Rabu, 04 Maret 2015

Bahaya nya Lisan

Kajian Bahaya Lisan

Materi kajian ini merupakan lanjutan dari kisah yang termuat dalam buku Mawaidz Ashahabah karya Syekh Salih Ahmad Al Syami. Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang laki-laki datang kepada Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu seraya berkata, "Berilah nasihat kepadaku." Salman menjawab, "Janganlah engkau berbicara." Laki-laki itu lantas menyahut, "Orang yang hidup di tengah masyarakat tidak mampu untuk tidak berbicara." Salman radhiyallahu ‘anhu kembali berkata, "Jika engkau berbicara, berbicaralah dengan benar atau diam."

Nasihat fundamental untuk berkata baik atau diam seolah telah terlupakan oleh sebagian besar umat Islam, bahkan banyak di antara kita yang mungkin tidak mengetahuinya. Terkadang, atau bahkan sering kali, tanpa disadari, ucapan yang keluar dari mulut kita adalah ucapan yang kotor, buruk, keji, bahkan mengandung unsur kesyirikan. Padahal, setiap perkataan kita tercatat, sebagaimana firman Allah Swt.:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf [50]: 18)

Imam Ibnu Utsaimin dalam tafsirnya pada Surat Qaf menjelaskan bahwa ucapan dalam ayat ini bersifat umum. Oleh karena itu, bukan hanya perkataan yang baik dan buruk saja yang akan dicatat oleh malaikat, tetapi juga termasuk kata-kata yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Hal ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang terucap dari lisan kita memiliki konsekuensi di sisi Allah Swt. Ungkapan "memang lidah tak bertulang" memang benar adanya. Lisan begitu lincah bergerak, mengeluarkan berbagai ucapan untuk berkomunikasi dan menyampaikan keinginan kita kepada sesama manusia. Jika ucapan kotor atau keji merupakan suatu dosa, maka ucapan yang baik adalah kesalehan yang bernilai ibadah. Allah Swt. menyeru umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Firman Allah Swt.:
"وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا"

Artinya: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.'" (QS. Al-Isra' [17]: 53)



Dan juga:
"ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ"

Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..." (QS. An-Nahl [16]: 125)



Senada dengan ayat-ayat tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"

Artinya: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Muttafaq Alaih)



Para salafus saleh pun sangat memahami pentingnya menjaga lisan. Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, "Tidak ada sesuatu pun yang perlu lebih lama aku penjarakan daripada mulutku sendiri." Ungkapan ini menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap kontrol lisan. Demikian pula, Abu Darda' radhiyallahu ‘anhu menasihati, "Perlakukan telinga dan mulutmu dengan objektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara."

Nasihat-nasihat ini menegaskan urgensi bagi kita untuk memahami, menjaga, dan mengontrol mulut dari kejahatan lisan. Sedikitnya ada lima belas macam bahaya lisan (afatul lisan) yang akan kita bahas dalam kajian ini, diambil dari berbagai sumber, di antaranya:

Macam-Macam Bahaya Lisan

1. Berbicara Sesuatu yang Tidak Perlu

Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Artinya: "Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan." (HR. At-Tirmidzi)

2. Fudhulul-Kalam (Berlebihan dalam Berbicara)

Afatul lisan (bahaya lisan) selanjutnya, seperti Taqa'ur fil-kalam (berbicara dengan gaya berlebihan dan sok pintar), La'nat (melaknat), Ghina' (nyanyian yang melalaikan), Al-Mazah (bercanda yang berlebihan), As-Sukhriyyah (mengolok-olok), dan seterusnya, akan dibahas pada kajian berikutnya.

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...