Jangan Tertipu oleh Waktu Luang
“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Pernahkah kita merasa waktu begitu cepat? Hampir setiap orang pasti merasakan itu. Ketika menjelang akhir tahun, terucap, “Wah, sudah mau berganti tahun, tidak terasa, ya.” Begitu pula ketika akhir bulan terasa cepat berganti ke bulan berikutnya. Saat bertemu hari juga demikian, dengan sedikit kaget, “Hah, besok sudah Jumat lagi?” Jam ke jam, menit ke menit, dan detik ke detik cepat berlalu hingga kita tersadar bahwa waktu telah jauh di belakang.
Lihat diri kita sekarang, bandingkan dengan yang dulu. Kaget bercermin membandingkan foto kanak-kanak kita. Ayah dan ibu terlihat renta dengan uban yang semakin banyak. Anak-anak kita yang dahulu masih dalam buaian, kini asyik dalam dunia remajanya hingga susah diajak jalan bersama, dan seterusnya.
Waktu begitu cepat melesat hingga kita terkadang lupa apa yang kita kerjakan kemarin. Hidup instan dengan gaya hedonis dan asosial, uang dan harta dikejar dengan berbagai cara. Halal dan haram menjadi abu-abu, agama menjadi simbol identitas. Hingga tersadar ketika melihat kematian orang tua, keluarga, atau kerabat.
Tersadar bahwa kita akan mengalami kematian. Menangis mengingat kepergian mereka, sedih mengingat amal kita, takut tidak siap dengan apa yang akan kita bawa menghadap Allah ﷻ. Di antara mereka ada yang sadar untuk bertobat dan bersegera memperbaiki iman dengan berazam untuk istiqamah dalam amal-amal terbaik.
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabb-mu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu, hingga waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sungguh aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.”
(QS. Hûd: 3)
Bagi yang tidak tersadar atau mengabaikan, hilangnya waktu yang lalu dianggap biasa saja, seakan merasa besok masih hidup. Waktu luang mereka buang, mereka isi dengan aktivitas sia-sia bahkan kemaksiatan. Akhirnya ketika kematian tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya.
“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.”
(QS. Yûnus: 49)
Di antara mereka yang tertipu dengan banyaknya waktu luang, mereka menganggap apa yang mereka kerjakan adalah hal yang positif, biasa, atau hal yang dimaklumi. Ketika berkumpul dengan teman-temannya, waktunya digunakan untuk refreshing, merilekskan pikiran, ngobrol, bercanda, gurau, dan nongkrong. Sepanjang untuk menghilangkan rasa lelah, tentu masih bisa dimaklumi bahkan dianjurkan, karena Rasulullah ﷺ pun melakukannya.
Tetapi bila sudah menjadi kebiasaan, di era digitalisasi ini, bermedsos, chatting di grup, mabar, kopdar, dan aktivitas lainnya—baik daring maupun luring—yang mengandung unsur kesia-siaan bahkan kemaksiatan, inilah yang dilarang.
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. Al-‘Ankabût: 64)
“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu.”
(QS. Luqmân: 33)
Dunia itu sementara, akan lenyap, tidak ada kehidupan yang abadi di dalamnya. Jika kita bisa memanfaatkan waktu di dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah ﷻ, maka kita akan beruntung dan memetik hasilnya di akhirat kelak. Namun, jika waktu digunakan untuk memuaskan hawa nafsu, maka kita akan merugi.
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”
(QS. Al-Ḥajj: 11)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah ﷻ dan perhatikanlah waktu yang telah engkau lewati untuk bekal mengarungi kehidupan waktu mendatang.”
(QS. Al-Ḥasyr: 18)
Sudah seharusnya setiap Muslim tidak tertipu dengan waktu luang.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”
(HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Ulama Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama mengatakan, kata "tertipu" dalam hadis ini bermakna merugi.
Banyak manusia yang merugi karena nikmat sehat dan waktu luang. Ada yang secara fisik sehat, namun tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan akhirat karena terlalu sibuk dengan dunia. Ada juga yang punya waktu, namun fisiknya tidak sehat. Seiring bertambahnya umur, hari-harinya hilang tanpa amal yang menjadi bekal akhirat.
“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).”
(QS. At-Takâtsur: 8)
Hasan al-Bashri berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka hilang pula sebagian dari dirimu.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Nasai dan Baihaqi)
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-nya, hingga ia ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa yang telah diamalkan dari ilmu yang dimilikinya.”
(HR. Tirmidzi)
Beberapa Cara Agar Tidak Tertipu oleh Waktu Luang
1. Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat
Rasulullah ﷺ bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.”
(HR. Tirmidzi)
Menurut Imam Ibnu Rajab Al-Hambali, ini mencakup meninggalkan perkara haram, syubhat, makruh, bahkan hal-hal mubah yang tidak diperlukan.
2. Jangan Berangan-angan Akan Masih Hidup Besok
“Setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.”
(QS. Muhammad: 25)
Menurut Imam Ghazali, panjang angan-angan disebabkan oleh kebodohan dan cinta dunia. Hasan al-Bashri berkata, “Tidaklah seorang hamba berpanjang angan-angan melainkan akan merusak amalannya.”
3. Sering Mengingat Kematian
Mengingat kematian akan mempersiapkan diri untuk menghadap Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibn Umar:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara.”
(HR. Bukhari)
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian).”
(HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
4. Jadikan Dunia sebagai Ladang Amal
“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding kehidupan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit.”
(QS. Ar-Ra‘d: 26)
Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk digunakan sebagai sarana menuju akhirat.
5. Berteman dengan Orang-orang Saleh
Rasulullah ﷺ bersabda, “Teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi...”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Teman yang saleh akan mengingatkan saat lalai. Namun dalam bermuamalah, tetap tunjukkan akhlak yang baik kepada siapa pun tanpa memandang agama, ras, atau suku.
“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.”
(HR. Tirmidzi)
Waktu adalah karunia dan ujian. Gunakanlah ia untuk memperbanyak amal kebaikan, menambah keimanan, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menebar manfaat bagi sesama. Sebab setiap detik akan ditanya, setiap usia akan dipertanggungjawabkan.
Wallahu a‘lam
TSH
Pekanbaru, 21 Oktober 2021
(Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar