Sabtu, 01 Februari 2025

Membangun Keteladanan Keluarga dalam Bingkai Islam

Keteladanan Keluarga dalam Islam

(Disampaikan dalam Kajian Daring Akhwat (MSR 4), Kamis, 21 November 2024)

Keteladanan atau "uswatun hasanah" dalam Islam adalah cara menunjang kehidupan yang diridai oleh Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan telah diikuti oleh Nabi Ibrahim عَلَیهِ‌ السَّلام serta para pengikutnya.

Keluarga adalah bagian terkecil dalam masyarakat. Islam mengakui keluarga sebagai fondasi dasar cerminan akhlak umat. Jika keluarga menjalankan perannya dengan baik, masyarakat secara keseluruhan akan menjadi lebih baik. Di dalamnya pula, ikatan suami istri dipandang sebagai bagian fondasi yang membangun keluarga kuat. Keluarga dalam bingkai Islam, melalui ikatan inilah anak-anak akan dibesarkan dengan nilai-nilai ilahiah, cinta, perhatian, dan rasa tanggung jawab.

Nilai-nilai ilahiah adalah nilai-nilai yang berasal dari keyakinan dan merupakan petunjuk dari Allah ﷻ seperti iman, Islam, ihsan, takwa, ikhlas, tawakal, syukur, dan sabar. Dengan demikian, keteladanan keluarga adalah suatu cara mendidik dan membimbing individu dalam keluarga dengan menggunakan contoh baik yang diridai oleh Allah ﷻ sebagaimana yang telah dicerminkan oleh perilaku Rasulullah ﷺ.

Setiap muslim meyakini bahwa cara mendidik dan membimbing yang diridai ini sumber utamanya adalah Al-Qur'an dan hadis. Maka, sudah saatnya kita kembali kepada Al-Qur'an dan sunah Rasulullah ﷺ sebagai panduan yang telah melahirkan generasi-generasi hebat dalam keluarga dan para pemimpin bumi lebih dari 1400 tahun. Tentunya hal tersebut dapat kita peroleh melalui lisan atau tulisan para ulama dan ustaz dalam berbagai kajian dan pengajian.

Kemudian, berkaitan dengan tugas sebagai orang tua dalam keluarga, wawasan mengenai hal tersebut dapat diperoleh melalui lisan atau tulisan para pakar parenting Islam. Sebab, era digitalisasi memunculkan cara dan teknik mendidik yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal ini sesuai dengan pesan Ali bin Abu Talib, “Didiklah anak sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu.”

Potret Keteladanan Keluarga dalam Al-Qur'an

Jika kita sedikit mengulas 'potret keluarga' sebagai bentuk keteladanan keluarga, di dalam Al-Qur'an diceritakan, dikisahkan, dan diajarkan perihal:

  • Keluarga Nabi Ibrahim عَلَیهِ‌ السَّلام. Nabi Ibrahim digambarkan sangat dominan sebagai sosok ayah istimewa, ayah hebat. Selain melahirkan keturunan orang saleh, beliau juga melahirkan dua nabi sekaligus, yaitu Ismail عَلَیهِ‌ السَّلام dan Ishaq عَلَیهِ‌ السَّلام. Dari keduanya, lahir pula para nabi berikutnya.
  • Keluarga Nabi Nuh عَلَیهِ‌ السَّلام. Nabi Nuh ditegur oleh Allah ﷻ dalam Surah Hud karena gagal dalam mendidik salah satu anak laki-lakinya. Nabi pun seorang manusia yang bisa gagal. Dari hal tersebut, dapat menjadi acuan semangat kita sebagai orang tua untuk tetap bertanggung jawab.
  • Kisah Keluarga Nabi Ya’qub عَلَیهِ‌ السَّلام. Seorang ayah yang berasal dari kampung di pelosok padang pasir, hidup dalam perjalanan yang setiap segmennya adalah cobaan berat, ternyata mampu menghantarkan anaknya sampai di kursi kepemimpinan negeri besar, Mesir.
  • Kisah Keluarga Rasulullah ﷺ. Jika Ibrahim sangat dominan digambarkan perannya sebagai kepala keluarga, Rasulullah Muhammad ﷺ justru digambarkan dengan cara sebaliknya. Keluarga Rasulullah ﷺ banyak digambarkan dengan pihak wanita atau Ummahatul Mukminin (istri-istri beliau). Untuk mengetahui alasan mengapa yang dibahas Ummahatul Mukminin, kita dapat menelusurinya ayat per ayat dalam Al-Qur'an.
  • Kisah Keluarga Imran dan Lukman. Dari 114 surah dalam Al-Qur'an, hanya satu surah yang namanya mengandung kata keluarga, yaitu Ali Imran (Keluarga Imran). Padahal, Imran bukanlah nabi. Seakan ada sebuah perintah agar kita punya fokus dalam mengambil pelajaran dari keluarga manusia biasa yang istimewa ini.

