Pernah dalam suatu Tanya jawab seorang Ulama*) menyampaikan firman Allah:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS.7:172)
Seorang atheis menyanggah : ” mengapa saya tidak ingat, tidak ada siapapun (termasuk Tuhan) yang bertanya itu kepada saya”.
Ulama tersebut menjawab: “brother, setiap manusia telah ditanya, kemudian ingatan itu dihilangkan”. “manusia itu bodoh, saya dan engkau bodoh mengikuti ujianNya (baca:hidup di dunia), firman Allah:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.(QS.7:72)
Lanjut beliau : “Sekarang, ketika engkau (baca:si atheis) sudah ikut ujianNya dan mengikuti perintah Tuhan, engkau telah lebih mulia dari malaikat, tapi ketika engkau menentang Allah maka engkau lebih hina dari para malaikat”.
Kata beliau lagi : ”engkau bilang tidak ingat Tuhan pernah bertanya itu, saya pun tidak ingat ditanya itu, karena ketika kita ingat (baca:persaksian), ketika kita tahu akhir dari kita surga atau neraka, diamanakah letak "ujiannya"?
“Tapi saya percaya Quran", lanjut beliau kembali. "nanti di hari kiamat tidak ada siapapun termasuk engkau yang dapat menentang pengadilan Tuhan, Firman Allah”:
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”.(QS.23:99-100)
Siapa pun diantara kita tidak ada yang ingat ketika Allah mengambil persaksian kita, namun kita akan ingat atas persaksian itu ketika kita mati.
Ibarat ketika kita mengikuti ujian dikelas tentunya semua ilmu yang diujikan ada dalam buku dan catatan, dan ketika ada soal yang kita tidak tahu jawabannya, apakah memang kita tidak mau tahu atau tidak ingat? Dan kalau kita paksa untuk menjawab soal tersebut saat ujian dengan jawaban yang benar maka tentunya kita mencontek dan ini terlarang. Jadi kapan kita bisa mengetahui atau mengingat jawaban yang benar tersebut. Ya, setelah ujian selesai dan kita bisa membuka buku atau catatannya. Ujian selesai itulah “kematian”.
Ketika manusia itu bodoh (jahil) mereka tidak melihat ayat ayat kauniyah dan kauliyah, mereka sulit mendapatkan keimanan. Mereka tidak mengenal (ma’rifat) Allah SWT secara benar, walaupun menurut mereka, mereka sangat pandai, sehingga alqu’an mengibaratkannya :
• Seperti keledai yang membawa kitab (Q.S. 62: 5)
• Mudah digiring kemana-mana seperti binatang ternak. (Q.S. 7: 179)
• Licik sepert monyet. (Q.S. 5: 60)
• Menjijikkan seperti anjing. (Q.S. 7: 176)
• Rakus seperti babi. (Q.S. 63: 4).
Ketika Allah SWT memberikan amanah kepada manusia, padahal amanah ini juga ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung namun mereka tidak sanggup, tetapi manusia menyanggupinya padahal mereka zalim dan bodoh, mengapa?, itu karena Allah subhanahu watala dalam menciptakan manusia memberikan berbagai kelebihan kepada manusia.
Sebelum kita membahas kelebihan-kelebihan manusia dalam ma’rifatul insan ini, kita akan sedikit mundur ke hakikat penciptaan Manusia. Manusia diciptakan oleh Allah di alam ‘azali melalui dua zat dasar, yaitu:
1. Ruh (Q.S. 32: 9, 15: 29),
"Kemudian Dia menyempurnakan (bentuk kejadiannya) dan meniupkan ke dalam (benih janin)nya, ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur."
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (Adam) telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu (para malaikat) kepadanya dengan bersujud."
2. Tanah (Q.S. 32: 7-8, 15: 28).
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya (sempurna), dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah."Kemudian Dia menjadikan keturunannya (keturunan manusia), dari saripati air yang hina (air mani)."
"Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."
Selanjutnya dalam Alqur’an Allah menciptakan manusia dengan membekali tiga potensi dasar, yaitu :
1. Potensi Jasmani
Allah menciptakan jasad yang membutuhkan makanan dan minuman, agar jasad tersebut tumbuh dan berkembang sebagaimana ia juga membutuhkan makanan, pakaian dan tempat tinggal. (QS. Al Mulk (67) : 15, QS. Ibrahim (14) ; 32-34, QS. Al Jaatsiyah (45) : 13).
