oleh akal). Semua manusia hanya bisa menerima dan menjalankan kewajiban yang satu ini, tanpa perlu mencari alasan kenapa diwajibkan. Namun khusus berpuasa di bulan Ramadan dengan berbagai keberkahan di dalamnya kata Rasulullah hanya untuk nabi Muhammad ﷺ dan ummatnya.

Selanjutnya menurut ulama Syekh Mutawalli yang memiliki gelar Imam ad-Du’ah abad 20 itu, pada dasarnya ketika Allah memilih apapun menjadi istimewa misalnya suatu tempat yang istimewa bukan dikhususkan untuk tempat itu saja yang bisa. Contohnya tempat yang sangat istimewa, dimuliakan dan disucikan bisa ditemukan dalam surah Al-Maidah 97:
جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلْكَعْبَةَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ قِيَٰمًا لِّلنَّاسِ وَٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَٱلْهَدْىَ وَٱلْقَلَٰٓئِدَ ۚ

“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid”

Dalam tafsir beliau bisa diilustrasikan, ketika beribadah ke tanah suci ke Baitullah Mekkah Al Mukaromah dengan perjuangan waktu, tenaga dan materi, karena keistimewaannya tempat tersebut kita berusaha mendapatkan kenikmatan dan kekhusyuan beribadah yang maksimal. Hal ini bukan berarti masjid-masjid dimana kita tinggal, masjid tempat lain ataupun yang terjangkau tidak bisa kita munculkan rasa khusyu dan nikmat dalam beribadah sepertinya di Mekkah. Imam Sya’rawi menegaskan kita bisa juga mendapatkan kenikmatan beribadah di masjid lain karena masjid dimanapun juga adalah Baitun min Buyutillah (Rumah Allah).

Begitu pula ketika Allah memilih orang beriman untuk memaksimalkan berbagai ibadah dan berusaha istiqamah pada bulan Ramadan tujuannya untuk melatih orang-orang yang beriman agar bisa istiqamah juga dalam beribadah di bulan-bulan lainnya, khususnya ibadah puasa.

Selain itu, Allah memilih satu bulan untuk dijadikan bulan secara khusus untuk beribadah, seperti Ramadan, tidak menunjukkan bahwa bulan-bulan yang lain adalah bulan hina, bukan pula untuk meremehkan suatu tempat, atau manusia yang ada di dalamnya.

Oleh karenanya, sangat heran jika ada umat Islam ketika bulan Ramadan telah tiba sangat semangat dalam beribadah, banyak membaca Alquran, berzikir kapada Allah, ataupun salat malam, namun lupa akan ibadah-ibadah tersebut ketika bulan Ramadan telah pergi, bahkan cenderung tidak beribadah.

Bagi orang beriman ketika dipilih dan diistimewakan oleh Allah untuk menjalankan puasa yang ujungnya mendapatkan kenikmatan besar berupa surga-Nya, maka sudah selayaknya bagi mereka untuk mengistimewakan Ramadan dengan menyambutnya dengan riang gembira.

Dan sebaliknya, hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena karunia dari Allah inilah seorang muslim harus bergembira. Allah berfirman,
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Wajibnya bergembira bagi setiap mukmin dalam menyambut Ramadan karena diberikan suatu kepastian mendapatkan kenikmatan yang luar biasa sebagaimana dalam hadis berikut.
ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991))

Ibnu Rajab Al-Hambali (736–795 H) menjelaskan, “Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)

Syaikh Shalih Al-Fauzan seorang ulama dan anggota kehormatan dari Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam di Arab Saudi menjelaskan,“Hadis ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh salih dengan datangnya Ramadan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.” (Ahaditsus Shiyam hal. 13)

Ada hadis yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadan, akan tetapi hadisnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu), “Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)

Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambutnya agar Ramadan yang kita jalankan bisa maksimal, yaitu:

1. Tanamkan Rasa Syukur dan Niat yang Kuat
Sadari bahwa Ramadan adalah bulan penuh berkah yang tidak ada jaminan tahun depan kita bisa bisa menemuinya Kembali. Perbanyak doa agar Allah memberikan kesempatan menjalani Ramadan dengan sehat dan penuh keberkahan.

2. Persiapkan Diri Secara Spiritual
Mempelajari fikih puasa, mulai memperbanyak ibadah seperti salat sunah, membaca Al-Qur’an, dan zikir sejak sebelum Ramadan. Buat target ibadah agar lebih semangat, misalnya khatam Al-Qur’an, selesai membaca terjemahannya, memperbaiki salat malam, atau ibadah sunah lainnya.

3. Ciptakan Suasana Ramadan di Rumah
Dekorasi rumah dengan nuansa Ramadan agar lebih semarak, misalnya dengan lampu hias atau kalender ibadah. Siapkan alat ibadah seperti mukena, sajadah, dan Al-Qur’an yang nyaman digunakan. Bagi yang mempunyai anak penting bagi kita sebagai orang tua mulai melatih dan menanamkan nilai-nilai puasa sejak dini.

4. Sambut dengan Kebersamaan
Bersilaturahmi dengan keluarga dan teman, baik langsung maupun melalui pesan, untuk berbagi kebahagiaan menyambut Ramadan. Ajak anak-anak atau anggota keluarga untuk ikut serta dalam menyambut Ramadan. Mengikuti kajian-kajian Tarhib Ramadan bersama keluarga, kerabat, dan teman-teman sekitar. Ikut kegiatan-kegiatan yang menfasilitasi kebaikan di dalam Ramadan seperti ikut kepanitiaan Ramadan di masjid tempat kita tinggal atau tempat kerja kita.

5. Persiapkan Fisik dan Mental
Mulai membiasakan diri untuk rutin berolah raga, jangan biasakan “mager. Mulai mengatur pola makan sehat dan bergizi serta mengurangi kebiasaan buruk agar tubuh siap menjalani puasa. Niatkan Ramadan sebagai momen penyucian hati dan perbaikan diri untuk fisik dan ruhiyah.

Demikian beberapa persiapan melengkapi rasa riang gembira ketika menyambut Bulan Suci Ramadan. Semoga kita disampaikan di bulan Ramadan tahun ini, bisa memaksimalkan berbagai ibadah, dan tentunya berhasil mencapai derajat takwa sebagai kompensasi tertinggi yang dijanjikan Allah ﷻ.

Wallahu a’lam.
Bogor, 23 Sya’ban 1446 H – (TSH)

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...