Keluarga Imran merupakan sebuah keluarga yang utuh keberhasilannya, mulai dari pasangan, anak, hingga cucu. Imran adalah tokoh di masyarakat dan seorang imam besar. Berbeda dengan Lukman, yang hanya orang biasa. Meski bukan pemimpin dan hanya seorang penggembala kambing miskin yang tersingkirkan, kisah Lukman tetap diabadikan di dalam Al-Qur'an. Allah ﷻ juga memuliakannya dalam Al-Qur'an. Bahkan, nasihatnya pun dipilih Allah ﷻ dari sekian banyak nasihat para ayah hebat di muka bumi ini. Jelas, Lukman bukan sembarang ayah.

Tidak setiap keluarga beruntung sejak awal. Ada yang perlu berusaha keras dalam mengubah karakter keluarganya. Tetapi ada juga yang seperti keluarga Nabi Daud عَلَیهِ‌ السَّلام, keluarga yang ditakdirkan Allah ﷻ sebagai keluarga yang baik. Daud sebagai raja dan memiliki anak Sulaiman yang juga menjadi raja.

Membangun keteladanan dalam keluarga menurut Islam adalah salah satu cara penting untuk menciptakan keluarga yang harmonis, penuh cinta kasih, saling menghormati, dan sesuai dengan nilai-nilai agama. Keteladanan ini diawali oleh orang tua sebagai panutan dan dapat diterapkan oleh semua anggota keluarga.

Keteladanan yang Dapat Dibangun dalam Keluarga

Keteladanan apa saja yang dapat dibangun dalam keluarga:

  • Menjadi teladan dalam akhlak
    Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap keluarganya." (HR. Tirmidzi). Orang tua harus menunjukkan akhlak yang baik, seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan keadilan, dalam kehidupan sehari-hari.
  • Mengajarkan dan mengamalkan nilai-nilai Islam
    Menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa bersama. Mengajarkan juga bisa melalui lembaga pendidikan tempat anak-anak kita titipkan, melalui guru, ulama, atau kerabat yang kita percayai. Bahkan lingkungan yang baik sangat berperan dalam membangun keteladanan keluarga. Dan yang paling penting, orang tua sebagai teladan harus memberi contoh, tidak hanya kata-kata. Minimal berusaha untuk baik di hadapan anggota keluarga.
  • Mempraktikkan kesabaran dan kasih sayang
    Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam bersikap lemah lembut kepada keluarganya. Menunjukkan kasih sayang kepada pasangan dan anak-anak melalui tindakan, seperti mendengarkan mereka, membantu pekerjaan rumah, dan memaafkan kesalahan.
  • Menjaga komunikasi yang baik
    Orang tua jangan membisu, pastikan dan cari waktu untuk mengobrol dan berdiskusi, khususnya berkaitan dengan akidah dan akhlak. Karena Islam juga menekankan pentingnya musyawarah (berdiskusi) dalam menyelesaikan masalah keluarga. Dengarkan pendapat setiap anggota keluarga dengan penuh perhatian dan rasa hormat.

Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Asy-Syura: 38:
“… Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka...”

  • Menegakkan kejujuran dan amanah
    Kejujuran adalah inti dari keteladanan. Orang tua harus menjadi teladan dalam berkata dan bertindak jujur. Menjaga amanah, baik yang besar maupun kecil, agar anak-anak belajar tentang tanggung jawab.
  • Memperbaiki diri secara terus-menerus
    Keteladanan tidak hanya didasarkan pada nasihat, tetapi juga pada usaha untuk terus menjadi lebih baik dalam ibadah dan perilaku. Beristigfar dan belajar dari kesalahan sebagai contoh rendah hati di hadapan Allah dan keluarga.
  • Menjaga keadilan dan memenuhi hak kebutuhan anggota keluarga
    Islam mengajarkan keadilan dalam memperlakukan anak-anak dan pasangan. Tidak boleh ada favoritisme atau diskriminasi. Rasulullah ﷺ bersabda, "Berlaku adillah di antara anak-anakmu." (HR. Abu Dawud).
    Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak mendapatkan kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual, termasuk memberikan nafkah yang halal.
  • Melibatkan keluarga dalam kegiatan positif
    Mengajak anggota keluarga melakukan kegiatan bermanfaat seperti bersedekah, kerja bakti membersihkan lingkungan, atau bersama-sama mengikuti kajian agama. Menanamkan kebiasaan baik yang memperkuat hubungan dengan Allah dan antaranggota keluarga.
  • Berdoa untuk keluarga
    Senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Salah satu doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan: 74).

Keteladanan dalam keluarga adalah proses yang memerlukan usaha dan kesabaran. Dengan membangun keteladanan, keluarga akan menjadi tempat yang penuh keberkahan dan rahmat Allah ﷻ.

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...