Minggu, 14 Desember 2014

Batalkah Syahadah Kita???

Pentingnya Syahadat dan Bahaya Ilhad

Memahami Syahadat dan Bahaya Penyimpangan (Ilhad)

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19)

Sedikit kita bermuhasabah, ketika kita melihat fenomena umat Islam khususnya di Indonesia, dalam politik, ekonomi, sosial, konflik, kemaksiatan, penyesatan akidah, perang pemikiran, dan seterusnya hingga masalah yang paling kecil di tatanan kehidupan keluarga, yaitu diri kita sebagai hamba yang menyimpang dari kebenaran. Ketika semua itu kita lihat dengan kacamata “mikroskopis”, maka akan terlihat salah satu penyebabnya berawal dari menafikan sifat, nama, dan perbuatan Allah dalam diri kita.

Kita percaya Allah itu ada, **tetapi** kita meragukan bahkan menolak keberadaan asma wa sifat Allah Subhanahu wa ta'ala meliputi kehidupan kita. Kita tahu Allah itu Esa, tapi kita tanpa sadar atau sadar meyakini kekuatan lain sebagai tandingan-Nya (condong kepada syirik). Kita tahu Allah Maha Pencipta, tetapi kita terlalu bodoh (jahil), kurang bahkan tidak beribadah kepada-Nya. Kita tahu Allah itu Maha Kuasa dan Penentu, tetapi kita selalu berputus asa dan berprasangka buruk (suuzan) ketika suatu kesengsaraan menimpa kita. Kita tahu Allah itu Maha Melihat, tetapi kita selalu bermaksiat seolah-olah Allah itu buta. Kita tahu Allah itu Maha Mendengar, tetapi kita kikir (bakhil) untuk berdoa dan berkhalwat dengan-Nya. Kita tahu Allah itu yang menguasai hari pembalasan, tetapi kita sombong dan seolah-olah mati jauh dari-Nya, dan seterusnya.

Dan, apabila kita jatuh dalam perkara tersebut maka kita telah menjadi “mulhidun” yaitu orang yang berlaku “ilhad” (menyimpang dari kebenaran).

Ilhad ini termasuk salah satu dari tiga penyebab yang dapat membatalkan syahadat kita di samping syirik dan nifak.

Asas Utama: Kalimat Syahadat

Kalimat syahadat sebagaimana kita ketahui dan kita ulang setiap saat, setiap hari, merupakan asas utama dan landasan penting bagi orang Islam karena itu bagian dari rukun Islam. Tanpa syahadat, rukun Islam lainnya akan runtuh. Begitu juga dengan rukun iman. Tegaknya syahadat dalam kehidupan kita akan menegakkan ibadah dan din dalam hidup kita. Dengan syahadatain terwujudlah sikap rohani yang akan memberikan motivasi kepada perbuatan dan akal pikiran, serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.

Tapi realitanya, syahadat tidak cukup memberi pengaruh. Kita selaku umat Islam tanpa sadar atau sadar terpengaruh dengan budaya jahiliah atau cara hidup Barat. Terbukti tidak sedikit dari umat Islam yang tahu Allah itu ada, masih melakukan perkara-perkara yang dilarang dan tidak melakukan segala perintah-Nya. Berbuat zalim ke sesama makhluk, menyakiti tetangga, gibah, fitnah, berbohong, berlaku curang, menelantarkan anak yatim, tidak berzakat untuk si miskin, adu domba, membunuh, memberi kesetiaan bukan kepada kaum muslimin, atau tidak mensyukuri sesuatu yang diberikan kepada mereka, dan seterusnya.

Itu adalah contoh seseorang yang “mulhidun” menyimpang dari kebenaran, karena berawal dari ia tidak memahami syahadat yang dibacanya, tidak mengerti makna yang sebenarnya dari syahadat dan akhirnya syahadatnya batal.

Pemahaman Syahadat di Masa Nabi

Sedikit melihat riwayat ke belakang, di kalangan masyarakat Arab zaman Nabiullah Muhammad, mereka (kaum kuffar Quraisy) memahami betul makna syahadatain ini. Terbukti dalam suatu peristiwa di mana Nabi saw. mengumpulkan para pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim. Nabi saw. bersabda, “Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, di mana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab?” Kemudian Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku.” Kemudian Nabi saw. bersabda, “Ucapkanlah Laa ilaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.” Abu Jahal pun menjawab, “Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.”

Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini bukan karena dia tidak paham akan makna dari kalimat itu. Justru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat, dan patuh kepada Allah swt. saja. Dia sadar betul jika ia bersikap seperti itu, maka semua orang tidak akan tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadat bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliah untuk mengaplikasikan syahadat.

Mengapa Ilhad Membatalkan Syahadat?

Kembali ke umat Islam saat ini yang melakukan penyimpangan-penyimpangan (ilhad) dari ketentuan Allah sehingga boleh jadi syahadatnya batal. Muncul pertanyaan, mengapa “ilhad” dapat membatalkan syahadat kita?

Dalam Al-Qur'an, ilhad ada di banyak tempat. Bentuk “Ilhad” = Orang yang melakukan kejahatan zalim.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. 22:25)

Kadang berbentuk “yulhidun” = menyimpang dari kebenaran.

“hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 7:180)
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah kitab yang mulia.” (QS. 41:40)

Kadang berbentuk “multahada” = tempat berlindung.

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya".” (QS. 72:22)

Imam Ashfahani dalam bukunya “Mufradat Alfazhul Qur'an” menulis, Al-Ilhad berarti menyimpang dari kebenaran. Hal ini terbagi dua makna:

  1. Ilhad yang identik dengan syirik, jika dilakukan otomatis syahadat kita batal dan kita menjadi kafir;
  2. Ilhad yang condong kepada syirik, ini tidak membuat seseorang menjadi kafir, tapi mengurangi kemurnian tauhid.

Sehingga pada hakikatnya “ilhad” adalah segala tindakan yang menyimpang, namun secara definitif khusus menafikan sifat, nama, dan perbuatan Allah. Ilhad tergolong kafir, tetapi orang kafir belum tentu “mulhidun” karena banyak juga di antara orang Nasrani dan Yahudi percaya akan adanya Tuhan dan sifat-sifat-Nya.

Ilhad ini menurut para ulama bisa membahayakan syahadat umat Islam.

  1. Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid itu memiliki 3 dimensi yang salah satu pun tidak boleh diingkari:
    • Tauhid Uluhiyah;
    • Tauhid Rububiyah; dan
    • Tauhid Asma wa Sifat.
    Karena “ilhad” itu menafikan sifat dan nama Allah, berarti telah ingkar atas satu dimensi tauhid maka ia menjadi kafir.
  2. Dengan menafikan asma wa sifat-Nya, ia telah juga mengingkari ayat Al-Qur'an. Mengingkari salah satu ayat Al-Qur'an, ulama sepakat ia telah http://pijarpunbenderang.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...