Minggu, 21 Desember 2014

BATU AKIK PEMBATAL SYAHADAH?
Kajian Islam "Syirik"

Di pojok KRL, laki laki itu mengambil sebuah senter pulpen, terlihat beberapa temannya memperhatikan sinar yang keluar menyinari sebuah batu cincin akik, dengan bangganya ia memamerkan cincin akiknya ditambah kelebihan kelebihannya. Temannya yang lain pun serasa tak mau kalah dengan mengeluarkan kotak yang isinya beberapa batu akik dengan jenis dan “manfaat” yang bermacam-macam. Sepanjang perjalanan dari rumah hingga ke kantor, terlihat beberapa lapak bahkan kios batu akik bermunculan bak jamur di musim hujan, dan ini kelihatannya merata diseluruh pelosok Indonesia.

Batu akik kayaknya tidak hanya menjadi sumber penghasilan baru bagi para pengusaha atau para “penggila” batu mulia, tua muda, miskin kaya, tapi juga sudah menjadi life style, sehingga harga sudah tidak jadi masalah terbukti para pecinta batu (baca:kolektor) rela merogoh kocek mereka ratusan juta hingga milyaran rupiah hanya untuk membeli sebuah batu mulia. Terlepas dari hobi, tapi hal ini dalam perkara islam masuk dalam israf (berlebihan) atau ghuluw (melampaui batas).

Akan tetapi bagaimana jika ada perkara lain yang lebih dahsyat dalam fenomena batu akik ini, yaitu Syirik, karena tidak jarang, bahkan banyak yang percaya ada kekuatan di dalam batu-batu cincin di jarinya yang menganggap itu adalah jimat (ajimah/tama’im).

Jika seseorang percaya bahwa jimat itu dapat berpengaruh tanpa kehendak Allah maka ia terjerumus dalam perbuatan syirik besar karena hatinya telah bersandar kepada selain Allah. Adapun jika seseorang meyakini bahwa jimat itu hanya sebagai sebab & tak memiliki kekuatan sendiri maka ia terjatuh dlm perbuatan syirik kecil.
Jimat ini adalah salah satu bentuk syirik yang mungkin sekali dapat membatalkan syahadah kita.

Sebelum kita membahas bentuk-bentuk syirik disekitar kita yang mungkin sadar atau tidak sadar kita sudah terjerumus didalamnya, ada baiknya kita ulas sedikit apa itu syirik.

Definisi syirik adalah sikap menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan, dan ibadah. Ini adalah virus keimanan yang paling berbahaya. Allah subhanahu watala memasukan sebagai kezaliman (dosa) yang besar. Beda dengan istilah “sirik”yang sering diungkapkan dalam bahasa “gaul”yaitu iri/dengki.

Firman Allah:
اِنَّ الشِّرۡكَ لَـظُلۡمٌ عَظِيۡمٌ‏ ﴿۱۳

“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar” (QS. Lukman [31] : 13)

اِنَّهٗ مَنۡ يُّشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدۡ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ الۡجَـنَّةَ وَمَاۡوٰٮهُ النَّارُ‌ ؕ وَمَا لِلظّٰلِمِيۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ‏ ﴿۷۲
“Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun” (QS. Al-Maidah [5] : 72).

Nabi SAW bersabda, “Inginkah aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar? Yaitu mempersekutukan Allah” (HR. Muslim).

Karena itu, siapa pun yang menyembah sesuatu selain Allah atau menyembahnya bersamaan dengan menyembah Allah, dia telah menjadi musyrik (orang yang melakukan perbuatan syirik).

Allah SWT berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’” (QS. Yunus [10] : 18).

Macam-macam Syirik
Ada dua macam syirik, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua dimesi: zhahir (tampak) dan khafiy (tersembunyi).

1) Syirik besar (asy-syirkul akbar). Dikatakan syirik besar karena pelakunya tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia; dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa’ (4): 116]. Contoh syirik besar yang zhahir adalah seperti menyembah matahari, bintang, bulan, berhala (patung), batu-batu, pohon besar, dan bahkan menyembah manusia (seperti menyembah Fir’aun, raja-raja, Budha, Isa bin Maryam, malaikat, jin dan Setan).
Kita lihat “sinetron impor” sepertinya tak kalah dengan film box office, sebut saja: Mahabarata, Mahadewa, dan lainnya yang digandrungi para fans nya yang sebagian besar umat islam Indonesia saat ini, ini termasuk pembodohan akidah yang memperkenalkan syirik yang sebenarnya. Bagaimana bukan pembodohan jikalau Tuhan mereka digambarkan layaknya manusia? Menikah dengan manusia pula. Padahal kita, sebagai manusia itu mustahil “mengindera” bagaimana wujud zat Tuhan (baca: Allah subhanahu wata’ala). Tidak pantas bagi seorang muslim menikmati dan tanpa sadar mempercayai bahwa Tuhan itu bertangan empat atau lebih karena Ia diketahui maha pengatur, para manusia menyembah manusia (raja) secara berlebihan, bahkan "Jodha Akbar" membuat cerita Islam Palsu. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, mereka tidak rela kalo tayangan itu terlewat dan menunggu dengan "ikhlas" setiap episode dengan menyia-nyiakan waktu, Naudzubillah.

Sementara yang asy-syirkul akbar khafiy bisa dicontohkan seperti menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum jahiliyah. Yang dimaksud hukum jahiliyah di sini adalah hukum yang menyalahi / bertentangan dengan hukum Allah atau menghalalkan dan mengharamkan seperti yang seharusnya menjadi hak Allah.

وَمَنۡ لَّمۡ يَحۡكُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡكٰفِرُوۡنَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (al Maidah 44)

Dukun dan sihir, termasuk asy-syirkul akbar. "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan." (QS. Al Jin : 6)

Dalam hadits yang shahih dikatakan; Rasulullah Saw bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengaitkan kesialannya pada burung (atau benda lainnya), melakukan perdukunan atau meminta didukuni, menyihir atau minta disihirkan untuknya. Dan barangsiapa datang kepada dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. al-Bazzar dengan sanad yang baik).
“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230)
Termasuk juga meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini.

2) Syirik kecil (asy-syirkul ashghar) adalah suatu tindakan yang condong ke arah syirik, tetapi belum sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya. Syirik kecil zhahir bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan. Contoh yang berupa lafal adalah bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik seperti “demi Nabi, demi Ka’bah, demi matahari, demi kakek dan nenek.”
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka (siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia kafir dan musyrik).” (HR. Turmidzi nomor 1535).
Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan menganggap seseorang penentu sebanding dengan Allah seperti, “Kalau tidak karena dokter niscaya saya tidak akan sembuh”.

Mempunyai jimat dalam bentuk apapun dan menanggap “jikalau bukan karena jimat ini saya akan tertimpa bahaya”, atau “saya tidak bisa bekerja kalau cincin saya ketinggalan”, dan sebagainya.
Jimat / Tama’im adalah bentuk jamak dari tamimah, yaitu sesuatu yang dikalungkan ke leher atau bagian dari tubuh seseorang yang bertujuan mendatangkan manfaat atau menolak bala (bahaya). Bentuk jimat bisa berupa cincin, batu mulia, keris, tongkat, bahkan ada juga lembaran yang bertuliskan sejumlah ayat Al-Qur’an.
Ibrahim al-Nakha’I berkata, “Jimat itu haram, baik yang berasal dari Al-Qur’an maupun yang bukan dari Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan bukan untuk jimat tapi sebagai petunjuk ke jalan yang benar.”
Hukum memakai jimat adalah syirik sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya jampi, jimat, dan mantra-mantra adalah syirik” (HR. Ibnu Majah).

Jimat diharamkan oleh syariat Islam karena ia mengandung makna keterkaitan hati dan tawakal kepada selain Allah dan membuka pintu bagi masuknya kepercayaan-kepercayaan yang dapat mengantarkan seseorang pada syirik besar. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bergantung kepada sesuatu, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada sesuatu itu” (HR. Tirmidzi dan Imam Ahmad). Jika cincin batu akik yang digunakan seorang muslim masuk dalam ranah jimat seperti diatas, maka BATU AKIK ITU BISA MENJADI PEMBATAL SYAHADAH. Naudzubillah.

Sedangkan syirik kecil yang khafiy biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dilihat atau dipuji orang. Seperti mengerjakan sholat seolah khusyu’ biar terlihat alim, atau bersedekah dengan syarat diumumkan. Intinya, seseorang berbuat seperti itu dengan harapan supaya dipuji sebagai orang baik.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ‌ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ‌ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ‏ ﴿۲۶۴

Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah (2): 264]

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalihnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat.” (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim nomor 2987)

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ


"Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui"[HR. al Bukhari dalam Adabul Mufrad dishahihkan oleh al Albani]

Wallahul musta'an
Wallahu a'lam

http://pijarpunbenderang.blogspot.com/

2 komentar:

yans mengatakan...

Jangankan batu duit aja bisa jadi Tuhan( bagi orang yg gila duit ).

PIJAR PUN BENDERANG mengatakan...

yup betul,...syukran komentarnya...

Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Persiapan Agar Optimal dalam Beribadah di Bulan Ramadan Versi ba...