Senin, 16 November 2020

MENAMPAKKAN AMAL, BOLEHKAH?

Eksistensi agama berupa amalan berdasar pada syarat kumulatif yaitu niat dan perbuatan. Untuk beberapa ibadah inti dalam islam niat itu merupakan bagian dari rukun, artinya tidak akan bernilai ibadah tersebut jika tidak diiringi dengan niat, ibadah Shalat, Puasa, dan Haji sebagai contohnya. Namun kenyataannya niat saja tidak cukup karena harus diiringi niat yang ikhlas dan hanya mencari keridhaan Allah.
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal itu hanya bergantung pada niat-niat, dan seseorang hanya memperoleh menurut apa yang diniatkan.”

Amal yang ikhlas mencari ridha Allah pasti akan berhadapan dengan Riya’, kenapa?, karena riya biasanya berawal dari:
1. Senang mendapatkan pujian
2. Takut dicela orang lain
3. Mengharap apa yang ada di tangan manusia.

Menampakan amal kepada manusia tidak dapat memberikan manfaat (pahala) dan madharat. Cukuplah meyakini bahwa Allah SWT pasti mendengar dan melihat amalannya itu. Tentu ini berbeda penerapannya jika ibadah tersebut merupakan ibadah pokok untuk tujuan mengagungkan syiar Islam, memperlihatkan kekuatan kaum Muslimin, serta mencegah tuduhan dan buruk sangka, maka ibadah tersebut harus ditampakan. Shalat fardhu berjama’ah, membayar zakat kepada amil dan berangkat haji diantar orang sekampung, sudah pasti banyak yang melihat dan membersamai harapannya dapat memberikan keteladanan.

Dalam Era Digital ini dunia terasa tanpa batas, sedetik suatu informasi berpindah dari perangkat elektronik satu ke yang lain, berlanjut pada citra diri yang begitu mudah ditampakkan. Lewat sharing, unggahan foto, video, bahkan status, seseorang bisa dengan mudah memberi tahu apa yang dia lakukan kepada saudara, kerabat, teman-teman follower-nya di media sosial. Mengharap pujian, ujub, dengan menampilkan amal ibadah, sadar atau tidak sadar dosa riya’ jatuh terhadapnya. Naudzubillah.

Lantas bagaimana? dengan ibadah-ibadah nafilah (Sunnah) dan amal shalih lainnya yang ditampilkan karena tujuannya untuk menyeru kebaikan, mengajak hal yang serupa agar bisa membuat kerabat atau saudara mengikuti dan berharap mereka mendapat hidayah. Firman Allah:
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS. Al Baqarah: 271).
Ayat ini menunjukkan bahwa menyembunyikan amalan shalih itu lebih utama secara umum. Karena itu lebih dekat kepada keikhlasan. Dan disebutkan dalam hadits tujuh orang yang mendapat naungan Allah, diantaranya:
”Seorang yang bersedekah, ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya” (HR. Bukhari no. 1423).

Sehingga bolehnya amal sedekah itu ditampakan dengan tujuan agar orang lain mengikuti, namun sembunyi-sembunyi itu tetap lebih baik. Imam Asy Syafi'i mengatakan, "Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak." Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya” (HR. Muslim).

Orang yang bermaksud agar diikuti oleh orang lain kebaikannya, tidak ragu lagi bahwa ia mendapatkan pahala atas niatnya tersebut, bahkan multiplayer effect pahala akan datang jika berjenjang disampaikan dan diamalkan oleh layer muslim selanjutnya.

Namun Muslim yang ingin menampakkan amal punya rambu-rambu untuk kehati-hatian. Pertama, muslim tersebut dalam posisi alim, orang dikenal baik, orang penting (berkuasa), banyak yang mengagumi, perbuatannya mungkin diikuti orang lain. Kedua, dia selalu memperbaiki niat dan mengawasi hati. Karena batasan riya dan ikhlas itu sangat tipis. Mungkin saja dalam posisi iman yang lemah, riya menghampiri untuk menampakkan amal dengan alasan keteladanan. Naudzubillah

Selanjutnya, bagaimana jika kita dalam posisi sebagai pengikut, teman, kerabat dari saudara kita yang menunjukan amal di medsos?, sejatinya kedepankan prasangka baik, kembalikan pikiran negative kita ini ke hal-hal positif, jadikan warning buat kita. Mungkin benar, kita semalam belum tahajud, kita lupa sedekah, mungkin adik kita, istri kita, anak kita belum beramal, dengan status tersebut sebagai dasar mengingatkan mereka. Jikapun benar ternyata mereka beramal karena riya’, jangan habis energy kita sinis mengomentari, jangan habiskan waktu kita untuk hal-hal yang tidak manfaat, ghibah, dan bahkan bisa jadi menjadi fasilitator dosa. Naudzubillah.

Ada beberapa hikmah dalam menampakan amal seorang muslim:
Pertama, Muncul kegembiraan karena Allah berkendak dengan izin-Nya menampakkan kebaikan-kebaikan seorang Muslim dan menutupi keburukan-keburukannya.
Kedua, sebab dirinya menjadi pelajaran bagi muslim lainnya agar meniru dan meneladaninya. Dengan demikian jumlah orang-orang yang shalih lagi taat kepada Allah SWT akan semakin banyak, lapangan kebaikan dan amal shalih juga akan semakin bertambah luas dan berlipat ganda. Dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali menjelaskan faedah dalam menampakkan amal dan menyembunyikannya, ”ada faedah dalam merahasiakan amal. Manfaat tersebut berupa keselamatan dari riya. Di sisi lain, untuk menampakkan amal juga ada faedah yang bisa didapatkan. Itu merupakan keteladanan dan penggugahan orang lain dalam kebajikan.”
Ketiga, bahwa muslim lain mengetahui amalan yang saudara kita tampakan karena semata-mata mencintai saudaranya karena Allah SWT, mengingatkan untuk bersama sama berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) sebagai bukti pertalian iman yang kokoh : ”Tali Iman yang paling kokoh adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah pula.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, dan Al Hakim)
Keempat, muslim itu senang menampakkan amalnya karena saudara-saudara yang melihat amalannya memberikan pujian yang layak sesuai porsinya dan tidak berlebih-lebihan dalam memuji. Jangan sampai memujinya justru membuat ia binasa, hadits Rosulullah: “Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.” (HR. Bukhari)
Maksudnya adalah jika kamu memuji orang lain secara berlebihan maka sama saja mematahkan punggung orang yang dipuji.
Kelima, tindakannya menampakkan amal shalihnya itu akan menjadi hal yang baik untuk ditiru dan diikuti, sehingga muncul orang-orang sholih baru penggerak sunnah.
"Barangsiapa membuat sunnah yang baik, maka dia mendapatkan pahala sunnah itu dan pahala orang yang ikut mengamalkannya hingga hari kiamat, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka." (HR. Muslim)

Wallahu a’lam. TSH
*)dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...