2. Potensi Akal
Allah menciptakan akal yang tentunya akal ini membutuhkan ilmu (pengetahuan) agar manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai khalifa untuk memakmurkan bumi Allah. (QS. Al Baqarah (2) : 30, QS. An Naml (16) : 78, QS. Al Israa (17): 12, QS. Al ‘Alaq (96):1-5)
3. Potensi Ruh
Allah menciptakan manusia yang membutuhkan petunjuk dan hidayah agar kehidupan manusia menjadi lurus di dunia dan di akhirat. (QS. An Nahl (16) : 36)
Dengan ketiga potensi dasar tersebut, manusia diberi tanggung jawab yang ditujukan hanya kepada Allah melalui:
1. Beribadah
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." – (QS.51:56)
2. dan menjadi Khalifah di bumi
"Ingatlah, ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'. Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih, dengan memuji Engkau, dan mensucikan Engkau'. Rabb berfirman: 'Sesungguhnya, Aku mengetahui, apa yang tidak kamu ketahui'." – (QS.2:30)
Ketika manusia dengan ruh, akal dan jasadnya, mereka beribadah hanya kepada Allah dan menjalankan kalifah dimuka bumi,maka akan mendapatkan balasan dari Allah berupa surganya, sebaliknya jika manusia tersebut tetap zalim dan bodoh maka nerakalah ganjarannya.
"Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya, akan Kami berikan (pula) balasan kepada mereka, dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.16:97)
“Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka.”(QS. 22:51)
Sehingga secara garis besar manusia dimaksud dapat dikelompokan menjadi dua bagian yaitu:
Kelompok pertama, adalah kelompok yang menjalankan amanah disebut khalifah, Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu berada di bumi sebagai khalifatullah. Sebagai khalifatullah ia harus paham:
• Ia adalah bukan penguasa bumi yang sebenarnya. (Q.S. 24: 25)
• Ia harus menggunakannya sesuai perintah dan keinginan yang diwakilinya (Q.S. 76: 30), yaitu Allah
• Ia tidak boleh menentang perintah dari sang penguasa yang sebenarnya. (Q.S. 100: 6-11)
Kelompok kedua, adalah kelompok yang khianat (tidak menjalankan amanah dengan benar), kelompok yang hanya mengandalkan nafsu, mereka bisu,buta, dan tuli akan kebenaran, dan Allah menggambarkan kondisi mereka dalam al-qur’an :
• Menjadi tidak bermanfaat seperti kayu yang tersandar saja. (Q.S. 5: 60)
• Sistem kehidupan mereka sangat lemah seperti sarang laba-laba. (Q.S. 29: 41)
• Hati mereka keras dari zikrullah dan membaca Al-qur’an seperti batu. (Q.S. 2: 74)
Pertanyaannya kemudian adalah, masuk dikelompok manakah kita???
Sebagai penutup
Allah memberikan kelebihan dan keutamaan kepada manusia dengan pendengaran (As Sam’u), penglihatan ( Al Bashor) dan hati (Al Fu’ad): "Katakanlah: 'Dia-lah yang menciptakan kamu, dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati'. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur." – (QS.67:23)
Namun terkadang tidak disyukuri sebagian besar manusia. Terkadang ia sering menggunakan telinganya untuk mendengar hal-hal yang buruk gunjingan, fitnahan, bahkan perkataan yang mungkar. Matanya untuk melihat yang haram, aurat, pornografi, dan terkadang hati yang digunakan untuk membenci, hasad, dendam dan berprasangka buruk kepada orang lain. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka menjadi orang-orang yang lalai. Bahkan Allah telah jadikan neraka jahanam untuk kebanyakan dari jin dan manusia, karena mereka tidak memahami dan menggunakan segala yang dianugerahkan Allah untuk hal-hal yang diperintahkan-Nya.
"Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam, kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."(QS. Al A’raaf (7) : 179)
Wallahu a’lam
*)Ulama tersebut adalah Dr. Zakir Naik, sebuah tanya jawab dengan seorang atheis, diterjemahkan dengan sedikit keterangan.
http://pijarpunbenderang.blogspot.com/



