Rabu, 26 November 2014

These too, will pass...OPTIMIS!

Dan Inipun Akan Berlalu

Dan Inipun Akan Berlalu

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?..." (QS. Al-Baqarah: 214)

Alkisah, seorang raja yang bijaksana meminta kepada tukang emasnya yang sudah tua untuk menuliskan sesuatu di cincin emasnya. Ia berkata, "Tuliskan sesuatu yang merupakan pelajaran dari seluruh perjalanan hidupmu."

Berbulan-bulan tukang emas tersebut berpikir dan berdoa, hingga akhirnya menyerahkan cincin dengan tulisan kecil: "Dan inipun akan berlalu" (These too, will pass).

Sang Raja tidak langsung memahami maknanya. Namun ketika ia mengalami kesulitan dan membaca tulisan itu, hatinya menjadi tenang. Begitu pula ketika ia sedang bersuka cita, tulisan itu membawanya kembali rendah hati.

"Ketika kita memiliki masalah besar ataupun sedang dalam kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat itu: Dan inipun akan berlalu."

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Segala hal—baik musibah maupun kenikmatan—semuanya akan berlalu.

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡہَا فَانٍ۬ (٢٦) وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَـٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ (٢٧)

"Semua yang ada di bumi itu akan sirna. Dan tetap kekal zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (Ar-Rahman: 26-27)

Allah telah menetapkan segala sesuatu: rezeki, ajal, amal, dan nasib kita. Bahkan kesulitan yang kita alami telah tertulis sebelum kita diciptakan.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ ... إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬ (٢٢)

(QS. Al-Hadid: 22-23)

Allah memberikan ujian sebagai cara untuk mendekatkan kita kepada-Nya. Bahkan rasa sakit sekecil apapun adalah penghapus dosa.

"Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, atau kesedihan, kecuali Allah akan menghapuskan kesalahannya karena hal itu." (HR. Bukhari & Muslim)

Bersabarlah. Setiap musibah mengandung pelajaran dan ganjaran yang besar:

  • Menghapus dosa dan mengangkat derajat.
  • Tanda kecintaan Allah.
  • Pahala tanpa batas bagi yang bersabar.
  • Bisa menjadi sebab mati syahid.
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Maka jika mendapat musibah, bersabarlah dan harapkan pahala dari Allah. Jika mendapat nikmat, bersyukurlah dan gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُم

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..." (QS. Ibrahim: 7)

Akhirnya, yakinlah bahwa segala sesuatu, baik suka maupun duka, semuanya akan berlalu. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar, bersyukur, dan mendapat rahmat Allah.

Wallahu a'lam


https://pijarpunbenderang.blogspot.com/2014/11/these-too-will-passnanda.html

Senin, 24 November 2014

MENJADI PRIBADI ISLAMI

Membangun Pribadi Islami: Tanggung Jawab Fitrah dan Sosial

Membangun Pribadi Islami: Tanggung Jawab Fitrah dan Sosial

Firman Allah Swt.:
"وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا"

Artinya: "Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra' [17]: 70)

Setiap jiwa dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu suci dan cenderung kepada kebaikan. Namun, kesucian ini tidak berarti meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya. Justru karena telah diawali dengan fitrah, jiwa harus dipelihara kesuciannya dan dikembangkan agar menjadi pribadi yang Islami.

Dalam pribadi yang Islami ini, terdapat tanggung jawab besar secara sosial. Setiap individu tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga atas lingkungan sekitarnya, meliputi keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat luas. Tanggung jawab ini selaras dengan ajaran Islam yang komprehensif, memadukan keyakinan dan aplikasi, norma dan perbuatan, keimanan dan amal saleh. Oleh karena itu, ajaran yang diyakini seorang muslim harus tercermin dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya.

Tiga Aspek Pembentuk Pribadi Islami

Untuk menjadi pribadi yang Islami, terdapat tiga sisi utama yang harus dibangun dan diperkuat:

1. Ruhiyah (Ma'nawiyah)

Ruhiyah adalah kesadaran mendalam tentang eksistensi Allah Swt. dengan segala sifat-Nya, serta keterikatan dan hubungan seseorang dengan Allah Swt. yang mewarnai seluruh perilakunya. Allah Swt. telah mengilhamkan kepada jiwa manusia jalan kefasikan dan ketakwaan, seperti yang termaktub dalam firman-Nya:

"وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۝ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا"

Artinya: "Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams [91]: 7-10)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa Allah Swt. juga memberikan pilihan atau jalan untuk menjauhi kebaikan. Oleh karena itu, menjaga ruhiyah sangatlah penting. Kerugian besar akan menimpa orang yang mengotori jiwanya. Peringatan keras agar meninggalkan perbuatan yang membuat hati menjadi keras juga disampaikan dalam Al-Qur'an:

"أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ"

Artinya: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Al-Hadid [57]: 16)

