Hijrah: Lebih dari Sekadar Perpindahan Fisik, Sebuah Revolusi Diri Menuju Kebaikan Hakiki
Secara etimologi, hijrah diartikan sebagai perpindahan tempat, baik dari satu kota ke kota lain maupun dari satu negara ke negara lain. Contoh klasiknya adalah hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa monumental yang menandai dimulainya kalender Islam.
Namun, dalam terminologi syariat atau secara maknawi, hijrah memiliki makna yang lebih dalam. Ia adalah perbaikan diri, transformasi dari kondisi yang buruk menjadi lebih baik. Ini adalah proses bertahap meninggalkan sifat-sifat yang jauh dari nilai-nilai Islam menuju pribadi yang lebih Islami.
Hijrah maknawiyah inilah yang seharusnya menjadi spirit dalam setiap momentum Tahun Baru Hijriyah. Ia adalah semangat untuk meninggalkan segala yang dilarang Allah Swt., berhijrah dari syirik menuju tauhid, dari kezaliman menuju keadilan, dari kebatilan menuju kebenaran, dari yang haram menuju yang halal, dan seterusnya.
Dua Pilar Utama Hijrah
Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, setidaknya ada dua hal penting yang dapat dikemukakan mengenai hijrah:
Keberanian Meninggalkan Zona Nyaman: Hijrah merupakan sikap berani dan tegas untuk meninggalkan zona nyaman demi mencapai kondisi yang lebih baik. Ini adalah tentang apa yang diketahui, diyakini, dan kemudian diwujudkan dalam amal nyata. Sebagaimana Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin menyatakan, "Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan." Hijrah menuntut perpaduan sempurna antara ilmu, keyakinan, dan perbuatan.
Dimulai dengan Iman, Diakhiri dengan Jihad: Hijrah didahului oleh iman dan diakhiri dengan jihad. Tanpa iman, hijrah menjadi tidak berarti. Namun, modal iman saja tidak cukup; ia perlu dieksekusi dengan semangat jihad fi sabilillah. Perlu diingat, jihad tidak selalu identik dengan angkat senjata. Ia adalah sikap konsisten dalam menjalani, menekuni, dan memperjuangkan jalan hidup yang telah dipilih, sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa jihad itu meliputi jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad melawan orang kafir, dan jihad melawan orang munafik. Semua ini adalah bentuk perjuangan yang relevan dengan makna hijrah secara menyeluruh.
Keutamaan Hijrah dalam Al-Qur'an
Ketiga ayat ini, ditambah dengan ayat pendahuluan di atas, secara jelas menunjukkan keutamaan hijrah. Mereka yang berhijrah akan mendapati tempat yang luas dan rezeki yang banyak, serta memperoleh rahmat, ampunan, dan kasih sayang Allah Swt.
Spirit Hijrah di Tengah Tantangan Pandemi
Spirit hijrah di masa pandemi dapat dimaknai sebagai semangat untuk menjadi lebih baik dengan menyesuaikan segala aktivitas di era new normal sesuai protokol kesehatan. Ini termasuk membiasakan atau menguasai hal-hal baru yang dapat membantu kita beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru, baik saat maupun pascapandemi...
Manifestasi Spirit Hijrah: Ibadah, Akhlak, dan Gaya Hidup
Spirit hijrah seyogianya memotivasi kita untuk:
- Memperbaiki Ibadah: Perbaiki salat kita, zikir dan doa-doa kita, tilawah Al-Qur'an kita, puasa dan infak kita. Singkatnya, spirit hijrah harus membuat ibadah kita lebih baik dari sebelumnya.
- Mewarnai Akhlak: Spirit hijrah juga harus mewarnai akhlak kita. Ini berarti memiliki akhlak mau berbagi dan peduli bagi sesama, terutama saudara-saudara kita yang terdampak pandemi. Saling menguatkan di antara kita yang mungkin kehilangan orang tua, kerabat, dan teman.
Cinta kepada Allah dan Sesama Mukmin: Mencintai Allah dan mencintai sesama mukmin di jalan Allah merupakan pilar utama dalam ukhuwah Islamiyah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ, "Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya yang dia cintai bagi dirinya." (HR. Al-Bukhari)
Ujian pandemi ini memberikan pelajaran penting bagi ukhuwah persaudaraan, baik sesama muslim khususnya maupun sesama manusia umumnya:
o Cinta kepada Allah dan sesama Muslim: Mencintai Allah dan mencintai sesama mukmin di jalan Allah merupakan pilar utama dalam ukhuwah Islamiyah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ, "Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya yang dia cintai bagi dirinya." (HR. Al-Bukhari)
o Melampaui Batas Nasab: Hijrah telah melahirkan suasana baru yang sangat memungkinkan terbangunnya ukhuwah Islamiyah, di mana kualitas ukhuwah ini benar-benar melebihi tingkat ukhuwah yang semata tegak di atas hubungan nasab dan darah, yaitu itsar (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri).
o Fondasi Kekuatan Umat: Dari bentuk ukhuwah seperti inilah kelak kemudian muncul kekuatan umat Islam yang mampu menaklukkan kekuatan Yahudi di Khaibar, dan mematahkan kekuatan kaum kafir Quraisy dalam berbagai medan perjuangan, yang puncaknya adalah terbukanya kota Makkah (Fathu Makkah).
- Mewarnai Kebiasaan dan Gaya Hidup: Pandemi ini luar biasa, di luar bayangan kita. Dampak terbesarnya tidak hanya pada kesehatan, sosial, dan pendidikan, tetapi juga ekonomi. Maka, spirit hijrah membuat kita lebih menjaga kebersihan dan kesehatan. Spirit hijrah mewujud dalam gaya hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Spirit hijrah mewujud dalam semangat pantang menyerah. Spirit hijrah mewujud dalam menyempurnakan ikhtiar demi mencapai karunia dan berkah-Nya.
Penutup
Sebagai penutup, ada beberapa poin penting yang harus kita tanamkan...
Tanamkanlah selalu semangat baru... Ikutilah jejak perjuangan dan pengorbanan Rasulullah ﷺ... Bawalah spirit hijrah ini ke segala lapangan kehidupan...
Dengan demikian, spirit hijrah akan selalu hidup dalam diri kita berupa keyakinan, ucapan, dan amal perbuatan kita.
TSH_Dumai, Agustus 2020
Wallahu a’lam.
*) dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar