Rabu, 18 November 2020

JAGALAH HATI, UNTUK LISANMU


Hati yang Terjaga, Lisan yang Terarah: Fondasi Keselamatan Dunia Akhirat

Hati yang Terjaga, Lisan yang Terarah: Fondasi Keselamatan Dunia Akhirat

“Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging tersebut baik, maka baiklah seluruh tubuh. Tetapi apabila daging tersebut buruk, maka tubuh yang lain akan ikut buruk pula. Ketahuilah daging itu bernama hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim).” (QS. Asy-Syu'ara': 88-89)

Ungkapan populer seperti "teko tidak akan keluar melainkan sesuai yang diisikan", "mulutmu harimaumu", atau "tong kosong nyaring bunyinya" sering kita dengar dalam konteks perdebatan atau komentar terhadap suatu kejadian, baik secara langsung maupun di media sosial. Ketika kata-kata yang keluar dari lisan atau jemari di gawai kita berupa hal buruk, caci maki, bahkan sumpah serapah, serta ghibah, suuzan, atau fitnah, maka perselisihan, perkelahian, bahkan pembunuhan bisa menjadi akibatnya. Naudzubillah.

Memang benar, lidah itu tak bertulang, bergerak leluasa mengeluarkan ucapan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan dan keinginan kepada sesama manusia. Namun, jika ucapan dusta, kotor, keji, atau fitnah merupakan suatu dosa, maka ucapan yang baik adalah kesalehan yang bernilai ibadah. Allah Swt. menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Allah Swt. berfirman,

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (QS. Al-Isra’: 53)

Rasulullah ﷺ pun bersabda,

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

"Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata yang berupa amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan) dan zikrullah." (HR. Tirmidzi)

Para ulama salaf juga menekankan pentingnya menjaga lisan. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah berkata, “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri.” Senada dengan itu, Abu Darda radhiyallahu 'anhu menasihati, “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan objektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, mengemukakan pandangan yang mendalam:

“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya maka dia akan berbicara, tetapi apabila tidak bermanfaat maka dia akan diam. Sementara orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya.”

---

Hati yang Selamat, Lisan yang Terjaga

---

Lisan yang baik berasal dari hati yang baik, hati yang bersih, hati yang selamat (qalbun salim) dengan keimanan. Hati yang dimaksud di sini bukanlah organ fisik, melainkan secara metafisik, yang disebut qalbu sebagaimana disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. Lisan merupakan perbuatan yang diperintahkan otak atas dorongan hati. Hati yang baik akan menggerakkan otak untuk memerintahkan perbuatan, termasuk lisan, untuk melakukan hal yang baik pula.

Lisan yang jahat, serta jemari yang mengetik kata-kata buruk, dapat menjerumuskan kita pada kehancuran dunia maupun akhirat. Sebaliknya, lisan yang baik dan jemari dengan rangkaian kata-kata yang selamat (salim) tentu akan menghasilkan kebaikan dunia dan akhirat. Nabi ﷺ bersabda,

“Tidak ada yang menyungkurkan leher manusia di dalam neraka melainkan hasil lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ mengingatkan,

"Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum beriman dengan hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka, karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka maka kelak Allah akan menyingkapkan kekurangan dia (di akhirat) maka Dia akan membiarkan orang lain tahu aibnya, meskipun di dalam rumahnya." (HR. Tirmidzi)

Agar lisan kita senantiasa baik, maka hati kita perlu dijaga agar selalu baik. Untuk menjaga hati, kita bisa kembali pada analogi "teko" yang disebutkan sebelumnya. Teko tidak akan mengeluarkan isi selain yang telah diisinya. Jika diisi air bening, akan keluar air bening; jika diisi kopi, akan keluar kopi. Analogi ini menekankan bahwa apa yang keluar dari hati kita adalah cerminan dari apa yang kita masukkan ke dalamnya.

---

Takwa sebagai Penjaga Hati

---

Sumber kebaikan hati adalah takwa. Takwa akan memilah dan memilih apa yang masuk ke dalam hati. Dalam Al-Qur'an, takwa memiliki tiga makna utama:

  1. Takut kepada Allah dan pengakuan superioritas Allah. Ini adalah fondasi utama yang membuat seseorang berhati-hati dalam setiap tindakannya.
  2. Bermakna taat dan beribadah. Takwa mendorong seseorang untuk senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  3. Dengan makna pembersihan hati dari noda dan dosa. Ini adalah hasil dari dua makna sebelumnya, di mana ketaatan dan ketakutan kepada Allah membersihkan hati dari segala kotoran.

Kisah Ubay bin Ka'ab dan Khalifah Umar bin Khattab menggambarkan esensi takwa dengan sangat baik. Ketika Ubay bertanya tentang makna takwa, Umar balik bertanya, “Pernahkah engkau berjalan di tempat yang penuh duri?” Ubay menjawab, “Ya pernah.” “Apakah yang engkau lakukan?” tanya Umar kembali. “Tentu aku sangat berhati-hati melewatinya!” jawab Ubay. “Itulah yang dinamakan takwa,” tegas Umar. Jadi, orang bertakwa adalah orang yang berhati-hati dalam bertindak, termasuk dalam berucap.

Ketakwaan akan menyaring segala yang masuk ke hati. Pandangan yang buruk, pikiran kotor, ataupun perkataan atau perbuatan yang jelek seperti ghibah, zalim, dan seterusnya, akan ditinggalkan. Rasulullah ﷺ bersabda,

"Pandangan itu salah satu panah dari panah iblis yang berbisa. Siapa saja yang meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang terasa sangat manis di dalam hati.” (HR. Al-Hakim)

Allah Swt. juga berfirman,

"Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain (ghibah). Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

---

Dzikir dan Kebaikan sebagai Penenang Hati

---

Sedangkan, mendengar seruan kebaikan, kata-kata yang menenangkan seperti zikir mengingat Allah, istigfar, bacaan Al-Qur'an, selawat atas Nabi, ataupun doa-doa kebaikan, akan meresap ke hati yang menjadikannya tenang, tenteram, dan bersih. Ketika hatinya bersih, yang dikeluarkan pun adalah ucapan-ucapan yang baik. Jemari kita akan terkontrol untuk tidak asal komentar atas suatu status atau kejadian, dan secara otomatis akan selalu berpikir sesuai rambu-rambu "berkata yang baik atau diam".

Allah Swt. berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang beriman lagi hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (Dzikrullah). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'du: 28)

Rasulullah ﷺ juga memberikan panduan tentang hak jalan dan pentingnya menjaga lisan serta perbuatan saat berada di ruang publik:

“Hindarilah duduk-duduk di pinggir jalan!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana kalau kami butuh untuk duduk-duduk di situ memperbincangkan hal yang memang perlu?’ Rasulullah ﷺ menjawab, “Jika memang perlu kalian duduk-duduk di situ, maka berikanlah hak jalanan.” Mereka bertanya, “Apa haknya?” Beliau menjawab,” Tundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam (orang lewat), menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar.” (HR. Muslim)

Semoga kita semua menjadi muslim yang baik, muslim yang senantiasa menjaga hati dengan ketakwaan sehingga lisan kita pun akan terjaga dengan ucapan-ucapan yang baik.

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah orang muslim yang paling baik?” Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

Dumai_Nov 2020 (TSH)

Tidak ada komentar:

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...