Tarbiyah ruhiyah (pembinaan spiritual) adalah dasar dari seluruh bentuk pembinaan, pendorong untuk beramal saleh, dan unsur yang memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan. Aspek-aspek yang terkait erat dengan ma'nawiyah seseorang adalah:

Akidah

Ruhiyah yang baik melahirkan akidah yang lurus dan kokoh. Sebaliknya, ruhiyah yang lemah menyebabkan lemahnya akidah. Akidah yang benar dan lurus adalah akidah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan dijalankan oleh para sahabat, karena mampu menanamkan jiwa, semangat, dan kekuatan luar biasa ke dalam hati para penganutnya. Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi sering menekankan pentingnya akidah salimah (akidah yang bersih) sebagai fondasi kehidupan muslim, yang melahirkan ketenangan batin dan kekuatan dalam menghadapi tantangan zaman.

Tingkah Laku (Suluk)

Yang membedakan manusia sebagai pribadi yang luhur/mulia atau sebaliknya, menjadi pribadi yang kasar dan jahil, adalah dari perbuatannya. Kumpulan dari perbuatan-perbuatan disebut tingkah laku (suluk). Tingkah laku seorang manusia sangat ditentukan oleh pemahaman akan suatu hal. Ketika dinul Islam (agama Islam) yang membingkai pemahaman terhadap tingkah lakunya, maka ruhiyahnya akan menjadi lurus. Namun, sebaliknya jika hedonisme, kapitalisme, atau liberalisme menjadi dasar tingkah lakunya, maka hasilnya adalah hurriyatu al-syakhsiyyah (kebebasan perilaku) yang menjauhkan ia dari Allah Swt.

Akhlak

Akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari kata khuluqun (خُلُقٌ) yang secara bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun (خَلْقٌ) yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan Khaliq (خَالِقٌ) yang berarti pencipta. Oleh karena itu, akhlak merupakan bagian penting dari keimanan.

Terawatnya ruhiyah akan memperbagus akhlak seseorang. Allah Swt. dalam beberapa ayat selalu menggandengkan antara iman dan amal saleh. Rasulullah ﷺ sendiri ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya, beliau menjawab:

"أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا"

Artinya: "Mukmin yang paling baik akhlaknya." (HR. Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam An-Nasa'i)

Bahkan, diutusnya Rasulullah ﷺ pun untuk menyempurnakan akhlak manusia sehingga menjadi akhlak yang Islami:

"إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ"

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia." (HR. Ahmad)

Tolak ukur dan patokan baik tidaknya akhlak adalah Al-Qur'an. Ini terbukti dari jawaban Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ:

"كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ"

Artinya: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim)

Dr. Zakir Naik, seorang ulama kontemporer, sering menekankan bahwa Al-Qur'an bukan hanya kitab suci untuk dibaca, tetapi juga pedoman hidup yang membentuk karakter dan akhlak mulia.

2. Fikriyah ('Aqliyah)

Kepribadian Islami juga sangat ditentukan oleh kokoh tidaknya aspek fikriyah (pemikiran). Kejernihan fikrah atau kekuatan akal seseorang akan mendorong amal dan kreativitas, sehingga manfaatnya lebih terasa bagi orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:

Wawasan (Tsaqafah) Keislaman yang Luas dan Menyeluruh (Syumuliyah)

Wawasan yang luas dan menyeluruh akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri seseorang untuk orang lain, serta menjaganya dari Gazwul Fikri (perang pemikiran). Setan ataupun musuh-musuh Islam akan mencoba menyerang melalui pemikiran atau ideologi agar umat Islam terpecah dan terjerumus ke dalam kerusakan. Oleh karena itu, pemikiran harus tetap dalam koridor tauhid dan Islam rahmatan lil 'alamin.

Wawasan dan Kepribadian yang Komprehensif

Seorang muslim yang memiliki fikrah yang sehat juga akan mampu mengembangkan diri dan berkontribusi positif dalam berbagai aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, maupun politik, selama semuanya tetap berlandaskan syariat Islam.

3. Jasadiyah (Tubuh)

Dalam Islam, kesehatan jasmani tidak kalah penting dengan kesehatan ruhaniyah dan fikriyah. Tubuh yang sehat adalah amanah dari Allah Swt. yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Oleh karena itu, Islam mengatur pola makan, istirahat, olahraga, dan pola hidup bersih untuk menjaga kesehatan jasmani.

Seorang muslim harus menjaga tubuhnya agar tetap kuat dan sehat supaya mampu menjalankan ibadah dan aktivitas sosial dengan baik. Sehatnya jasmani mendukung tercapainya produktivitas yang maksimal dalam dakwah dan kegiatan kemasyarakatan.

Kesimpulan

Membangun pribadi Islami adalah proses yang menyeluruh dan harus memperhatikan tiga aspek utama: ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah. Ketiganya saling melengkapi dan harus berada pada kondisi terbaik agar seseorang dapat menjadi muslim yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia serta mampu menjalankan tanggung jawab sosial secara optimal.

Semoga kita semua termasuk golongan yang dijaga fitrah dan keislamannya serta dapat membangun diri dan lingkungan dengan akhlak mulia dan amal saleh.

Sumber: LKMT-Dakwatuna

Minggu, 09 November 2014

100 PERAK, SEBUAH IBROH

Seratus Rupiah dan Sebongkah Akhlak

Seratus Rupiah dan Sebongkah Akhlak

Suasana di supermarket sore itu tak begitu ramai. Lampu-lampu menggantung dari langit-langit dengan cahaya kuning yang lembut. Aku berdiri dalam antrean kasir, menunggu giliranku untuk membayar beberapa barang kebutuhan rumah tangga.

Di depanku, sepasang suami istri tengah menyelesaikan pembayaran. Sang suami tampak rapi, sementara sang istri mengenakan jilbab cokelat tua yang sederhana namun anggun. Proses pembayaran berjalan seperti biasa: barang-barang dipindai, total dibacakan, dan uang tunai diserahkan. Kasir wanita itu lalu memberikan kembalian beserta struk.

Tiba-tiba, sang suami memeriksa kembalian dengan teliti, lalu keningnya berkerut.

“Mbak, kok kembaliannya kurang seratus rupiah?” tanyanya dengan suara pelan namun tegas.

Kasir tak langsung merespons, ia sibuk memindai barang belanjaanku. Mungkin ia tak mendengar, atau mungkin sedang mencoba menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

Beberapa detik kemudian, suara sang suami meninggi, “Mbak, kurang seratus mana? Dikorupsi, ya?!”

Kasir itu tampak terkejut. Wajahnya memerah, nadanya gugup namun tetap sopan. “Tidak, Pak. Kalau saya punya uang recehan seratus, pasti saya kasih. Biasanya saya ganti pakai permen, tapi maaf, permennya habis.”

Sang suami tampak tak puas. “Alaa... bohong! Bisa-bisa kamu yang ambil!”

“Tidak, Pak. Kalau Bapak punya seratus, kasih ke saya, nanti saya kembalikan lima ratus,” jawab si kasir sambil menunduk. Suaranya terdengar hampir putus, dan seluruh area kasir mulai melirik ke arah kami.

Sang suami berseru, “Saya punya, tapi di mobil. Masa harus ke parkiran cuma buat ngambil hak saya?”

Istrinya mencoba menenangkan, “Sudah, Pak. Hanya seratus ini. Sudah, pulang yuk.”

Namun sang suami tetap bersikeras, “Enggak, Mah. Biar seratus, tapi kalau diambil di tiap transaksi, bayangkan berapa ratus ribu yang dia kumpulkan!”

Air mata jatuh di pipi si kasir. Dua rekan kerjanya mendekat, bertanya dengan pelan. Ia menjawab sambil terisak, menjelaskan semuanya.

Sang suami, dengan wajah tetap murka, akhirnya digandeng istrinya meninggalkan tempat itu—menggenggam kekecewaan yang mungkin lebih dari seratus rupiah, namun kehilangan sesuatu yang lebih berharga: akhlak.

Pelajaran dari Seratus Rupiah

Dalam kehidupan ini, kadang Allah SWT memberi pelajaran dari hal yang paling kecil dan sederhana. Seratus rupiah mungkin remeh di mata kita, tetapi bisa menjadi jalan muhasabah tentang kejujuran, amarah, hingga prasangka.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Sekecil apa pun kebaikan dan keburukan tidak akan luput dari pengawasan Allah. Termasuk kejujuran atau kebohongan dalam transaksi.

“Tidaklah seorang mukmin menjadi pembohong.” (HR. Malik)

Namun, Islam tidak hanya bicara soal kejujuran. Marah, yang muncul spontan, juga mendapat perhatian.

“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)
“Jangan marah.” (HR. Bukhari)

Jika amarah dibiarkan, ia bisa memunculkan tuduhan yang tidak berdasar.

“Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Muslim)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa...” (QS. Al-Hujurat: 12)
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti...” (QS. Al-Hujurat: 6)

Tiga Ruang yang Diizinkan untuk Berbohong

“Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan manusia, melainkan ia mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Strategi perang,
  • Mendamaikan dua orang yang bertikai,
  • Suami istri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

Menjadi Teladan, Bukan Sekadar Pembela Hak

Sikap si bapak yang keras dalam membela haknya memang secara logika mungkin bisa dimaklumi. Namun sebagai seorang muslim, adab dan akhlak tetap menjadi standar tertinggi.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Penutup: Mari Belajar dari Hal Kecil

Seratus rupiah mungkin hanya logam kecil dalam saku, tapi bisa menjadi kaca pembesar untuk melihat betapa pentingnya kejujuran, kontrol diri, dan prasangka baik dalam kehidupan ini.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21)

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam perkara besar maupun kecil.

Wallahu a‘lam.

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...