Kisah Teladan Imam Syafi'i dan Hikmahnya
Suatu saat ketika Imam Syafi’i berusia 20 tahun, salah satu gurunya di Mekkah menyuruh beliau berangkat ke Madinah dan Irak untuk menimba ilmu kepada imam-imam besar di sana. Penyebabnya, gurunya di Mekkah merasa ilmunya sudah habis untuk diberikan kepada Imam Syafi’i. Berangkatlah Imam Syafi’i ke sana dengan terlebih dulu meminta izin kepada ibundanya. Ibunya berkata,
“Nak, pergilah menuntut ilmu untuk jihad di jalan Allah, kelak kita bertemu di akhirat saja.”
Lebih dari 10 tahun Imam Syafi’i menimba ilmu dan menjadi ulama besar jauh di luar kampung halamannya. Tentulah sebagai seorang anak yang berbakti muncul kerinduan untuk bertemu ibunya di Mekkah. Namun, beliau tidak berani pulang karena setiap muncul keinginan tersebut, beliau teringat pesan ibunda beliau, "kelak kita bertemu di akhirat saja." Karenanya, sebelum ada izin dari ibunya, beliau tidak berani menginjakkan kaki di rumah ibunya.
Suatu saat, ibunya Imam Syafi'i pergi untuk berhaji. Ada halaqah besar di Masjidil Haram. Seorang ulama besar dari Irak dalam halaqah tersebut sering menyebut Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i. Kemudian ibunya Imam Syafi'i mendatangi imam itu dan bertanya, "Ya Syekh, siapakah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i itu?"
Kemudian Syekh tersebut menjawab dengan penuh kebanggaan, "Dia adalah guruku, seorang yang alim berada di Irak yang asalnya dari Mekkah sini." Lantas ibu Imam Syafi'i berkata, "Ketahuilah Syekh, Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i itu adalah anakku. Pesanku kepada Syafi'i, jikalau dia sekarang ingin pulang, aku mengizinkannya untuk pulang.”
Setelah mendapat informasi dari muridnya, Imam Syafi'i tidak mengulur-ulur waktu. Beliau pun bersiap menuju Mekkah. Namun sebelumnya, Imam Syafi'i berpamitan kepada warga Irak setempat. Karena kealiman dan kemasyhuran beliau di Irak, masyarakat yang mencintai dan mengagumi beliau, merasa bersimpati kepada Imam Syafi'i dengan memberi apa yang mereka punya dari kekayaan mereka. Ada yang memberi unta, dinar, dan lainnya. Subhanallah, Imam Syafi'i pun pulang dengan membawa ratusan unta beserta isinya dan dikawal oleh beberapa murid beliau.
Sesampainya di perbatasan kota Mekkah, Imam Syafi'i mengutus seorang muridnya agar mengabarkan kepada ibundanya bahwa saat ini beliau sudah di perbatasan kota Mekkah. Sesampainya murid Imam Syafi'i di sana, dia ditanya ibunda beliau, "Syafi'i membawa apa?" Dengan bangga murid Imam Syafi'i menjawab, "Imam Syafi'i pulang dengan membawa ratusan unta dan harta lainnya." Mendengar hal tersebut, ibunda Imam Syafi'i menutup pintunya sambil berkata,
“Aku menyuruh Syafi'i ke Irak bukan untuk mencari dunia...! Katakan kepada Syafi'i bahwa Syafi’i tidak boleh pulang!"
Sekembalinya, murid Imam Syafi'i gemetar dan berkata kepada Imam Syafi'i, "Wahai Imam, ibunda Anda marah, dan menyuruh Anda tidak boleh pulang ke rumah.” Lalu Imam Syafi'i berkata, "Mengapa bisa demikian?" Diceritakanlah dengan detail kejadian tadi. Seketika Imam Syafi’i berkata, "Sungguh kesalahan besar dirimu jika engkau menganggap ibundaku akan bahagia dengan harta yang kubawa ini. Baiklah, sekarang kumpulkan orang Mekkah dan bagikan semua unta dan kekayaan lainnya pada penduduk Mekkah, dan sisakan kitabku. Setelah itu, kabarkan lagi kepada ibuku.”
Setelah Imam Syafi'i membagikan semua untanya dan harta yang lainnya, yang beliau bawa hanya kitab. Maka beliau diperbolehkan pulang dan bertemu ibunda tercinta.***
Hikmah dari Kisah Imam Syafi'i
Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari sekelumit kisah kealiman dan kesalehan Imam Syafi’i rahimahullah.
-
Kesalehan Diawali Ilmu Agama
Kesalehan seorang hamba di mata Allah subhanahu wa ta'ala dan manusia diawali dengan ilmu agama (dinul Islam). Menuntut ilmu agama yang juga merupakan ilmu jiwa adalah kewajiban yang utama (fardu ain) setiap muslim. Tidak ada batasan umur dalam menuntut ilmu, namun usia emas seorang hamba dalam menimba ilmu adalah dalam usia muda. Bukti kesalehan Imam Syafi’i dimulai dengan luasnya keilmuan beliau di usia belia. Pada saat umur 7 tahun beliau sudah hafal Al-Qur'an dan di usia 12 tahun beliau sudah membaca dan menghafal kitab Al-Muwatta’ yang berisi 1.720 hadis pilihan karya Imam Malik padahal beliau belum berjumpa dengan Imam Malik. Subhanallah.
Beberapa abad kemudian, ilmu sebagai awal kesalehan diperkuat oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin yang menjelaskan bahwa ilmu jiwa (ilm-al-nafs) mengarahkan pada tiga kekuatan dalam diri manusia, yakni:
- Kekuatan pikir, membuka manusia meraih hikmah. Karena hikmah, manusia tidak lagi mencampuradukkan antara keimanan terhadap yang hak dan batil, antara perkataan yang benar dan dusta, dan seterusnya.
- Kekuatan syahwat, mengarahkan ke kesederhanaan jiwa (iffah). Karena iffah akan membentengi manusia dari perbuatan maksiat dan senantiasa mendorongnya untuk mendahulukan perilaku yang terpuji.
- Dan kekuatan amarah, diarahkan untuk mengendalikan kekuatan amarah hingga tercapainya kesabaran (hilm) dan keberanian (syaja’ah).
Jika ketiga kekuatan tersebut terarah dan terbina dengan baik, maka kesalehan seorang hamba akan terwujud. Nabiullah Ibrahim alaihissalam pun berdoa:
"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS. Asy-Syu'araa: 83)
-
Derajat Orang Berilmu
Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan meneguhkan kedudukan di dunia dan di akhirat. Imam Syafi’i dalam usia 15 tahun telah duduk di kursi mufti kota Mekkah. Saat dewasa beliau menjelma jadi ulama yang masyhur yang begitu dimuliakan oleh para murid-muridnya dan masyarakat, dihormati khalifah (penguasa) saat itu serta dikagumi oleh guru-guru dan imam-imam lainnya.
Dan ketika kemasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab, maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah. Setelah beliau wafat pun di usia ke-54, Imam Ar-Rabi seorang ahli hadis dan fikih teman beliau menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus.” Subhanallah.
Firman Allah:
“Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu di antara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Mujadilah: 11)
“(Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)).” (QS. Al-Baqarah: 269)
-
Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak
Peran orang tua dalam pendidikan anak. Perintah, dorongan, doa orang tua terutama ibu merupakan hal yang harus diciptakan bahkan harus dipaksakan tentunya tetap dalam koridor syar'i. Perkataan ibunda Syafi’i kepada anaknya, “kelak kita akan bertemu di akhirat”, merupakan doa sekaligus motivasi bahwa menuntut ilmu agama ataupun ilmu dunia disertai keikhlasan semata karena Allah subhanahu wa ta'ala merupakan jalan menuju akhirat yang indah. Sabda Rasulullah:
”Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Dan sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena puas dengan apa yang diperbuatnya, dan bahwasanya penghuni langit dan bumi sampai ikan yang ada di lautan itu senantiasa memintakan ampun kepada orang yang pandai. Kelebihan si alim terhadap si abid adalah bagaikan kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi dan bahwasanya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham (kekayaan duniawi) tetapi para Nabi mewariskan ilmu pengetahuan, maka barangsiapa yang mengambil (menuntut) ilmu maka ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)
Namun tentunya ibunda Syafi’i adalah ibu yang cerdas dan berilmu serta paham betul siapa Imam Syafi’i. Beliau tidak mungkin melepas Syafi’i muda jauh keluar kota tanpa bekal keilmuan dan keimanan yang kuat, ataupun belajar ilmu yang tidak jelas. Sehingga ibunya yakin Syafi’i muda tidak akan terperosok ke dalam kemaksiatan dan kenistaan dalam menimba ilmu nun jauh di sana.
Berbeda dengan orang tua sekarang, ada beberapa orang tua menyekolahkan anak jauh di luar kota bahkan di luar negeri, tidak dibekali pondasi keimanan yang kuat. Tujuan sekolah pun cenderung menuruti kemauan si anak yang bisa jadi hanya ikut-ikutan teman atau prestise. Atau memaksakan kemauan orang tua ke anak untuk belajar di sekolah tertentu dengan tujuan duniawi semata. Walhasil, tidak sedikit anak-anak tersebut yang gagal, putus asa, dan mungkin bisa terjerumus pergaulan bebas, dan kemaksiatan lainnya. Kalaupun ada yang berhasil, ilmunya tidak membuat si anak bisa mendekat kepada Allah.
Bekal keimanan di usia belia ini menjadi tugas orang tua yang sangat penting untuk membentuk karakter, pola pikir, dan keimanan anak. Karena semakin ke depan semakin banyak godaan yang bermutasi pada kesenangan yang menipu (QS. Al-Hadid: 20).
Tidak hanya anak yang kita haruskan belajar, orang tua pun harus belajar bagaimana mendidik anak, apalagi di masa digitalisasi yang penuh ujian. Orang tua harus berpikir cerdas agar anak-anak bisa menyesuaikan dengan pembelajaran daring, bisa menjaga pengaruh-pengaruh dari informasi-informasi yang berterbangan di dunia maya dengan gawai yang hampir setiap waktu dipegang anak.
Orang tua mau berdiskusi dengan orang yang paham, banyak bertanya kepada ulama yang fakih, membaca buku parenting, bisa juga mencontoh pada orang tua yang “berhasil”. Orang tua harus cerdas dalam membekali anak terutama dalam ilmu agama. Alhamdulillah, belakangan ini sudah banyak orang tua yang “melek” akan hal ini. Bahwa ilmu agama yang merupakan ilmu jiwa sangat berperan dalam membentuk hati yang bersih. Hati yang bersih berperan dalam pola pikir anak, berperan pembentukan budi pekerti dan akhlakul karimah anak.
Sekolah-sekolah Islam terpadu, pesantren-pesantren modern bermunculan bak jamur di musim hujan. Seiring dengan berkembangnya pemahaman para orang tua yang merasa belum mampu mendidik ilmu agama di rumah, menitipkan anak-anaknya di lembaga tersebut. Walaupun tidak semua anak berhasil dengan berbagai alasan, namun memberikan secercah harapan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan yang dapat menyelesaikan problematika umat sekarang ini. Wallahu a’lam.
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 24-27)
© 2015. Hak cipta dilindungi. Kisah ini diambil dari sumber-sumber Islam yang sahih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar