Saudaraku, ketika kita berdoa, “Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban nar”, kita berharap tidak hanya sukses dunia juga sukses akhirat. Sebagian kita tentunya ada yang berpendapat bahwa sukses dunia itu ketika kita kaya, mendapatkan jabatan dengan penghasilan yang besar, mendapatkan gelar akademis yang tinggi, usaha yang selalu laba, dan sebagainya yang orientasinya tentu dunia dan menomorduakan akhirat. Namun dalam Islam kedua hal ini harusnya sejalan dan saling mendukung. Tidak hanya materiil seperti harta, gaji, atau laba tapi juga imateriil seperti keimanan, kebahagiaan, atau sehat.
Islam mengajarkan materiil harusnya mendukung imateriil. Bahwa kaya, gaji, atau keuntungan usaha tentunya akan membentuk pribadi yang dermawan gemar bersedekah atau menolong. Hati tenang dalam beribadah, bahagia, dan bisa selalu dalam keadaan sehat.
Islam juga mengajarkan materiil tidaklah segala-galanya. Banyak kisah para sahabat radiallahu anhu, para salafussalih, ulama, dan orang-orang baik dan salih disekitar kita menunjukan bahwa mereka bisa hidup tenang bahagia dan sehat walau dalam keadaan tidak berpunya atau penghasilan yang pas-pasan. Bagi mereka biarkan dunia mengikuti seiiring dengan aktivitas penghambaan sebagai bentuk syukur diciptakan kita sebagai makhluk yang tujuan utama adalah hanya beribadah kepada Allah. Dalam surat Az Zariyat Ayat 56 Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku".
Bagi mereka, ikhtiar berupa perniagaan dunia tidak menjadi tujuan utama sejalan dengan kebiasaan bisnis yang berpotensi mengalami kegagalan dan kerugian. Dan jikalau perniagaan dunia yang diusahakan merugi mereka tetap kokoh dalam keimanan dan syukur kepada Allah karena bagian dari ujian yang diberikan.
Nah, ada loh perniagaan yang di lakukan di dunia tapi tidak pernah merugi, apa itu? Allah berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur`ān), mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. (QS. Fatir (35): 29).
Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan tiga jenis amal salih yang diumpamakan dengan perniagaan antara seorang hamba dengan Allah yang tidak akan mengalami kerugian atau dalam kata lain perniagaan yang pasti akan memberikan keuntungan yaitu, membaca al-Qur’an, melaksanakan (menegakkan) salat, dan menginfakkan sebagian rezeki baik secara diam-diam maupun terang-terangan.
Ketiga hal tersebut adalah perniagaan yang tidak akan pernah mendatangkan kerugian. Hal itu disebabkan semua jenis perniagaan tersebut adalah perniagaan yang paling agung, paling tinggi, dan paling utama, karena semata-mata untuk mencari rida tuhan mereka, keuntungan berupa pahala dari-Nya, serta mencari keselamatan dari kemurkaan dan siksa-Nya. Namun, dengan syarat semua hal tersebut dikerjakan secara ikhlas. (Tafsir as-Sa’di, 1442 H.).
Selanjutnya mari kita ungkap beberapa tafsir berkaitan dengan perniagaan yang tidak merugi tersebut.
Pertama, tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut QS. Fatir ayat 29 Allah Ta’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya yang beriman, yang senantiasa membaca kitab-Nya, mengimaninya, dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, lalu hamba tersebut menegakkan salat, menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah karuniakan pada hal-hal yang disyari’atkan baik di waktu malam maupun siang, dan baik secara diam-diam maupun terang-terangan, bahwa hamba tersebut sungguh telah mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah rugi.(Ismail Ibnu Katsir Ad-Damasyqi, 2000)
Dari ayat dan tafsirnya, menjelaskan bahwa Allah menyebutkan perniagaan yang ketika dilakukan tidak akan pernah merasa rugi. Yaitu tiga amalan saleh, pertama membaca al-Qur’an. Kedua, melaksanakan (menegakkan) salat. Ketiga, menginfakkan sebagian rezeki baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Tiga amalan saleh atau diumpamakan sebagai perniagaan yang tidak akan rugi tersebut, akan menguntungkan bagi siapa saja yang melakukannya. Tidak merasa rugi akan tetapi merasakan keuntungan di dunia ataupun di akhirat, dan yang dimaksud dengan "mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi" yaitu mereka yang ketika melakukannya hanya samata-mata mengharap ridha-Nya dan pahala disisi Allah. Semakin tinggi harapan atau niat baik, maka semakin tinggi pula balasannya dan semakin tinggi kedudukan kita di sisi Allah.
Kedua, tafsir Jalalain menjelaskan bahwa (Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca) lalu mempelajari (kitab Allah dan mendirikan shalat) yakni mereka melaksanakannya secara rutin dan memeliharanya, (dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan) berupa zakat dan lain-lainnya (mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi) tidak akan bangkrut sama sekali. (Jalaludin As-Suyuti, 1505)
Ketiga, tafsir Al-Muyasar menjelaskan bahwa Sesungguhnya orang-orang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya, menjaga shalat pada waktunya, menafkahkan dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka dengan berbagai bentuk nafkah, baik yang wajib maupun yang dianjurkan, secara rahasia dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan dengan itu sebuah perniagaan yang tidak merugi dan tidak binasa, yaitu ridha Allah kepada mereka, keberuntungan meraih pahalaNya yang agung, agar Allah memberikan pahala amal kebaikan mereka secara sempurna tanpa dikurangi, dan melipatgandakan kebaikan-kebaikan dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun terhadap keburukan-keburukan mereka, juga Maha membalas dengan kebaikan-kebaikan mereka dan memberi mereka balasan yang besar. (al-Qarni, 2008)
Kemudian Ibnu katsir menjelaskan maksud dari “mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah rugi” adalah mereka mengharapkan pahala di sisi Allah atas segala amal yang telah dilakukan. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala pada ayat berikutnya:
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ
Artinya: Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fatir (35): 30).
Maksud dari ayat tersebut adalah agar Allah menyempurnakan pahala-pahala dari segala ibadah yang telah mereka lakukan dan melipatgandakannya dengan menambahkan beberapa karunia dari yang telah diberikan sebelumnya. Kemudian, Allah juga akan mengampuni segala dosa mereka, karena amat sedikit orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan seperti mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 1997).
Mereka adalah orang sebaik-baiknya orang yang mengamalkan ilmunya dan berbuat baik, melakukan perniagaan yang tidak akan rugi tetapi mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah. Semoga kita termasuk bagian dari mereka itu. Amin. Wallahu a’lam. (dikutip dari berbagai sumber)
Pekanbaru, 29 Agustus 2023 (TSH)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...
-
Melanjutkan tulisan sebelumnya ayah-jangan-bisu , didalamnya tertulis kesimpulan: “Al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahi...
-
Empat Pertanyaan di Hari Kiamat Empat Pertanyaan di Hari Kiamat: Bekal yang Tak Boleh Kita Abaikan 🌙 Dark Mod...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar