Konsistensi dalam Beramal
Setidaknya ada 5 alasan yang membuat konsistensi menjadi sangat penting dalam beramal.
Pertama, Allah ﷻ mencintai amalan yang dilakukan secara konsisten walaupun sedikit. Dalam sebuah hadis dinyatakan, "Sebaik-baik amal adalah yang dilakukan secara konsisten walaupun sedikit. Allah kurang menyukai orang yang tahajud suatu malam tetapi pada malam berikutnya tidak tahajud karena tidak konsisten." (HR. Abu Daud)
Kedua, ibarat perlombaan lari maraton, jika kencang di awal lelah di akhir, berpotensi tidak sampai finis. Konsisten dalam beramal akan memudahkan seseorang untuk mencapai garis akhir kemenangan yaitu mendapatkan cinta dan rahmat Allah ﷻ.
“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang Aku cintai daripada kewajiban yang Aku bebankan kepadanya. Dan senantiasa (terus-menerus istiqamah) hamba-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Ketiga, memudahkan seseorang untuk beramal secara rutin sesuai kesanggupannya sehingga tidak merasa kesulitan dalam mengerjakannya dan tidak mudah lupa.
“Apa yang Aku larang untukmu, maka jauhilah. Dan apa yang Aku perintahkan untukmu, maka kerjakanlah menurut kesanggupanmu.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Keempat, konsisten dalam beramal walaupun sedikit ibadah (jangan berlebihan), mendorong untuk berhemat waktu dan tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban lainnya.
“Celakalah orang-orang yang ekstrem (berlebihan)!” Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim)
Kelima, konsisten dengan amalan rutin akan membuat seseorang bersemangat terus dengan variasi amalannya.
“Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barang siapa yang kemalasannya masih dalam sunah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barang siapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Thabrani)
Dalam materi sebelumnya konsistensi dalam beramal itu ujungnya berbuah kenikmatan yang sangat besar yaitu rahmat Allah berupa surga. Konsistensi itu harus dijaga karena gangguan, hambatan, dan aral lintang yang disebut ujian pasti ada dalam berbagai macam bentuk. Firman Allah ﷻ:
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2–3)
Manusia sering kali mendefinisikan ujian sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan saja. Mereka lupa bahwa hal yang menyenangkan pun merupakan sebuah ujian. Kedudukan, harta melimpah, keluarga, anak yang sehat, dan waktu luang pun merupakan sebuah ujian.
Ujian ini dapat mengganggu konsistensi kita dalam beramal. Bagi muslim dengan keimanan yang baik, insyaallah dengan mudah bisa menjaganya. Namun, ketika seorang muslim berada dalam keimanan yang lemah, sangat sulit untuk mempertahankan untuk terus rutin beramal. Sabda Rasulullah ﷺ:
"Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaruilah iman kalian dengan La Ilaha Illallah." (HR. Ibn Hibban)
Dalam suatu riwayat Hanzhalah Al-Usayyidi, sahabat Rasulullah ﷺ, pernah merasa dirinya seorang munafik ketika ditanya Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu tentang kondisi keimanannya. Kemudian Hanzhalah dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak, dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan kalian. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim)
Agar konsistensi beramal bisa terpelihara dan terjaga tentunya membutuhkan kesungguhan. Karena kesungguhan itu, Allah ﷻ akan memberikan taufik-Nya untuk selalu dimudahkan dalam beramal dan diberikan solusi ketika amal kita melambat atau berhenti. Firman Allah ﷻ:
“Mereka yang bersungguh-sungguh pada Kami, maka akan Kami tunjuki mereka akan jalan Kami dan sesungguhnya Allah beserta orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Ada tiga sumber kekuatan agar bisa bersungguh-sungguh (semangat) dalam beramal, merujuk pada hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah ﷺ:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ "لَوْ" تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
- Selalu menjaga tubuh agar kuat (sehat). Amalan bisa terpelihara dikarenakan kondisi fisik kita yang sehat. Ini menjadi keharusan setiap muslim ketika ingin beramal dalam kondisi bugar, sehat, minimal tidak dalam keadaan lelah.
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” - Menjaga waktu-waktu luang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Waktu luang merupakan pintu masuk setan untuk merusak hati dan pikiran hingga jatuh ke perbuatan yang sia-sia bahkan maksiat. Waspada terhadap waktu luang tersebut kala iman kita lemah dan bersegera untuk beristigfar bangkit dengan meminta pertolongan Allah ﷻ.
“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.”
Firman Allah ﷻ:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) - Tidak mengatakan “seandainya” ketika ada musibah, karena hakikatnya apa pun yang terjadi atas diri kita itu sudah ketentuan Allah ﷻ. Inilah yang membuat seorang muslim harus optimis untuk selalu bergerak ketika sudah beramal ke amal berikutnya.
“Maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan ‘law’ (seandainya) dapat membuka pintu setan.” (HR. Muslim)
Di setiap kesukaran ketika kita yakini dengan selalu berprasangka baik terhadap ketentuan Allah, niscaya akan diiringi kemudahan kemudian. Allah ﷻ berfirman:
(فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا)
“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya keberhasilan ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesusahan, dan sesungguhnya bersama kepayahan ada kesenangan.” (HR. At-Tirmidzi)
Semoga kita bisa menjaga konsistensi dalam amal dengan memaksimalkan kekuatan hati dan fisik kita sehingga bisa memunculkan semangat dan kesungguhan untuk rutin melaksanakannya. Di momen 10 Hari Pertama Zulhijah mari kita tingkatkan dan perbanyak ibadah serta amal salih lainnya karena di dalamnya akan ada cinta Allah yang mengalir sehingga kita bisa mendapatkan rahmat-Nya.
“Tidak ada satu amal salih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal salih yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Zulhijah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun.” (HR. Abu Daud)
Wallahu a’lam
Pekanbaru, 21 Juni 2023 / 2 Zulhijah 1444 H – TSH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar